Buket bunga mawar biru terlihat indah, masih berada di kamarnya. Gadis itu kini tengah mempersiapkan kado ulang tahun untuk Dave. Telah 7 tahun berlalu semenjak kematian ayahnya.
Remaja yang telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik. Memakai makeup tipis, bersiap berangkat ke studio seni tempatnya bekerja. Tidak seperti Alexa yang bekerja sebagai direktur anak cabang perusahaan milik almarhum Herry. Sazi lebih memilih mengejar cita-citanya, menjalani hidupnya dengan baik.
Kenapa tidak membuka studio seni sendiri? Sekali lagi, Dini seolah-olah menghalangi semua jalannya. Uang untuk kuliah pun berasal dari penjualan lukisannya. Belajar di luar negeri? Hanya Alexa yang pernah kuliah di negara lain, walaupun tidak begitu pintar.
Perusahaan milik Herry masih dipegang oleh orang kepercayaan almarhum ayahnya. Sulit untuk memasuki perusahaan, terkecuali surat wasiat Herry sudah dibacakan.
Buket bunga itu kembali diraba olehnya, disemprot menggunakan parfum."Rion aku berangkat..." ucapnya pada buket bunga seolah-olah sahabatnya itu masih berada di sana.
Mungkin hanya itulah penghibur baginya di tengah hidupnya yang sulit. Seorang nona muda yang tidak memiliki apapun. Cinta dari ibunya hanya untuk Alexa, paman yang tidak pernah memandang penting keberadaannya, serta Dave yang acuh padanya.
Mengapa dirinya bertahan dengan Dave? Karena Dave tidak pernah berkhianat, setidaknya itulah yang diketahui olehnya. Sepupu dan tunangan yang baik, hidup yang sempurna namun kesepian.
Tetap mengasihi mereka walau bagaimanapun. Karena kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, itulah yang diyakininya. Berfikir positif, mungkin ketika dibentak oleh mereka, itu memang kesalahannya.
Jemari tangan yang memegang kuas di sebuah studio lukis, jemari tangan kecil yang menari di atas kanvas. Tersenyum dengan hasil lukisannya yang indah. Sebuah bakat luar biasa yang tidak dikembangkan, hanya karena tidak memiliki uang untuk mengikuti pameran. Mungkin nona muda miskin, itulah dirinya, tetap berusaha tersenyum apapun yang terjadi.
Tidak menyadari hal yang terjadi di sofa ruangan kerja kekasihnya. Pasangan yang seharusnya membicarakan bisnis, kini tengah beradu mulut. Bukan bertengkar, melainkan saling menyesap, pakaian yang berantakan, namun masih melekat lengkap di tubuh.
Kancing kemeja Alexa telah terbuka sempurna, kedua kain kecil yang menutupi tubuhnya tergeletak di sofa, rok kerja yang pendek tersingkap. Sedangkan Dave menonggakkan kepalanya, dengan celana panjang yang tidak terlepas sempurna, hanya bagian resleting yang terbuka, sedikit bagian boxer tersingkap. Tubuh yang menyatu tanpa melepaskan habis pakaian mereka.
Menarikan tubuhnya di pangkuan Dave, membuat pemuda itu semakin gemas, dalam penyatuan mereka. 7 tahun sudah mereka menunggu dengan sabar, menjalani hubungan di belakang Sazi. Benar-benar sungguh cinta sejati, pasangan yang benar-benar mempermainkan gadis yang mengangguk mempercayai apapun yang mereka katakan. Bahkan, jika Sazi menaruh kecurigaan, Dave hanya tinggal membentaknya, dengan istilah Alexa saudaramu.
Ini sungguh nikmat bagi mereka berdua, 7 tahun sudah berhubungan layaknya suami-istri. Hingga benih-benih itu keluar di dalam tubuhnya, saling memeluk bergetar hebat.
"Dave, sebentar lagi Sazi berusia 25 tahun. Nikahi dia, walaupun aku tidak rela..." pinta Alexa mendekap tubuhnya.
"Em..." Dave hanya mengangguk. Akhirnya tiba saatnya dirinya akan mengakhiri segalanya dengan Sazi. Wanita yang selalu mengingat hari ulang tahunnya, menuruti semua kata-katanya, mengerti semua yang diinginkannya.
Hatinya terasa menyakitkan entah kenapa, namun Alexa adalah wanita tidak berdaya yang haknya dirampas oleh Herry dan Sazi. Sazi yang keji, selalu Sazi yang salah berusaha menggagu Alexa. Wanita lemah, baik hati itulah Alexa, terbuai akan napsu pada kepuasan biologis, hingga pemuda itu hanya dapat mengangguk. Meyakini inilah cinta sejati antara dirinya dan Alexa, sang wanita tidak berdaya.
Seolah melupakan, bagaimana wajah itu terbentur tiang net tanpa dipedulikan olehnya. Kala Rion masih ada, rasa cemburu yang mendominasi saat itu. Yang dicintainya adalah Sazi bukan Alexa, namun itulah napsu yang membutakan segalanya.
***
Hari ini Sazi kembali tertunduk, perasaan cinta yang menjadi hambar, lagi-lagi Dave lupa untuk menjemputnya. Paperbag berisikan hadiah ulang tahun kembali disimpan dalam ranselnya, memutuskan untuk berjalan kaki menuju halte bis terdekat.
Hingga melewati pohon besar dengan daun yang benar-benar kecil. Angin menerpa pepohonan hingga membuat daunnya berguguran. Sazi menonggakan kepalanya, kembali tersenyum, mengingat Rion yang ingin membawanya untuk kawin lari.
Jujur saja, dirinya tidak memiliki semangat hidup lagi, dibenci dan dihujat oleh ibu kandung. Dibentak hampir setiap bertemu oleh Dave, bahkan Alexa sendiri sekarang lebih sering menyindirnya, karena tidak memiliki penghasilan sebanyak dirinya.
Dini yang mendukung Alexa, apa lagi yang kurang? Bahkan pernah ada waktu kala dirinya diminta oleh sang ibu, mohon pada CEO yang merupakan orang kepercayaan almarhum Herry untuk langsung memberikan Alexa posisi sebagai direktur setelah lulus sekolah dari luar negeri. Dan sekarang setelah berpenghasilan tinggi, Dini dan Alexa merendahkannya setiap hari.
Adalah bakti dan pengabdian seorang pada ibunya untuk tidak pernah membatah perintahnya. Dini yang melahirkan dirinya, walaupun Sazi hanya dicintainya kala almarhum Herry berada di rumah.
Tangannya mengepal, pernah ada saatnya menyaksikan ciuman panas antara Fredric dan Dini. Tapi sekali lagi, hanya diam, ibu kandungnya berhak bahagia untuk menikah lagi. Walaupun dengan adik angkat dari ayahnya.
"Rion..." gumamnya, hatinya terasa tenang. Apa jika Rion berada di sini dirinya boleh memilih kawin lari? Pria gemuk yang dapat membuatnya tersenyum, mungkin dirinya adalah wanita keji yang kehilangan rasa cintanya pada Dave, kekasinya. Lebih mencintai dan memikirkan pria lain, pria yang kini sudah tiada.
Sketsa tua itu masih disimpan olehnya, hadiah balasan ulang tahun darinya untuk Rion. Sketsa sang pemuda gemuk.
Air mata Sazi mengalir, dirinya memiliki banyak orang yang katanya mencintainya. Tapi hatinya merasa kesepian, entah kenapa. Mungkin jika Rion berada di sini, Sazi akan berubah fikiran, bersedia melarikan diri, dari hidup yang menyakitkan ini.
Tapi semua sudah terlambat, pemuda itu sudah tidak ada, meninggal dalam sungai yang dingin. Mayat tidak ditemukan, bahkan tidak menyisakan sebuah makam yang bisa dikunjunginya.
Perlahan Sazi melangkah, pernikahannya akan diadakan 3 hari lagi, sebuah pesta pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga. Wanita yang menuju gedung SMU tempatnya bersekolah dahulu, menaiki bis bukan dengan tujuan untuk pulang.
2 tahun yang lalu SMU tempatnya bersekolah dahulu, ditutup. Karena yayasan yang mengalami masalah finansial, gedung dan tanah yang dijual sampai sekarang belum ada yang membelinya.
Pagar dengan tanaman tua yang merambat, perlahan dibukanya. Seakan kembali ke masa SMU-nya, dirinya sudah mengenal Rion semenjak sekolah menengah pertama, tapi baru benar-benar akrab dengannya, di akhir hidup pemuda itu.
Pemuda yang menyatakan cinta padanya...
Banyak kenangan yang berada di sana, kala Dave tidak pernah membencinya seperti sekarang. Hingga perlahan mengacuhkannya, kala Rion datang meramaikan harinya.
Sampai sekarang Dave tidak pernah menyentuhnya. Hanya Rion yang berani lancang mencium bibirnya. Sazi tersenyum sendiri dalam tangisannya, berjalan menuju ruang seni. Bayangan pemuda yang tergeletak karena terkena lemparan tas teringat di benaknya. Dirinya tertawa kecil, merindukan saat-saat itu.
Tidak dipungkiri di hidupnya tidak pernah memiliki sahabat selain Rion. Hingga langkahnya terhenti, duduk di bangku berdebu, menatap ke arah depan. Bayangan pemuda itu tengah bermain biola terbayang.
Wajah rupawan yang tertutup lemak jahat."Dasar gemuk...bantet..." gumamnya tersenyum dalam tangisannya.
Sazi membuka ranselnya, yang memang berisikan alat lukis, meletakkan sketsa yang telah disimpannya selama 7 tahun, di bagian bawah bangku.
"Rion, beberapa hari lagi aku akan menikah dengan Dave. Menjadi istri yang baik dan setia, memiliki anak darinya. Karena itu aku harus melupakanmu..."
"Jika ada kesempatan lain, aku akan memilihmu...aku berjanji..." gumamnya, yang hanya seorang diri disana. Bukan pengantin yang bahagia, karena tidak ada seorang pun yang benar-benar mencintainya.
***
Di negara lain...
Seorang pemuda menghela napas kasar, menatap tajam pada seorang pria paruh baya."Aku gay?" tanyanya memastikan gosip yang menyebar di perusahaan miliknya.
"Maaf, tapi anda dan asisten anda..." kata-kata sang pria paruh baya terhenti. Pria dengan senyuman ganjil yang berdiri di belakang sang pemuda rupawan menatap tajam padanya. Bagaikan bersiap untuk mencabik-cabiknya.
Sedangkan sang pemuda rupawan memijit pelipisnya sendiri."Tidak pernah punya pacar, belum tentu aku gay!! Apa lagi mempunyai hubungan istimewa dengan..."
Majikan dan asistennya itu saling melirik, kemudian berdidik ngeri. Geli sendiri membayangkan...
Sang asisten, pria bertubuh kurus, memiliki senyuman cerah yang ganjil, aslinya ahli di bidang IT dan persenjataan, memiliki kemampuan beladiri. Dan sang majikan berwajah dingin, terlihat cerdas, memiliki banyak trik aneh dengan IQ yang tinggi. Dua orang pemuda rupawan yang selalu bersama, hampir 24 jam, menghabiskan waktu berdua, tentunya untuk bekerja.
"Beri dia SP (Surat Peringatan) 2. Jika diulangi lagi, pecat secara tidak hormat..." perintah sang pemuda memijit pelipisnya sendiri.
"Baik tuan..." jawaban dari sang asisten, menarik bagian belakang kerah pakaian sang pria paruh baya. Bagaikan anak kucing yang gemetar ketakutan, sang pria paruh baya dilempar keluar.
Sang asisten menghela napas kasar, menatap ke arah majikannya yang kembali konsentrasi pada pekerjaannya. Meraih map yang menjadi tugas baginya hari ini.
"Ini, kenapa mencari biodata wanita cantik dan berkepribadian baik, serta masih singgel. Apa anda ingin menikah?" tanya sang asisten antusias.
Pemuda itu menggeleng."Aku ingin mencarikan calon istri untuk katak tua..."
"Katak tua?" tanya sang asisten tidak mengerti.
"Ayahku... tolong pilihkan yang ukurannya sesuai, kelompokkan berdasarkan ukurannya..." kata-kata dari sang pemuda, mengembalikan map yang berisikan biodata puluhan wanita asing berkarakter baik.
"Ukuran?" tanya sang asisten bingung, sejenak kemudian wajahnya memerah. Kata ukuran yang benar-benar ambigu, bagian depan yang empuk? Belakang? Atau dalamnya?
"A...aku...aku tidak bisa melakukannya. A...aku masih polos, jika harus memeriksa ukurannya satu-persatu..." jawaban dari sang asisten gelagapan.
"Aku hanya ingin kamu mengelompokkan berdasarkan ukuran berat dan tinggi badan. Apa sulitnya!?" sang pemuda memijit pelipisnya sendiri. Menghela napas berkali-kali.
Mana aku tau maksudnya ukuran tinggi dan berat badan. Aku fikir kamu sudah mulai tertarik pada ukuran bagian dalam wanita. Apa alat berkembang biakmu berfungsi... batin sang asisten tersenyum secerah mungkin.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Khasanah Mar Atun
🤣🤣🤣🤣 dasar asisten dan tuan nya yg absurd
2022-10-26
4
Putri Nunggal
heem darsar orang pintar bikin orang binggung, np gak langsung aja ke intinya ukuran bb sama tb
2022-09-16
2
Putri Nunggal
omongan yg ber IQ tinggi sunggu sulit dimengertinya
2022-09-16
2