"Kamu kenapa?" Abra memperhatikan Shasa yang sedari tadi hanya diam seperti sedang melamun.
Shasa tersadar. "Mmh? Eh ... enggak." Ia berusaha melihat ke depan, tapi kemudian ia menyadari sudah jauh dari kantornya berada. Mereka ke mana? "Kita mau makan di mana Pak?"
"Kamu sudah lapar?"
"Belum sih."
"Ok. Kamu bisa bantu aku sebentar ngak?"
"Bantu apa Pak?"
Mobil memasuki sebuah halaman gedung apartemen. Shasa masih terlihat bingung dengan tempat tujuannya. Mobil di parkir tidak jauh dari pintu masuk.
"Kita ke apartemen Pak?"
"Iya, apartemenku."
"Mmh?"
Abra turun dari mobil diikuti gadis itu dengan ragu-ragu.
"Pak kita mau apa ke sini Pak?"
Abra yang menunggu Shasa di depan mobilnya, segera menggandeng tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam gedung. "Kita pacaran kan sekarang?"
"Pa-pacaran?" Shasa menatap pria itu dengan terbelalak.
Tiba-tiba pria yang bertubuh tinggi tegap itu menghentikan langkahnya di hadapan gadis itu dan tersenyum. "Kenapa? Kita kan pura-pura."
"Oh, ya pura-pura ...." Shasa sedikit tersenyum lega.
Abra mencolek hidung gadis itu. "Kamu kenapa tegang begitu?"
"Eh, mmh," Gadis itu berusaha tertawa.
Abra bisa merasakan gadis itu masih canggung. Akhirnya ia melepas genggaman tangannya dan menggantinya dengan mendorong punggung gadis itu hingga ke depan lift.
"Kamu tahu kenapa kita harus bersama?"
Shasa menggeleng.
"Kita akan difoto dan direkam untuk sebuah iklan. Iklan itu menggambarkan sepasang kekasih yang mengiklankan sebuah produk. Nah, karena kita tidak saling kenal, kita harus mendekatkan diri satu sama lain agar saat pengambilan gambar, tidak kaku dan kita benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih."
"Pura-puranya?" ucap gadis itu dengan wajah lugu.
Abra kembali tersenyum. Asli, pacaran denganmu pun juga aku mau, batin Abra. "Iya, pura-puranya."
Pintu lift terbuka. Mereka kemudian bergabung dengan yang lain masuk ke dalam lift. Abra meletakkan kartu di depan alat sensor dan kemudian menekan tombol.
Lama-lama Shasa menyadari sesuatu. "Lalu untuk apa kita ke sini?"
Pintu terbuka. Abra kembali mendorong gadis itu keluar bersamanya. "Kan aku bilang tadi, aku minta tolong."
"Minta tolong apa?"
Mereka telah berdiri di depan pintu apartemen pria itu. Abra membuka kunci pintu dan mendorongnya. "Ini apartemenku, tapi isinya belum lengkap."
Shasa melangkah ke dalam, tapi saat Abra menutup pintu, ia terkejut. "Oh, kenapa ...."
"Mmh? Kenapa memangnya?" Abra masih belum mengerti.
"Eh ...." Gadis itu terlihat gelisah.
Abra melihat ke arah pintu dan Shasa bergantian. "Oh, jangan takut. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu."
"Eh ...."
"Aku hanya minta ditemani belanja furnitur rumah saja. Bisa kan?"
"Mmh? Belanja furnitur?"
"Iya, karena aku baru beli apartemen ini kemarin, tapi aku sudah beli tempat tidur, meja makan dan sofa. Selebihnya aku tidak tahu."
"Sesuai kebutuhan Bapak saja."
"Jangan bilang Bapak dong, kan ceritanya kita pacaran," Abra meralat ucapan Shasa.
"Oh, iya," Wajah gadis itu sudah tidak setegang tadi walaupun masih canggung.
"Coba kamu tolong melihat-lihat dulu seisi ruangan ini. Nanti kamu tinggal ingetin aku harus belanja apa lagi."
Shasa kemudian melihat-lihat ruangan itu dari dapur, beranda hingga kamar tidur. "Boleh aku masuk?" Ia menunjuk ke kamar tidur Abra.
Abra yang duduk di kursi sofa sambil melihat HP-nya menoleh. "Masuk saja. Tidak ada apa-apa kecuali tempat tidur."
Gadis itu kemudian membuka pintu kamar Abra dan melihat ke dalam. Tak berapa lama ia keluar.
"Sudah?"
"Sudah Pak."
Abra tersenyum menatap gadis itu.
"Eh, Kak," Shasa meralat sendiri ucapannya dengan malu-malu.
"Ayo."
Mereka pun keluar, turun dan kembali ke mobil.
"Kita makan dulu ya?"
Mobil keluar dan kembali ke jalan. "Kamu mau makan apa?"
"Apa aja Kak."
"Gak ingin apa, gitu? Kan pacar yang bayarin?"
Shasa tertawa pelan. "Apa aja Kak, aku gak masalah."
"Kalau makan di pinggir jalan mau?"
"Ya, gak masalah."
Abra melirik gadis itu dari cermin di atas kepalanya. Kenapa gadis ini 180 derajat beda ya dari sepupunya?
Mobil kemudian parkir di sebuah komplek pertokoan. Mereka turun.
"Makan ketoprak Kak?" Shasa menunjuk ke gerobak tukang ketoprak yang mangkal tak jauh dari tempat mobil di parkir.
Abra langsung tertawa. "Bukan, kita akan makan di restoran ini." Ia menunjuk restoran yang terlihat mahal di depan mereka. Restoran makanan Jepang.
"Oh, maaf." Shasa terlihat malu karena asal menebak padahal mobil mereka parkir di depan restoran itu.
Mereka kemudian makan di sana. Shasa ternyata tahu, beberapa nama makanan Jepang di restoran itu dan itu membuat Abra heran. Apa dia sebenarnya anak orang kaya juga?
"Mmh, maaf. Aku dengar dari Rika, kedua orang tuamu sudah meninggal dunia ya?"
Shasa yang baru saja hendak mengambil sushi dengan sumpitnya terhenti. Ia menarik sumpitnya dan menganggukkan kepala. Ia tertunduk.
"Maaf ya, tapi kita harus saling mengenal." Sebenarnya Abra tidak tega menanyakannya tapi mengingat iklan itu, mereka harus saling mengenal dengan terlebih dahulu dimulai dari masa lalu mereka. "Aku juga kehilangan ibuku waktu masih SMA."
Shasa mengangkat kepalanya sedikit terkejut. Terlihat netranya berkaca-kaca.
"Kamu sepertinya tidak akur dengan Rika ya?"
"Oh, eh, itu ...." Shasa bingung menjawabnya. Ia segera mengerjap-ngerjapkan mata. Sebenarnya tidak nyaman baginya menceritakan aib keluarganya.
"Aku juga tidak akur dengan Ibu Tiriku."
Kembali Shasa terkejut. Ia tidak menyangka kisah hidup pria itu juga tidak sebaik kelihatannya.
"Setelah Ibuku meninggal, aku pindah ke Amerika dan sekolah di sana dan baru beberapa bulan ini aku kembali."
"Jadi Ayahmu punya istri dua? Eh, maaf." Shasa menutup mulutnya.
"Iya. Kamu beruntung, kamu hanya tidak akur dengan sepupumu. Kalau aku. Dia Ibu Tiriku, di mana dia adalah orang tuaku. Aku terpaksa mengalah dengan pindah ke apartemen."
"Aku juga sama Kak. Kak Damar dan Kak Rika, aku gak tau apa yang mereka inginkan karena semua yang kulakukan selalu salah. Eh ... kok aku jadi curhat." Shasa kembali menutup mulutnya.
Abra tersenyum. "Kita ternyata punya nasib yang sama rupanya. Boleh aku jadi temanmu?"
"Eh, tapi Kakak kan sudah jadi pacarku. Eh?" Gadis itu terlihat bingung.
Abra tak dapat menahan gelak. Gadis ini lucu sekali. "Aku pacar pura-puramu. Apa aku jadi pacar beneran aja, gimana?"
"Mmh?" Seketika, jantung gadis itu berdetak cepat. Kalimat itu membuat hatinya berdesir aneh. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku cuma bercanda, kamu kenapa tegang begitu?" tanya Abra yang masih tertawa. Sebenarnya ia hanya iseng saja tapi entah kenapa di sisi lain ia juga berharap. "Boleh aku tahu nomor teleponmu?"
"Oh, ini Kak." Shasa menyebutkan nomor handphone-nya dan Abra mencatat di HP-nya. Akhirnya pria itu mendapatkan nomor telepon gadis itu.
Acara makan siang berjalan dengan lancar karena gadis itu mulai terbuka pada Abra. Mereka mulai terlihat akrab.
---------+++--------
Seorang wanita gemuk paruh baya berpakaian mahal datang ke tempat stasiun TV itu. Ia sedang bingung menentukan arah ingin pergi ke mana. Ia melihat Rika yang sedang membawa barang melewatinya dan bertanya, "eh, sebentar. Kamu tahu ruangan direksi di mana?"
Ini artis atau apa ya? Gayanya kayak orang kaya tapi gak lihat apa aku sedang kerepotan? Mending dibantuin, tapi nanya doang, huh.
"Dek? " tanya wanita itu lagi.
"Gak tau Bu, saya orang baru di sini," jawabnya ketus sambil membawa kembali 4 tas plastik berisi nasi kotak untuk ruang siaran di lantai 2. Ia meninggalkan wanita itu sendirian.
Eh ... judes banget itu karyawan! Awas, aku kasih tahu Kevin baru tahu rasa, batin wanita itu kesal.
"Eh, Ibu." Seorang pegawai stasiun TV itu ada yang mengenalinya. "Sudah lama Ibu tidak kemari. Ibu sehat? " tanya pegawai pria itu.
"Oh iya, aku sehat, cuma aku lupa arah mau ke kantor Kevin. Kamu bisa kasih tau di mana ya?"
"Oh, Ibu lurus saja dari sini." Pria itu memberi tahu arahnya sehingga wanita itu bisa pergi ke sana sendiri sedang pria itu melihat Rika tadi bicara dengan Ibu Kevin, dan mengejar gadis itu. "Hei, tadi bicara dengan orang tua sopan sedikit dong!"
"Oh, Kak. Maaf. Tadi aku capek bawa nasi kotak banyak banget tapi tiba-tiba Ibu itu berhentiin aku. Kan males lagi bawanya Kak kalo udah di berhentiin gitu," keluh gadis berambut panjang itu kesal.
"Di sini kamu harus sopan pada semua orang, tidak peduli mereka tua atau muda karena kamu tidak tahu kan akan bertemu dengan siapa," nasehat pria itu.
"Memangnya dia siapa?" Rika setengah mencibir.
"Dia kan Ibunya Pak Kevin, GM Marketing kita."
"Kan GMnya banyak. Bukan pemiliknya kan?"
"Justru Pak Kevin adalah anak pemilik perusahaan stasiun TV ini."
"Lho, bukannya Pak Abra?"
"Iya, Pak Abra juga tapi mereka saudara tiri."
"Apa? Tiri?" Rika terkejut.
"Iya."
"Apa ada lagi keluarga mereka yang kerja di sini?" Rika kembali was-was.
"Tidak ada, hanya mereka berdua."
"Jadi Pak Kevin kakaknya Pak Abra?"
"Iya, betul. Ah, kenapa jam segini malah gosipin orang sih? Sudah! Kerja, kerja!" Pria itu meninggalkan Rika sendirian.
Jadi kalau Pak Abra Adik Tirinya, dia gak dapat apa-apa dong? Ah, sial! Kenapa aku tidak dekati kakaknya saja, kan pria itu juga nggak kalah ganteng dari Pak Abra. Ah, persetan dengan Pak Abra! Rika mengerut dahi dan mengerucutkan mulutnya. Ia melipat tangannya di dada.
------------+++----------
Pintu diketuk. "Kevin?" Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu.
Pria itu terkejut dan langsung berdiri. Ia melangkah mendekati pintu. "Ibu, kok gak telepon dulu."
Wanita itu menyatukan pipi mereka, kanan dan kiri. "Ibu malas di rumah, gak ada Ayahmu dan juga Diadra jadi Ibu ke sini. Temani Ibu makan siang ya?"
"Oh, ya sudah, tapi nanti Ibu, Kevin antar pulang ya habis makan siang?" Kevin mengancingi jasnya.
"Iya, gak papa. Ini Sekretarismu ke mana lagi? Kau pecat? Yang ke berapa?" tanya Ibu Kevin sambil berjalan keluar bersama anaknya.
"Dalam bulan ini sudah yang ke 2. Kerjanya gak becus. Jadi aku pecat."
"Kevin, sekarang baru tanggal 11 dan kamu sudah pecat 2 sekretaris? Ayolah, jangan terlalu sempurna dalam bekerja, nanti kamu kerepotan sendiri. Kan ini bukan cari calon istri kan?"
------------+++---------
Shasa sedang sibuk memasang seprei tempat tidur Abra sambil menunggui barang datang ke apartemen itu sedang Abra pergi ke rumahnya mengambil pakaian. Ia begitu senang membantu pria itu karena ia merasa senasib dengan Abra. Itupun juga yang mengakrabkan mereka. Pria itu juga ternyata sangat baik dan juga ... tampan. Entah kenapa, menjadi pacar pura-pura pria itu saja juga menyenangkan hatinya. Seolah dunia penuh dengan bunga yang bermekaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Lempongsari Samsung
sama2 jatuh cinta...
sasa❤❤abra
2022-07-10
3
Novi Ana
semoga dari pacar pura" akan segera jadi pacar beneran
2022-06-15
3