Seorang wanita tua, memakai blazer pitch dengan kalung mutiara kwalitas tinggi, terdiam di mobilnya menunggu kedatangan seseorang yang yang ditugaskan untuk mengawasi cucunya. Pintu mobil tiba-tiba dibuka, seorang pria berpakaian SMU masuk ke dalam mobil.
Detektif swasta yang terlihat berwajah lumayan muda. Hingga dapat menyusup diantara anak SMU yang ada disana.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah, nilai di semua mata pelajarannya 60, saat ada ulangan harian dia malah tidur. Semua guru sudah jengkel untuk mengajarinya. Bisa disimpulkan nilainya hanya pas-pasan untuk naik kelas..." ucap sang pria berusia 28 tahun yang mengenakan seragam SMU.
Silvia mengenyitkan keningnya menatap satu persatu dari foto kamera digital milik sang detektif.
"Dia sering dikucilkan, hampir semua orang enggan bicara padanya. Kecerdasan tinggi? Kemungkinan yang begitu tipis. Mungkin hasil tes-nya salah," cibir sang detektif tertawa kecil.
"Nilai pas-pasan? Jika standarnya 70 apa nilainya akan 70?" tanyanya, masih mengamati foto cucu yang tinggal terpisah dengannya. Sang detektif mengangguk membenarkan.
"Jika standarnya 64 apa nilainya juga 64?" lanjutnya, pria itu kembali mengangguk.
"Bagaimana jika standarnya 73, maka nilainya juga 73?" Silvia kembali bertanya.
Sang detektif yang sudah beberapa minggu ini mengikuti Rion membulatkan matanya, mendengar kata-kata Sivia. Memang aneh, anak terbodoh itu tidak pernah mengikuti remidi, nilainya selalu tepat dengan standar terendah.
"Apa dia pernah dibawah standar untuk mengikuti remidi? Atau memiliki nilai diatas standar?" tanya Sivia lagi.
Sang detektif mengepalkan tangannya."Jadi dia berpura-pura bodoh? Tapi jika begitu bagaimana nilainya bisa tepat dengan standar. Setidaknya dia akan takut melakukan kesalahan sedikit saja. Menjawab pertanyaan hingga nilainya berada sedikit diatas standar. Tidak mungkin dia akan mengambil resiko tidak naik kelas atau remidi..."
Silvia menggeleng."Menurut psikolog IQ-nya saat ini mungkin mencapai 193. Tidak takut sama sekali, karena sudah memperhitungkan dengan baik nilainya akan tepat berada di standar," ucapnya tersenyum, menatap salah satu foto yang diambil.
Foto Rion yang ditegur karena membawa roti ke perpustakaan. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Silvia, remaja itu meminjam beberapa buku yang sulit dipelajari. Gambar yang di zoom olehnya, buku besar dan tebal semacam ensiklopedia berbahasa asing.
Bibirnya tersenyum, tidak perlu menjadikan anak perempuan Margaretha (ibu Rion) sebagai pemimpin perusahaan nantinya. Atau menjadikan Jameson yang tidak memiliki ikatan darah menjadi pemilik perusahaan. Sudah ada Rion yang memiliki potensi kecerdasan lebih besar dari Jameson.
Tapi apa benar? Pengujian terakhir akan dilakukannya siang ini.
Foto-foto lain mulai di tatap Sivia baik-baik. Wajahnya terlihat tersenyum, jika saja tidak gemuk, benar-benar menyerupai almarhum suaminya ketika muda."Dia mirip seperti kakeknya..."
Pemuda rupawan yang cerdas, berasal dari keluarga konglomerat. Pandai bermain biola, menarik tangannya sembari tersenyum saat itu. Masa lalu yang diingatnya, suami yang menua bersamanya, meninggalkan dirinya menghadap-Nya 15 tahun yang lalu. Mungkin segala milik sang kakek, rupa maupun kecerdasannya diwariskan pada Rion.
***
Siang ini adalah kencan pertamanya. Pemuda itu menggenakan kaos terbaik miliknya. Berjanji temu dengan Sazi di depan bioskop.
Sebungkus roti bantet yang gagal mengembang seperti biasanya menjadi metode menjaga bentuk tubuhnya. Tapi bukan bentuk tubuh ideal, proposional, bentuk tubuh ala model boxer pria. Tapi, melainkan bentuk tubuh gemuk ala bos-bos tua mesum di komik atau novel.
Sebuah foto terlihat di atas meja, foto dirinya, sang ayah, dan seorang warga negara asing kala, dirinya berusia 7 tahun. Seorang anak rupawan yang cerdas, bahkan sudah bisa menunjukkan jalan menggunakan bahasa Inggris. Mengantar seorang warga negara asing yang tersesat, siapa yang mengajari? Dirinya belajar dari buku, serta secara otodidak, pada salah seorang pekerja hotel yang dulu mengontrak di sebelah mereka.
Tidak menunjukkan kecerdasannya menjadi jelek dan gemuk, itulah syarat mutlak untuk hidup damai. Banyak hal pahit yang dialaminya di masa itu. Hingga sampai saat ini Rion phobia pada ruangan gelap, pernah hampir mati tenggelam ketika kecil. Namun semua itu menjadi pelajaran baginya, semakin banyak menunjukkan kemampuan, maka hidup juga semakin tidak tenang.
Hingga waktu yang dijanjikan tiba, dirinya turun dari angkutan umum. Berjalan hingga area depan bioskop. Tapi pemandangan yang merusak mata ditatapnya.
Kita tidak sedang demo memakai kaos partai kan... batinnya menatap ketiga orang yang menggunakan kaos merah. Perlahan berjalan mendekati mereka.
"Buluk, aku akan membelikan tiket baru untukmu!" ucap Dave menatap tajam, tidak dapat menerima Sazi duduk di samping Rion.
"Tidak mau!! Aku ingin berhemat soal popcorn, Sazi hanya makan sedikit jadi sisa popcornnya untukku..." alasannya.
Aku ingin berpegangan tangan dengan pacarmu saat akan mengambil popcorn dari tempat yang sama... itulah akal busuknya.
"Akan aku belikan popcorn ditambah dengan soda." Dave memijit pelipisnya sendiri.
"Kalau beli tiket yang baru pasti akan jauh dari tempat kalian duduk kan? Aku takut duduk sendiri, ini film horor. Aku tidak ingin tiket baru, bagaimana jika kita tukar tiket saja, biar aku duduk di samping Alexa..." sarannya, berdidik ngeri.
"Tidak boleh!!" Alexa berteriak spontan, tidak ingin duduk di sebelah nol besar, bukan hanya otaknya saja yang nol, tapi juga badannya seperti angka nol.
"Aku terlalu canggung duduk dengan Rion. Kami tidak saling mengenal..." lanjutnya ingin terlihat baik yang sebenarnya jijik pada Rion.
Ini taruhan besar, pilih permaisuri atau gundikmu. Pilihlah gundikmu, tinggalkan permaisurimu untukku... batin Rion tersenyum. Namun, penuh harap dalam hatinya.
Hingga pada akhirnya inilah yang terjadi...
Dua orang pria duduk berdampingan memakan popcornnya masing-masing. Sedangkan jauh di belakang, Sazi dan Alexa juga duduk bersama. Wajah Alexa yang berpura-pura tersenyum, tidak jadi memakan makanan Jepang. Malah harus menjaga senyuman di hadapan sepupunya.
Situasi yang benar-benar canggung baginya. Hingga phoncell diraihnya, diam-diam mengirim pesan pada Dave yang jauh duduk di depan berdampingan dengan Rion.
'Sazi terus menghinaku dari tadi. Selain itu kepalaku juga sakit, aku ingin pulang,' itulah isi pesan yang dikirimkannya. Melirik ke arah sepupunya yang hanya konsentrasi pada film.
"Mau soda?" ucap Sazi tersenyum menawarkan minumannya pada Alexa.
Alexa mengangguk, meraihnya kemudian dengan sengaja menumpahkan sedikit minuman pada mini dressnya."Yah kotor..." ucapnya menghela napas kasar.
Sazi mengambil sapu tangan, hendak memberikan pada Alexa. Tapi, kedatangan Dave lebih cepat.
"Sazi, boleh aku pulang duluan. Kepalaku sakit, aku mengirim pesan agar Dave mengantarku. Tolong jangan salah paham tentang hubungan kami lagi," pintanya tertunduk.
Sazi menghela napas."Kamu saudaraku, Dave juga, aku mengenalnya dari dulu. Aku tidak akan berfikiran negatif. Pulanglah..." ucapnya tidak ingin menyulut pertengkaran.
Alexa mengangguk, bangkit berjalan bersama Dave.
"Sayang aku pulang duluan..." ucap Dave, hanya dibalas dengan senyuman oleh Sazi.
***
Dave menghentikan motornya di depan sebuah area apotik. Turun bersama dengan Alexa.
"Saya ingin membeli obat sakit kepala..." ucap Dave pada petugas apotik.
"Boleh sekalian aku beli yang lain?" tanya Alexa, Dave tersenyum kemudian mengangguk.
Alexa berbisik pada sang apoteker, hingga pil yang dimaksud Alexa ditaruh dalam kantung.
Tidak mengetahui itu obat apa? Dave tidak banyak bertanya. Mengantar Alexa pulang menjadi tujuannya, segera melajukan motornya menuju rumah Sazi.
Tapi memang ada yang ganjil, terasa aneh. Dirinya melangkah melewati ruang tamu, Alexa bergelayut manja padanya, melewati Dini. Tapi Dini hanya tersenyum, tidak memiliki reaksi apa-apa.
"Kalian ingin belajar bersama? Jangan lupa mengunci pintu. Bibi keluar dulu, ada acara ulang tahun teman bibi..." ucapnya masih tersenyum meninggalkan mereka.
Seorang ibu yang menurutnya tidak wajar, mengunci pintu? Membiarkan keponakan dengan kekasih anaknya dalam satu ruangan bersama?
Alexa melangkah menuju dapur, meminum obat yang dibelinya, namun bukan obat sakit kepala yang dibelikan Dave.
Aneh? Dini mulai bersikap aneh, namun itu lebih baik, hubungan yang dijalaninya dengan Alexa akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertemu.
"Mau menonton?" tanyanya.
"Bukannya kamu sakit kepala?" Dave balik bertanya.
Alexa menggeleng."Sazi terus menghinaku tadi, bahkan menumpahkan minuman di pakaianku. Karena itulah aku mencari alasan untuk pulang,"
Dave menghela napas kasar tersenyum, kemudian mengangguk. Hubungan yang dijalaninya diam-diam dengan Alexa, sebagai sepasang kekasih. Jika ditanyakan saat ini, dirinya lebih mencintai Sazi atau Alexa. Tentu saja Alexa, wanita yang memiliki sifat lebih baik, dan selalu dapat membuatnya takluk.
Suara erotis dari video dewasa di laptop yang mereka tonton masih terdengar. Pasangan yang sudah tergoda dari tadi untuk melakukan hal serupa.
Pakaian mereka telah tanggal sempurna, hingga Alexa yang berada di atas tubuhnya memulai penyatuan di tengah buaian ciuman panas, tanpa penghalang sehelai benangpun di tubuh mereka.
"Akh...aku tidak memakai pengaman..." ucap Dave dengan napas tidak teratur, merasakan kenikmatan saat tubuh mereka telah menyatu.
"Yang aku minum tadi, obat kontrasepsi. Jadi jangan ragu..." pintanya.
Dave tersenyum mulai mengikuti napsunya tidak memikirkan kecemburuannya tentang Sazi lagi. Hanya kepuasan yang saat ini dicarinya.
***
Sementara itu di tempat lain, Rion sudah memperingatkannya. Burung elang itu benar-benar bermata tajam, bahkan pesan dari Alexa yang dibaca Dave sempat dilihatnya.
Keberadaannya kini? Saat ini pindah duduk ke belakang duduk bersama Sazi, memakan popcorn dengan tenang menonton film. Tangan yang saling bersinggungan sesekali.
Sazi hanya tersenyum padanya, kembali fokus pada film.
"Mau ke pantai bersamaku? Kita mencari kerang dan udang..." ucapnya.
Sazi menggeleng."Aku harus pulang tepat waktu kemudian mengirimkan pesan pada Dave,"
Ranjang pacarmu sedang digoyang oleh sepupumu... batin Rion menghela napas kasar, merutuki betapa baik hatinya gadis idamannya.
"Kita ke pantai, tidak melakukan apapun. Lagipula filmnya horor tapi disisipi dengan banyak adegan ranjang..." Rion menghela napas kasar.
Wanita itu mengangguk pada akhirnya, cukup canggung juga baginya menonton dengan Rion.
Sementara Rion tidak menyadari, di bangku bagian belakang bioskop, terdapat seseorang yang ditugaskan untuk menguji kemampuan pemuda itu sebenarnya.
Bersambung
...Pangeran katak dan putri impian? Aku bukanlah pangeran katak, karena aku tidak ingin kembali pada rupa asliku......
...Rupa asli yang hanya akan dapat membunuhku cepat atau lambat......
...Akankah kamu mencintai katak ini? Katak yang duduk di atas daun bunga teratai, mencintaimu yang telah dimiliki pria lain. Pangeran rupawan yang lebih mencintai selirnya......
...Jika saja, kamu mengalihkan pandanganmu padaku. Maka aku akan menyeretmu ke dalam kolam......
...Mendudukanmu di atas daun bunga teratai raksasa. Menghadiahkan bunga dan roti hangat di setiap pagimu, dengan mengucapkan satu kalimat... Aku mencintaimu......
Rion...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Putri Nunggal
belar bersama pelajaran biologi soal berkembang biak
2022-09-15
4
Inna Wati
keren2 lho tulisan kk author..tpi masi byk readers yg blom nemu kali y .jdi like masih sdikit.mak za baru nemu 2 hari lalu.ttp smagat kk..moga ketekunan y membawa kesuksesan
2022-07-28
5
alvalest
hem
2022-07-26
3