Singapura, beberapa bulan kemudian...
Alat bantu pernapasan masih terpasang padanya, serta beberapa alat medis lain. Salinan surat wasiat yang disimpannya pada tempat yang lebih aman. Tidak ada lagi yang menjadi beban hidupnya.
Akankah putrinya menemukan cinta sejati dalam hidupnya seperti dirinya? Matanya menatap ke arah jendela ruang rawatnya.
Vallentina itulah nama almarhum istrinya. Bibirnya tersenyum, dirinya sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk putrinya. Hujan yang tiba-tiba mengguyur membuat kaca jendela berembun."Aku merindukanmu..." ucapnya lirih, air mata yang mengalir. Bahkan tangannya terlalu lemah untuk menyeka.
"Apa aku sudah berbuat yang terbaik untuk putri kita?" tanyanya dalam ruangan kosong, masih terpaku menatap ke arah jendela berembun.
Menahan rasa sakit selama 18 tahun. Menikahi wanita yang tidak dicintainya, hanya untuk membahagiakan putrinya. Mencari ibu sambung yang baik.
Ini menyakitkan baginya, mengapa istrinya harus tiada di usia yang begitu muda. Hingga vonis leukimia stadium 4 akhir seakan bagaikan tiket untuknya, bertemu kembali dengan wanita tercantik di hidupnya.
Menjalin hubungan selama 7 tahun dengan Vallentina, namun hanya satu tahun mengikat janji suci, istrinya telah dipanggil oleh-Nya, akibat pendarahan kala melahirkan putri mereka.
Darah tiba-tiba mengalir dari hidung Herry, kepalanya terasa sakit. Napasnya perlahan tidak teratur. Seorang suster segera masuk, diikuti memanggil dokter dan perawat lainnya.
Pendarahan yang semakin parah, terasa aliran darah di telinganya. Mungkin pembuluh darah di otaknya pecah. Deru nafas yang tidak teratur, berbagai tindakan medis dilakukan perawat yang hanya ditatapnya. Dirinya telah merelakan hidupnya.
Jika diberi umur panjang, dirinya ingin bertemu dengan cucu-cucunya. Namun, jika hanya sampai disini, dirinya ingin pergi dengan tenang menemui istrinya, yang telah lama menghadap Yang Maha Kuasa. Pasrah akan jalannya takdir yang membimbingnya.
Aku bagaikan komet Halley yang melintasi bumi 76 tahun sekali. Hanya terlihat beberapa jam, mungkin itulah diriku dimata putriku... aku yang terlalu sibuk mencari uang, sejatinya bukan untuk mengejar harta. Namun, menepis kesedihanku setelah kehilangan Vallen...
Apa aku ayah yang buruk? Memang benar, tinggal beberapa hari hanya untuk berkemah atau ke taman bermain dengan putriku, melihat senyumannya...
Vallen maaf, mencarikan ibu yang lain untuk putri kita...
Kata-kata yang tertahan dalam benaknya. Pandangan matanya mulai kosong, kesadaran yang perlahan akan lenyap, meninggalkan tubuh mendingin tanpa nyawa di dalamnya.
Inilah akhir hidupnya, mungkin ini akhir dari perjalanan panjang melelahkannya. Hidup seorang diri sebagai ayah yang mencintai putrinya, di sisi lain mencintai almarhum istrinya.
Mata itu masih terbuka, dengan kesadaran terakhirnya."Tuhan tolong jaga putriku..." doa terakhir dari seorang ayah, sebelum mata itu benar-benar tidak bercahaya. Napas yang menghilang, detak jantung yang telah lenyap.
Menggunakan alat pacu pun sudah terlambat, nadi terakhir sudah tidak mengantarkan darah ke otaknya. Doa terakhir dalam hidupnya, bukan untuk dirinya sendiri, namun untuk putrinya yang polos.
Mata yang terbuka, disorot menggunakan senter kecil. Layar monitor yang menyatakan jantung tidak berdetak lagi."Catat waktu kematiannya..." perintah sang dokter tertunduk, mengucapkan doa dalam hati pada pasiennya. Agar mendapatkan tempat terbaik di sisinya.
Tapi apa benar? Mungkin tubuh yang mendingin itu telah meninggalkan jiwanya. Bergandengan tangan saling menuntun menghadap-Nya, dengan istri yang dirindukannya.
***
"Ayah..." tangisan lirih itu terdengar, semua orang telah pergi. Tanah pekuburan yang basah, membiarkan pakaian kotor. Sazi tertunduk, berlutut di sana.
"Ayah masih hidup kan?" gumamnya, mencoba menggali kembali makam ayahnya menggunakan tangannya yang berselimut lumpur."Ayah..."
Putus asa? Tentu saja, hanya sang ibu yang dimilikinya kini. Walaupun masih ada Alexa, Dave dan pamannya. Tapi entah kenapa tidak ada yang melebihi cinta sang ayah baginya.
"Agghh..." teriaknya tanpa ada seorangpun yang menghiburnya. Tuhan terasa begitu kejam padanya, setelah kematian Rion kini ayahnya? Bau tanah masih tercium ditengah hujan yang mulai deras, membasahi tanah kering.
Seorang anak perempuan membawa payung tiba-tiba mendekatinya."Kakak jangan menangis..." ucapnya tersenyum, dengan menyodorkan sebuah payung sedangkan satu payung lagi dipakai olehnya. Anak dengan pakaian yang terlihat compang-camping.
"Tuhan memanggilnya karena menyayanginya. Tidak ingin dia menderita sakit lebih lama lagi..." lanjut sang anak, menyodorkan sebungkus roti hangat dan teh hangat."Kirimkan doa untuknya, dan tetap semangat menjalani hidup..." kata-kata dari sang anak membuat Sazi tertegun, menghapus air matanya.
Ayah, tenanglah disana, aku mencintaimu... hanya itulah doa terakhirnya mengecup batu nisan dengan nama Herry disana. Berusaha tersenyum walaupun sulit.
"Terimakasih..." ucap Sazi pada sang anak, menyodorkan tiga lembar uang untuknya.
Tangan sang anak gemetar hendak menerima tiga lembar uang berwarna merah. Namun belum sempat dirinya mengambil, burung elang, eh salah... maksudnya anak katak menatapnya dari jauh, bagaikan memberikan peringatan padanya.
"Tidak usah kak, hanya payung, roti dan teh..." ucap sang anak dengan tangan gemetar, terus menerus melirik tangan Sazi yang berisikan tiga lembar kertas mantra berwarna merah menyala. Kertas mantra yang tidak ampuh pada makhluk gaib, namun ampuh mengendalikan manusia.
Tiga ratus ribu, kakak gemuk itu hanya memberiku 250 ribu. Aku rugi ... gumamnya dalam hati, melirik ke arah Rion yang bersembunyi di dekat pohon besar dengan payung hitam yang dibawanya.
"Kamu anak yang baik, kakak belikan makanan ya?" Sazi tersenyum padanya, membimbingnya pergi, membawanya ke toko terdekat.
Sang anak melirik ke arah Rion yang bersembunyi tanpa disadari Sazi. Menjulurkan lidahnya, mengejek.
"Pengamen kurang ajar..." geram Rion berusaha untuk bersabar. Dirinya yang melatih sang pengamen kecil, bahkan memberikan kertas contekan, berisikan kata-kata motivasi agar Sazi berhenti menangisi kepergian Herry.
Pemuda itu menghela napas, setidaknya Sazi masih dapat tersenyum. Sang pemuda yang datang membawa buket bunga, mendekati makam Herry, tepat setelah kepergian Sazi.
Buket bunga mulai diletakkannya, membawa payung hitam."Rasi bintang Orion akan terus berada di langit, menunjukkan arah. Paman benar, paman hanya komet..." cibirnya tersenyum.
"Putrimu sangat cantik, aku menyukainya. Tapi, aku ingin meminta maaf, tidak dapat menemaninya lebih lama lagi. Ada pekerjaan yang mengharuskanku pergi lebih jauh ke luar pulau. Rencananya aku juga akan mengumpulkan uang untuk kuliah dan mencari pekerjaan yang lebih baik nanti,"
Rion menghela napas kasar, berjongkok di depan makam."Paman, jika aku mapan nanti aku ingin menikahi putrimu. Membawanya pergi jauh, hingga tidak ada yang menggangu kami. Tinggal bertiga dengan ayahku, memiliki banyak anak dengannya,"
"Andaikan Sazi mencintaiku..." Rion menghela napas kasar. Setelah ini perjalanan panjangnya akan dimulai, mencari uang dan kekuasaan agar dapat hidup dengan tenang tanpa gangguan dari ibunya ataupun Gerald.
Membenci Margaretha? Tentu saja, wanita yang membuat ayahnya terpuruk selama bertahun-tahun. Bahkan hampir mengakhiri hidup dirinya dan sang ayah, menginginkan untuk mati besama setelah pernikahan Margaretha.
Seandainya dirinya tidak bisa membaca saat itu, tidak mengetahui ayahnya memasukkan racun tikus ke dalam makanan, tidak dapat membujuk ayahnya untuk tetap memiliki semangat hidup. Mungkin dirinya sudah terkubur di dalam tanah bersama ayahnya yang putus asa akan hidupnya.
Karena itulah Rion menganggap ibunya bagaikan orang asing, ibu yang memalingkan wajah setiap berpapasan dengannya.
"Paman, aku pergi berusaha menjadi yang terbaik untuk menikahi putrimu..." ucapnya tersenyum.
Bersambung
...Ingin membawamu pergi, menjalani kehidupan yang sederhana denganku. Memakan ulat dan serangga, karena aku hanya katak yang berada di tepi kolam......
...Namun, aku menyadarinya......
...Kala dirimu menolak untuk pergi denganku, menatap ke arah air dalam kolam yang jernih bagian cermin, aku hanyalah seekor katak buruk rupa, tidak dapat memberimu makanan yang layak......
...Jika diriku sudah sekaya dan setampan pangeran, apa kamu dapat mencintaiku......
...Jawabannya tidak......
...Hatimu sudah terikat dengannya, aku mengetahuinya......
...Sama seperti ayahku, aku hanyalah seekor katak yang memiliki mimpi terlalu tinggi......
...Ingin memilikimu, dibangun dan tidurku, mencium keningmu penuh senyuman......
...Hingga berakhir mati disaat yang sama denganmu, setelah menatap anak-anak kita, menjadi katak dewasa......
...Tapi itu hanyalah mimpi......
...Karena aku hanya seekor katak yang merindukanmu, di tengah derasnya hujan......
...Aku mencintaimu, lebih besar dari rasa cintanya padamu... tolong lihat aku sekali saja, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya......
Rion...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Hanipah Fitri
aku suka dgn alur ceritanya, sangat menarik
2022-12-29
2
Putri Nunggal
sangat menyayat hati😭😭😭
2022-09-16
2
Ide'R
Kasian Sazi benar2 hanya tnggal sebatang kara.
2022-06-24
2