Pria itu menatap wajah gadis itu yang berantakan dengan mata sembab. Pasti melelahkan telah menemani dan membantu dirinya seharian lalu pulang disambut dengan konflik keluarga. Ia mengerti rasanya karena ia juga pernah merasakannya.
Abra menawarkan sebuah kotak tisu pada Shasa. "Bersihkan sisa-sisa air matamu dan rapikan wajahmu sedikit, karena aku tidak ingin orang menyangka yang tidak-tidak padaku."
Shasa segera mengintip wajahnya di cermin kecil di atasnya. Astaga, wajahnya berantakan sekali! Mungkin sehabis bertengkar dengan Rika, ia tidak memperhatikan kalau jilbabnya sudah miring. Apalagi wajahnya yang habis menangis membuat matanya sembab dan terlihat aneh. "Aaah, wajahku berantakan sekaliii!" Shasa menutupi wajahnya karena malu.
Tingkahnya yang lucu menerbitkan senyum di bibir Abra.
Gadis itu buru-buru mengambil kotak tisu yang disodorkan pria itu dan segera membenahi wajah dan jilbabnya. "Aduuh ... kenapa aku nggak ngaca dulu sebelum pergi tadi sih? Ahhh .... Sudah seperti orang gila begini, berani keluar lagi!" Celoteh gadis itu panik. Ia menggunakan cermin kecil itu untuk melihat sambil merapikan jilbab dan membersihkan sisa-sisa air matanya.
Pria itu menahan tawa karena ocehan gadis bertubuh mungil itu. Walaupun begitu, kicauan gadis itu membuat Abra lega. Berarti gadis itu tipe wanita yang cepat pulih dari keterpurukannya. Ia kemudian menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya.
Sebentar kemudian. "Gimana Kak? Sudah rapi kan?" Gadis itu masih memandang pada cermin kecil di atasnya.
Abra menoleh sekilas. Wajah gadis itu sudah lebih baik dari sebelumnya. "Sudah cantik."
Shasa menepuk bahu Abra. "Ih, bohong!"
"Yah ... ngga percaya."
"Bohong!" Pipi Shasa memerah.
"Gak percaya kan kalo aku bohong?"
Langsung sebuah cubitan mendarat di pinggang pria itu.
"Aduhh, ampuun!" Abra terlambat menghindari sehingga terpaksa mengusap-usap bekas cubitannya.
"Kakak ih!"
"Habis, dikasih tau gak percaya. Apa aku harus bohong?"
"Aku kan gak cantik," gadis itu menunduk. Suaranya merendah.
"Kamu salah."
"Apa?" Ia menaikkan kepalanya.
"Kamu cantik bagi orang yang mencintaimu."
"Mmh."
"Lho kok 'mmh'? Kamu kan punya pacar. Apa pacarmu tidak pernah bilang kalau kamu cantik?"
Shasa menggeleng.
Apa? Kalau itu aku, aku akan menyatakannya tiap hari. Apa yang dilakukannya kalau begitu, bersama pria itu? "Lalu kenapa kamu mau jadi pacarnya?"
"Dia serius katanya."
Kalimat yang menggantung. Putus saja kalau begitu, darinya. Shasa, pria itu tidak yakin padamu. "Eh, cuma itu?"
"Iya."
"Aneh."
"Kenapa aneh?"
"Bukankah orang pacaran itu saling mengatakan bahwa mereka cinta, sayang. Begitukan seharusnya?"
"Memangnya Kak Abra bilang begitu sama pacarnya?"
"Aku .... tak punya pacar." Abra berdehem.
"Mantan gitu?"
"Gak punya mantan."
Shasa tersenyum. "Bohong ah, masa ganteng gitu gak punya?"
Mendengar kata 'ganteng' Abra langsung melirik dari cermin kecil di atasnya. Shasa, apa aku masuk standarmu? Kalau iya, aku pastikan aku akan mengejarmu. Aku menunggu pacarmu membuat kesalahan dan aku akan mengejarmu.
Shasa kemudian menyadari ia telah salah bicara. Bagai salah menyalakan mesin, jantungnya kini berdetak tak beraturan. Demi menghindari Abra menyadari kegugupannya, gadis itu langsung membuang pandangan ke jendela.
Sunyi lalu mendengarkan alunan ombak di hati keduanya.
Mobil akhirnya sampai juga di depan gedung apartemen Abra. Pria itu berusaha membawa tas besar milik Shasa dan belanjaannya.
"Kakak, gak usah. Aku bisa bawa Kak."
"Ngak papa. Kamu bawa sisa belanjaanku saja."
Akhirnya Shasa membawa sisa plastik belanjaan Abra karena pria itu menyandang tas besarnya di bahu. Ia juga membantu memasangkan kartu akses untuk keluar masuk lift. Lalu sampailah mereka di apartemen Abra.
Saat pria itu memasukkan bahan makanan dan minuman ke lemari es, gadis itu masuk ke dalam kamar di sebelah kamar Abra. Ia beristirahat di sana.
"Shasa!"
Gadis itu menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Ya?"
"Kamu mau makan?" Dilihatnya Abra dengan celemek di dekat kompor.
"Hah? Kakak masak?"
"Iya. Kalau mau aku masakkin."
Gadis itu tersenyum simpul. Ia keluar kamar. "Kak Abra jago masak ya?"
"Ngak juga, cuma yang gampang-gampang saja. Gimana?"
"Masak apa?" Gadis itu mendekat.
"Masak ayam ditumis dengan sedikit sayuran."
"Kayaknya enak."
"Mau berarti ya?"
"Gak masak nasi Kak?"
"Oh ya, belum."
"Ya sudah, aku yang masak Kak."
"Ok."
Abra melirik Shasa yang sudah menyingsingkan lengan bajunya. Memang itu yang ditunggunya dari tadi. Memasak berdua dengannya. Abra sedemikian bersemangatnya, hingga ia memotong sayuran dan mencuci ayam sambil bersiul-siul memperdengarkan beberapa nada dari potongan lagu.
Awalnya gadis itu merasa sedikit aneh tapi kemudian menikmatinya.
-----------+++--------
Sudah sejam Kevin mendiamkan piring makan malam di hadapannya tak tersentuh. Pikirannya sedang terpenjara dengan lamunan yang kini membiusnya.
Shanum. Nama itu kini terukir indah di relung hatinya terdalam. Sebuah nama yang mampu membuat lumpuh seluruh tubuhnya saat mengingatnya. Gadis itu seperti diciptakan untuk dikagumi, dilamunkan dan dicintai olehnya. Tuhan pasti telah menciptakan gadis itu untuk dimilikinya. Itu pasti.
Ia tak habis pikir ia bisa jatuh cinta pada wanita muda seperti Shasa tapi ia benar-benar tak bisa menolak pesona gadis itu yang polos dan sedikit pemalu.
Ini pertama kalinya ia jatuh cinta dan ia tak bisa mengusir bayang gadis itu di dalam pikirannya. Seperti sebuah film yang diputar berulang-ulang, begitu pula wajah dan diri gadis itu yang terperangkap dalam lamunan dan otaknya. Ia seperti menghantui dan tak mau pergi dan pria itu kini dalam resah yang nyata.
Akan dibawa ke mana masalah hati dan perasaan ini bila tak mendapatkannya? Akan dibawa ke mana ... Ia kini harus mengatur strategi untuk mendapatkannya.
--------+++---------
Sebuah ketukan keras dan beruntun membangunkan Rika yang sudah hampir tertidur. Ia benci terus-terusan diganggu hari itu mengingat rencananya selalu gagal dan menemui kesialan.
Hari ini saja ia buru-buru pulang agar tidak dipanggil HRD dan diceramahi atau diberi tahu akan dipecat dari perusahaan itu, tapi itu berarti ia hanya menunda dan ia tetap akan mendapatkannya esok harinya dan kini ... siapa lagi yang ingin mengganggu kedamaiannya ketika ia ingin mencoba tidur dengan tenang.
Rika membuka pintu kamarnya dengan rambut berantakan dan mulut menguap. Pria itu masuk dengan tergesa. "Di mana Shasa hah, di mana Shasa?"
"Apaan sih, malam-malam berisik aja. Aku mau tidur, tau! Jangan bikin gue stres deh gara-gara mikirin dia! Udah Ah!"
Damar mengguncang-guncang lengan Rika. "Di mana Shasa heh, ke mana dia? Bukankah seharusnya dia sudah pulang?" Matanya membulat, frustasi.
Tentu saja karena saat ia pulang tadi, ia tidak melihat keberadaan Shasa di rumah. Rika mengatakan bahwa Shasa lembur dan ia percaya sehingga ia mengantarkan kedua orang tuanya ke Bandara. Setelah pulang, ia tidak menemukan Shasa di kamarnya.
"Iya, tadi dia pulang sebentar lalu pergi lagi. Katanya dia mau pindah dan tinggal di luar," ujar Rika sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Apa? Ke mana?" Saat itu juga Damar merasa syok. Ia tidak pernah berpikir kalau suatu saat Shasa akan pergi jauh meninggalkan rumah itu.
"Gak tau, mungkin tinggal dengan Bima kali."
"Dia tinggal dengan pria itu?" Wajah Damar semakin syok.
Rika karena sudah tidak sabar, mendorong Kakak tirinya keluar sebab ia sudah sangat mengantuk, tapi tak lama pria itu kembali mengetuk pintu kamarnya. "Ada apa sih?"
Pria itu menarik lengan gadis itu dengan beringas. "Awas aja ... awas aja kalo ternyata lo ngusir Shasa dari rumah ini! Awas aja!!! Lo bakal bikin perhitungan dengan GUE!"
"Dih!" Rika menepisnya dengan kasar. "Lo pikir lo siapa ngancem-ngancem gue?" Rika mendorong pria itu dengan kasar keluar kamarnya dan membanting pintu. Damar masih kesal dan berdiri di depannya.
--------+++---------
Shasa terbangun di tengah malam. Sepertinya ada seseorang di luar kamarnya. Lama ia termenung sambil menatap sekitarnya. Rumah baru? Ia kemudian tersadar ia tengah menginap di apartemen Abra tapi ... apa pria itu belum tidur?
Ia beranjak dari tempat tidurnya dan mengintip ke luar. Benar saja, pria itu sedang duduk di sofa sambil minum kola. Entah apa yang sedang dipikirkannya, yang jelas ia memang sedang duduk dan memikirkan sesuatu.
"Kak."
Abra menoleh.
"Susah tidur?"
"Mmh? Oh, bukan. Aku sedang memikirkan slogan, tapi itu juga sih. Belum ngantuk. Kau belum tidur? Apa aku mengganggumu tidur? Oh, maaf ya? Berisik ya?" Abra menyadari bunyi minuman kalengnya ternyata membangunkan Shasa.
"Mmmh." Shasa menggeleng. "Aku kadang terbangun tengah malam untuk minum." Ia berbohong.
"Oh, mau minum?"
"Iya." Shasa melangkah ke arah lemari es.
Abra kembali termenung sedang gadis itu menuang ke gelas minuman jus jeruk dari minuman kemasan karton dari lemari es. Shasa meminumnya sambil memperhatikan pria itu.
Abra sadar di perhatikan. "Eh, kamu tidur saja dulu. Aku mungkin agak telat."
"Kalau begadang gimana bangun paginya?"
Abra menatap Shasa dan tiba-tiba tertawa. "Aku hanya perlu memeriksa siaran tapi secara acak dan aku tidak perlu juga datang pagi. Kalau aku begadang aku pasti tidur paginya. Jadwalku memang tidak jelas tapi bukan berarti aku melupakan istirahat."
"Oh, begitu."
"Iya."
Shasa mendekati pria itu.
"Kau tidak tidur?"
"Aku juga terbiasa bangun malam dan terkadang susah tidur."
"Kau sekarang sedang susah tidur?"
Shasa duduk di samping Abra. "Boleh aku tahu slogan yang kau inginkan?"
"Slogan?"
"Aku ingin membantu, boleh?"
Pria itu terkejut. "Slogan itu adalah Image TV yang ingin ditampilkan pada stasiun TV tersebut. Ini membuat sebuah stasiun TV, terkenal hanya dengan mengingat slogannya."
"Aku juga belajar sedikit dari teman sekantorku tentang slogan." Shasa meletakkan minumannya di meja di depannya.
"Oh, apa kamu pernah ikut jadi Tim Kreatif?"
"Aku kan kerja di perusahaan kecil, aku harus serba bisa."
Kembali Abra terkejut. "Jadi pernah mengerjakan slogan?"
"Memang perusahaanku mengerjakan itu."
"Oh, iya sih .... "
"Memangnya stasiun TV Indo mau membuat image TV seperti apa?"
Maka mengalirlah dari mulut Abra tentang image perusahaan yang diinginkannya dan mereka berdua kemudian berdiskusi hingga menjelang pagi. Tak terasa mereka tertidur berdua di atas sofa.
Mereka tidur sambil duduk berdampingan bersandar di sandaran sofa dan menyatukan kepala. Abra yang lebih dulu bangun dan menyadari gadis itu bersandar di bahunya.
Perlahan ia menyentuh wajah gadis itu dengan lembut.
Tak adakah cara agar kita tetap selalu bersama ... karena aku sayang padamu.
Hei Abra, hati-hati kalau bicara! Bagaimana kalau Tuhan mendengar lalu mengabulkannya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Novi Ana
semoga tuhan bener" mengabulkan Do'a abra ..... ( tentunya atas izin author.....😄😄😄)
2022-06-20
3
Wid
semoga abra sama shasa cepat dihalalkan....
2022-06-20
3