Pergi

"Kenapa aku tidak boleh memecatnya? Bukankah itu lebih baik sebagai pelajaran agar ia tidak mudah melakukannya lagi. Lagipula, Shasa kan bisa mengadu pada orang tuanya agar Rika mendapat hukuman."

Shasa dan Abra menoleh pada Kevin.

"Justru itu. Shasa sudah tidak punya orang tua dan ia tinggal di rumah Rika," ungkap Abra.

"Apa?" Kevin membulatkan matanya menatap gadis itu. "Jadi sehari-hari kamu ...." Ia sudah bisa membayangkan yang terburuk.

"Tapi Tante dan Omku orang yang baik kok," sela Shasa membela kedua orang tua Rika.

"Tapi apa mereka tahu apa yang dikerjakan anaknya padamu?"

"Rika hanya Kadang-kadang saja begitu. Kalau sedang kesal saja," Gadis itu masih membela sepupunya itu.

"Astaga Shanum, kau masih membelanya? Wanita itu tidak wajar, Shanum, tidak wajar! Kalau dibiarkan lama-lama bisa berbahaya. Dia bisa melukaimu. Kau harus segera pindah dari rumah itu secepatnya," Kevin berapi-api menerangkannya pada gadis itu. Shasa yang merasakan tapi pria itu yang ketakutan. Ia tidak rela gadis itu disiksa lagi oleh sepupunya.

Abra beralih menatap gadis itu. "Kakakku benar. Kenapa kau masih bertahan di sana? Kamu kan bisa pindah?"

Tentu saja Shasa tidak bisa bilang kalau ia tidak punya uang. "Aku akan pikirkan."

"Kalau kau butuh bantuan, bilang saja. Aku pasti bantu," Kevin menawarkan bantuan. Ia tidak peduli Abra membolehkan atau tidak bantuan darinya sebab ia sudah gemas melihat perundungan yang tengah Rika lakukan pada sepupunya itu tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Shasa menganggap sepele kejahatannya.

Abra menangkup wajah Shasa dengan kedua tangannya. "Tuh, sudah banyak yang ingin membantumu, kamu seharusnya tidak perlu bersedih lagi, ya kan?" Ia menatap kedua bola mata yang teduh milik gadis itu. "Mmh?"

"Iya Kak, makasih." Shasa meraih lengan pria itu yang masih menangkup wajahnya.

Kevin berdehem. Ia gerah melihat kemesraan mereka berdua.

Abra menoleh. "Oh, maaf."

Pria itu segera menggenggam tangan gadis itu. "Kalau kamu sudah tidak apa-apa, kita ke kantin yuk! Nanti setelah itu kamu temani aku keliling lagi. Lain kali jangan pergi, jauh dari pengawasanku, ok? Walaupun itu hanya ke toilet saja."

Gadis itu mengangguk.

Abra menoleh kembali pada Kevin. "Terima kasih ya Kak, sudah menolong Shasa tadi. Aku sangat senang. Untuk ada Kakak yang bisa menolong dia tadi." Ia menepuk bahu Kevin.

"Makasih Kak." Shasa menganggukkan kepala pada Kevin.

"Oh, tidak apa-apa. Hanya hal kecil, itu." Entah kenapa ia jadi salah tingkah hanya karena dipuji oleh gadis itu. Semuanya terasa sangat istimewa saat menyangkut soal Shasa.

Abra berdiri diikuti Shasa. Gadis itu mengekor Abra setelah keduanya pamit pada Kevin. Mereka kemudian keluar.

Kevin hanya bisa mengeratkan kepalan tangannya, karena ia hampir saja bisa mendekati gadis itu kalau saja adiknya itu tidak datang. Hampir saja. Haaah, sial!

Malam itu setelah sholat Maghrib, Shasa menemani pria itu mengecek siaran. Selama itu ia tidak lagi bertemu dengan Rika. Sepupunya itu tentu saja sudah pulang karena statusnya masih training (belajar).

Shasa tahu, akan ada ledakan hebat saat ia pulang nanti. Ia berharap saat itu ada Om dan Tantenya di rumah sehingga ia tidak harus mendapat masalah terlebih ia sepertinya akan pulang larut malam.

Kevin masih sempat mengintip mereka berdua, Shasa dan Abra, dari kejauhan. Hasrat ingin tahunya pada gadis itu belum juga pudar. Ia pada akhirnya memilih untuk lebih cepat pulang ke rumah.

Abra pun mengantar Shasa pulang ke rumah Rika setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. "Makasih ya, seharian udah bantu aku merapikan apartemen." Ia menatap Shasa ragu. "Apa kamu yakin kamu gak apa-apa pulang ke rumah?"

"Jam segini pasti Rika sudah pergi tidur Kak," gadis itu berusaha meyakinkan Abra, juga dirinya.

Pria itu dengan cepat meraih lengan Shasa saat gadis itu membuka pintu mobil. "Beneran gak apa-apa?"

"Eh, iya Kak," Shasa mencoba tersenyum.

Abra melepas gadis itu turun dan masuk pintu gerbang rumahnya. Ia berharap apa yang dikatakan gadis itu benar dan ia tidak harus merasa cemas atau ragu meninggalkannya. Ia masih termangu lama sebelum akhirnya menjalankan mobilnya pergi dari situ.

Pintu terbuka oleh salah seorang pembantu rumah. Shasa masuk dan melihat tidak ada seorang pun di ruang tengah. Ia merasa lega, tapi sebelum ia menaiki tangga, terdengar suara seseorang yang tengah memanggil namanya. Suara yang amat dikenalnya yang ia berusaha hindari saat ini. Ia menoleh.

Ia melihat Rika dengan tergesa datang dari arah dapur. Wajahnya terlihat amat menakutkan karena sedang mengumpulkan amarahnya dengan kekuatan penuh. Tanpa bicara Rika langsung menarik jilbab Shasa dengan kencang hingga gadis itu jatuh terjerembab ke lantai.

"Aahh!"

"Lo hebat lo ya sekarang, udah BERANI nentang gue! Lo pikir lo tuh siapa, hah? Bener-bener gak tau diri lo ya? Heh! Lo itu cuma SAMPAH, tau gak lo, SAMPAH YANG DI PUNGUT DI JALANAN!!! Orang tua gue udah nyelametin elo, tapi apa balasannya? Lo malah bikin hidup gue sengsara kayak gini. Emang dasar cewek gak tau diri! Di mana-mana MANUSIA SAMPAH ya tetep SAMPAH!!!" Rika berusaha memukuli Shasa berkali-kali dengan kepalan tangannya dan gadis itu berusaha membentengi tubuh dengan kedua tangannya.

Pembantu yang membuka pintu berusaha melerai mereka tapi Rika malah menghardiknya. "Lu mau gue pecat, hah? Pergi lu!"

"Jangan dipukul Mbak, kasihan .... "

"Lu dengerin gak gue ngomong, hah? PERGI LU!"

Pembantu itu akhirnya pergi dengan wajah ketakutan.

Shasa yang melihat Rika lengah, segera berdiri. Lalu ia menghadap Shasa dengan berani.

Plak!

Dengan tangan gemetar Shasa menampar wajah Rika dengan keras. Gadis berambut panjang itu menyentuh pipinya yang memerah dan terasa panas. Ia syok. Shasa benar-benar telah berani melawannya!

"Aku ini sepupumu dan aku tidak bodoh! Aku juga bukan sampah seperti yang kamu bilang! Aku mendengarkanmu karena kebaikan Om dan Tante padaku, tapi kalau sudah melibatkan banyak orang, aku sudah tidak ingin lagi menahannya! Lebih baik kita hidup sendiri-sendiri saja supaya tak ada yang merasa terbebani," ucap Shasa dengan nada marah.

Tentu saja. Melibatkan Abra dan Kevin dalam kehidupan pribadinya tentu tidak mudah baginya seperti memamerkan aib keluarganya pada orang luar dan dari sanalah Shasa bangkit untuk melawan. Ia tidak ingin orang lain masuk dalam masalah keluarganya karena itu ia berusaha menyelesaikan semuanya sendiri.

"Baik. Pergi lo dari sini, kalo lo sanggup hidup sendirian. Hah! Gue juga gak butuh cewek sampah kayak elo ada di rumah ini!"

Shasa berusaha menahan diri untuk bicara. Membalas rasa sakitnya hanya menambah luka. Matanya mulai berkaca-kaca tapi ia tahan untuk segera menaiki tangga.

"Inget ya, sekali lo keluar dari rumah ini, gue gak sudi nerima lo balik ke sini lagi, ngerti lu!" ancam Rika semakin berang. Ia mengangkat telunjuknya dan menunjuk-nunjuk wajah gadis berjilbab itu.

Dengan tegar Shasa menaiki tangga. Semakin cepat ia naik ke atas semakin sesak dadanya terasa. Ia sudah tidak peduli lagi omelan sepupunya yang masih saja mengejeknya.

Dengan cepat Shasa mengambil tas besarnya. Ia mengumpulkan pakaian dan memasukkannya ke dalam tas. Ia juga memasukkan barang-barang lain sebelum ia menutup tas itu. Ia kemudian bergegas keluar sambil membawa tas besar itu.

Rika berdiri di depan pintu sambil bertelak pinggang. Shasa sudah tidak peduli lagi kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu karena ia tahu sepupunya itu hanya ingin melihat dirinya sakit hati dan hancur secara bersamaan, tapi itu tidak akan menyurutkan tekadnya untuk keluar dari rumah itu. Niatnya sudah bulat. Ia tidak akan kembali ke rumah itu lagi walau bagaimanapun susahnya di luar sana. Ia pasti bisa, ia pasti bisa ....

Dengan tubuh ditegakkan ia memantapkan langkahnya menuruni tangga. Masih terdengar jelas suara Rika yang masih menghujamnya dengan kata-kata kasar. Ia tak peduli. Ia sudah tak peduli lagi apapun yang di katakan Rika karena ia akan memulai hidup baru tanpa tekanan dan paksaan.

Ya Allah ... hampir di separuh langkahnya menuju pintu kakinya sudah mulai lemas karena ingat ia akan benar-benar hidup sendirian. Kuatkan aku ya Allah. Kuatkan aku.

Shasa bergegas keluar agar ia tidak jatuh lemas di dalam rumah itu. Ia takut Rika akan menertawakan perjuangannya yang baru dimulai. Ia tak boleh terlihat lemah. Ia harus terlihat kuat.

Akhirnya ia berhasil melewati pintu utama lalu pintu pagar. Air matanya mulai berjatuhan. Namun ia lega ia berhasil melewati semuanya. Sekarang ... ia harus ke mana?

Dilangkahkan kakinya di malam gelap itu dengan penuh keikhlasan. Ia tak mampu menguasai air matanya yang jatuh satu-satu seiring ia melangkah menjauh dari rumah tempatnya berteduh selama dua tahun ini. Sedih tak terkira meninggalkan kenangan yang juga luka. Tak ada kenangan yang bisa membuatnya bertahan di rumah itu tapi ia juga sedang menghadapi yang tak pasti.

"Shasa?"

Gadis itu menoleh dan terkejut. Abra berdiri di sampingnya dengan tangan penuh dengan plastik belanjaan.

Gadis itu buru-buru menghapus air matanya.

Abra yang terkejut melihat wajah gadis itu berlinang air mata, menjatuhkan belanjaannya di lantai. Ia segera mendatangi gadis itu. "Kamu bertengkar dengan Rika lagi kan? Ck!"

"A-a-aku ...."

"Sudah jangan berbohong lagi. Semakin kau menutupinya semakin kau terluka."

Gadis itu hanya terdiam. Abra menyadari gadis itu membawa sebuah tas besar yang dipeluknya.

"Kau diusirnya atau kau kabur?"

Shasa menatap ke depan dan berusaha meninggalkan pria itu.

Abra segera menahannya. Ia mengalah. "Ya sudah, aku takkan bertanya lagi. Sekarang ikut aku saja ... ke apartemenku."

"Aku ingin mencari sendiri," jawab gadis itu sambil tertunduk.

"Shasa, jangan keras kepala, ini sudah larut malam! Di mana lagi kamu bisa menemukan kost-kostan malam-malam begini. Sudah, malam ini kamu tinggal denganku saja."

Shasa ingin menepisnya tapi pria itu berkata lagi. "Aku akan membantumu besok menemukan kost-kostan yang kau mau tapi tidak malam ini ya?"

Gadis itu masih diam.

"Ya?"

Hening.

"Aku janji."

Gadis itu menghela napas. Akhirnya Shasa menurut. Abra mengambil plastik belanjaannya yang sudah ia jatuhkan di sana.

"Kakak sedang apa di sini?" Gadis itu baru memperhatikan, pria itu baru saja berbelanja.

"Aku belanja untuk mengisi lemari es. kebetulan ada Mini Market di dekat rumahmu." Abra menunjuk Mini Market yang berada di belakangnya.

Shasa baru menyadari ia kini berada di depan Mini Market dekat rumahnya.

Keduanya kemudian naik ke dalam mobil.

Terpopuler

Comments

Senandung Rinduw Serin

Senandung Rinduw Serin

Bagus Sha, Jan mau di tindas terus. i like pada bagian Shasa melawan Rika...

2022-07-22

2

Novi Ana

Novi Ana

mantap shasa emang lebih baik kamu keluar dari rumah itu mulai hidupmu yang baru raih cinta dan kesuksesanmu tanpa harus takut lagi sama si rika.....

2022-06-19

2

lihat semua
Episodes
1 Pesta Topeng
2 Pacaran
3 Pulang
4 Malam
5 Melamar Kerja
6 Mengintai
7 Makan Siang
8 Resah
9 Hubungan
10 Menyangkal
11 Kerja
12 Bertahan
13 Rencana
14 Kesempatan
15 Bantuan
16 Amarah
17 Perkenalan
18 Pergi
19 Memecah malam
20 Kecelakaan
21 Rumah Sakit
22 Kunjungan
23 Menunggu
24 Tuduhan
25 Berdua
26 Ayah Pulang
27 Apartemen
28 Pewaris
29 Foto iklan
30 Pantai
31 Sekretaris Dadakan
32 Om
33 Merawat Abra
34 Karena
35 Membuntuti
36 Syuting
37 Pernyataan Cinta
38 Keputusan
39 Makan Malam Dengan Damar
40 Kunjungan Bima
41 Keluarga
42 Aku
43 Kamu
44 Mengetahui
45 Kerja lagi
46 Pertengkaran
47 Abang
48 Sebuah Permohonan
49 Segenggam Maaf
50 Di Apartemen Abra
51 Pintu Hati
52 Mal
53 Mendadak Keluarga
54 Kelinciku
55 Perkara Cinta
56 Yang Datang Dan Yang Pergi
57 Awal
58 Mengejar Ketinggalan
59 Terbalik
60 Jebakan Panggung
61 Godaan
62 Awal Bencana
63 Dan Seterusnya
64 Berani
65 Sebuah Kelanjutan
66 Menyangkal
67 Insiden Cinta
68 Penghianatan?
69 Healing(penyembuhan)
70 Tuan Putri
71 Surat Pengunduran Diri
72 Berpisah
73 Cemburu
74 Teman Atau Pacar
75 Di Kejar
76 Perayaan
77 Kesempatan
78 Tak Pasti
79 Kucing
80 Pesta
81 Dilamar 1
82 Dilamar 2
83 Dilamar 3
84 Perjodohan
85 Rekonsiliasi
86 Berkunjung
87 Pilihan
88 Persiapan
89 Menikah
90 Rahasia
91 Sesuai Skenario
92 Tragedi Lingerie
93 Roadshow
94 Puisi Rindu Yang Terkekang
95 Makan Siang Yang Ricuh
96 Magic(Sihir)
97 Viral
98 Memulai Dari Nol
99 Pengangguran
100 Hidupku Bersamamu
101 Hari Baru
102 Hamil
103 Menjenguk Shasa
104 Kecewa
105 Belum Berakhir
106 Tak Terhentikan
107 Ujungnya
108 Kelahiran
109 Pernikahan
110 Pertemuan Meyakinkan
111 Terperangkap Kenyamanan
112 Ingin
113 Padamu
114 Aku Tanpamu
115 Ramai
116 Untukmu
117 Bertemu Kembali
118 Panggungku
119 Shasa Diculik!
120 Racun Merindu
121 Cincin
122 Ayah
123 Pengakuan
124 Yang Tersisa
125 Untuk Bahagia
126 Akhirnya
127 CEO And Twins
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Pesta Topeng
2
Pacaran
3
Pulang
4
Malam
5
Melamar Kerja
6
Mengintai
7
Makan Siang
8
Resah
9
Hubungan
10
Menyangkal
11
Kerja
12
Bertahan
13
Rencana
14
Kesempatan
15
Bantuan
16
Amarah
17
Perkenalan
18
Pergi
19
Memecah malam
20
Kecelakaan
21
Rumah Sakit
22
Kunjungan
23
Menunggu
24
Tuduhan
25
Berdua
26
Ayah Pulang
27
Apartemen
28
Pewaris
29
Foto iklan
30
Pantai
31
Sekretaris Dadakan
32
Om
33
Merawat Abra
34
Karena
35
Membuntuti
36
Syuting
37
Pernyataan Cinta
38
Keputusan
39
Makan Malam Dengan Damar
40
Kunjungan Bima
41
Keluarga
42
Aku
43
Kamu
44
Mengetahui
45
Kerja lagi
46
Pertengkaran
47
Abang
48
Sebuah Permohonan
49
Segenggam Maaf
50
Di Apartemen Abra
51
Pintu Hati
52
Mal
53
Mendadak Keluarga
54
Kelinciku
55
Perkara Cinta
56
Yang Datang Dan Yang Pergi
57
Awal
58
Mengejar Ketinggalan
59
Terbalik
60
Jebakan Panggung
61
Godaan
62
Awal Bencana
63
Dan Seterusnya
64
Berani
65
Sebuah Kelanjutan
66
Menyangkal
67
Insiden Cinta
68
Penghianatan?
69
Healing(penyembuhan)
70
Tuan Putri
71
Surat Pengunduran Diri
72
Berpisah
73
Cemburu
74
Teman Atau Pacar
75
Di Kejar
76
Perayaan
77
Kesempatan
78
Tak Pasti
79
Kucing
80
Pesta
81
Dilamar 1
82
Dilamar 2
83
Dilamar 3
84
Perjodohan
85
Rekonsiliasi
86
Berkunjung
87
Pilihan
88
Persiapan
89
Menikah
90
Rahasia
91
Sesuai Skenario
92
Tragedi Lingerie
93
Roadshow
94
Puisi Rindu Yang Terkekang
95
Makan Siang Yang Ricuh
96
Magic(Sihir)
97
Viral
98
Memulai Dari Nol
99
Pengangguran
100
Hidupku Bersamamu
101
Hari Baru
102
Hamil
103
Menjenguk Shasa
104
Kecewa
105
Belum Berakhir
106
Tak Terhentikan
107
Ujungnya
108
Kelahiran
109
Pernikahan
110
Pertemuan Meyakinkan
111
Terperangkap Kenyamanan
112
Ingin
113
Padamu
114
Aku Tanpamu
115
Ramai
116
Untukmu
117
Bertemu Kembali
118
Panggungku
119
Shasa Diculik!
120
Racun Merindu
121
Cincin
122
Ayah
123
Pengakuan
124
Yang Tersisa
125
Untuk Bahagia
126
Akhirnya
127
CEO And Twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!