Hubungan

"Eh, maaf. Iya Pak," Bima melirik sekilas pada Rika yang sedang duduk di kursi meja makan.

Gadis itu terlihat acuh dan meneruskan makannya.

Papa Rika sedikit terkejut dan masih belum bisa memberikan pendapatnya. "Ok ... terima kasih ya sudah mengantar Shasa."

Bima pun pamit. Mereka memperhatikan pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi membawa kendaraannya hingga keluar rumah.

Semua terdiam. Shasa mencium punggung tangan Papa Rika dan melangkah menaiki tangga.

"Eh, tunggu dulu. Om mau bicara."

"Ya?" Shasa terpaksa menuruni tangga karena dilihatnya Papa Rika menatap ke arahnya.

Damar segera menaiki tangga sedang Rika buru-buru menyelesaikan makannya dan meninggalkan tempat itu. Gadis itu menyusul Damar menaiki tangga.

Shasa mendekati Papa Rika di sofa ruang tamu. Pria itu menunggu kedua anaknya naik ke lantai atas kemudian ia bicara. "Sha, kamu serius dengan Bima?"

"Mmh ... iya Om."

"Ini Om bingung. Bukannya Bima pacaran sama Rika ya, kok sekarang malah pacaran sama kamu. Ini bagaimana ceritanya?"

Shasa menunduk. Aku aja bingung, apalagi Om, batinnya gelisah.

Rika ternyata bersama Damar mengintip dari lantai atas.

"Elo. Kenapa putus dari Bima?" ujar Damar sinis bertanya.

"Eh, asal lo tau, gue gak pernah pacaran ama Bima ya? Dia yang ngejar-ngejar gue. Saking keselnya, gue jodohin paksa aja mereka berdua.Mmh! Shasanya juga genit, ditembak Bima sekali aja dia langsung mau. Emang, dia cewek murahan!" cibir Rika sambil melipat tangannya di dada.

Damar tertawa. "Lo bukannya cemburu, Bima mulai tertarik sama Shasa dibanding diri lo?"

Rika mengerut dahi. "Enak aja. Sorry ya! Lo tau apa soal gue, hah? Gue sengaja jodohin mereka berdua supaya gue gak di kejar-kejar lagi sama Bima."

"Terus, sekarang lo nyesel?" Damar menyeringai.

"Eh, catet. Gue gak pernah nyesel ya? Jangan sok tau deh lo! Lo cuma saudara tiri aja sok pingin tau urusan hidup gue. Udah, pergi sana lo! Brengsek, dasar!" Rika hampir saja menendang Damar bila saja pria itu tidak segera menyingkir.

Keduanya masuk ke kamar masing-masing dengan membanting pintu.

Ya, Rika dan Damar bersaudara tiri. Papa Rika yang duda waktu Rika berumur 5 tahun menikah dengan Mama Damar yang telah menjanda waktu Damar berusia 11 tahun.

Papa Rika masih menunggu jawaban Shasa.

"Maaf, Om. Shasa pacaran sama Bima," ucap gadis itu pelan, ia takut telah mengecewakan Omnya.

Papa Rika menghela napas. "Kamu yakin padanya? Om kok kayak khawatir takut kamu dikecewakan. Bukan apa-apa Shasa, Om merasa kamu amanah dari almarhum orang tuamu jadi bila kamu tidak bahagia Om ikut sedih karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Kamu mengerti kan?"

"Iya Om."

"Om minta kamu hati-hati dengan keputusanmu sebab kebahagiaanmu ada di tanganmu."

Shasa mengangkat kepalanya. Ia merasa segan dan sangat menghormati Omnya ini yang selalu memperhatikannya. Apa-apa yang diucapkan Omnya itu selalu diingatnya sebagai nasehat yang berharga. Ia tidak tahu hidupnya akan seperti apa bila tanpa bantuan dari Omnya itu sejak kedua orang tuanya meninggal dunia. Pria itu sangat baik padanya. Juga Istrinya, hanya kedua anaknya saja yang sering membuat ia tidak betah di rumah.

Shasa merasa keberadaannya membuat kedua anak-anak Omnya, Rika dan Damar iri karena perlakuan Omnya itu yang terlalu baik padanya hingga inipun menjadi salah satu alasan ia memutus untuk pindah dari rumah itu. "Iya Om."

"Ya, sudah. Cepatlah tidur. Jangan-jangan besok, Bima kembali datang menjemputmu," Papa Rika mengingatkan dengan tersenyum.

"Makasih Om," pamit Shasa. Ia pun berdiri dan kembali melangkah ke arah tangga.

"Shasa."

"Ya?" Gadis itu kembali menoleh.

"Kalau kau sudah mantap dengannya, segeralah menikah, ya?"

Wajah Shasa bersemu merah.

"Maksud Om, jangan lama-lama tidak enak dilihatnya."

Shasa sedikit malu dengan menjatuhkan pandangan, ia mengangguk.

Papa Rika tersenyum senang.

---------+++---------

Baru saja Abra muncul dari balik pintu, sudah disambut dengan celotehan tidak sedap dari ibu tirinya yang membuat kupingnya panas.

"Kenapa kamu sudah pulang? Kakakmu saja masih bekerja di sana, apa kamu tidak lihat usaha dan kerja kerasnya? Jangan mentang-mentang kamu adiknya Kevin lantas kamu bisa seenaknya keluar masuk tempat kerja dan keluyuran di luaran ya? Hargai posisi Kakakmu yang sudah sangat di hormati itu dengan tidak membuat ulah dan jadi pemalas di sana, mengerti?"

Abra hampir tertawa menahan kesal, Ibu Tirinya yang tidak tahu apa-apa menuduhnya ongkang-ongkang kaki dan keluyuran di tempat kerja membuat rasa lelahnya makin berlipat-lipat. Lelah baginya untuk berdebat sementara Ibu Tirinya itu adalah salah satu orang tuanya sekarang.

Padahal saat itu ia sudah penat dan ingin beristirahat tapi ia tidak punya tempat untuk pulang. Tanpa berucap apa-apa ia segera keluar dari rumah itu kembali dengan perasaan kesal.

Diandra turun dari lantai atas. "Rasanya aku tadi dengar suara Kak Abra?" ucapnya saat turun.

"Entahlah. Anak itu tidak sopan. Masuk tidak memberi salam dan diingatkan malam kabur tanpa pamit. Benar-benar kurang ajar!" rutuk Ibu kesal.

Diandra menoleh ke arah pintu utama.

Sementara itu, Abra mempercepat laju mobilnya. Ia sangat kesal hingga mengendarai mobil dengan menggila. Rasanya yang ada di kepalanya adalah rutukkan semata.

Salah apa dirinya, selalu mendapat hinaan dari Ibu Tirinya padahal ia tidak pernah menyakiti siapapun, bahkan ibu Tirinya itu sekalipun. Rasanya sulit bisa serumah dengan Ibu Tirinya itu kembali walaupun nanti Ayahnya akan pulang dari Amerika. Ia tidak tahan. Ia harus ....

Kiiitt!!!

Ia mengerem mendadak. Hampir saja ia menabrak seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang. Wajahnya terlihat syok saat nyawanya terselamatkan.

Abra segera turun dan meminta maaf pada pria itu berkali-kali. Wajahnya masih pucat tapi ia memaafkan dengan sedikit mengomel.

Abra kembali ke mobilnya. Ia mengacak-ngacak poni karena kesal. Seharusnya ia tidak membawa kendaraan saat sedang dongkol begitu karena sangat berbahaya. Untung saja tidak sampai melukai orang lain.

Ia termenung untuk sesaat. Kemudian ia menghidupkan mobilnya kembali dan pergi dari tempat itu.

Ia mengikuti nalurinya, mendatangi sebuah tempat di mana ia merasa teduh, hingga ia sampai juga ke sana.

Tak jauh dari rumah itu ia menghentikan mobilnya. Lelah ... tapi tak lelah. Entah ini perasaan apa? Ia mencari kesejukan itu di sini. Aku tahu itu tak mungkin tapi aku hanya bisa ke tempat ini. Di sini aku merasa tentram hanya karena kau ada di sini dan aku tahu aku tidak akan menemukanmu tapi ... hanya aku merasa nyaman saja.

Ia melipat tangannya di atas stir dan menenggelamkan kepalanya di sana. Tak sengaja wajahnya menekan stir di tengah sedikit kencang hingga ia malah membunyikan klakson mobil dengan nyaring.

Tiiin!!

"Eh?" Ia segera mengangkat wajahnya. Abra menatap ke depan. Sepertinya tidak ada yang keluar di saat malam seperti ini di komplek perumahan itu. Ia mengelus dada.

Tok, tok, tok!

Abra menoleh. Ia dikejutkan oleh wajah seorang perempuan yang hampir menempel di kaca mobilnya. "Eh!" Ia hampir syok, tapi kemudian senang. "Shasa?" Pria itu segera menekan tombol untuk membuka jendela mobil.

"Kakak kenapa ke sini?"

"Eh, a-aku capek ingin pulang tapi rumahku jauh jadi terpikir ke sini." Abra sendiri hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia bertemu dengan gadis itu?

"Oh ... mau ketemu Kak Rika ya? Biar aku panggilkan," ucap gadis itu ramah.

"Eh, tidak, tidak, tidak. Aku eh, wajahku berantakan begini. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa." Abra berpikir keras bagaimana bisa bersama gadis itu lebih lama. Kesempatan langka ....

"Oh, maaf mengganggu, aku tadi dengar suara klakson mobil saat lewat di samping mobilmu jadi aku terkejut. Eh ternyata kamu," gadis itu tertawa.

Tawanya menyejukkan hati Abra.

"Ya sudah, selamat istirahat." Shasa sedikit menunduk.

"Eh, bukan gitu. Maaf, aku mengagetkanmu ya?" Abra mengeluarkan tangannya dari mobil berusaha menahan kepergian gadis itu. "Eh, kamu dari mana?" Ia melihat gadis itu menjinjing tas belanja.

"Oh, dari Mini Market," Shasa memperlihatkan tas belanjanya.

Ke Mini Market lagi? Perasaan kita selalu bertemu saat kamu ke Mini Market terus ya? "Di mana Mini Marketnya?"

"Itu." Shasa menunjuk ke arah belakang mobil Abra dekat sebuah belokan yang tadi ia lewati. Kenapa ia tidak ingat ada Mini Market di situ ya?

"Eh, mmh. Boleh minta tolong gak?" Abra merogoh kantong celananya.

"Apa?"

"Tolong belikan aku minuman, aku capek sekali," Pria itu memberikan selembar uang berwarna biru pada Shasa.

"Apa?" Shasa menerimanya.

"Apa saja."

Shasa terdiam sejenak. "Kau lapar?"

"Tidak usah, tidak apa-apa."

"Ok." Gadis itu langsung kembali melangkah ke Mini Market itu.

Abra merebahkan punggungnya di sandaran kursi sambil melihat punggung gadis itu yang kian menjauh lewat kaca spion di dekatnya. Pertemuan yang tak terduga. Ya allah, kenapa kau baik sekali hari ini? Abra tersenyum dalam lelahnya.

Tak lama Shasa kembali. Ia terkejut melihat Abra sudah tertidur di dalam mobil dengan kaca mobil di sampingnya terbuka.

Diperhatikannya wajah pria itu yang tertidur dengan nyenyak. Wajah letih yang terlihat damai. Mmh, cowok ganteng kalo tidur tetep aja ganteng ya? Walau seberantakan apapun wajahnya, batin Shasa sambil tersenyum. Tapi bagaimana dengan minuman ini? Gadis itu bingung melihat kedua plastik belanjaan yang kini berada di tangannya.

Gadis itu kemudian berjalan memutar. Ia berusaha masuk dari pintu satu lagi yang ternyata tidak dikunci. Ia meletakkan minuman dan uang kembaliannya di atas kursi. Sempat ia melirik Abra yang masih tertidur sebelum menutup pintu pelan-pelan, tapi kemudian ia terpaku di depan pintu seperti memikirkan sesuatu sambil melihat pria itu yang masih tertidur dengan lelapnya. Ia kemudian perlahan pergi.

Abra terbangun dengan sendirinya 15 menit kemudian. Oh, aku tertidur rupanya. Ia mengucek-ngucek matanya. Oh, Shasa! Ia mulai teringat gadis itu. Dilihatnya bungkusan plastik berisi minuman kaleng dan botol air mineral berada di kursi sebelah beserta uang kembaliannya. Ah, aku kenapa tertidur? Bodoh! Ia menepuk dahinya.

Ah sudahlah ... Pria itu mengambil salah satu minuman kaleng itu, membuka dan meneguknya. "Ahhh ...."

Bertepatan dengan itu pintu gerbang yang tinggi dari rumah Rika terbuka sedikit. Seorang gadis yang baru saja disesalinya itu keluar dari pintu itu membawa sesuatu di tangannya. Angin malam yang berhembus sedikit kencang memainkan ujung jilbab instan gadis itu yang sedikit panjang menutupi lengan.

Abra terkejut. Gadis itu kembali. Ia serasa menang undian ketika melihat senyum gadis itu yang mengiringi langkahnya mendekat.

"Kakak belum makan malam kan?" Shasa menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pauk ke hadapan Abra.

_____________________________________________

Halo reader. Terima kasih masih terus membaca novel author ini. Jangan lupa komen, vote, like dan hadiah juga koin biar authornya semangat nulis. Salam, ingflora 💋

Terpopuler

Comments

Novi Ana

Novi Ana

lanjutttt......

2022-06-10

3

lihat semua
Episodes
1 Pesta Topeng
2 Pacaran
3 Pulang
4 Malam
5 Melamar Kerja
6 Mengintai
7 Makan Siang
8 Resah
9 Hubungan
10 Menyangkal
11 Kerja
12 Bertahan
13 Rencana
14 Kesempatan
15 Bantuan
16 Amarah
17 Perkenalan
18 Pergi
19 Memecah malam
20 Kecelakaan
21 Rumah Sakit
22 Kunjungan
23 Menunggu
24 Tuduhan
25 Berdua
26 Ayah Pulang
27 Apartemen
28 Pewaris
29 Foto iklan
30 Pantai
31 Sekretaris Dadakan
32 Om
33 Merawat Abra
34 Karena
35 Membuntuti
36 Syuting
37 Pernyataan Cinta
38 Keputusan
39 Makan Malam Dengan Damar
40 Kunjungan Bima
41 Keluarga
42 Aku
43 Kamu
44 Mengetahui
45 Kerja lagi
46 Pertengkaran
47 Abang
48 Sebuah Permohonan
49 Segenggam Maaf
50 Di Apartemen Abra
51 Pintu Hati
52 Mal
53 Mendadak Keluarga
54 Kelinciku
55 Perkara Cinta
56 Yang Datang Dan Yang Pergi
57 Awal
58 Mengejar Ketinggalan
59 Terbalik
60 Jebakan Panggung
61 Godaan
62 Awal Bencana
63 Dan Seterusnya
64 Berani
65 Sebuah Kelanjutan
66 Menyangkal
67 Insiden Cinta
68 Penghianatan?
69 Healing(penyembuhan)
70 Tuan Putri
71 Surat Pengunduran Diri
72 Berpisah
73 Cemburu
74 Teman Atau Pacar
75 Di Kejar
76 Perayaan
77 Kesempatan
78 Tak Pasti
79 Kucing
80 Pesta
81 Dilamar 1
82 Dilamar 2
83 Dilamar 3
84 Perjodohan
85 Rekonsiliasi
86 Berkunjung
87 Pilihan
88 Persiapan
89 Menikah
90 Rahasia
91 Sesuai Skenario
92 Tragedi Lingerie
93 Roadshow
94 Puisi Rindu Yang Terkekang
95 Makan Siang Yang Ricuh
96 Magic(Sihir)
97 Viral
98 Memulai Dari Nol
99 Pengangguran
100 Hidupku Bersamamu
101 Hari Baru
102 Hamil
103 Menjenguk Shasa
104 Kecewa
105 Belum Berakhir
106 Tak Terhentikan
107 Ujungnya
108 Kelahiran
109 Pernikahan
110 Pertemuan Meyakinkan
111 Terperangkap Kenyamanan
112 Ingin
113 Padamu
114 Aku Tanpamu
115 Ramai
116 Untukmu
117 Bertemu Kembali
118 Panggungku
119 Shasa Diculik!
120 Racun Merindu
121 Cincin
122 Ayah
123 Pengakuan
124 Yang Tersisa
125 Untuk Bahagia
126 Akhirnya
127 CEO And Twins
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Pesta Topeng
2
Pacaran
3
Pulang
4
Malam
5
Melamar Kerja
6
Mengintai
7
Makan Siang
8
Resah
9
Hubungan
10
Menyangkal
11
Kerja
12
Bertahan
13
Rencana
14
Kesempatan
15
Bantuan
16
Amarah
17
Perkenalan
18
Pergi
19
Memecah malam
20
Kecelakaan
21
Rumah Sakit
22
Kunjungan
23
Menunggu
24
Tuduhan
25
Berdua
26
Ayah Pulang
27
Apartemen
28
Pewaris
29
Foto iklan
30
Pantai
31
Sekretaris Dadakan
32
Om
33
Merawat Abra
34
Karena
35
Membuntuti
36
Syuting
37
Pernyataan Cinta
38
Keputusan
39
Makan Malam Dengan Damar
40
Kunjungan Bima
41
Keluarga
42
Aku
43
Kamu
44
Mengetahui
45
Kerja lagi
46
Pertengkaran
47
Abang
48
Sebuah Permohonan
49
Segenggam Maaf
50
Di Apartemen Abra
51
Pintu Hati
52
Mal
53
Mendadak Keluarga
54
Kelinciku
55
Perkara Cinta
56
Yang Datang Dan Yang Pergi
57
Awal
58
Mengejar Ketinggalan
59
Terbalik
60
Jebakan Panggung
61
Godaan
62
Awal Bencana
63
Dan Seterusnya
64
Berani
65
Sebuah Kelanjutan
66
Menyangkal
67
Insiden Cinta
68
Penghianatan?
69
Healing(penyembuhan)
70
Tuan Putri
71
Surat Pengunduran Diri
72
Berpisah
73
Cemburu
74
Teman Atau Pacar
75
Di Kejar
76
Perayaan
77
Kesempatan
78
Tak Pasti
79
Kucing
80
Pesta
81
Dilamar 1
82
Dilamar 2
83
Dilamar 3
84
Perjodohan
85
Rekonsiliasi
86
Berkunjung
87
Pilihan
88
Persiapan
89
Menikah
90
Rahasia
91
Sesuai Skenario
92
Tragedi Lingerie
93
Roadshow
94
Puisi Rindu Yang Terkekang
95
Makan Siang Yang Ricuh
96
Magic(Sihir)
97
Viral
98
Memulai Dari Nol
99
Pengangguran
100
Hidupku Bersamamu
101
Hari Baru
102
Hamil
103
Menjenguk Shasa
104
Kecewa
105
Belum Berakhir
106
Tak Terhentikan
107
Ujungnya
108
Kelahiran
109
Pernikahan
110
Pertemuan Meyakinkan
111
Terperangkap Kenyamanan
112
Ingin
113
Padamu
114
Aku Tanpamu
115
Ramai
116
Untukmu
117
Bertemu Kembali
118
Panggungku
119
Shasa Diculik!
120
Racun Merindu
121
Cincin
122
Ayah
123
Pengakuan
124
Yang Tersisa
125
Untuk Bahagia
126
Akhirnya
127
CEO And Twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!