IQ

"Sakit..." lirihnya, kala Sazi mengobati luka di belakang kepala Rion. Luka yang tidak dalam, namun membuat darah segar yang cukup banyak mengalir.

"Dasar! Sudah selesai..." ucap Sazi tersenyum.

Sang penjaga sekolah tiba-tiba datang membawakan teh hangat untuk mereka."Kenapa belum pulang!? Kalau sudah waktunya, seharusnya langsung pulang..."

"Maaf, aku lupa bawa payung," jawab Sazi tersenyum.

"Kalau kamu?" tanyanya lagi pada Rion.

"Saya mau nebeng payungnya dia. Karena dia kebetulan tidak bawa payung jadi saya tidak bisa pulang..." jawaban tidak masuk akal dari Rion, membuat Sazi dan sang penjaga sekolah hanya dapat menghela napas kasar.

"Dia siswa paling bodoh di kelas, jadi wajar saja." Sazi memijit pelipisnya sendiri, menatap kelakuan pria yang paling dihindari semua orang.

"Aku memang bodoh," jawaban dari Rion tersenyum.

Hingga sebuah mobil berhenti di hadapan warung depan sekolah, tempat mereka berada saat ini. Seorang pria memakai pakaian rapi turun dari mobil, membawa payung hitam."Tuan muda..." ucapnya menunduk.

"Tuan muda!?" gumam Sazi menoleh bersamaan dengan sang penjaga sekolah ke arah Rion.

"Aku bukan seorang tuan muda, jika aku orang kaya, tidak mungkin aku kesulitan membayar uang sekolah..." jawabnya tertawa, membungkam mulut sang supir, membekapnya menggunakan tangannya.

"Apa yang kamu katakan, bilang saja aku ini adikmu," bisiknya pada supir pribadinya, masih menutup mulutnya.

Nyonya besar akan memukuliku jika tau kelakuanmu... gumam sang supir dalam hatinya, menahan kekesalannya.

Bekapan mulutnya dilepaskan, bersamaan dengan sang supir mengenyitkan keningnya."Adik malang yang dilahirkan ibuku, silahkan naik ke dalam mobil milik majikan kakakmu yang berprofesi sebagai supir ini," ucapnya kaku.

Rion memijit pelipisnya sendiri, menghela napas kasar."Kakakku memang suka bercanda, dia seorang supir pribadi keluarga kaya," ucapnya tertawa canggung.

Sazi mulai meminum sedikit teh hangatnya."Pulanglah duluan,"

"Aku akan menunggumu disini..." jawaban darinya, terpaku.

"Tapi kakakmu, bagaimana jika majikannya tau?" Sazi mengenyitkan keningnya.

"Tidak apa-apa majikannya sedang ke luar negeri, dan dia punya banyak waktu senggang. Iya kan kakak?" tanyanya menoleh ke arah sang supir agar ikut bekerja sama.

"Iya..." jawabnya menunduk bagaikan memberi hormat.

Bocah sial... gumam sang supir dalam hatinya.

Bau gorengan hangat tercium, mereka mulai memakannya menahan rasa dingin yang menerpa tubuh. Sesekali Rion melirik ke arah gadis tercantik di kelasnya itu. Wanita tegas, galak, mandiri dan baik hati, berbeda dengan dirinya. Benar-benar jarak besar yang bagaikan jurang.

Hanya beberapa saat perasaan hangat itu terasa, memakan gorengan bersama di tengah hujan lebat. Sosok itu akhirnya tiba juga, ketika hujan telah reda mengendarai motor sport menjemputnya, pria yang selalu dicintai Sazi.

Helm itu terbuka, seorang pemuda rupawan memanggil namanya."Sazi ayo pulang," panggilnya menyodorkan helm.

Sazi tersenyum, berjalan mendekatinya pria cerdas, berwajah rupawan, itulah tunangan Sazi, Dave. Benar-benar terlihat serasi...

"Rion, aku pulang duluan!" ucapnya memeluk pinggang pemuda itu. Dengan erat, hingga motor melaju meninggalkan area depan warung.

Wajah Rion nampak tersenyum, akhirnya wanita itu memanggil namanya. Air matanya mengalir diseka olehnya. Cinta pertama? Mungkin itulah dia, karena inilah Rion mengikutinya dari sekolah menengah pertama.

Bahkan namanya tidak pernah dipanggil sekalipun. Hanya buluk, Itulah nama panggilan dari Sazi, karena memang begitulah dari dulu. Namun kini Rion? Namanya benar-benar diingat.

Jemari tangan mengepal, memasuki mobil yang akan melaju menuju rumah sang nenek. Kaya? Tidak, dirinya hanya cucu luar dari keluarga konglomerat. Ayahnya seorang buruh angkut di pasar yang sakit-sakitan.

Sedangkan ibunya nona muda yang meninggalkan statusnya demi cinta, dengan kata-kata pada sang nenek dahulu, 'uang tidak penting, yang penting kami bersama dan saling mencintai'.

Namun hanya bertahan tiga tahun, sang ibu kembali pada keluarganya, meninggalkan putranya yang masih balita dan sang suami, dengan kata-kata yang berbeda 'aku pulang! Cinta tidak akan bisa membuat kenyang!'

Munafik bukan? Namun, itulah ibunya yang kemudian menikah lagi dengan duda beranak satu, seorang pria kalangan atas. Memiliki segalanya, berpenghasilan besar. Segera setelah menikah mereka memiliki tiga orang anak perempuan.

Untuk apa Rion dipanggil ke rumah keluarga itu? Tentu saja, setelah belasan tahun sang nenek putus asa. Hanya anak laki-laki di keluarga tersebut yang akan memiliki hak waris, menurut wasiat sang kakek yang telah lama meninggal.

Ibunya hanya memiliki anak sambung laki-laki bukan anak kandungnya, dan tiga orang putri dari pernikahan keduanya. Untuk itulah Rion yang tinggal bertahun-tahun dengan ayahnya didatangkan oleh sang nenek.

Tangan remaja gemuk itu mengepal, mengingat setiap sudut rumah yang penuh dengan penghinaan. Bahkan pelayan sekalipun pernah menghina ayahnya, kala sang ayah menggedongnya. Ingin meminjam uang untuk dirinya yang demam dengan suhu tinggi.

Semua hal yang tidak akan pernah dilupakannya. Dirinya hidup cukup bahagia dengan ayahnya, walaupun dibawah garis kemiskinan.

Namun, ada hal yang tidak dimengerti olehnya hingga saat ini. Ayahnya ingin dirinya berpura-pura bodoh. Hanya agar suami sang ibu, tidak mengusiknya. Agar sang nenek tidak mengharapkannya menjadi pewaris.

Siapa yang menyangka IQ Rion, siswa dengan peringkat paling belakang di kelasnya mencapai 193. Menjadi gemuk, jelek dan bodoh agar dapat selamat dari ayah tirinya.

Tapi tetap saja, gender dan hubungan darah menjadi tolak ukur bagi sang nenek untuk mendatangkan cucunya kembali. Awal sebuah bencana yang akan terjadi.

Mobil mulai memasuki pekarangan rumah yang luas. Dedaunan masih terlihat basah, pintu belakang dibukakan sang supir. Dengan ragu Rion melangkah masuk, bertingkah bodoh hanya itulah yang harus dilakukannya nanti.

Gemuk, menjemukan dan bodoh itu cukup agar sang nenek tidak memandangnya penuh harap lagi. Agar ayah tirinya tidak mengancam akan membunuhnya seperti saat dirinya berusia lima tahun.

Kali ini ibunya Margaretha tidak ada disana, bahkan ayah tirinya Gerald juga tidak ada. Hanya sang nenek dengan rambut memutih memakai pakaian berkelas terlihat anggun dengan rangkaian kalung mutiara kwalitas terbaik terangkai di lehernya.

Menatap ke arah cucu gemuknya yang babak belur, memakai baju seragam kotor setengah kering.

"Rion? Kamu kenapa?" tanya Silvia (sang nenek) mengenyitkan menatap ke arah cucu laki-laki kandungnya. Tangannya gemetar berusaha untuk tersenyum, apa benar ini cucu yang terpilih sebagai generasi penerus keluarganya?

Berbanding terbalik dengan Jameson (putra sambung Margaretha), bertubuh atletis, pintar, berwibawa, berwajah rupawan.

"Aku? Ini karena ada promosi beli satu gratis satu, jadi aku mengambil dua roti dengan rasa yang sama, ternyata harus dengan dua rasa yang berbeda. Aku berdebat dengan kasir minimarket kemudian melarikan diri, setelah meninggalkan uang membawa rotinya,"

"Kasirnya berteriak maling, kemudian aku dipukuli..." ucapnya tersenyum, pria gemuk dengan satu mata yang lebam, kepala di perban, beberapa luka memar di lengan. Menceritakan kebohongan bodoh yang dikarangnya.

Silvia memijit pelipisnya sendiri, bagaimana nasib perusahaan yang diwariskan turun-temurun jika generasi selanjutnya seperti ini?

"Kamu harus belajar lebih dewasa," ucap sang nenek.

"Aku memang sudah dewasa, bahkan pernah mengalami mimpi basah..." jawaban darinya, menahan malunya. Tapi ini memang harus dilakukannya agar dapat hidup dengan tenang besama ayahnya.

"Mimpi basah, bukan tolak ukur kedewasaan." Sang nenek bertambah kesal.

"Nenek sudah tua, apa pernah mimpi basah?" kata-kata dari cucunya yang terlihat dungu.

"Mimpi basah hanya untuk pria!! Kalau wanita menstruasi!! Kamu tidak belajar pelajaran biologi!? Bahkan anak SMP pun tau!!" bentak neneknya.

Aku tau, saat oragan reproduksi manusia siap untuk berkembang biak. Maka aku akan mengalami mimpi basah, dan Sazi akan mengalami menstruasi... batinnya, memikirkan Sazi dalam setiap tindakannya.

"Aku sudah SMU, jadi lupa pelajaran SMP, bukunya juga sudah aku jual pada pemulung. Supaya bisa beli ayam goreng..." jawaban darinya.

Benar-benar keterlaluan, sudah gemuk, pembuat masalah, bodoh, apa dosanya hingga memiliki cucu kandung laki-laki satu-satunya sebodoh ini. Mengumumkan pada media pun, dirinya hanya akan malu sendiri.

Karena itu, hanya setelah ini, dirinya akan menyerah. Menjadikan Jameson yang tidak memiliki hubungan darah sebagai pewaris tunggal keluarga ini.

"Ini! Kerjakan dengan baik!" ucapnya menyodorkan beberapa lembar kertas."Jika kamu dapat mengerjakannya, nenek akan membayar uang tunggakan sekolahmu. Sampai uang ujiannya sekalian!!"

"Ini apa?" tanyanya yang menatap beberapa pertanyaan aneh pada kertas.

"Pertanyaan untuk orang bodoh! Jika bisa menjawabnya nenek tidak akan memanggilmu kemari lagi..." jawaban Silvia jenuh menatap ke arah cucunya.

Selang beberapa belas menit, seluruh pertanyaan dijawab cucunya."Nenek sudah selesai, aku pamit pulang..."

"Em..." hanya itu jawaban sang nenek yang sibuk membaca berkas-berkas perusahaan miliknya.

Rion melangkah pergi perlahan, tidak curiga sedikitpun. Pasalnya pertanyaan pada kertas bukan pertanyaan di bidang akademis. Supir membukakan pintu untuknya, agar segera mengantarnya kembali ke pemukiman kumuh.

Rumah besar itu ditatapnya untuk terakhir kali, hanya orang-orang munafik yang ada disana, menurutnya.

***

Sementara itu Silvia masih fokus pada berkas-berkas yang menumpuk. Hingga seorang psikolog tiba."Nyonya besar..." ucapnya tertunduk.

"Itu lembaran jawabannya, katakan IQ-nya berapa, jangan ragu dan jangan ditutup-tutupi. Dia benar-benar sebuah kegagalan, jika hanya 80 saja mungkin sudah bagus..." cibirnya.

Beberapa menit memeriksa, sang psikolog mengenyitkan keningnya. Membaca satu-persatu dengan seksama, bahkan tes gambar.

"Nyo... nyonya besar..." ucapnya ragu.

"Em?" Sivia, meraih secangkir teh hijau lalu meminumnya.

"IQ-nya 193," jawaban sang psikolog.

Prrhh....

Teh itu menyembur, Silvia terbatuk-batuk mendengarnya."Si bodoh ternyata keturunan unggulan dengan IQ tinggi? Dia pura-pura bodoh!?"

Bersambung

Terpopuler

Comments

Яцяу

Яцяу

kali ini rion salah strategi

2023-05-20

2

Яцяу

Яцяу

dasar rion 😂🤣

2023-05-20

1

Hanipah Fitri

Hanipah Fitri

ceritanya bagus

2022-12-18

3

lihat semua
Episodes
1 Kamu Di Mataku
2 IQ
3 Jalan Belakang
4 Pencuri
5 Talas
6 Merah ya
7 Frog
8 Spesies Berbahaya
9 Kasih
10 Kata-kata Dari Orang Lain
11 Ubi
12 Buanglah Sampah Pada Tempatnya
13 Duka
14 Bucin
15 Anak Katak
16 Pergi
17 Ukuran
18 Muak
19 Tinggallah Bersamaku
20 Akan Melakukan Apapun
21 Memilih Pasangan Hidup
22 Tidak Pernah Ada
23 Hadiah Mobil
24 Karya Terbaik
25 Hidup Ini Indah
26 Pasukan Penyerbu Outlet
27 Grimm Ripper
28 Kalah
29 Keinginan
30 Pabrik
31 Calon Kaisar
32 Melindungi
33 Gudang
34 Jika
35 Miss You
36 Dekat
37 Tensi
38 Pilihan
39 Bukan Tipe
40 Mission
41 Fatamorgana
42 Meminta Ijin
43 Anak Darimu
44 Senyuman
45 Rindu
46 Secret Of The Cat
47 Affair
48 Grimm
49 Dinner
50 Rion
51 Mati Atau Tidak
52 Manisan
53 Geram
54 Mouse
55 Merindu Lagi
56 Siapa Pelakunya
57 Dusta
58 Kulit Buaya
59 Imajinasi
60 Celah
61 Memalukan
62 Nilai Cinta
63 Kejahatan
64 Two Rings
65 Like Father Like Son
66 Masa Depan
67 Sama Saja
68 Menginginkan
69 Anak Katak Yang Tidak Bisa Berenang
70 Akhir Cerita
71 Anak Kecil
72 Istri Orang
73 Hikaru
74 Ayah
75 Kabut
76 Bagaimana?
77 Mati Dengan Cara Apa
78 Fans Fanatik
79 Materialistis
80 Maaf
81 Cara Apa
82 Oh Belinda
83 Supir Truk Kalau Beruntung
84 Ujung Pertengkaran
85 Maaf
86 Full Service
87 Penguntit
88 Kita Pacaran
89 Maaf Dan Terimakasih
90 Bucin Tingkat Dewa
91 Ikan Emas
92 Seonggok Daging
93 Karma
94 Pisau
95 Pain
96 Pria Lain
97 Satu Spesies
98 Nanti
99 Tidak Ada
100 Kutukan
101 Spesial Episode
102 Gugurkan
103 Pendarahan
104 Sesekali
105 Satu Titik
106 Koala
107 Pasir
108 Keluarga
109 Akhir
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Kamu Di Mataku
2
IQ
3
Jalan Belakang
4
Pencuri
5
Talas
6
Merah ya
7
Frog
8
Spesies Berbahaya
9
Kasih
10
Kata-kata Dari Orang Lain
11
Ubi
12
Buanglah Sampah Pada Tempatnya
13
Duka
14
Bucin
15
Anak Katak
16
Pergi
17
Ukuran
18
Muak
19
Tinggallah Bersamaku
20
Akan Melakukan Apapun
21
Memilih Pasangan Hidup
22
Tidak Pernah Ada
23
Hadiah Mobil
24
Karya Terbaik
25
Hidup Ini Indah
26
Pasukan Penyerbu Outlet
27
Grimm Ripper
28
Kalah
29
Keinginan
30
Pabrik
31
Calon Kaisar
32
Melindungi
33
Gudang
34
Jika
35
Miss You
36
Dekat
37
Tensi
38
Pilihan
39
Bukan Tipe
40
Mission
41
Fatamorgana
42
Meminta Ijin
43
Anak Darimu
44
Senyuman
45
Rindu
46
Secret Of The Cat
47
Affair
48
Grimm
49
Dinner
50
Rion
51
Mati Atau Tidak
52
Manisan
53
Geram
54
Mouse
55
Merindu Lagi
56
Siapa Pelakunya
57
Dusta
58
Kulit Buaya
59
Imajinasi
60
Celah
61
Memalukan
62
Nilai Cinta
63
Kejahatan
64
Two Rings
65
Like Father Like Son
66
Masa Depan
67
Sama Saja
68
Menginginkan
69
Anak Katak Yang Tidak Bisa Berenang
70
Akhir Cerita
71
Anak Kecil
72
Istri Orang
73
Hikaru
74
Ayah
75
Kabut
76
Bagaimana?
77
Mati Dengan Cara Apa
78
Fans Fanatik
79
Materialistis
80
Maaf
81
Cara Apa
82
Oh Belinda
83
Supir Truk Kalau Beruntung
84
Ujung Pertengkaran
85
Maaf
86
Full Service
87
Penguntit
88
Kita Pacaran
89
Maaf Dan Terimakasih
90
Bucin Tingkat Dewa
91
Ikan Emas
92
Seonggok Daging
93
Karma
94
Pisau
95
Pain
96
Pria Lain
97
Satu Spesies
98
Nanti
99
Tidak Ada
100
Kutukan
101
Spesial Episode
102
Gugurkan
103
Pendarahan
104
Sesekali
105
Satu Titik
106
Koala
107
Pasir
108
Keluarga
109
Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!