"Ada apa Kak?"
"Mmh? Ngak." Manik mata pria itu bergerak ke segala arah. Ia terlihat bingung. "Lanjutkan saja memasakmu."
"Oh, iya Kak." Shasa kemudian memasak telur tapi ia tidak merasa nyaman karena pria itu berjalan mondar mandir di belakangnya.
"Mmh."
Shasa terkejut saat menyadari pria itu sudah berada tepat di belakang punggungnya. Damar yang bertubuh tinggi sedikit membungkuk sehingga kepalanya dekat di samping wajah gadis itu. Ia seperti sedang memperhatikan Shasa memasak dari belakang.
"Eh, Kak." Shasa semakin merasa tak nyaman.
"Aku tak suka telurku gosong ya!" Damar melihat gadis itu tak konsentrasi.
"Eh, iya Kak." Shasa meletakkan telur dadar yang sudah matang pada sebuah piring. Saat itu ia bisa sedikit menjauh tapi pria itu masih menunggunya di depan kompor. Ia ingin memasak sosis tapi ragu-ragu.
"Kenapa?" Damar melihat keraguan Shasa.
"Maaf Kak, gak enak masak kalo deket-deket gitu. Gak konsen."
Damar pun menjauh. Shasa mulai menggoreng sosis dengan menambahkan minyak goreng, tapi tak lama pria itu kembali berdiri di belakang Shasa. Pria itu bahkan meletakkan kedua tangannya di samping tubuh gadis itu hingga menguncinya untuk bergerak.
Shasa makin merasa heran. "Kak!"
"Tidak, aku suka bau sampo di rambutmu." Damar seperti sedang mencoba menghirup bau sampo dari pucuk kepala gadis itu.
"Kakak ...." Shasa mencoba memohon.
"Perhatikan masakanmu!" bentak Damar karena gadis itu mulai tidak konsentrasi.
"Aku gak bisa konsentrasi kalau Kakak di belakangku," keluh Shasa kesal. Ia berusaha bicara baik-baik pada sepupunya itu agar tidak terjadi pertengkaran.
"Kenapa ge er banget sih jadi cewek? Memangnya aku memelukmu seperti ini." Pria itu langsung meraih pinggang Shasa dan mendekapnya.
Shasa segera melakukan penolakan dengan menepis tangan sepupunya itu. "Kak! Maaf tapi ini sudah sangat keterlaluan!" Lengkingan suara Shasa berusaha ditahannya agar seisi rumah tidak terbangun karenanya.
Damar hanya menatap lekat-lekat gadis itu sebelum akhirnya keluar dari dapur itu dengan wajah kesal. Shasa menghela napas.
Gadis itu kemudian membawa piring itu ke meja makan. "Ini Kak."
"Duduk." Pria itu mengkode Shasa duduk di dekatnya dengan dagu.
Shasa dengan enggan duduk. Ia melihat pria itu mulai meraih sendok dan mulai makan.
"Kamu serius sama Bima?"
Mmh, apa maksudnya?
"Kalo di tanya, jawab dong," ujar pria itu dongkol.
"Kan Kakak lihat aku sama Bima."
"Iya, niat gak ...." ujar pria itu sambil mengunyah. Ia terlihat kesal karena Shasa tidak menjawab langsung.
"Kalau pacaran pasti seriuslah Kak. Mana ada yang tidak serius."
Damar melirik Shasa sambil memotong sosisnya. "Kamu kelihatannya gak cocok pacaran sama Bima."
"Kenapa?"
"Gak cocok aja." Damar masih melirik Shasa sambil menyuap sosisnya bersama nasi.
Shasa hanya diam. Untuk apa dia berkomentar seperti itu? Kan gak ada untungnya juga buat dia. "Kak, udah kan? Aku mau ke atas," Ia malas membahas ini karena memusingkannya. Yang satu menyuruhnya pacaran dan yang satu lagi menyuruhnya berhenti. Sejak kapan pacarannya harus diatur orang lain? Ia sendiri masih setengah hati menjalaninya.
Malam itu, untung saja tidak ada tugas lain yang diberikan oleh Damar untuknya hingga ia bisa segera istirahat. Gadis itu berusaha tidur kembali.
----------+++----------
Pagi yang cerah. Sepagi itu Rika sudah selesai sarapan dan bergegas ke pintu utama.
"Eh, eh, eh, kamu gak salam sama Papa," Papa Rika yang baru keluar dari kamar memanggil anaknya. Terpaksa Rika kembali dan mencium tangannya lalu pamit. Gadis itu kembali melangkah ke pintu utama yang telah dibukakan pembantu rumahnya.
Mama Rika keluar dari dapur. "Senang rasanya melihat ia bersemangat bekerja. Mudah-mudahan ia tidak menyesali keputusannya untuk tidak kuliah."
Papa Rika tertawa. "Kau seperti tidak tahu Rika saja. Dia selalu membuat keputusan yang tergesa-gesa yang nantinya akan disesalinya, tapi kalau dilarang dia tidak mau. Ya sudah, kita lihat saja nanti."
Rika akhirnya sampai juga ke stasiun tv itu. Sepagi itu sudah ada kru dan pegawai lainnya yang bertugas. Ia bahkan tak sengaja bertemu Abra di depan kantornya sedang membawa kopi hendak ke ruangan. Bajunya masih sama dengan yang kemarin dan rambutnya sedikit berantakan.
"Pagi Kak."
Abra hanya menatap Rika.
"Oh, Pak," Rika menyadari kesalahannya memanggil Abra 'Kak' di lingkungan kantor.
"Pagi," jawab pria itu singkat.
Ih, jutek banget sih. Rika memperhatikan baju Abra. "Kok bajunya sama Pak? Bapak belum pulang?"
Abra memperhatikan bajunya. "Mmh."
"Bapak nginep?"
"Oh, di sini sudah biasa begitu." Ia kemudian meninggalkan Rika begitu saja.
Eh, kok ditinggal? "Pak, aku kerja di mana Pak?"
Pria itu membalikkan tubuhnya. Sepertinya ia belum lama bangun dari tidurnya. "Mana aku tahu. Memangnya orang menginterview kamu kemarin tidak memberi tahumu?"
"Tidak."
"Kalau begitu, cari dia dan tanyakan padanya." Abra kembali melangkah ke dalam ruangan dan menutup pintu.
Ih, kok aku ditinggal sendiri di sini sih? Mana di kantornya belum ada siapa-siapa lagi, aku harus tanya siapa? Sekretarisnya saja belum datang. Huh, tega sekali Kak Abra. Rika berkacak pinggang. Sebentar kemudian ia sudah keluar dari kantor itu.
Di ruang kerjanya, Abra menikmati kopinya sambil tersenyum. Welcome to the real world, girl.(Selamat datang di dunia nyata, Nona), benaknya. Ia menyesap kopinya hingga setengah dan kemudian kembali tidur di sofa panjang.
---------+++--------
"Kak."
"Mmh." Bima masih fokus mengendarai mobilnya.
"Boleh gak Kak, mulai besok aku berangkat sendiri."
"Mmh, kenapa?"
"Aku gak enak sama pegawai yang lain."
"Kamu kan pacarku." Bima menyungging senyum di mulutnya.
"Aku kan juga pegawai di sana, aku gak mau diistimewakan Kak nanti yang lain segan. Kak Bima jadi repot juga setiap hari jemput aku."
Bima melirik dari cermin kecil di atasnya. Gadis ini sangat berbeda dengan Rika yang malah selalu ingin diistimewakan. Shasa adalah pribadi yang mandiri.
"Aku tidak repot Shasa, tapi ... kau sangat mandiri. Baiklah. Akan kukabulkan, tapi aku boleh mengantarmu pulang kan?" Dari cermin kecil di atasnya Bima melihat gadis berjilbab itu mengangguk. "Ok."
Di kantor, Shasa mulai bekerja dengan membantu pegawai di sana. Walaupun pada awalnya mereka segan karena akhirnya mereka tahu Shasa dan Bima berpacaran, Shasa mampu membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh dalam membantu dan bekerja.
Bima keluar dari ruangan kerjanya dan mendatangi Haris. "Aku mau keluar dulu ketemu klien yang kemarin, tapi ada klien baru lagi yang mau datang ke kantor. Kamu saja wakilin ketemu mereka ya?"
"Yah Pak, penampilan saya hari ini berantakan Pak. Cari yang lain saja, yang bajunya agak rapian."
"Siapa terserah."
Lalu semua orang memandang ke arah Shasa yang kebetulan selalu berpakaian rapi ke kantor.
"Nah dia aja Pak," Haris menunjuk ke arah Shasa.
"Dia kan anak baru, mana bisa. Kamu dampingin lah!"
"Eh, iya Pak."
"Ck, lagian kamu sering banget ke kantor pakai baju santai. Kantor ini sudah mulai berkembang, jadi kamu setidaknya harus menyiapkan baju kantor juga di sini, jadi kalau tiba-tiba mendadak ketemu klien begini jadi gak sulit."
"Iya Pak."
"Yang lain juga dengar ya?"
"Iya Pak," ucap mereka serempak.
"Aku titip kantor sama kamu Ris."
"Siap Pak," Haris tersenyum sambil meletakkan takupan tangannya di dahi.
Bima pun keluar.
20 menit kemudian klien yang dinantikan tiba. Haris membawa klien itu ke ruang meeting dengan membawa Shasa.
Gadis itu terlihat gugup. "Aku harus ngomong apa?" bisiknya.
Haris tertawa. "Mereka datang karena mereka butuh produknya diiklankan. Gak ada yang penting-penting juga karena mereka yang akan bicara dan kita hanya mendengarkan. Kita hanya menawarkan pilihan untuk iklannya saja dan itu biar aku yang bicara. Kamu cukup berusaha beramah tamah saja."
"Gitu?"
"Iya."
"Kalau begitu, aku bikin minum dulu saja," Shasa hendak keluar tapi kemudian di tahan Haris.
"Eh, gak usah, kan ada Linda." Haris menarik Shasa ke depan karena kliennya sudah duduk di seberang meja di depan mereka. Mau tak mau Shasa terpaksa duduk dan mulai menyapa mereka. Ia berusaha mengingat-ngingat cara Bima kemarin mengobrol dengan kliennya.
Awalnya ia sangat gugup, dan suaranya sedikit bergetar tapi lama-kelamaan ia sudah bisa beramah tamah dengan tamu mereka. Apalagi setelah klien mereka mulai menceritakan produk yang ingin diiklankan, Haris mengambil alih dengan menawarkan jasa dan bernegosiasi. Pembicaraan berlangsung hingga setengah jam. Klien yang terdiri dari 3 orang pria itu kemudian pamit.
"Haaah ... jelek ya?" Shasa menghela napas.
"Enggak kok, keren!" Haris mengangkat ibu jarinya.
"Masa?"
"Iya."
"Haaah aku panik tadi," keluh Shasa.
"Untuk pemula, lo udah bagus. Tinggal nikahin Pak Bima, lo bisa jadi istri pengusaha."
"Iih!" Shasa memukul bahu Haris karena malu.
Haris tertawa.
---------+++-------
Rika kesal. Dari tadi dia hanya disuruh-suruh terus. Mengirim data dari ruang siaran ke ruang editing, membuatkan kopi untuk para artis dan manager, merapikan kabel, dan masih banyak lagi. Ia kelelahan harus berlari ke sana ke mari dan semua harus serba buru-buru. Kadang ia belum sempat melepas penat, sudah ada tugas lain yang menunggunya.
Pekerjaan macam apa ini? Aku kan bukan kacung yang harus di suruh ke sana ke mari, enak saja! Aku anak orang kaya ya, dan gak level juga disuruh kerja pekerjaan jongos begini, batinnya kesal.
Rika menatap sepatu hak tingginya yang hampir rusak. Ia coba membukanya. Ngilu terasa di sekujur jemari kakinya karena harus berlarian dengan sepatu itu tadi. Untung saja itu adalah salah satu sepatu mahalnya sehingga lecet di kaki belakangnya tidak begitu parah, tetapi tetap saja ia hampir menangis karena kulit kakinya yang lecet dan sepatu kesayangannya yang hampir rusak.
"Hei, jangan duduk di kursi itu! Itu kursi untuk para artis!" seorang pegawai memperingatkan.
Dengan kesal ia berdiri. Hampir saja ia menendang kursi itu kalau saja ia tidak mendengar salah satu pegawai sedang memanggil pegawai lainnya karena pimpinan mereka datang ke tempat itu. "Eh, udah belum? kita mau take(merekam) lagi nih! Sebentar lagi Pak Abra mau ke sini."
Buru-buru, beberapa pegawai merapikan panggung termasuk Rika. Dengan terseok-seok ia berusaha melaksanakan tugasnya, tapi ia melakukannya dengan kesal.
"Hei, kerja yang bener jangan ogah-ogahan begitu," tegur salah satu pimpinan di sana.
"Sakit nih Pak, kakinya," keluh Rika.
"Ck, lagi kerjaan kayak gini siapa pula yang mau pakai sepatu hak tinggi kayak gitu? Lihat, yang lain semua pakai sepatu kets atau sepatu olah raga, bukan sepatu yang seperti itu. Besok, ganti sepatumu dengan yang lebih nyaman, ngerti?"
"Iya Pak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Novi Ana
😀😀😀 rasain kamu rika teryata cuma jadi jongos ......
2022-06-12
3