Bertahan

Mereka kemudian merekam acara kuis itu. Beberapa pegawai menonton pengambilan gambar acara itu. Sesekali dilakukan pengambilan gambar dari sudut berbeda.

Abra kemudian masuk. Ia mendekati salah seorang pengatur siaran, dan berbicara berdua sambil melihat acara yang sedang berlangsung.

Rika yang senang melihat Abra datang langsung berusaha mendekatinya. Namun tak mudah. Belum sampai ia ke tempat Abra berada, sudah ada yang memanggilnya untuk tugas baru.

"Mbak tolong ambilkan konsumsi di kantin sama pak Tejo, Mbak."

"Sekarang?"

"Iya Mbak, soalnya sebentar lagi jam makan siang. Artisnya harus makan dulu."

Iih, ganggu aja. Wajah Rika masam karenanya. Sambil berjalan keluar ia memikirkan cara bagaimana bisa berbicara dengan Abra.

Sebenarnya Abra sudah melihat keberadaan Rika tapi ia tidak mempedulikannya. Ia harus adil dengan semua pegawainya, hingga ia membiarkan Rika bekerja dulu.

Setelah selesai memeriksa siaran di sana, ia kemudian keluar. Ia terkejut melihat Rika menunggunya di depan pintu.

"Ada apa?"

"Pak, kerjaanku kok disuruh-suruh sih Pak? Kan capek," keluh Rika pada pria itu.

"Kerja ya di mana-mana capek."

"Bukan gitu Pak, aku dari tadi pindah-pindah kerja terus, disuruh bawa barang-barang," Rika mengerucutkan mulutnya.

Abra menahan tawa. "Lah, memang kerja di tv seperti itu. Aku juga dari tadi memeriksa siaran jadi harus jalan dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan terkadang harus ke luar kantor juga karena tempat siaran gak hanya ada di gedung ini saja, tapi juga di tempat lain."

"Iya tapi aku gak bisa kerja pindah-pindah gitu Pak, gak kuat kakiku," Rika masih mengeluh.

"Kamu punya keahlian? Kalau bisa yang lain ya silahkan saja. Kamu bisa bilang sama bagian HRD agar bisa memindahkanmu ke tempat yang sesuai."

"Keahlian?"

"Iya, misalkan pernah mengerjakan keuangan atau yang lainnya sehingga kamu tidak perlu kerja yang tidak jelas begini."

"Ya aku kan baru masuk Pak, tidak mungkin punya pengalaman kerja, bagaimana bisa minta yang seperti itu?"

"Nah kamu tahu kan jawabannya, kenapa tanya lagi?"

"Apa tidak bisa bantu bagian keuangan, gitu Pak, atau jadi Sekretaris." Rika masih menawar.

"Kamu tahu tidak, orang yang kerja di posisimu sekarang ini rata-rata adalah mereka yang baru lulus S1 dan kamu sudah mendapat kesempatan terbaik di sini. Sisanya butuh kerja keras, di hampir semua bidang sama saja tentunya. Di manapun di kantor manapun. Hanya saja memang kalau di tv kerja fisiknya lebih banyak. Sekarang terserah padamu mau kerja terus di sini atau tidak itu tergantung keputusanmu karena aku sudah memberikan kamu kesempatan yang kamu butuhkan," Abra menerangkan panjang lebar pada Rika, setelah itu ia segera meninggalkan tempat itu. "Maaf, pekerjaanku masih banyak."

Rika kesal hingga menghentak-hentakkan kakinya. Bertemu dengan Abra malah tidak memberinya solusi untuk mendapatkan pekerja yang lebih mudah untuk dikerjakan tapi malah dinasehati panjang lebar tanpa hasil. Akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan pekerjaannya walaupun dengan berat hati.

-----------+++---------

Abra mendatangi sebuah apartemen. Setelah dibantu oleh managemen apartemen itu melihat-lihat, ia memutuskan membeli salah satu apartemen di sana. Setelah transaksi, ia segera kembali ke mobilnya.

Setidaknya aku tidak perlu pusing saat pulang. Cukup di tempat kerja saja sebab aku butuh tidur. Sudah berbulan-bulan aku kucing-kucingan dengan mereka, dan tidak punya kualitas tidur yang baik, tapi kini tidak lagi sebab aku bisa tidur dengan nyenyak saat pulang. Aku butuh berpikir jernih untuk bertahan hidup di Jakarta ini karena aku hanya butuh memikirkanmu ... kelinciku.

Abra menghidupkan mesin mobil mewahnya. Tak lama mobil itu keluar dari tempat itu.

---------+++---------

Rika mengaduk-aduk nasi di piring tapi belum sedikit pun ia menyuapnya. Rasa kesal sudah di tenggorokan tapi tidak ada orang untuk diajak bicara.

Ia tidak terima dengan pekerjaan yang sekarang ia dapatkan tapi mau bilang apa, ia juga tidak punya keahlian seperti yang diucapkan Abra. Semua orang bergelut di bidangnya dan kalaupun ia bersikeras, ia tetap tidak bisa membuktikan bahwa ia mampu karena ia memang tidak mampu.

Kesal rasanya tidak punya kemampuan yang memadai sehingga ia bisa dekat dengan pria itu, tapi setidaknya ia akan berusaha. Sedikit bertahan agar Abra melihatnya. Ya, ia memutuskan untuk bertahan.

Baru saja ia mulai makan ia baru menyadari ada beberapa orang meliriknya di kantin itu. Yang pasti pria. Tentunya mereka tertarik pada Rika karena ia cantik.

Heh, Pak Abra! Kamu buta apa? Lihat saja di sekelilingku, baru sebentar aku duduk di sini sudah banyak pria melirikku. Apa ada masalah dengan penglihatanmu, heh? Semua pria pasti memilihku, kenapa standarmu turun dengan melirik Shasa? Shasa itu lebih bodoh dari aku tapi punya keberuntungan yang banyak.

Mengingat itu Rika kembali sulit menelan makanan. Setiap kali mengingat dia rasanya darahku mendidih, sebab ia selalu saja bisa menyaingiku entah bagaimana caranya. Ia mengeratkan gerahamnya.

-------+++-------

Shasa sedang belajar dari Vera cara memasukkan data dan ia sedang membantu wanita itu untuk memasukkan banyak data baru. Di saat bersamaan, ia melihat Haris keluar dari ruang kerja Bima.

"Sha, kamu dipanggil Pak Bima tuh!" ujar Haris santai.

"Aku?"

"Cie, cie ...," celetuk Toto.

"Ih, apaan sih," ucap Shasa malu-malu. Ia berdiri dan mendatangi ruang kerja Bima. Gadis itu mengetuk sebelum masuk. "Iya, Bapak cari saya?"

"Oh, Sha, silahkan duduk." Bima menawarkan kursi di seberang mejanya.

Shasa melangkah masuk dan duduk di kursi itu.

"Aku mau cerita sedikit ya? Mmh, perusahaan ini mulai berkembang ke arah yang lebih baik. Klien pun makin banyak dan dengan sendirinya perusahaan membutuhkan ke depannya banyak karyawan. Kamu datang di saat yang tepat karena pegawaiku juga banyak yang belajar dari bawah sehingga mereka bisa. Karena pegawaiku masih terbatas, aku minta kamu juga membantu yang lain dalam mengerjakan tugas agar bisa tepat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, dan untuk itu aku minta kamu bisa menerima pekerjaan apa saja yang nanti disodorkan padamu karena ini masih perusahaan kecil di mana semua orang harus bisa semuanya."

"Oh, iya Pak."

Bima tersenyum senang. "Untuk sementara penempatanmu adalah belajar sana-sini dulu dengan yang sudah lama di sini dan eh, satu lagi." Ia mengangkat telunjuknya. "Kamu akan sering keluar karena kamu akan membantu pegawai yang lain bertemu dengan klien nantinya."

"Saya Pak?" Shasa terkejut.

"Iya. Kamu kelihatannya cocok untuk membantu mempresentasikan perusahaan."

"Saya Pak?" Gadis itu masih belum percaya.

Bima tersenyum simpul. "Iya."

"Tapi saya belum pernah mempresentasikan perusahaan sebelumnya," Shasa terlihat bingung.

"Performa kamu bagus tadi, saat bertemu klien. Haris yang mempromosikanmu karena belum pernah ada klien yang ingin mengiklankan produk, langsung memilih kami. Tadi itu kliennya sepertinya langsung deal(jadi) dan akan segera mentransfer uangnya."

"Alhamdulilah," Shasa ikut senang.

"Jadi mulai sekarang, kamu juga harus belajar tentang perusahaan ini secara rinci."

"Baik Pak," netra gadis itu berkaca-kaca karena ikut bahagia.

Ah, lugu sekali gadis ini. Hanya dengan mendengar perusahaan ini mendapat profit saja dia sudah sebegitu bahagianya. Shasa ... Shasa .... "Ternyata beruntung juga aku mendapatkan kamu sebagai pacar juga pegawai di sini," ungkap Bima jujur.

"Ah, Kakak bisa aja," jawab Shasa malu-malu. Ia sampai lupa bicara formil.

"Bener kok. Aku bahkan berencana memasukkan kamu khursus PR(Public Relation atau humas, bidang studi yang membantu orang untuk bisa berbicara di depan umum dan berkomunikasi dengan banyak orang)."

"Ah, saya kan baru kerja Pak." Shasa merasa Bima memujinya terlalu berlebihan. Ia sampai menundukkan kepala.

"Kalau perusahaan merasa kamu adalah aset perusahaan yang penting, kenapa tidak. Perusahaan akan mengeluarkan dana lebih untuk 'memoles' kamu lebih baik lagi."

Shasa melongo, tak percaya.

"Begini." Bima mengangkat kembali jari telunjuknya. "Kalau kamu sanggup menggolkan kembali sedikitnya 2 proyek lagi, aku akan memasukkanmu ke khursus itu."

2 proyek ya? Apa aku mampu? "Eh, iya Pak," seketika suara gadis itu menyurut.

"Eh, jangan begitu dong. Kamu pasti bisa kok."

"Mmh."

"Shanum!"

"Iya?"

Bima memajukan kepalan tangannya. "Semangat!"

"He, semangat." Shasa memajukan kepalan tangannya pelan dengan api kecil semangatnya.

----------+++---------

Baru saja pintu dibuka, Rika masuk dengan menggerutu panjang.

Mama melihatnya dengan terheran. "Ada apa anakku?"

Rika melirik Ibu Tirinya di ruang tengah sedang menonton tv sambil menikmati kopinya. Ia mendatanginya. "Ma, sebel banget deh Ma. Masa Rika disuruh-suruh ambil ini, antar itu, pergi ke situ. Memangnya Rika kacung apa yang bisa disuruh-suruh begitu? Rika kan lulusan SMA swasta mahal, kan ya Ma ya?" ucapnya manja pada Mama Rika.

Rika mengenal Mama Damar dari semenjak kecil. Ia bahkan tidak mengenal siapa ibunya. Bahkan fotonya pun ia belum pernah melihat. Ayahnya tidak pernah sekalipun bercerita tentang ibunya. Yang ia tahu, ayahnya selalu menghindar bila bercerita tentang ibunya. Ia mengingat ibunya secara samar dan hanya itu yang ia tahu.

Ia sangat dekat dengan Ibu Tirinya itu. Dulu ia juga dekat dengan Damar tapi semenjak Shasa pindah ke rumah itu mereka malah sering bertengkar. Apa-apa yang dikerjakan Rika, bila menyangkut Shasa, pria itu selalu ingin tahu. Rika tentu saja kesal karena yang membencinya semakin banyak karena Shasa.

Mama Rika tersenyum sambil membelai rambut Rika yang panjang terurai. Kepala gadis itu kini tengah bersandar di bahu wanita itu.

"Kamu memang anak Mama yang paling cantik dan lulusan SMA swasta termahal tapi ilmumu masih kurang Sayang. Beda kan perusahaan besar dengan perusahaan kecil?"

"Maksud Mama apa?" Rika menoleh dan menengadah ke atas menatap wajah wanita yang jadi Ibunya ini.

"Kamu tahu istilah, ikan kecil di kolam besar atau ikan besar di kolam kecil?"

Rika menggeleng.

"Kolam itu ibarat perusahaan dan ikan adalah kamu. Apa kamu mau jadi ikan kecil di kolam besar atau ikan besar di kolam kecil, sebab segala sesuatu akan beda tergantung bagaimana kamu memulainya. Tergantung niatmu ingin jadi apa.

Kalau kamu mendaftar di perusahaan kecil, kamu akan sangat dibutuhkan karena mereka kebanyakan mempunyai pegawai yang tidak profesional. Kamu bisa dengan cepat naik kalau kamu berprestasi, sebaliknya kalau kamu kerja di perusahaan besar dengan modal memulai dari nol, itu sulit. Perusahaan sudah punya banyak pegawai profesional dan untuk bersaing kamu akan kesulitan karena kamu tidak punya bekal yang cukup.

Pendidikan dan pengalaman itu diperlukan di perusahaan besar dan kamu tidak punya itu. Mama pernah kerja di perusahaan makanya Mama tahu dan berhenti lalu memilih mengajar saja di kampus. Itu lebih cocok untuk Mama dibanding kerja di kantor yang kerjanya selalu sikut-sikutan," Mama Rika menerangkan.

___________________________________________

Hai reader, terima kasih masih terus mengikuti novel ini. Jangan lupa like dan komennya. Juga vote, hadiah dan koin. Salam, ingflora 💋

Terpopuler

Comments

Novi Ana

Novi Ana

apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai.....

2022-06-12

2

lihat semua
Episodes
1 Pesta Topeng
2 Pacaran
3 Pulang
4 Malam
5 Melamar Kerja
6 Mengintai
7 Makan Siang
8 Resah
9 Hubungan
10 Menyangkal
11 Kerja
12 Bertahan
13 Rencana
14 Kesempatan
15 Bantuan
16 Amarah
17 Perkenalan
18 Pergi
19 Memecah malam
20 Kecelakaan
21 Rumah Sakit
22 Kunjungan
23 Menunggu
24 Tuduhan
25 Berdua
26 Ayah Pulang
27 Apartemen
28 Pewaris
29 Foto iklan
30 Pantai
31 Sekretaris Dadakan
32 Om
33 Merawat Abra
34 Karena
35 Membuntuti
36 Syuting
37 Pernyataan Cinta
38 Keputusan
39 Makan Malam Dengan Damar
40 Kunjungan Bima
41 Keluarga
42 Aku
43 Kamu
44 Mengetahui
45 Kerja lagi
46 Pertengkaran
47 Abang
48 Sebuah Permohonan
49 Segenggam Maaf
50 Di Apartemen Abra
51 Pintu Hati
52 Mal
53 Mendadak Keluarga
54 Kelinciku
55 Perkara Cinta
56 Yang Datang Dan Yang Pergi
57 Awal
58 Mengejar Ketinggalan
59 Terbalik
60 Jebakan Panggung
61 Godaan
62 Awal Bencana
63 Dan Seterusnya
64 Berani
65 Sebuah Kelanjutan
66 Menyangkal
67 Insiden Cinta
68 Penghianatan?
69 Healing(penyembuhan)
70 Tuan Putri
71 Surat Pengunduran Diri
72 Berpisah
73 Cemburu
74 Teman Atau Pacar
75 Di Kejar
76 Perayaan
77 Kesempatan
78 Tak Pasti
79 Kucing
80 Pesta
81 Dilamar 1
82 Dilamar 2
83 Dilamar 3
84 Perjodohan
85 Rekonsiliasi
86 Berkunjung
87 Pilihan
88 Persiapan
89 Menikah
90 Rahasia
91 Sesuai Skenario
92 Tragedi Lingerie
93 Roadshow
94 Puisi Rindu Yang Terkekang
95 Makan Siang Yang Ricuh
96 Magic(Sihir)
97 Viral
98 Memulai Dari Nol
99 Pengangguran
100 Hidupku Bersamamu
101 Hari Baru
102 Hamil
103 Menjenguk Shasa
104 Kecewa
105 Belum Berakhir
106 Tak Terhentikan
107 Ujungnya
108 Kelahiran
109 Pernikahan
110 Pertemuan Meyakinkan
111 Terperangkap Kenyamanan
112 Ingin
113 Padamu
114 Aku Tanpamu
115 Ramai
116 Untukmu
117 Bertemu Kembali
118 Panggungku
119 Shasa Diculik!
120 Racun Merindu
121 Cincin
122 Ayah
123 Pengakuan
124 Yang Tersisa
125 Untuk Bahagia
126 Akhirnya
127 CEO And Twins
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Pesta Topeng
2
Pacaran
3
Pulang
4
Malam
5
Melamar Kerja
6
Mengintai
7
Makan Siang
8
Resah
9
Hubungan
10
Menyangkal
11
Kerja
12
Bertahan
13
Rencana
14
Kesempatan
15
Bantuan
16
Amarah
17
Perkenalan
18
Pergi
19
Memecah malam
20
Kecelakaan
21
Rumah Sakit
22
Kunjungan
23
Menunggu
24
Tuduhan
25
Berdua
26
Ayah Pulang
27
Apartemen
28
Pewaris
29
Foto iklan
30
Pantai
31
Sekretaris Dadakan
32
Om
33
Merawat Abra
34
Karena
35
Membuntuti
36
Syuting
37
Pernyataan Cinta
38
Keputusan
39
Makan Malam Dengan Damar
40
Kunjungan Bima
41
Keluarga
42
Aku
43
Kamu
44
Mengetahui
45
Kerja lagi
46
Pertengkaran
47
Abang
48
Sebuah Permohonan
49
Segenggam Maaf
50
Di Apartemen Abra
51
Pintu Hati
52
Mal
53
Mendadak Keluarga
54
Kelinciku
55
Perkara Cinta
56
Yang Datang Dan Yang Pergi
57
Awal
58
Mengejar Ketinggalan
59
Terbalik
60
Jebakan Panggung
61
Godaan
62
Awal Bencana
63
Dan Seterusnya
64
Berani
65
Sebuah Kelanjutan
66
Menyangkal
67
Insiden Cinta
68
Penghianatan?
69
Healing(penyembuhan)
70
Tuan Putri
71
Surat Pengunduran Diri
72
Berpisah
73
Cemburu
74
Teman Atau Pacar
75
Di Kejar
76
Perayaan
77
Kesempatan
78
Tak Pasti
79
Kucing
80
Pesta
81
Dilamar 1
82
Dilamar 2
83
Dilamar 3
84
Perjodohan
85
Rekonsiliasi
86
Berkunjung
87
Pilihan
88
Persiapan
89
Menikah
90
Rahasia
91
Sesuai Skenario
92
Tragedi Lingerie
93
Roadshow
94
Puisi Rindu Yang Terkekang
95
Makan Siang Yang Ricuh
96
Magic(Sihir)
97
Viral
98
Memulai Dari Nol
99
Pengangguran
100
Hidupku Bersamamu
101
Hari Baru
102
Hamil
103
Menjenguk Shasa
104
Kecewa
105
Belum Berakhir
106
Tak Terhentikan
107
Ujungnya
108
Kelahiran
109
Pernikahan
110
Pertemuan Meyakinkan
111
Terperangkap Kenyamanan
112
Ingin
113
Padamu
114
Aku Tanpamu
115
Ramai
116
Untukmu
117
Bertemu Kembali
118
Panggungku
119
Shasa Diculik!
120
Racun Merindu
121
Cincin
122
Ayah
123
Pengakuan
124
Yang Tersisa
125
Untuk Bahagia
126
Akhirnya
127
CEO And Twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!