Wajah gadis itu bergerak karena disentuh Abra. "Mmh."
Abra berhenti menyentuhnya dan menunggu.
Gadis itu mulai membuka matanya. Sebentar ia mengumpulkan kesadaran. "Oh." Ia mengangkat kepalanya. Ia terkejut karena bersandar pada pria itu. "Oh, maaf Kak." Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. "Maaf ..." Ia mengucek-ngucek mata dengan tangan kanannya.
Abra hanya tersenyum.
Pipi gadis itu memerah karena malu. "Maaf ya Kak."
"Tidak apa-apa."
Sinar mentari yang masuk lewat jendela, mulai menerangi ruangan itu. "Eh, sudah Subuh ya? Ah, aku belum sholat Subuh!" Gadis itu segera beranjak berdiri. Ia pergi ke kamar mandi yang berada di luar sedang Abra pergi ke kamar mandinya yang berada di dalam kamar. Sekejap keduanya telah menyelesaikan sholat Subuhnya.
"Kau mau sarapan apa?"
"Apa saja. Ah, itu ada roti. Aku mau roti saja. Kan ada Oven Toaster, aku mau panggang roti," ucap Shasa riang.
Abra belum pernah melihat wajah Shasa yang seriang ini sebelumnya. Apa karena bebannya sudah terangkat hingga yang ia lihat sekarang adalah Shasa yang sebenarnya?
Walaupun wajahnya terlihat masih mengantuk tapi matanya bercahaya menandakan bahwa pemilik netra itu sedang senang.
"Seneng banget cuma karena makan roti aja," ledek Abra.
"Aku suka roti bakar," ujar gadis itu sambil tersenyum. Ia memasukkan 2 buah roti ke dalam mesin Over Toaster dan menariknya ke bawah.
"Masa?"
"Aku suka baunya saat terbakar dan rasanya yang garing. Apa kamu punya mentega?" Shasa membuka lemari es Abra.
"Oh, aku lupa membelinya. Adanya selai."
"Yaaa ...." Wajah gadis itu terlihat kecewa.
"Kalau aku beli, apa kamu mau tinggal di sini?"
"Eh?" Gadis itu melirik Abra saat mengambil selai. "Kita kan bukan ...."
"Mahram, iya aku tau. Aku kan cuma bercanda." Namun mata Abra berkata lain.
Gadis itu mengambil piring dan pisau menunggu rotinya matang. "Kak Abra mau?" Shasa menawarkan rotinya.
"Boleh." Abra menuang jus dari lemari es ke gelas yang sudah diambilnya. Tak lama, roti terloncat sedikit ke atas tanda telah selesai di panggang.
"Pakai selai?"
"Iya."
Shasa memberi selai stroberi pada roti panggang yang baru diambilnya.
"Kamu mau cari kost-kostan yang seperti apa?"
Saat itu juga, shasa menghentikan aktivitasnya. Ia terlihat bimbang. "Mmh, aku ... boleh pinjam uang gak Kak?"
"Uang?"
Seketika Abra melihat gadis itu kebingungan mengutarakan keinginannya. "Kamu ... gak punya uang untuk sewa kost-kostan?" Ia sudah bisa menebak maksudnya.
"Mmh ... sedikit aja. Pinjam 2 juta, nanti gajian aku bayar," ucap gadis itu pelan. Sepertinya ia tidak terbiasa meminjam uang sehingga sulit saat mengatakannya.
"2 juta?"
"Kebanyakan ya? Kalau begitu, 1 juta saja, tidak apa-apa," Gadis itu berusaha tersenyum walau dalam kecanggungan. Ia duduk sedikit gelisah di kursi meja makan itu membuat Abra iba padanya.
Shasa memang sedikit bingung mengkomunikasikan keinginannya soal meminjam uang karena ia sendiri juga tidak dekat dengan Abra tapi untuk pinjam di kantor juga sangat tidak mungkin karena ia baru bekerja beberapa hari saja dan sekarang ia bersama pria itu, karena tidak punya pilihan, ia meminjam pada pria itu.
Abra hanya diam menatap gadis itu dan Shasa tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu. Setelah memberi selai pada kedua roti itu Shasa menyodorkannya pelan pada Abra.
Pria itu tanpa berkata apa-apa berdiri dari kursinya dan melangkah masuk ke dalam kamar. Tak lama ia kembali dengan membawa dompetnya. Ia mengeluarkan kartu hitam dan menyodorkannya pada Shasa. "No questions asked.(tanpa pertanyaan)"
"Oh, aku tidak minta banyak kok Kak, sedikit saja."
Abra kembali menatap Shasa dengan wajah serius. "Kamu ngak punya uang kan? Boleh aku bertanya?"
"Mmh?" Shasa menegakkan punggungnya. "Aku cuma ...."
Kalimatnya menggantung dan pria itu menunggu. Abra tahu, sangat susah bagi Shasa menceritakan kesulitannya pada orang lain dan ia takut pertanyaannya malah melukai harga diri gadis itu. Kembali ia menyodorkan kartu hitam itu pada Shasa. "Pakai saja ini, tidak apa-apa."
"Memangnya Kak Abra gak punya kartu lain?" tanya gadis itu penasaran.
"Kartu debit ini kan?" Abra mengeluarkan satu lagi kartu dari dompetnya.
"Iya yang itu." Shasa sudah memajukan tangannya ingin meminta tapi kalimat Abra berikutnya menghentikannya.
"Tapi ini untuk istriku karena ini uang gajiku," jawab pria itu sambil tersenyum.
"Eh ...." Shasa menarik tangannya kembali, tapi kemudian ia sadar Abra hanya mengakalinya. "Kak, kartu ini terlalu mencolok, tidak cocok untukku."
Abra mencondongkan tubuhnya ke depan dan meletakkan tangannya di atas meja. "Kamu sebenarnya tidak megang uang sama sekali kan?"
"Eh, pu-punya," ucap gadis itu mencoba berbohong.
"Mana coba lihat, kalau bohong kamu harus pakai kartu ini," tantangan Abra.
Seketika Shasa langsung merengut karena tak mungkin menang melawan Abra. "Kaaak ...," rengek Shasa pada pria itu tapi dijawab dengan cubitan lembut di pipi gadis itu oleh Abra.
"Kamu nih kebiasaan bohongnya."
Shasa menepis tangan Abra pelan. "Kaaak ...."
"Sudah pakai saja! Memangnya dengan uang sejuta, kamu mau sewa kos-kosan harga berapa?"
Shasa masih merengut sambil mengambil kartu hitam itu pelan.
----------++++---------
Rika terburu-buru turun dari tangga tapi suara teriakkan dari ruang tengah menghentikannya.
"Rika, tunggu!"
"Apalagi sih?"
"Aku minta nomor telepon Bima dan alamat kantornya." Damar mendekat dan menyodorkan tangannya.
"Untuk apa?"
"Ya untuk mencari Shasalah!"
"Shasa tak akan kembali."
"Kenapa begitu?" Damar menautkan alisnya.
"Karena dia sendiri yang bilang." Rika meninggalkan pria itu.
"Hei, kamu bertengkar dengannya ya?"
"Iya, memang kenapa?" ucap gadis berambut panjang tergerai itu tanpa berbalik.
Damar segera mengejarnya. "Hei, kamu pasti mengusirnya kan?" Ia mendahului Rika dan menghalangi gadis itu pergi. Ia butuh penjelasan.
Rika menunjuk dada pria itu dengan kasar. "Lu pikir lu siapa, hah? Lu cuma saudara tiri gue! Lu cuma numpang di sini, KERJA juga sama Papa gue, jadi jangan pikir lu berhak ngatur-ngatur hidup gue karena lu bukan siapa-siapa gue, paham?" Rika dengan wajah marah. Ia kesal dari semalam Damar mengganggunya terus. "Udah minggir sana! Nyempit-nyempitin jalan gue aja. Huh! " Ia mendorong pria itu dengan kasar ke samping.
Damar terpaksa hanya bisa melihat gadis keras kepala itu pergi sambil mengeratkan kepalan tangannya. Mulut yang berbisa!
----------+++---------
Hari ini konser dari artis Gania dan Abra memperhatikan semua detail persiapan yang sudah jadi di studio. Ia sibuk modar-mandir memastikan segala sesuatu berjalan dengan seharusnya.
Shasa ikut melihat-lihat persiapan dari dekat. Ia juga sempat melihat sepupunya Rika di studio itu tapi hanya sekilas, karena itu ia tidak jauh-jauh berdiri dari Abra.
Di tempat itu juga ada Kevin. Pemandangan yang tak biasa karena ia tak pernah ada saat persiapan di studio. Biasanya dia ada saat acara berlangsung, itupun karena menjadi salah satu tamu undangan. Sesekali ia terlihat memperhatikan persiapan di studio, tapi sesekali juga ia mencoba mendekati Shasa. "Shanum."
"Iya Kak." Shasa menoleh.
"Boleh aku memanggilmu Shasa seperti Abra?"
"Oh, boleh Kak. Silahkan." Gadis itu sedikit segan berada bersama Kevin karena selain tidak begitu kenal, pria itu juga kakaknya Abra.
"Bagaimana kalau kita beli minuman dulu di kantin?"
"Eh, nanti saja Kak. Aku kebetulan belum begitu haus."
"Beli saja, nanti bawa ke sini. Sekalian buat Abra."
Gadis itu melirik Abra yang masih sibuk melihat persiapan panggung. Artisnya pun sudah datang dan melakukan gladi resik(latihan) bernyanyi menggunakan panggung yang disediakan dan ia juga sedang sibuk memperhatikan artis itu bernyanyi.
Shasa menoleh kembali pada Kevin. "Bagaimana kalau aku belikan saja, nanti Kakak tunggu di sini?" Sesungguhnya ia segan kalau harus pergi dengan Kevin.
Pria necis itu mendekat dan berbisik di telinga Shasa membuat gadis itu tak nyaman. "Aku tadi lihat ada sepupumu di sini jadi sebaiknya aku temani kamu saja ya?"
"Mmh ...."
Belum sempat Shasa memberi bantahan, pria itu sudah menggandeng tangannya ke arah luar.
"Bra, aku keluar sebentar ya?"
Abra yang melihat Kevin menggandeng Shasa, merasa aman. "Iya."
Pegawai TV juga merasa lega, Kevin keluar dari ruangan itu karena keberadaan Abra saja sudah membuat keadaan terasa formil apalagi dengan masuknya Kevin ke studio itu. Membuat mereka merasa tegang.
"Kak."
"Kalau kamu gak mau nongkrong di kantin, nanti kita bawa minumannya ke sini, ok?"
Shasa menatap tangannya yang di gandeng Kevin. Iya, tapi kan gak harus gandengan gini. Aku malu ... Ia ingin protes tapi tak berani.
Sepanjang jalan Kevin dengan senangnya menggandeng Shasa. Rasanya menyentuh gadis itu seperti sebuah keajaiban.
"Kak." Shasa akhirnya berusaha mengumpulkan keberanian. "Aku malu bergandengan tangan begini."
Kevin menghentikan langkah mereka.
"Oh, maaf ya? Aku hanya spontan." Kevin melepas genggamannya.
"Eh, iya." Shasa tersenyum sungkan.
"Ayo." Pria itu memberi jalan gadis itu terlebih dahulu. "Ladies first.(wanita duluan)"
Namun begitu, tetap saja Kevin melangkah bersama gadis itu membuat gadis itu kembali canggung. Berjalan di depannya saja sudah cukup canggung bagi Shasa, karena ia bukan siapa-siapa apalagi berdampingan dengannya.
Mereka akhirnya sampai di kantin dan memesan minuman.
"Kamu masih tinggal di rumah sepupumu?" Kevin membuka percakapan.
"Aku sedang mencari kontrakan." jawab gadis itu dengan sopan. Ia mengiringi ucapannya dengan anggukkan kepala.
"Jangan terlalu formal begitu padaku, aku kan hanya Kakak Abra."
Shasa menganggukkan kepala dengan pelan.
"Aku senang akhirnya kamu pindah. Mau pindah ke mana?"
"Tidak tahu Kak."
"Bagaimana kalau kau sewa apartemen dekat Abra?"
Shasa terkejut. "Maaf aku baru kerja Kak. Pegawai biasa."
"Mau kusewakan untukmu?"
Gadis itu kembali kaget. "Ah, tidak usah Kak. Aku cukup menyewa kos-kosan yang sesuai kantongku saja."
Kevin cemberut. Ia tidak suka dengan apa yang didengarnya. Ia bisa bayangkan tempat kumuh yang menjadi tempat tinggal Shasa, tapi ia tak bisa memaksa karena ia bisa merasakan gadis itu berusaha menolak bantuannya. Ia ingin menawarkan pekerjaan, tapi masalahnya Rika juga bekerja di sana.
Setelah membeli minuman mereka kembali. Shasa membawakan minuman itu pada Abra membuat Kevin kembali cemberut. Gadis itu sengaja melakukannya karena ia 'gerah' berada di samping Kevin.
"Makasih ya?" Abra meminum jus yang dibeli Kevin.
"Pak, maaf. Di panggil mbak Gania." Seorang pegawai memberi tahu.
"Ok." Pria itu langsung mendatangi artis itu yang berada di samping panggung.
Shasa yang sendirian melihat gelagat Kevin yang kembali ingin mendekat membuat ia bergerak ke arah lain.
Saat ia sedang berjalan sendirian, ia merasakan ada sorot lampu yang menimpanya yang bergerak tak beraturan dari atas membuat ia menengok ke atas. Tepat pada saat itu, lampu besar itu meluncur ke arahnya membuat ia panik.
"Shasa!!"
Bruk!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Senandung Rinduw Serin
aku ko tertawa ya kak, saat Abra bilang, kartu ini untuk istriku... ahaayyy ga sabat liah Shasa jadi ny. Abra 😍😍😍😘😘
2022-07-22
3
Novi Ana
semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpa shasa....
2022-06-21
2