Menyangkal

"Eh ...." Abra hanya melihat ke piring yang disodorkan.

"Kenapa?"

"Kamu bisa menemaniku makan ngak?"

Shasa mengerutkan dahi. "Kenapa?"

"Tidak enak makan sendiri."

"Tapi ...."

"Kamu kan membutuhkan piringnya kembali?"

"Tapi bisa di tinggal di pinggir jalan kok, nanti biar Pak Satpam yang ambil kalau sudah selesai."

"Mmh ...." Pria itu melirik Shasa. "Apa aku terlihat jahat?"

"Apa? Eh, ngak."

"Kenapa kamu tidak mau duduk menemaniku di mobil?"

Masalahnya aku tidak mau bermasalah dengan Rika. Dia pasti marah kalau aku berhubungan denganmu. Shasa terlihat bingung.

"Aku kan tidak akan menggigitmu."

Gadis itu tertawa.

Ah, bahkan tertawanya saja sangat indah. Aku rasa aku mulai tergila-gila padanya. "Temani aku ya? Hubungan kita kan bukan penjual dan pembeli."

"Iya sih, tapi ...." Gadis itu masih tertawa, ia memiringkan kepalanya semakin bingung.

Ayolah, aku sangat ingin bicara denganmu kelinciku. "Ya?"

"Ya sudah." ucap gadis itu pelan. Abra mengambil piring itu sehingga Shaha bisa masuk mobil itu dengan jalan memutar.

Sedikit tidak percaya diri, gadis itu masuk ke dalam mobil setelah Abra meletakkan plastik belanjanya di kursi belakang. "Sudah."

"Ya sudah," Abra mulai makan. Gadis itu membuatkannya telur dadar dan goreng sosis.

"Aku cuma bisa masak itu."

Abra mencobanya. "Mmh, lumayan," ucapnya sambil mengunyah.

"Lumayan enak?" Alis Shasa meninggi ingin tahu.

"Lumayan ancur."

"Eh?" Gadis itu panik.

"Enggak. Becanda. Enak kok!" Abra hampir tertawa.

"Ah, kamu bikin panik!" Gadis itu menepuk bahu pria itu.

Abra malah tertawa.

"Tau gitu gak aku masakin deh!"

"Ya, jangan gitu dong. Maaf, maaf."

Mereka pun terdiam karena Abra sedang makan. Gadis itu sedikit canggung berada bersama pria itu karena ia tidak begitu mengenalnya. Lain dengan Bima yang sering ia temui tiap hari bila pergi ke sekolah karena ia menumpang di mobilnya bersama Rika.

Ia juga tak berani melihat wajah Abra. Entah kenapa jantungnya mulai berdebar-debar saat duduk bersama pria itu, padahal pria itu tidak sedang melakukan apa-apa selain makan.

Ia mencoba melirik pria itu sekilas, tapi itu malah membuat debaran di jantungnya kian tak beraturan. Ada apa ini? Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Bahkan saat bersama Bima. Padahal, Bima kan pacarnya bukan Abra, eh ....

Shasa mencoba melihat pria itu dengan sungguh-sungguh. Memang Abra lebih tampan dari Bima, dan lebih muda tapi apa itu yang membuat jantungnya berdebar-debar seperti ini? Benarkah?

"Ada apa?" Abra melihat kebingungan Shasa.

"Eh, ngak." Shasa menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku suka suasana malam. Kelam."

"Karena bisa menyembunyikan duka."

Abra menatap Shasa lekat. "Kenapa ada orang yang suka senja?"

"Senja itu berada antara siang dan malam. Terang dan gelap. Senja itu terang tapi tidak panas. Kalaupun akhirnya malam datang menjelang, besokpun ia akan tetap kembali datang."

"Pejuang tangguh ya?"

"Ya begitulah." Shasa tersenyum.

Abra menyuap makanannya. "Kamu kan yang menulis buku itu."

"Eh, bu-buku apa?" Shasa mulai panik. Ia ingat tentang buku note miliknya yang masih disimpan Rika.

"Buku catatan yang aku temukan di pesta topeng waktu itu," Abra mengunyah dengan santai.

"Oh, bukan. Itu punya Kak Rika," dalam kepanikan ia berusaha tetap tenang dan tak melihat ke arah Abra.

Justru pria itu curiga dan tak mengerti kenapa Shasa berbohong padanya. "Rika memangnya bisa menulis puisi?"

"Eh, bisa."

"Sejak umur berapa dia bisa menulis puisi?"

"Sejak SD. Dia sudah mulai tertarik puisi terus coba-coba bikin sendiri."

Itu dirimu kan? "Mmh ...." Abra meneguk minuman kaleng yang dia ambil dari dasbor di depannya. Kenapa jawabannya beda? Kenapa mereka gak kompak sih berbohongnya? Abra hampir tertawa. Aneh! Kenapa dia malah menyembunyikan kemampuannya? "Jadi, bukan kamu yang nulis?"

"Bukan." Shasa menggeleng.

"Tapi kamu bisa nulis puisi juga kan?"

Eh? Gimana ini ... "Enggak." Shasa hanya menatap lurus ke depan. Di mainkannya dengan jari, pinggiran jilbab instannya.

Dilihatnya gadis itu sedikit gusar. Ia tak tega melihat gadis itu dalam kebingungan. Ya sudah, kalo gak mau ngaku, aku gak ngerti juga kena dia harus berbohong soal ini tapi yang pasti dia yang berkali-kali aku temui di pesta itu kan?

Abra tersenyum. Seandainya saja tuhan menciptakan dia hanya untukku ... betapa bahagianya.

"Mmh, sudah selesai kan?" Gadis itu melihat Abra telah selesai makan tapi tidak segera menyerahkan piring yang berada di tangannya, karena itu ia memintanya.

"Oh, iya." Abra tersadar dan menyerahkan piring itu. Ia sedang berpikir, bagaimana bisa berhubungan terus dengan gadis itu. "Eh, boleh aku minta nomor teleponmu?"

"Mmh? Untuk apa?"

"Apa ... kita tidak bisa berteman?" tanya Abra hati-hati.

"Teman?"

"Iya."

"Mmh ...." Kenapa dia membuatku bingung. "Aku belum pernah punya temen cowok Kak."

"Bukan berarti gak bisa kan?" Abra membujuknya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah stir.

Manik mata Shasa menyorot bingung pada pria itu, tapi ia harus berusaha menghindar. "Eh, lupakan saja Kak." Gadis itu buru-buru berbalik dan membuka pintu. Ia takut tergoda, entah kenapa ia benar-benar takut tergoda.

"Tapi ...."

Shasa sudah keluar dari mobil itu dan menutup pintu. Abra harus menelan kecewa. "Terima kasih ya, makan malamnya."

"Oh, tidak apa-apa Kak. Malam."

"Malam." Gadis itu bergegas melangkah pulang. Sebelum yang lain tahu ia keluar lama, ia harus segera kembali. Hanya akan menambah masalah kalau ada anggota keluarga di rumah itu yang tahu ia sedang menemui Abra. Jangan sampai ....

Lama pria itu termenung saat telah melihat gadis yang ia suka masuk ke dalam rumah itu. Ia tidak berdaya, akan keadaannya, akan cintanya tapi kalau ia ingin memilih cinta, ia harus bersabar.

Tak lama, mobil Abra meninggalkan tempat itu.

Setelah dari dapur, Shasa kembali ke kamar tapi betapa terkejutnya Shasa melihat Rika sudah berada di kamarnya. "Eh, Kak ...."

Rika mendatanginya. "Jangan sombong deh lo sudah pacaran dengan Bima. Bima itu bekas gue, tau!"

"Eh, i-iya." Aku pikir ada apa. Shasa menghela napas lega. Ia takut Rika mengetahui ia baru saja menemui Abra.

"Aku tadi pulang dianterin Abra," ucap Rika sedikit pamer.

"Oh, iya kak." Pantesan dia tau rumah ini, tadi siang habis nganter Kak Rika ya?

"Kayaknya dia suka sama aku tuh," Wajah gadis itu riang dengan senyumnya yang lebar. Ia menyibak rambut panjangnya yang bergelombang.

Shasa hanya mengikutinya saat gadis itu menariknya untuk duduk di tepian tempat tidur.

"Gue tadi makan siang dong, bareng Abra. Dia yang traktir. Biasa, makan di La Luna." Rika berbohong. Ia menatap sepupunya. "Lo jangan putus pacaran sama Bima ya? Pokoknya sebelum gue dapetin Abra, lho gak boleh putus, gimanapun caranya. Ngerti lo?" ucap Rika setengah mengancam karena ia tahu Abra menyukai Shasa dan ia masih belum yakin bisa mendapatkan pria itu.

Shasa adalah selalu menjadi orang yang beruntung karena dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Itu yang selama ini Rika lihat di keseharian sepupunya itu, karena itu Rika sangat membencinya.

Dulu, saudara bahkan keluarganya selalu membanding-bandingkan mereka sehingga saat kedua orang tua Shasa meninggal dunia dan gadis itu tinggal di rumahnya, ia membalas dendam. Ia tidak ingin gadis itu lebih populer darinya. Dengan segala cara ia mengontrol keseharian Shasa mengikuti keinginannya.

"Iya."

Kemudian manik mata cantik gadis itu berubah riang mengiringi senyumnya yang mulai mengembang. "Aku udah di terima kerja di stasiun tv tempat Abra kerja lo! Mulai besok aku juga mulai kerja."

"Wah, selamat ya Kak. Aku turut senang." Shasa ikut bersyukur karena sepupunya itu juga di terima kerja di stasiun tv itu, berarti gadis itu tidak akan mengganggunya untuk sementara waktu. Biasanya bila Shasa mendapatkan sesuatu dan Rika tidak, gadis cantik itu biasanya akan mengamuk dan mengganggunya dengan merusak barang-barang atau mengejeknya dengan kata-kata kasar. Selain bersyukur, Shasa juga bernapas lega.

Malam itu netra Rika sangat cemerlang. Ia menantikan saat-saat bisa bekerja di perusahaan milik keluarga Abra dan bertemu dengan pria itu setiap harinya.

--------+++--------

Damar mengetuk pintu, tapi tak ada yang datang membukakan. Lama ia menunggu. Akhirnya ia mencoba membuka pintu itu. Terbuka.

"Ah, dasar ceroboh!" runtuknya kesal. Ia kemudian masuk dan mencari gadis itu.

Shasa terbaring di atas tempat tidur dan tidur dengan lelapnya dan ia tidak menyadari bahwa Dhamar telah masuk ke dalam kamarnya. Ia lupa mengunci pintu.

Damar mendatangi tempat tidur gadis itu. Ia terkejut melihat wajah asli Shasa tanpa jilbab. Pelan-pelan di dekati tempat tidur itu dan duduk di tepian. Ia terpana. Wajahnya manis juga ternyata. Tanpa sadar ia menyentuh pipi Shasa perlahan lalu menyibak rambutnya. Ia menyentuh rambut panjang dan lurus Shasa dengan lembut.

Kemudian bibirnya menyeringai menatap wajah sepupunya yang tidur dengan nyenyaknya. Tiba-tiba ia mencengkram lengan gadis itu dengan kuat.

"Aaaghmmh."

Hampir berteriak, ia membekap mulut Shasa hingga suaranya terdengar samar dan tak jelas.

"Ssst! Ini aku," bentak Damar pada Shasa yang sudah melepas cengkramannya. Ia juga melepas bekapan di mulut gadis itu saat gadis itu sudah bangun dan menyadari keberadaannya.

"Aduh, Kakak. Sakit Kak." Shasa mengaduh dan mengusap tangannya yang dicengkram Damar. Ia terkejut saat ia terlelap tidur dan dibangunkan oleh rasa sakit yang luar biasa pada lengannya.

"Lagi ... kenapa aku bangunin gak bangun?"

"Aku kan harus ke kantor pagi Kak, gak enak telat sama Kak Bima." Sasha mencoba duduk dan mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk.

"Kamu beneran pacaran ya sama Bima?"

Mata mengantuk Shasa mencoba memperhatikan wajah Damar. Kenapa dia ngak manggil 'Kak' sih, kan Kak Bima lebih tua darinya? "Iya."

"Ohh ...." Wajah Damar terlihat aneh, tak tahu kenapa.

"Kakak mau apa lagi?"

"Ya makanlah!"

"Mmh." Tiba-tiba Shasa ingat ia belum memakai jilbabnya. "Eh Kak, aku kan belum pakai jilbab!" Ia panik dan menyentuh kepalanya. "Kakak keluar dulu!" Ia mendorong Damar turun dari tempat tidur.

"Eh, iya, iya, iya ...." Pria itu seperti linglung. Ia menurut saja keluar dan menutup pintu. Ia terdiam sebentar di depan pintu sebelum akhirnya melangkah menuruni tangga.

Shasa segera menyusul, dan melangkah ke dapur. Ia kemudian memecahkan sebutir telur di sebuah mangkuk kecil dan memberinya sedikit garam lalu mengocoknya. Kemudian ia mengambil sosis yang dibelinya tadi dari freezer. Saat ia menghidupkan kompor, Damar masuk ke dapur.

Eh, apalagi ini? Apalagi yang diinginkannya?

___________________________________________

Hai, hai reader, apa kabar? Sehat selalu mudah-mudahan. Jangan lupa beri semangat Author dengan like, vote, komen dan hadiah. Mungkin juga koin. Ini visual Shanum alias Shasa yang baru lulus SMA, terpaksa harus bekerja. Salam, ingflora.💋

Terpopuler

Comments

Novi Ana

Novi Ana

sebaiknya shasa cepet keluar deh dari rumah itu terlalu banyak penindas d sana....

2022-06-10

2

lihat semua
Episodes
1 Pesta Topeng
2 Pacaran
3 Pulang
4 Malam
5 Melamar Kerja
6 Mengintai
7 Makan Siang
8 Resah
9 Hubungan
10 Menyangkal
11 Kerja
12 Bertahan
13 Rencana
14 Kesempatan
15 Bantuan
16 Amarah
17 Perkenalan
18 Pergi
19 Memecah malam
20 Kecelakaan
21 Rumah Sakit
22 Kunjungan
23 Menunggu
24 Tuduhan
25 Berdua
26 Ayah Pulang
27 Apartemen
28 Pewaris
29 Foto iklan
30 Pantai
31 Sekretaris Dadakan
32 Om
33 Merawat Abra
34 Karena
35 Membuntuti
36 Syuting
37 Pernyataan Cinta
38 Keputusan
39 Makan Malam Dengan Damar
40 Kunjungan Bima
41 Keluarga
42 Aku
43 Kamu
44 Mengetahui
45 Kerja lagi
46 Pertengkaran
47 Abang
48 Sebuah Permohonan
49 Segenggam Maaf
50 Di Apartemen Abra
51 Pintu Hati
52 Mal
53 Mendadak Keluarga
54 Kelinciku
55 Perkara Cinta
56 Yang Datang Dan Yang Pergi
57 Awal
58 Mengejar Ketinggalan
59 Terbalik
60 Jebakan Panggung
61 Godaan
62 Awal Bencana
63 Dan Seterusnya
64 Berani
65 Sebuah Kelanjutan
66 Menyangkal
67 Insiden Cinta
68 Penghianatan?
69 Healing(penyembuhan)
70 Tuan Putri
71 Surat Pengunduran Diri
72 Berpisah
73 Cemburu
74 Teman Atau Pacar
75 Di Kejar
76 Perayaan
77 Kesempatan
78 Tak Pasti
79 Kucing
80 Pesta
81 Dilamar 1
82 Dilamar 2
83 Dilamar 3
84 Perjodohan
85 Rekonsiliasi
86 Berkunjung
87 Pilihan
88 Persiapan
89 Menikah
90 Rahasia
91 Sesuai Skenario
92 Tragedi Lingerie
93 Roadshow
94 Puisi Rindu Yang Terkekang
95 Makan Siang Yang Ricuh
96 Magic(Sihir)
97 Viral
98 Memulai Dari Nol
99 Pengangguran
100 Hidupku Bersamamu
101 Hari Baru
102 Hamil
103 Menjenguk Shasa
104 Kecewa
105 Belum Berakhir
106 Tak Terhentikan
107 Ujungnya
108 Kelahiran
109 Pernikahan
110 Pertemuan Meyakinkan
111 Terperangkap Kenyamanan
112 Ingin
113 Padamu
114 Aku Tanpamu
115 Ramai
116 Untukmu
117 Bertemu Kembali
118 Panggungku
119 Shasa Diculik!
120 Racun Merindu
121 Cincin
122 Ayah
123 Pengakuan
124 Yang Tersisa
125 Untuk Bahagia
126 Akhirnya
127 CEO And Twins
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Pesta Topeng
2
Pacaran
3
Pulang
4
Malam
5
Melamar Kerja
6
Mengintai
7
Makan Siang
8
Resah
9
Hubungan
10
Menyangkal
11
Kerja
12
Bertahan
13
Rencana
14
Kesempatan
15
Bantuan
16
Amarah
17
Perkenalan
18
Pergi
19
Memecah malam
20
Kecelakaan
21
Rumah Sakit
22
Kunjungan
23
Menunggu
24
Tuduhan
25
Berdua
26
Ayah Pulang
27
Apartemen
28
Pewaris
29
Foto iklan
30
Pantai
31
Sekretaris Dadakan
32
Om
33
Merawat Abra
34
Karena
35
Membuntuti
36
Syuting
37
Pernyataan Cinta
38
Keputusan
39
Makan Malam Dengan Damar
40
Kunjungan Bima
41
Keluarga
42
Aku
43
Kamu
44
Mengetahui
45
Kerja lagi
46
Pertengkaran
47
Abang
48
Sebuah Permohonan
49
Segenggam Maaf
50
Di Apartemen Abra
51
Pintu Hati
52
Mal
53
Mendadak Keluarga
54
Kelinciku
55
Perkara Cinta
56
Yang Datang Dan Yang Pergi
57
Awal
58
Mengejar Ketinggalan
59
Terbalik
60
Jebakan Panggung
61
Godaan
62
Awal Bencana
63
Dan Seterusnya
64
Berani
65
Sebuah Kelanjutan
66
Menyangkal
67
Insiden Cinta
68
Penghianatan?
69
Healing(penyembuhan)
70
Tuan Putri
71
Surat Pengunduran Diri
72
Berpisah
73
Cemburu
74
Teman Atau Pacar
75
Di Kejar
76
Perayaan
77
Kesempatan
78
Tak Pasti
79
Kucing
80
Pesta
81
Dilamar 1
82
Dilamar 2
83
Dilamar 3
84
Perjodohan
85
Rekonsiliasi
86
Berkunjung
87
Pilihan
88
Persiapan
89
Menikah
90
Rahasia
91
Sesuai Skenario
92
Tragedi Lingerie
93
Roadshow
94
Puisi Rindu Yang Terkekang
95
Makan Siang Yang Ricuh
96
Magic(Sihir)
97
Viral
98
Memulai Dari Nol
99
Pengangguran
100
Hidupku Bersamamu
101
Hari Baru
102
Hamil
103
Menjenguk Shasa
104
Kecewa
105
Belum Berakhir
106
Tak Terhentikan
107
Ujungnya
108
Kelahiran
109
Pernikahan
110
Pertemuan Meyakinkan
111
Terperangkap Kenyamanan
112
Ingin
113
Padamu
114
Aku Tanpamu
115
Ramai
116
Untukmu
117
Bertemu Kembali
118
Panggungku
119
Shasa Diculik!
120
Racun Merindu
121
Cincin
122
Ayah
123
Pengakuan
124
Yang Tersisa
125
Untuk Bahagia
126
Akhirnya
127
CEO And Twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!