Margaretha terdiam menatap ke arah berita di televisi. Seharian ini dirinya terdiam di kamarnya. Bahagia? Tidak, sesak rasanya, menatap bus yang diderek, bus yang terlihat remuk, tidak berbentuk.
Membenci Fino? Dirinya sudah hidup bahagia bukan? Seharusnya dirinya bahagia, menatap kepergian Fino dan anak yang enggan ditemuinya. Tapi pada kenyataannya air matanya mengalir tanpa dapat ditahannya."Fino sialan!! Rion bodoh!!" isak tangisannya terdengar.
Hanya Silvia satu-satunya orang yang berduka di rumah itu. Sedangkan dirinya, bagaikan mengikuti keinginan Gerald, Gerald yang entah kenapa tersenyum saat mendengar kematian Rion dan Fino.
Tidak perlu mencemaskan apapun, Jameson dan ketiga putri mereka dapat mewarisi segalanya. Namun, hatinya tetap merasa sakit entah kenapa...
Leony (putri pertama Margaretha) memasuki kamar menatap ibunya yang tertunduk terisak dalam tangisannya."Ibu kenapa menangis?" tanyanya.
"Kakakmu meninggal, dia..." kata-kata Margaretha disela.
"Dia bukan kakakku! Kakakku hanya Jameson! Kenapa ibu tidak mengerti, dia hanya makhluk gemuk yang..." ucapan Leony terhenti.
Margaretha menggeleng, memegang bahu putrinya."Dia juga kakakmu, selepas kalian mengakuinya atau tidak, darah ibu tetap mengalir dalam tubuhnya. Jadi..."
"Aku mau keluar!!" bentak putrinya, yang masih berada di sekolah menengah pertama, menepis tangan Margaretha.
Margaretha hanya terdiam, inilah mengapa dirinya lebih berpihak pada Gerald. Ketiga putrinya juga terlalu malu mengakui kakak mereka yang gemuk, Rion yang selalu bicara bagaikan seorang idiot.
Wanita itu menghela napas kasar, menatap ke arah foto pernikahannya dengan Gerald. Apa dirinya bahagia? Pria yang selalu memaksanya berhubungan, tidak peduli dirinya sakit atau kelelahan. Tidak pernah menunjukkan sifat manis, seperti sebelum pernikahan.
Dirinya membuang dan melupakan Fino, pemuda yang dahulu diperjuangkan olehnya, karena tidak ingin menjalani kehidupan yang sulit. Kehidupan yang sulit? Apa benar? Seberapa pun dirinya marah, Fino akan mengalah padanya.
Menyisihkan uang hasil kerja kerasnya yang sedikit untuk membelikannya martabak manis, untuk istrinya. Walaupun, Fino sendiri hanya memakan kerupuk. Fino yang tersenyum dalam tempat kost sempit. Bagaimanapun dirinya mencaci, pria itu hanya akan diam, mencium keningnya dan meminta maaf.
Sakit-sakitan? Dari dulu Fino memang sakit-sakitan, memiliki fisik yang lemah sedari kecil. Tapi, tetap berusaha bertahan menyayanginya dengan tulus.
Tidak disangka, dengan cara ini kepergiannya. Apa Fino suami yang buruk? Itulah selama bertahun-tahun anggapan yang ditanamkan teman-teman sesama sosialita dan ibunya. Membuatnya beranggapan hal yang sama, dirinya lebih bahagia dengan Gerald.
Walaupun pada kenyataannya tidak, ada kalanya samar-samar bau parfum wanita lain terdapat di pakaian Gerald. Bekas cakaran yang tidak dibuat olehnya, berada di tubuh pria itu.
Siapa yang mengatakan menikah dengan seorang CEO dingin, berwajah rupawan, akan berakhir bahagia? Dirinya tidak bahagia, hati yang membeku bagaikan bongkahan es, setelah 13 tahun pernikahan mereka tetap sama. Jemari tangannya mengepal, menghapus air matanya.
Margaretha bukanlah orang jenius, namun untuk masalah perusahaan, almarhum ayahnya sudah cukup banyak mengajarinya. Dirinya mengepalkan tangan, biaya hidup, gaji pelayan ditanggung oleh Silvia. Bahkan, kerjasama perusahaan yang hanya menguntungkan perusahaan milik Gerald.
Menumpang hidup? Itulah yang terjadi dalam pernikahannya dengan sang CEO dingin yang terlihat sempurna dari luar. Pria yang tidak mengeluarkan uang sedikitpun untuk anak-anaknya. Bahkan biaya sekolah, khursus Jameson ditanggung oleh keluarganya. Begitu juga dengan ketiga putrinya.
Mungkin karena inilah almarhum ayahnya, memberi persyaratan saat dirinya menikah dengan Fino. Menjalani hidup di luar rumah selama beberapa tahun, bergantung pada sang suami. Ingin Fino bertanggung jawab, mengujinya, untuk tidak bergantung pada harta keluarga yang dimiliki Margaretha.
Tapi Margaretha-lah yang menyerah pada akhirnya. Pulang menyeret kopernya kembali, meninggalkan putranya yang masih balita.
Ayahnya sendiri hanya menitikan air matanya, menatap ke arahnya."Kamu menyerah? Bagaimana dengan cucuku? Bagaimana dengan keturunanku?" kata-kata dari sang ayah saat itu yang tengah sakit keras.
Pada akhirnya meregang nyawanya beberapa bulan setelah perceraiannya dengan Fino. Inilah tujuan almarhum ayahnya yang sebenarnya, bukannya tidak menyetujui hubungannya dengan Fino. Hanya ingin menguji menantunya, agar tidak terpaku dengan harta.
Tapi dirinya dan Silvia mungkin salah mengartikan, menganggap sang ayah tidak menyetujui hubungannya dengan Fino yang tidak memiliki apa-apa. Mungkin karena itulah, sebelum kematiannya, sang ayah beberapa kali mengusirnya, ingin Margaretha kembali pada suaminya.
Fino suami yang bertanggung jawab, sedangkan dirinya-lah yang menyerah pada akhirnya. Menikahi seorang CEO kaya yang hanya menjadi benalu.
Menyesal? Mungkin itulah yang terjadi pada dirinya. Meninggalkan Fino yang mencintainya demi seorang Gerald. Pria yang terlihat menarik hanya dari luarnya saja.
Prang...
Suara pecahan kaca terdengar, kali ini entah apa yang membuat Gerald marah. Margaretha segera berlari keluar.
"Queen!! Apa saja yang kamu pelajari! Peringkat 20!? Kamu sudah gila ya!? Mau menjadi idiot seperti kakak tirimu!?" bentak Gerald, menjambak rambut putri keduanya, yang masih sekolah dasar.
"Ibu ..." Queen menangis lirih, dengan tangan yang memar.
"Gerald!! Hentikan!!" bentak Margaretha, berjalan cepat, menampik tangan suaminya, yang menjambak rambut putrinya.
"Ini kesalahanmu sebagai seorang ibu!! Queen dan Desi berada di peringkat terakhir!! Gen bodoh mengalir dari darahmu!!" Gerald meninggikan intonasi bicaranya.
"Pergi!!" Margaretha memeluk putrinya, air matanya mengalir tangannya terlihat mengepal.
"Kamu bilang apa?" tanya Gerald memastikan pendengarannya.
"Aku bilang pergi!! Buatlah keturunan jenius dengan wanita penghibur!!" teriakan Margaretha.
Plak...
Satu tamparan keras mendarat di pipinya yang memerah, terasa kebas. Menatap ke arah suaminya, untuk pertama kalinya Gerald menampar dirinya.
"Wasiat ayahmu adalah keturunan laki-laki di keluarganya. Rion sudah tidak ada, tidak akan ada pilihan lain, selain Jameson atau Leony..." gumam pria itu tersenyum.
"Aku ingin bercerai!!" Margaretha mencengkram gaunnya. Tertunduk dengan air mata yang mengalir.
Gerald berjalan mendekat berbisik pada istrinya,"Kematian Rion dan Fino adalah perbuatanku. Ingin bercerai? Tapi Leony berpihak padaku. Diam dan jadilah istri yang baik, maka aku tidak akan menyentuh Queen dan Desi, anak-anak yang berasal dari genmu yang bodoh..."
"Queen dan Desi juga putrimu!!" Margaretha menitikkan air matanya, masih mendekap tubuh putrinya.
"Aku tau, tapi keturunan yang tidak berguna. Sama seperti si gemuk yang sudah mati. Jangan mencoba untuk bercerai, jika tidak kedua anakmu akan mati sebelum palu pengadilan diketuk..." cibir Gerald tersenyum, menatap ke arah istri dan putrinya. Berjalan pergi meninggalkan mereka menelusuri lorong.
Rumah luas yang sejatinya bukan milik Gerald. Lukisan tua seorang pemuda masih berada di sana. Seakan tidak akan rela, hal yang terjadi pada keturunannya.
Sementara Margaretha masih tertunduk, tidak mengetahui semua ini akan terjadi setelah 13 tahun pernikahannya. Leony yang cerdas, satu-satunya anak yang dimanjakan oleh Gerald. Sedangkan Queen dan Desi kerap dicibir namun dulu tidak pernah mengalami kekerasan fisik.
Ternyata inilah tujuannya, setelah kematian Fino dan Rion semuanya terlihat jelas. Bukan hanya rupa luarnya yang dingin, namun hatinya juga sedingin es.
"Queen, dimana adikmu?" tanya Margaretha, menghapus air matanya sendiri, berusaha untuk tersenyum.
"Di kamar..." jawaban dari Queen menunjuk pintu kamar yang sedikit terbuka.
Perlahan Margaretha membuka pintu kamar, keadaan yang lebih buruk. Putri kecilnya dipenuhi dengan bekas cambukan, meringkuk menangis di atas tempat tidur.
Wanita itu menutup mulutnya dengan tangannya. Air matanya berurai mendekati putrinya. Hanya karena tidak sepintar Jameson dan Leony semua ini terjadi?
"Ibu..." ucap Desi lirih berurai air mata. Dengan cepat Margaretha, menghampiri putrinya, mendekap tubuh kecilnya erat.
"Ayah mencambukku dengan ikat pinggang, sesuai peringkatku. Aku peringkat 18 dia mencambukku 18 kali..." lirih Desi, terisak menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Apa ini karena kematian kak Rion? Kak Rion bodoh tapi baik hati, dia terkadang memberikanku permen jika bertemu. Sedangkan kak Jameson, sering menertawakanku di depan teman-temannya. Apa ayah berubah karena kematian kak Rion?" tanya Queen pada sang ibu.
"Kamu tau darimana?" tanya Margaretha, masih mendekap tubuh Desi.
"Ayah mengatakan, semua yang ada di rumah ini milik Jameson dan Leony, setelah si gemuk bodoh mati. Jika kami ingin makan, kami harus pintar. Aku sudah berusaha belajar... tapi..." ucap Queen ragu.
Margaretha merentangkan tangannya, memeluk kedua putrinya."Kalian tidak perlu menjadi sempurna. Queen pintar menari, sedangkan Desi pintar bernyanyi, cukup menjadi diri sendiri. Ibu akan melindungi kalian..." ucapnya, berusaha tersenyum.
Dirinya benar-benar terjebak, jika bercerai pun Leony akan memilih ayahnya. Hidup Desi dan Queen yang berpihak pada dirinya juga akan terancam, memperebutkan perusahaan besar, saham di luar negeri dan beberapa aset bernilai tinggi warisan dari almarhum ayahnya.
Melawan Leony, dan Jameson nantinya, dirinya tidak akan menang mengingat kekuasaan dan pengaruh Gerald di dunia bisnis.
Kecuali Rion masih hidup, keturunan laki-laki yang diinginkan almarhum ayahnya. Jameson? Leony? Bahkan Gerald sekalipun, tidak akan memiliki hak apapun, sesuai wasiat Alvaro (ayah Margaretha).
Silvia tiba-tiba berdiri di ambang pintu, masih mengenakan pakaian hitam. Berjalan mendekati putrinya."Kenapa dengan pipimu?"
Margaretha hanya menggeleng, kemudian menatap ke arah ibunya."Ibu, bagaimana jika aku bercerai?" tanyanya.
"Maaf, ini kesalahan ibu..." ucap Margaretha tertunduk, mengepalkan tangannya menatap ke arah cucu-cucunya yang terluka.
"Perusahaan ada dalam kendali Gerald saat ini, jika kamu bercerai darinya sekarang. Maka, nyawa kita dalam keadaan terancam. Dia yang membunuh Fino dan Rion, beserta seluruh orang yang ada dalam bis. Ibu tidak memiliki bukti. Hanya seorang saksi, itu pun tiba-tiba menghilang. Mungkin sudah dihabisi olehnya..." lanjut Silvia dengan tangan gemetar.
"Lalu ibu ingin melihat kita mati perlahan!? Setelah kematian Rion, Gerald semakin berani padaku!! Leony bahkan semakin menjauh...aku..." kata-kata Margaretha disela.
Silvia menggeleng."Dia memiliki koneksi dengan beberapa pejabat. Yang dapat kita lakukan sekarang adalah mempertahankan perusahaan agar tidak disatukan dengan perusahaannya. Serta melindungi kedua putrimu..."
***
Sedangkan di tempat lain, Fino yang mendapatkan pekerjaan baru untuk membuat beberapa aksesoris mengenyitkan keningnya. Menatap ke arah putranya.
"Ibumu merindukan ayah..." ucapnya tengah mengoleskan lem tembak.
"Kemungkinan ibu merindukan ayah, sama dengan kemungkinan Sazi menyatakan cinta padaku. Ingat! Suami baru ibu CEO tampan, dingin dan sempurna yang diimpikan banyak wanita. Ibu seperti bulan, sementara kita..." kata-kata Rion disela.
"Pungguk?" tanya Fino pada putranya.
"Pungguk terlalu tampan dan bisa terbang! Kita ini hanya katak di atas daun teratai yang melihat bulan dari jauh..." jawaban putranya, menempel beberapa ornamen pada aksesoris.
"Katak? Tapi tetap saja, ibumu pasti sedang menangis, merindukan ayah," gumam Fino keras kepala.
"Halu!! Bucin!! Dasar katak!!" bentak putranya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Fino mengenyitkan keningnya."Dasar anak katak!"
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Bzaa
raja dan pangeran katak🤣
2024-06-14
1
Anis
jika menginginkan gerald tumbang mungkin harus menunggu rion dewasa,, itupun jika dia mau untuk menolong ibu dan sodaranya
2022-06-18
3
Anis
typo kyknya kak..
2022-06-18
2