"Untuk Awalnya, bikinin aku kopi ya?" lanjut Haris lagi.
"Woi!!" teriak yang lain bersamaan. Riuh.
Shasa hanya tersenyum lebar.
"Abaikan mereka. Mereka penggemarku," ungkap pria itu santai.
"Jangan percaya die. Nanti peletnya manjur," ujar salah seorang di antara mereka dan di sambut tawa bergemuruh.
Kantor itu terlihat sangat santai. Shasa sampai bingung, Bima seperti tidak mempedulikan keramaian di luar ruangannya. Apa biasanya seperti ini? Ramai begini? "Ya udah, Kak. Dapurnya di mana?"
"Bukan dapur. Pantry," Haris menunjuk letaknya di samping kanan, di sebuah lorong.
"Oh, iya Kak."
Shasa menuju tempat itu.
"Gelasku yang ada gambar mobilnya ya?"
"Iya Kak," teriak gadis itu yang sudah melangkah jauh.
Di sana ternyata ada 2 buah pintu. Pintu pertama ternyata adalah ruang pantry. Shasa membuatkan kopi di sana dan mengantarkan pada Haris dengan gelas mug milik pria gondrong itu. Pria itu menyodorkan sebuah kursi agar Shasa duduk di sampingnya.
"Iya Kak?" Shasa duduk di kursi itu.
Ada suitan dari salah seorang pegawai yang di sambut tawa yang lain. Wajah Shasa bersemu merah.
"Lupakan mereka karena mereka sulit melupakanmu, a cieee," Pria itu bicara tapi ia juga tertawa membuat gadis itu kembali tersenyum. "Ok, kita fokus soal Tim Kreatif ya?" Lalu setelah itu ia mulai lancar menerangkan apa itu Tim Kreatif dan apa kerja dan tanggung jawabnya. Shasa mendengarkan dengan seksama.
-------+++--------
Rika kesal. Dari tadi tesnya tidak ada habis-habisnya. Dari tes pengetahuan umum, tes IQ, hingga tes psikologi. Setelah itu ia diinterview. Setelah beberapa saat, "mmh, kami lihat CV anda pendidikan terakhirnya adalah SMA. Apa anda tahu pekerjaan di tv itu seperti apa?"
"Tidak Pak."
"Mmh, bekerja di sini butuh kerja keras demi menunjang sebuah siaran. Apa kamu sanggup melakukan itu?"
"Sanggup," ucap Rika tanpa berpikir panjang.
"Sanggup belajar dari nol dan bekerja tak kenal waktu?"
"Eh? Tak kenal waktu?"
"Iya. Bekerja di tv itu aslinya 24 jam non stop Mbak. Kelihatannya saja tutup jam 12 malam dan siaran lagi dari jam 4 pagi tapi kegiatan di sini tak pernah putus karena kami harus selalu mempersiapkan siaran Mbak setiap waktu, karena itu kantor kami juga tak pernah tutup."
"Oh, iya." Sedikit bingung gadis itu menjawab. "Eh, apa saya harus selalu ada di sini?"
"Oh, tidak. Tergantung panggilan aja."
"Maksudnya?"
"Untuk sementara, kami akan memberikan training seminggu sambil bekerja. Kita akan lihat Mbak cocok di mana."
"Oh, jadi aku di terima?" ucap Rika senang. Tersungging senyum di bibirnya.
"Eh, training dulu ya Mbak. Mulai besok."
"Oh, terima kasih Pak."
"Jangan lupa datang pagi jam 6."
"Jam 6?"
"Itu sudah kesiangan sebenarnya. Dibagian siaran berita pagi, penyiar beritanya datang jam 3 pagi."
Rika tercengang. "... Oh."
"Iya Mbak. Makanya tergantung kebutuhan." Pria itu menyodorkan tangan ke arah gadis itu dan menyalaminya. "Selamat bergabung ya?"
"Oh, iya Pak." Rika menyambutnya.
Pria itu keluar dari ruang interview tapi Rika masih di ruangan karena kepalanya masih dipenuhi dengan rasa keheranan.
Ah, sudahlah. Paling, tidak sesusah itu. Yang penting aku bisa bertemu dengan pangeranku. Rika menyatukan kedua tangannya di dada, penuh harap. Ia melangkah keluar ruangan.
Gadis itu kembali pergi ke kantor Abra tapi pria itu ternyata sedang keluar kantor. Baru jam setengah dua belas, apa dia sedang ada meeting di luar atau sudah pergi untuk makan siang ya? "Lagi meeting ya Mbak?"
"Mmh, katanya begitu."
"Kalau makan siang balik gak Mbak?"
"Pak Abra sudah pergi dari jam sebelas. Tergantung sih Mbak, diajak makan siang gak sama kliennya."
Rika terpaku. Apa aku tunggu saja ya? "Boleh di tunggu Mbak?"
"Oh ya silahkan."
Rika kembali duduk di kursi sofa.
----------+++----------
Abra duduk gelisah di dalam mobil. Ia tak habis pikir kenapa ia bisa menyetir sampai ke sana. Sejak tadi pagi otaknya tidak bisa diajak kompromi hingga menyulitkannya berkonsentrasi dalam bekerja. Aduh, kenapa aku sampai di sini? Aku punya banyak kesibukan jadi harusnya aku bisa mengenyampingkan ini sejenak, tapi tidak. Hidupku mulai tidak masuk akal. Ini sejak aku bertemu denganmu Nona. Camkan itu!
Ia menatap ke depan. Sebuah rumah satu lantai yang berukuran cukup besar terpampang di hadapannya. Ia sedang mengamati rumah itu sekarang. Entah apa yang diharapkan dari rumah tersebut saat ia sudah sampai di seberang rumah tersebut, yang pasti ia cukup lega sudah sampai di sana. Ia berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya tenang.
Abra menghela napas. Ia meletakkan tangannya melintang di atas stir dan meletakkan dagu di atasnya. Ia menunggu.
Pekerjaan yang menjemukkan tapi membuahkan hasil saat sesosok gadis berjilbab yang bertubuh mungil keluar dari pintu depan rumah tersebut setengah jam kemudian. Gadis manis berwajah polos yang sangat dinantikannya itu keluar sendirian menuju pagar. Kebetulan rumah itu berpagar tidak terlalu tinggi hingga ia bisa melihat gerak gerik gadis itu yang mencapai pintu pagar.
Aduh, aku harus bagaimana ini? Abra bingung. Ia ingin mendekati gadis itu, tapi ia harus punya alasan yang kuat kenapa ia ada di sana. Ia mengetuk-ngetuk jemarinya di atas stir.
Sementara itu Shasa sudah menyebrang jalan setelah sebelumnya melihat ke kanan dan ke kiri sebab jalanan yang tidak begitu besar itu cukup ramai kendaraan melewatinya karena termasuk jalan raya. Ia memasuki sebuah Mini Market.
"Ah, kelamaan," walau belum menemukan alasan Abra nekat turun. Ia mendatangi Mini Market itu.
Dilihatnya gadis itu sedang memperhatikan sebuah rak sambil membawa keranjang. Didekatinya gadis itu.
"Shasa ya?" Ia menunjuk ke arah wajah gadis itu membuat gadis itu terkejut.
"Eh?" Shasa mengedip-ngedipkan manik mata lembutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Cowok ini? Kenapa dia ada di sini?
"Shasa kan namanya?"
"Eh, iya."
"Sedang apa di sini?"
"Eh, itu. Be-belanja." Gadis itu gugup karena pria itu sudah ada di sampingnya. Pria tampan itu.
Abra memberi senyum kegugupan Shasa. Gadis itu makin menggemaskan saat gugup, membuat pria itu makin penasaran ingin mendekat. Shasa dengan sendirinya reflek mundur ketika pria itu melangkah maju tanpa melihat ada orang di belakangnya yang sedang berdiri melihat rak.
"Aduh, eh maaf." Gadis itu menabraknya hingga segera menoleh. Seorang ibu-ibu memandang heran padanya.
Abra pun spontan meraih tangan Shasa karena takut gadis itu terjatuh. "Kamu tak apa-apa?"
Namun gadis itu sedang fokus dengan wanita itu. "Maaf ya Bu, maaf." Ia beberapa kali menundukkan kepalanya.
"Eh, iya. Tidak apa-apa." Wanita itu pun berlalu.
"Kenapa kamu mundur?"
"Eh, apa?" Shasa baru sadar masih ada Abra di sampingnya, dekat, bahkan sedang menggenggam lengannya. "Eh ...." Ia segera menarik tangannya.
"Oh, maaf." Namun pandangan mata pria itu tak teralihkan. Ia ingin berkenalan. Penting! "Eh, kamu lagi ...."
"Eh, maaf. Aku lagi buru-buru." Shasa mengingat sesuatu dan bergegas melihat kembali deretan kopi yang diincarnya kemudian diambil yang berbungkus renceng beberapa sesuai pesanan dan yang berbungkus besar. Ia kemudian pindah mencari yang lain, gula dan mie instan.
Abra terpaksa mengikutinya. "kantormu di sini ya, aku baru ingat."
"Mmh?" Shasa berhenti sejenak, tapi kemudian meneruskan pencariannya.
Eh, apa dia sadar aku sengaja mencarinya? Uh, mulut ini! Abra ingin menampar mulutnya karena hampir ketahuan. Tapi gak papa juga kalau dia tau. Ge er gak ya dia?
Sepertinya tidak karena Shasa sedang sibuk menyelesaikan belanjanya.
Apa dia kurang peka atau benar-benar sibuk? Abra terlihat kecewa.
"Ah, misi, misi, misi." Shasa mendorong Abra ke samping agar ia bisa lewat.
Pria itu terpaksa menberi jalan karena Mini Market itu memang kecil dan sempit sementara pengunjungnya mulai ramai.
Gadis itu menuntaskan belanjanya dengan mengantri di kasir. Kesempatan itu dipakai Abra untuk kembali mendekatinya.
"Eh, ini udah jam makan siang. Kamu gak makan siang? Yuk bareng yuk, aku kebetulan sendirian gak punya temen makan siang."
Gadis itu menoleh bingung. "Eh, maaf Kak. Aku baru masuk kerja, aku gak bisa ninggalin yang kerja. Maaf Kak. Lagi pula ... takut dicari Kak Bima." Kalimat terakhir dibuat sedikit berbeda membuat Abra sadar akan posisinya.
"Oh, eh ... iya. Maaf. Nanti pacarmu mencarimu ya? Maaf."
Mereka terlihat canggung tapi Abra belum juga beranjak dari sisi gadis itu. "Aku antar kau menyebrang ya?"
Gadis itu hanya diam. Abra tak bisa menebak isi hatinya. Setelah membayar belanjaannya, gadis itu disebrangkan Abra hingga depan kantornya.
"Makasih Kak."
"Oh, gak papa." Abra mengusap belakang kepalanya. Ia kemudian menyeberang.
Shasa segera masuk ke dalam pagar sedang Abra ke dalam mobil. Dilihatnya punggung gadis itu yang menjauh mendekati pintu rumah. Rumah itu punya halaman yang besar sehingga menampung semua kendaraan karyawannya. Setelah Shasa masuk ke dalam rumah Abra memukul stir mobilnya karena kesal.
Kenapa aku jadi begini? Apa aku menghalalkan yang haram? Sepertinya aku setengah abad telat mengenalnya. Seharusnya ... ah! Resah ini kian mengganggu hingga ia harus menggigit kuku jarinya. Kenapa waktu di Jakarta dulu aku tidak pernah melihatnya? Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah gadis itu bersama orang lain? Kenapa? Kenapa cinta datang di waktu yang yang salah? Hah ... Shasa. Kenapa setelah sehari bertemu denganmu kau mampu membuatku gelisah.
Lagi pula kamu berpacaran dengan orang yang sudah tua. Aku lebih muda darinya. Lebih ganteng malah, tapi ... kau memilihnya. Ia kemudian menyadari, tak ada gunanya berpikir begitu karena cinta tidak memandang fisik. Rika lebih cantik dari Shasa tapi ia memilih Shasa. Logika tidak berlaku. Sebelum ia semakin bingung dan mencari pembenaran, ia segera pergi dari tempat itu.
"Sha, kau dari mana saja?" Rupanya Bima menunggu gadis itu.
"Belanja di Mini Market sebrang." Shasa memperlihatkan belanjaannya.
"Yuk, makan siang."
Shasa segera membawa belanjaannya ke Pantry. Tak lama ia keluar. Ia kemudian pergi dengan Bima keluar.
Beberapa karyawan memperhatikannya.
"Itu Shanum, siapanya Pak Bima?" Toto memiringkan tubuhnya ke kiri bertanya pada Vera, wanita berbadan gemuk di sampingnya.
"Au!" Vera mengangkat bahu.
Toto mengusap kepalanya yang plontos itu. "Saudara sih kayaknya bukan. Gak mirip sih. Kalau pacarnya, mampus lo SAUDARA HARIS!!!" Toto melirik pada Haris di depannya sambil tertawa.
"Eh, sekali lagi lu nakutin gue, gue tato totol-totol kepale lu!" Haris menoleh ke belakang sambil menunjuk Toto dengan pulpen. Toto dan Vera tertawa keras.
___________________________________________
Hari yang melelahkan. Terima kasih masih terus membaca novel ini. Jangan lupa like, komen dan vote juga hadiah dan koin masih tetap di tunggu author, biar semangat nulis. Ini visual Kevin Torick Natawijaya. Kakak Abra yang kaku dan bertangan besi. Salam, Ingflora 💋
Author Kei_Sora menulis tentang cinta antara bos dan Sekretarisnya yg punya byk rahasia. Apa tuh rahasianya? Kuy, kepoin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Ratna Dadank
cakep
2022-08-12
2