Hari demi hari berlalu, mungkin sudah dua bulan tepat dari saat dirinya dekat dengan Rion. Teman yang baik? Itulah Rion dimatanya.
Hari ini seperti biasa, dirinya dan Alexa turun dari mobil yang sama. Namun, semua mulai terlihat ganjil saat ini. Dave turun dari motornya menghampiri mereka.
"Alexa soal yang kemarin aku..." kata-kata Dave disela.
"Dave kita jarang keluar bersama, bagaimana jika kita menonton film di bioskop siang ini?" ucap Sazi tersenyum.
"A...aku ada janji dengan Alexa. Dia tidak pernah ke restauran Jepang yang sering kita kunjungi. Aku hanya sekedar mengantar, jangan cemburu, lagipula hanya kamu yang tercantik dari dulu," Dave tersenyum padanya, tidak ada interaksi yang lebih dekat lagi, bergandengan tangan atau mengacak-acak rambutnya bagaikan gemas seperti biasanya. Pemuda itu mulai berubah, namun bukan perubahan fisik dan pakaian seperti kesatria baja hitam. Tapi lebih pada sifatnya.
"Tapi aku sudah membeli dua tiket, aku..." kata-kata Sazi terhenti, Dave menatap tajam padanya.
"Kamu tidak mempercayaiku!? Kita sudah saling mengenal dari kecil. Aku sudah berbaik hati padamu mengantar sepupumu! Itu bentuk perhatianku padamu, agar kamu tidak sakit menempuh perjalanan jauh!!" bentak Dave terlihat kesal.
"Bukan begitu, aku mohon jangan marah. Aku yang terlalu sensitif, karena salah paham. Aku..." ucap Sazi. Namun, dengan cepat Dave menepis tangannya, terlihat acuh.
"Alexa ayo kita pergi! Tingkah laku Sazi semakin aneh saja..." cibirnya, menarik tangan Alexa yang diam-diam tersenyum. Meninggalkan Sazi yang masih tertunduk dengan air mata yang hampir menetes. Apa mereka benar ini kesalahannya yang terlalu sensitif?
Hanya dua langkah saja kepergian Dave, suara itu terdengar juga."Tiket bioskop!? Daripada terbuang boleh aku pergi denganmu!?" tanya Rion, bagaikan burung elang bermata tajam yang terbang mengintai berputar-putar di atas langit menukik turun dengan rajam kala sang harimau pergi dengan seekor sigung (sejenis hewan yang terlihat menggemaskan, namun mengeluarkan bau busuk) meninggalkan kelinci putih kecil yang manis.
Sang kelinci putih yang ditinggalkan sang harimau tersenyum, pada burung elang yang telah mengintai dari dulu untuk merebutnya dari harimau.
Maaf salah, maksudnya Sazi yang ditinggalkan Dave tersenyum, pada Rion yang telah mencari kesempatan dari dulu untuk merebut Sazi dari Dave.
Sazi mengangguk."Dari pada terbuang, ini untukmu..." ucapnya mengeluarkan satu tiket dari dalam sakunya.
Seketika langkah Dave terhenti, belum sama sekali menoleh ke belakang. Tapi suara yang benar-benar terdengar, Sazi bersedia pergi dengan pria lain tanpa ragu?
"Dave? Kenapa berhenti?" tanya Alexa yang ikut menghentikan langkahnya.
"Film horor, nanti jika kamu ketakutan jangan ragu untuk memelukku..." candaan Rion tersenyum ke arahnya.
Sazi mengangguk tertawa kecil."Timbunan lemak jahatmu, membuatmu seperti Tedy Bear..."
"Aku Tedy Bear yang menyenangkan untuk di peluk," ucapnya ikut tertawa.
Dave mengepalkan tangannya, bayangan jika Sazi berpelukan dengan pria lain terlintas. Mencintainya? Cinta dapat tumbuh seiring waktu, dan 9 tahun bukan waktu mengenal yang singkat.
Hingga pemuda itu berbalik, menatap tajam ke arah Rion."Apa maksudmu pergi ke bioskop dengan tunanganku!?" bentaknya.
"Ini, begini maksudnya, pergi ke bioskop dengan menaiki kendaraan, kemudian menonton film horor lalu pulang..." jawaban Rion berusaha menjawab sebodoh mungkin.
Aku ingin berkata terang-terangan. Aku menyukai pacarmu, ingin berselingkuh dengannya. Perlahan dia akan menyukaiku, kemudian putus denganmu. Saat itu aku akan berkata, aku memungut sekotak perhiasan yang kamu buang... batinnya berusaha agar tidak tertawa.
Dave memijit pelipisnya sendiri, berbicara dengan orang bodoh dengan IQ rendah ini memang harus banyak-banyak bersabar."Maksudku apa tujuanmu pergi ke bioskop dengan Sazi!?"
"Menonton film..." jawaban polos dari bibirnya.
Merebut pacarmu... isi fikiran busuknya.
Sementara Sazi menipiskan bibir menahan tawanya, menatap Dave yang bingung harus marah dengan cara apalagi.
"Kamu menyukai Sazi!? Apa kamu ingin merebutnya!?" bentak Dave lagi, pada si bodoh.
"Akhirnya aku mengerti." Rion menghela napas kasar, terlihat berfikir.
"Semua makhluk ciptaan Tuhan patut disukai, dicintai dan dikasihi, agar tidak pernah timbul kebencian. Karena itu aku menyukai Sazi,"
"Masalah merebutnya, kamu salah paham, ibu guru kimia pernah mengatakan di kelas. Semua makhluk diciptakan oleh Tuhan, hanya dimiliki oleh Tuhan. Semua yang ada disini adalah titipan-Nya. Jadi tidak ada istilah merebut Sazi, karena Sazi bukan milikku atau milikmu. Melainkan milik Tuhan..." lanjutnya.
Aku adalah Rion, mengalihkan pandanganmu sedikit saja dari Sazi. Atau mencoba menyia-nyiakannya, maka dia akan menjadi milikku... gumamnya dalam hati.
Alexa mengenyitkan keningnya, berbisik pada Dave."Guru kimia di sekolah ini rangkap mengajar pelajaran budi pekerti dan agama?"
Sementara Sazi yang awalnya menipiskan bibir, mulai tertawa. Bahkan hingga memegangi perutnya. Dirinya hanya milik Tuhan? Tentu saja benar. Tapi itu penjelasan dari guru Kimia?
"Buluk, dengar! Kamu tidak boleh keluar dengan pacarku! Mana tiketnya!?" bentaknya lagi.
"Ini diberikan Sazi untukku. Aku tidak pernah ke bioskop sama sekali. Kamu tega merampok dari seorang fakir miskin?" ucapnya memeluk tiket terlihat memelas.
Alexa mengepalkan tangannya, kenapa jadi seperti ini? Dave cemburu? Tidak, tidak boleh, Dave hanya boleh melihat ke arahnya."Dave, kita akan ke restauran Jepang nanti siang, kamu lupa?"
"Gundikmu sudah bicara, dengarkan kata-katanya, pergilah ke restauran Jepang. Jangan merebut hak fakir miskin dan anak terlantar. Biarkan aku yang ke bioskop makan popcorn gratis bersama Sazi," ucap Rion cepat.
"Alexa, maaf, akan aku ganti nanti malam mentraktirmu di tempat lain..." Dave masih menatap tajam pada Rion.
Tidak menyadari segalanya, terbiasa bersama membuatnya menganggap kehadiran Sazi tidak penting dan menarik. Bagaikan warna hitam putih dalam hidupnya. Sedangkan Alexa yang baru hadir di hidupnya memberikan kesegaran dan warna yang berbeda.
Perasaannya pada Sazi, semua tertutup oleh kehadiran sesuatu yang baru, terasa berbeda lebih menarik. Tapi daya pikat tanpa cinta hanya karena sesuatu yang semu akan menghilang seiring waktu, tidak disadari oleh seorang Dave.
Masih merasa nyaman karena Sazi selalu ada untuknya, namun akan ada saatnya dirinya sendiri yang melukai gadis itu terlalu dalam. Tersenyum di atas penderitaannya. Kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ketika menyadari saat cinta semu karena daya pikat sesaat akan memutar seiring waktu.
Alexa menghela napas kasar, berusaha untuk bersabar, kemudian berbisik padanya."Kita bertemu di hotel, memesan room service,"
Perlahan Dave tersenyum menoleh pada Alexa yang berjalan mendekati Sazi.
"Sazi, aku adalah sepupumu jangan terlalu cemburu atau mengkhianati pria sempurna seperti Dave. Dia hanya mengantarku berkeliling. Aku tau, aku menumpang di rumahmu. Aku juga tipikal orang yang sadar diri, dengan statusku..." ucapnya dengan raut wajah bagaikan hampir menangis. Berlari meninggalkan mereka.
Berpura-pura menjadi sepupu yang dirundung, mengetahui Dave akan berlari menyusulnya.
Dave menghela napas kasar hendak mengejar Alexa, namun...
"Kamu pakai baju apa nanti siang? Merah ya? Supaya warna baju kita serasi..." ucap Rion pada Sazi, terlihat antusias.
"Apanya yang serasi!?" bentak Dave kembali berbalik, tidak jadi mengejar Alexa.
Bersamaan dengan Alexa yang tidak memperhatikan jalan ketika membuat adegan berlari karena di bully sepupunya. Hingga tiang net lapangan voli, dibenturnya menyisakan dirinya yang jatuh terpelanting.
Rion mengenyitkan keningnya, menahan tawanya. Drama menyedihkan Alexa karena di bully sepupu menjadi komedi kocak ala warkop DKI. Beberapa siswa yang bersiap akan berangkat, mengikuti turnamen voli bahkan tertawa tiada henti.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Bzaa
sakit enggak, malu iya...🤣
2024-06-14
0
Sofiyana Sofi
🤣🤣🤣🤣🤣 aisshhhh
2023-12-26
0
mama angga
aku mewakili rion ketawa guling guling 😂😂🤣🤣🤣
2023-05-23
2