Rencana

"Tapi aku ingin kerja di perusahaan besar."

"Kalau begitu kamu harus berusaha keras agar 'terlihat'."

"Maksudnya?"

"Karena pegawainya banyak, kamu harus berusaha keras dan berprestasi agar terlihat oleh atasanmu jika ingin naik jabatan."

"Ya, aku akan berusaha keras."

Mama Rika hanya menatap gadis itu dengan senyuman.

"Mama gak percaya? Rika mampu kok."

"Tapi itu sangat sulit Sayang, kalau tidak dibarengi dengan pendidikan."

"Lihat saja, Rika pasti bisa."

Mama hanya mengusap pucuk kepala anak kesayangannya yang keras kepala itu. Dia memang susah dilarang hingga ia hanya mampu menasehati tanpa bisa menghentikannya. "Mama berharap keputusanmu sudah benar."

-------+++-------

Sambil bekerja, Abra juga belanja furnitur untuk mengisi apartemennya. Setelah mendapat notifikasi barang akan datang ke apartemen, ia segera menyusul.

Ia membeli apartemen tak jauh dari stasiun TV tempatnya bekerja sehingga tidak ada yang menyadari bila ia keluar mendatangi apartemennya.

Dalam waktu singkat, apartemennya segera terisi. Tempat tidur, meja makan dan sofa sudah membuatnya merasa nyaman untuk tinggal di sana.

Ia mencoba berbaring di sofa tapi sebentar kemudian ia telah benar-benar tertidur. Ia menikmati tidur di apartemennya itu.

Tengah malam ia terbangun. Awalnya ia sedikit panik, tapi perlahan kesadaran memulihkannya. Ia kini berada di apartemen miliknya sendiri.

Tidak ada yang perlu ia takutkan. Tidak perlu harus takut kalau keluar kamar karena ia tidak akan bertemu dengan Ibu Tiri atau saudaranya yang lain dan ribut soal pekerjaan atau tingkah lakunya yang dianggap seenaknya. Ia hanya kesulitan untuk minum karena tidak ada minuman, gelas atau bahkan lemari es. Abra hanya perlu mencari Mini Market 24 jam untuk membeli makanan atau minuman.

Ia mengucek mata dengan buku jemarinya. Betapa melegakannya. Seperti saat dulu ia memutuskan pindah ke Amerika sendirian, ia malah bahagia. Walaupun sedikit sedih harus berpisah dengan Ayahnya tapi pengalamannya itu membuat ia jadi mandiri sejak remaja.

Memang tidak mudah waktu pertama kali ia minta tinggal sendiri di luar negeri dari Ayahnya tapi ia akhirnya bisa meyakinkan Ayahnya ia bisa hidup mandiri. Apalagi, ia tinggal tidak jauh dari rumah adik Ibunya.

Kini ia bisa merasakan hal yang sama. Ternyata stres juga tinggal di lingkungan orang-orang yang tidak mendukung hidupnya. Jangankan diajak bicara, mereka biasanya lebih sering menuduh dan menyuruh hingga ia tidak nyaman tinggal di rumah di mana seharusnya ia bisa beristirahat setelah penat bekerja.

Ini akan menjadi argumen yang sulit saat Ayahnya pulang dan mengetahui ia kembali tidak tinggal di rumah.

Abra menemukan Mini Market 24 jam yang ia cari di dekat apartemennya, tapi sebelum itu ia menemukan tukang nasi goreng keliling yang berhenti di dekat Mini Market itu sehingga ia bisa makan malam dulu sebelum berbelanja.

Pria tampan itu sedari dulu tidak sulit makan di mana saja. Restoran mewah, warteg, pedagang keliling, ia bisa cepat beradaptasi dengan makanan yang ada, yang terpenting tempat jualannya terlihat bersih dan ia suka makanannya.

"Tengah malam baru makan Dek?" tanya pria paruh baya penjual nasi goreng itu. Ia masih sibuk menggoreng nasinya.

"Oh, iya Pak. Pulang kerja ketiduran di sofa."

"Owalah Dek, kasihan. Untung nasi goreng Bapak masih ada. Makanya Dek, cepet nikah kalau sudah ada calonnya."

Abra tertawa. "Iya Pak, akan saya ingat itu."

"Mau belanja di Mini Market, ya Dek? Belanja dulu saja, nasi goreng Bapak masih sedikit agak lama," tukang nasi goreng itu memberi tahu.

"Oh, ya udah Pak, saya tinggal dulu." Abra kemudian pergi berbelanja di Mini Market. Tak butuh waktu lama, ia menyelesaikan belanjanya dan membawa barang belanjaannya ke dalam mobil. Selepas itu ia makan di samping gerobak nasi goreng itu. Ia kemudian kembali pulang dengan perut kenyang.

-----------+++---------

"Jadi ide apa untuk ulang tahun stasiun TV ini, menurutmu?"

"Aku belum memikirkannya." Dengan mudahnya Abra mengatakan itu pada kakaknya Kevin.

Pria itu sampai mengangkat satu alisnya melihat perubahan ini. Abra biasanya menghindar bila ia tidak punya jawaban tapi kini ia bisa menjawab apa adanya tanpa terlihat takut padanya. Ada apa dengannya hari ini? "Biasanya kamu punya perencanaan yang jelas bila datang padaku, tapi kini kau terlihat ... santai," Kevin melihat adiknya Abra yang terlihat segar pagi itu dengan pakaian seragam stasiun TV itu.

Kevin paling tidak suka memakai seragam itu karena memperlihatkan kelas pekerja pada dirinya karena itu ia selalu memakai pakaian kerja kesukaannya, kemeja tangan panjang dibalut jas berwarna gelap. Kali ini ia memakai jas berwarna biru tua.

Ia melipat tangannya di dada dengan jemari menyentuh dagu.

"Tidak ada yang aneh. Oh, mungkin karena aku baru saja membeli apartemen baru," jawab pria muda itu sambil tersenyum.

"Apartemen baru?"

"Iya, rencananya aku akan pindah ke sana satu dua hari lagi."

"Oya?" Kevin menyipitkan matanya. "Kenapa kamu tiba-tiba ingin pindah dari rumah? Apa kamu masih bermasalah dengan Ibu?"

"Oh, tidak. Aku terbiasa mandiri saja. Bukankah aku di Amerika juga tinggal di apartemen sendirian? Aku tidak suka kebisingan. Maaf, jangan tersinggung tapi aku butuh senyap saat pulang ke rumah karena pekerjaanku di sini sangat melelahkan. Aku butuh tidur nyenyak dan beristirahat."

Kevin mengusap dahi dengan jemarinya. "Asal kau bilang pada Ayah seperti itu agar kami tidak dipersalahkan karena kepindahanmu itu."

" Ok, tidak masalah."

"Jadi? "

"Apa? Oh, ulang tahun stasiun TV kita? Aku akan pikirkan itu. Sementara itu, aku mengurus konser Gania dulu yang sebentar lagi akan digelar. Hari Rabu kan konsernya?"

"Ok, tapi secepatnya karena tinggal 1 bulan lagi."

"Iya, siap Pak." Abra berdiri dan membalikkan tubuhnya tapi kemudian ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Kevin membuat pria itu kembali meliriknya.

"Ada apa?"

"Slogan kita sudah lama kan ya? "

"Slogan TV kita? Ya ... cukup lama juga. Kenapa?"

"Bagaimana kalau kita merubahnya pas di hari ulang tahun stasiun TV ini?"

"Indo TV, selalu di hati? "

"Iya. Kita harus menggantinya agar pemirsanya merasakan bahwa stasiun TV kita juga mengikuti perkembangan jaman."

"Mmh. Aku tidak masalah, selama itu makin memperkuat image TV kita."

Selalu jawabannya begitu. Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Sesuatu yang membuatnya tersenyum. "Bagaimana kalau kita juga mengiklankan TV kita di TV lain?"

"Maksudnya? "

"Kebetulan kita akan mengganti slogan TV. Untuk itu kita juga harus mengiklankannya di TV lain agar kita bisa menjaring lebih banyak pemirsa. Bagaimana kalau kita juga mengandeng sebuah perusahaan periklanan untuk membuat iklan kita lebih menarik karena yang membuatnya adalah orang di luar stasiun TV kita? Itu lebih obyektif, aku rasa dibuat menurut kaca mata orang lain."

"Mmh, menarik."

"Aku ada perusahaan periklanan yang aku kenal yang bisa dimintai tolong untuk membuatkan iklan itu."

"Awal yang menarik. Teruskan."

"Ok. Itu baru ide kasarnya. Untuk slogan dan acara akan kupikir kemudian."

"Ok!"

Keduanya terlihat puas. Saat Abra keluar dari ruang kerja kakaknya, ia mengepalkan kedua tangannya di dada. "Yes!(Ya!)"

Sampai-sampai Sekretaris baru kakaknya itu menoleh padanya. Pria itu tak perduli.

Shasa, aku akan buat kau sering-sering mengunjungiku. Oh ... betapa senangnya hari-hariku ke depannya. Aku sudah bisa membayangkan. Tunggu aku Shasa. Kita akan selalu bertemu nantinya. Senyum lebar sudah terpampang jelas di wajah pria itu. Rencana dadakannya berhasil dan disetujui. Tinggal pelaksanaannya saja bisa di mulai dari sekarang.

-----------+++---------

Rika mulai hari ini bekerja dengan menggunakan baju seragam yang diberikan tadi oleh salah satu staf HRD. Ia pun kini juga mengenakan sepatu olahraga agar bisa bergerak dengan leluasa. Berlari, berjongkok, dan tidak sakit saat berdiri lama.

"Mbak, antar ini ke ruang editing, segera. 15 menit lagi mau tayang!" Seorang pria memberi Rika sebuah bungkusan kecil yang disambut Rika dengan cepat.

"Iya Mas," gadis itu berlari menyusuri lorong yang panjang dan berakhir di sebuah pintu keluar. Setelah gadis itu keluar ia masih berlari lagi ke gedung di sebelahnya. Ia kini sudah mulai hapal tempat-tempat yang harus dikunjunginya.

Demi apa? Tentu saja demi Abra, agar pria itu menoleh padanya. Juga demi menjaga wajahnya dari rasa malu pada Shasa karena dilihatnya gadis itu tidak punya keluhan sepanjang bekerja pada Bima. Tentu saja karena Bima pasti melindunginya. Ia tahu betapa lembut Bima padanya dulu dan pasti kini Shasalah yang merasakan kebaikannya karena sekarang Shasa pacaran dengan Bima.

Ada sedikit sesal tapi ia bertekad mendapatkan Abra dan membuat pria itu menoleh hanya padanya. Tekadnya sudah bulat dan tak ingin mundur lagi, untuk sementara waktu .....

----------+++----------

"Permisi, ah Shasa!"

Gadis berjilbab kuning itu mengangkat wajahnya. Orang-orang di kantor itu malah kini menatap Shasa dan pria tampan itu bergantian.

Pria itu memanggil 'Shasa' bukan 'Shanum', berarti mereka saling kenal bukan?

"Pak Abra?" Gadis itu terkejut.

"Mmh, aku ingin menggunakan jasa kalian."

"Eh?" Shasa berdiri dengan pelan. Dilihatnya semua karyawan di sana memandang ke arah nya. "Ah, bo-boleh Pak," jawabnya gugup. Ia segera menoleh pada Haris. "Kak!"

"Oh, ya." Haris segera mengerti.

Rupanya pesona Abra telah menghipnotis seluruh pegawai di ruangan itu dengan hanya menoleh padanya. Pria tampan yang dikira seorang model tadi ternyata datang membawa pekerjaan untuk mereka.

Abra dibawa ke ruangan rapat bersama Harris dan Shasa. Mereka bicara di sana.

Shasa melirik Haris sekilas dan mulai menjalankan perannya berbicara dengan klien. "Maaf, nama saya Shanum tapi saya belum punya kartu nama. Apa yang bisa kami bantu Pak?"

Abra menceritakan tentang kebutuhannya. Ia cukup senang dengan cara Shasa melayani klien dengan ramah. Baru kali ini ia melihat cara gadis itu bicara saat bekerja. Gadis itu mendengarkan kebutuhan klien dengan baik.

"Mmh, kita bisa juga membantu membuat slogan baru untuk TV anda Pak, kalau Bapak berkenan," ucap Shasa.

"Mmh, boleh juga. Bisa mengurangi beban aku kalau begitu," Abra menyentuh dagunya dengan jari.

"Ini iklan yang sedikit berbeda Pak, tentang TV. Jadi kemungkinan kami akan sering bolak balik ke sana untuk melihat bagaimana pegawai di sana bekerja serta sedikit mengambil video tentang pegawai yang bekerja di sana dan bagaimana pekerjaan di sana berlangsung. Mungkin ke depannya juga ada wawancara dengan para direksi," Haris menjabarkan.

"Silahkan saja kami menerima dengan tangan terbuka," Abra mengangguk-angguk sambil melipat tangan di dada.

Tak berapa lama pembicaraan pun selesai. Haris dan Shasa mengantar Abra kembali keluar.

"Oh, aku mau model ini! Dia saja dipakai untuk iklan kami!" Seorang pria yang sedang bicara dengan Vera, menunjuk Abra dengan yakin.

Terpopuler

Comments

Novi Ana

Novi Ana

pinter banget si abra menyelam sambil minum air ☺ ......wah kayaknya ada yang salah tu abra d kirain model......

2022-06-13

3

lihat semua
Episodes
1 Pesta Topeng
2 Pacaran
3 Pulang
4 Malam
5 Melamar Kerja
6 Mengintai
7 Makan Siang
8 Resah
9 Hubungan
10 Menyangkal
11 Kerja
12 Bertahan
13 Rencana
14 Kesempatan
15 Bantuan
16 Amarah
17 Perkenalan
18 Pergi
19 Memecah malam
20 Kecelakaan
21 Rumah Sakit
22 Kunjungan
23 Menunggu
24 Tuduhan
25 Berdua
26 Ayah Pulang
27 Apartemen
28 Pewaris
29 Foto iklan
30 Pantai
31 Sekretaris Dadakan
32 Om
33 Merawat Abra
34 Karena
35 Membuntuti
36 Syuting
37 Pernyataan Cinta
38 Keputusan
39 Makan Malam Dengan Damar
40 Kunjungan Bima
41 Keluarga
42 Aku
43 Kamu
44 Mengetahui
45 Kerja lagi
46 Pertengkaran
47 Abang
48 Sebuah Permohonan
49 Segenggam Maaf
50 Di Apartemen Abra
51 Pintu Hati
52 Mal
53 Mendadak Keluarga
54 Kelinciku
55 Perkara Cinta
56 Yang Datang Dan Yang Pergi
57 Awal
58 Mengejar Ketinggalan
59 Terbalik
60 Jebakan Panggung
61 Godaan
62 Awal Bencana
63 Dan Seterusnya
64 Berani
65 Sebuah Kelanjutan
66 Menyangkal
67 Insiden Cinta
68 Penghianatan?
69 Healing(penyembuhan)
70 Tuan Putri
71 Surat Pengunduran Diri
72 Berpisah
73 Cemburu
74 Teman Atau Pacar
75 Di Kejar
76 Perayaan
77 Kesempatan
78 Tak Pasti
79 Kucing
80 Pesta
81 Dilamar 1
82 Dilamar 2
83 Dilamar 3
84 Perjodohan
85 Rekonsiliasi
86 Berkunjung
87 Pilihan
88 Persiapan
89 Menikah
90 Rahasia
91 Sesuai Skenario
92 Tragedi Lingerie
93 Roadshow
94 Puisi Rindu Yang Terkekang
95 Makan Siang Yang Ricuh
96 Magic(Sihir)
97 Viral
98 Memulai Dari Nol
99 Pengangguran
100 Hidupku Bersamamu
101 Hari Baru
102 Hamil
103 Menjenguk Shasa
104 Kecewa
105 Belum Berakhir
106 Tak Terhentikan
107 Ujungnya
108 Kelahiran
109 Pernikahan
110 Pertemuan Meyakinkan
111 Terperangkap Kenyamanan
112 Ingin
113 Padamu
114 Aku Tanpamu
115 Ramai
116 Untukmu
117 Bertemu Kembali
118 Panggungku
119 Shasa Diculik!
120 Racun Merindu
121 Cincin
122 Ayah
123 Pengakuan
124 Yang Tersisa
125 Untuk Bahagia
126 Akhirnya
127 CEO And Twins
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Pesta Topeng
2
Pacaran
3
Pulang
4
Malam
5
Melamar Kerja
6
Mengintai
7
Makan Siang
8
Resah
9
Hubungan
10
Menyangkal
11
Kerja
12
Bertahan
13
Rencana
14
Kesempatan
15
Bantuan
16
Amarah
17
Perkenalan
18
Pergi
19
Memecah malam
20
Kecelakaan
21
Rumah Sakit
22
Kunjungan
23
Menunggu
24
Tuduhan
25
Berdua
26
Ayah Pulang
27
Apartemen
28
Pewaris
29
Foto iklan
30
Pantai
31
Sekretaris Dadakan
32
Om
33
Merawat Abra
34
Karena
35
Membuntuti
36
Syuting
37
Pernyataan Cinta
38
Keputusan
39
Makan Malam Dengan Damar
40
Kunjungan Bima
41
Keluarga
42
Aku
43
Kamu
44
Mengetahui
45
Kerja lagi
46
Pertengkaran
47
Abang
48
Sebuah Permohonan
49
Segenggam Maaf
50
Di Apartemen Abra
51
Pintu Hati
52
Mal
53
Mendadak Keluarga
54
Kelinciku
55
Perkara Cinta
56
Yang Datang Dan Yang Pergi
57
Awal
58
Mengejar Ketinggalan
59
Terbalik
60
Jebakan Panggung
61
Godaan
62
Awal Bencana
63
Dan Seterusnya
64
Berani
65
Sebuah Kelanjutan
66
Menyangkal
67
Insiden Cinta
68
Penghianatan?
69
Healing(penyembuhan)
70
Tuan Putri
71
Surat Pengunduran Diri
72
Berpisah
73
Cemburu
74
Teman Atau Pacar
75
Di Kejar
76
Perayaan
77
Kesempatan
78
Tak Pasti
79
Kucing
80
Pesta
81
Dilamar 1
82
Dilamar 2
83
Dilamar 3
84
Perjodohan
85
Rekonsiliasi
86
Berkunjung
87
Pilihan
88
Persiapan
89
Menikah
90
Rahasia
91
Sesuai Skenario
92
Tragedi Lingerie
93
Roadshow
94
Puisi Rindu Yang Terkekang
95
Makan Siang Yang Ricuh
96
Magic(Sihir)
97
Viral
98
Memulai Dari Nol
99
Pengangguran
100
Hidupku Bersamamu
101
Hari Baru
102
Hamil
103
Menjenguk Shasa
104
Kecewa
105
Belum Berakhir
106
Tak Terhentikan
107
Ujungnya
108
Kelahiran
109
Pernikahan
110
Pertemuan Meyakinkan
111
Terperangkap Kenyamanan
112
Ingin
113
Padamu
114
Aku Tanpamu
115
Ramai
116
Untukmu
117
Bertemu Kembali
118
Panggungku
119
Shasa Diculik!
120
Racun Merindu
121
Cincin
122
Ayah
123
Pengakuan
124
Yang Tersisa
125
Untuk Bahagia
126
Akhirnya
127
CEO And Twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!