Shasa melongo. Pipinya bersemu merah. Kak Bima beneran suka sama aku atau karena permintaan Kak Rika?
Bima tersenyum pada Shasa. Ia kemudian kembali menghidupkan mobil dan menjalankannya.
Sambil menjalankan mobil, Bima melirik pada Rika lewat cermin kecil di atasnya. Gadis itu melirik Shasa sebentar dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu kembali memandang ke arah luar lewat jendela.
Bima, ia bingung dengan gadis itu belakangan ini. Keinginannya selalu berubah-ubah. Kadang dia bilang A kemudian minta B. Lalu ganti lagi minta C. Apa kini ia telah bertemu dengan Rika yang sesungguhnya?
Dulu hubungan mereka lancar-lancar saja. Saat didekati, gadis itu terlihat senang, tapi setelah ia menyatakan cinta, gadis itu seperti main petak umpet.
Saat dekat Rika menyenangkan, tapi saat jauh ia susah dicari. Sekarang malah minta pria itu untuk memacari sepupunya. Bima tak habis pikir dengan sikap Rika, gadis itu menyukai dia atau tidak sebenarnya? Karena itu ia coba mencium kening Shasa untuk mengetahui reaksi Rika akan bagaimana. Cemburukah atau bahkan tidak peduli, dan yang terakhir itu jawabannya. Tidak peduli. Bima benar-benar kecewa.
Baik, aku akan berpacaran dengan Shasa, tapi ingat, bila aku bersamanya, aku takkan ada lagi untukmu. Jangan menyesal kalau suatu saat aku benar-benar bisa menikahinya karena kamu telah melepasku. Bima mendengus kesal.
Mobil pun berhenti di depan sebuah rumah mewah. Satpam yang menjaga pagar sudah hapal dengan mobil itu hingga mereka langsung membukakan pintu pagar rumah itu.
Bima memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah itu. Shasa dan Rika turun. Bima memanggil gadis bertubuh mungil itu dan Shasa mendekatinya di jendela mobil.
Pria itu membuat kaget Shasa karena langsung menggenggam jemari tangannya.
"Eh, Kak ...." Shasa menoleh ke arah Rika karena merasa tak nyaman.
Rika tak peduli dan melengos pergi. Lo mau bikin gue cemburu, benaknya sambil tersenyum senang. Lu bodoh!
"Kak Bima ...."
Bima mengeratkan genggaman tangannya. "Kamu gak percaya sama aku? Ok, besok bawa CV-mu ke kantor. Oh, iya aku lupa. Kamu jadi pacarku ya sekarang? Ok, besok pagi aku jemput."
Shasa masih melirik antara Rika yang masuk ke rumah dan Bima yang sekarang menggenggam jemari tangannya. Kenapa ia kini berada di tengah konflik keduanya? Bima kan ngak bener-bener suka sama aku kan? Dia hanya manas-manasin Rika aja kan sebenarnya?
"Sayang ...."
"Eh, apa?"
"Aku serius."
Shasa memperhatikan wajah pria di depannya dengan seksama. Memang sejak lama ia mengagumi sosok pria yang mengejar-ngejar Rika ini. Seorang pria tampan juga pengusaha. Gadis itu tidak mengerti kenapa Rika dan Papanya tidak menyukainya.
Sayangnya, ia meragukan kata-kata pria itu sekarang, karena cepatnya ia berbalik arah. Bukankah cinta bukan buatan manusia? Jadi sewajarnya tidak mungkin ada orang yang bisa merubah haluan cinta, meskipun ingin.
"Kak, sudah ya main-mainnya?"
Pria itu memejamkan mata sebentar. "Begini saja. Besok kamu aku jemput. Kamu akan langsung kerja besok."
"Apa?"
"Jam 8 ya?"
"Eh ...."
Belum selesai Shasa bicara, pria itu sudah menghidupkan mesin mobilnya. Ia melambaikan tangan pada Shasa sebelum membawa mobilnya keluar.
Shasa menghela napas.
Di dalam rumah, ternyata kedua orang tua Rika telah menunggunya. Rika yang terlihat menggerutu sebal dan membuka jilbabnya, menjadi pemandangan yang dipertanyakan.
"Kamu kenapa jilbabnya dibuka?" tanya Papa Rika heran. " Padahal kamu bagus pakai itu."
"Uah ... panas Pa, gak betah!" ucap gadis itu kesal.
"Lalu kenapa dipakai?"
Rika senyum di kulum. "He, iseng."
"Padahal cantik lho anak Mama pakai itu. Mama aja penasaran lihat pas Papa cerita tadi, jadi Mama nungguin. Kali aja kamu sudah berubah pingin berhijab. Eh taunya cuma iseng," Mama Rika menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak ah! Orang modern kayak Rika mah gak cocok jilbaban Ma. Jadi terlihat kuno!"
Mama Rika tertawa. "Ya sudah. Terus pesta perpisahannya gimana?"
"Eh, oh, em." Rika salah tingkah karena ia tidak mempersiapkan jawabannya. "Rika bosen jadi pulang aja deh."
"Oh, masih berlangsung?"
"Kan Papa dan Mama gak ngijinin Rika pulang malam."
"Mmh, ya sudah. Cepat tukar bajumu sana." Baru saja Papa Rika ingin menanyakan soal Shasa, gadis itu sudah masuk ke dalam rumah. "Sha, kok kamu tumben lama." Ia kemudian ingat bahwa Bima yang mengantar mereka berdua. Ia langsung mengerut kening. "Ngobrol sama Bima?"
"Dia ...."
Rika langsung memotong ucapan Shasa takut gadis itu salah bicara. "Dia diterima kerja di kantornya Bima, Pa."
"Kenapa kamu manggil Bima dengan namanya saja, kok gak pake Kak?" tanya Papa Rika karena ia tahu Bima jauh lebih tua dari Rika.
"Karena Bima sendiri yang maunya begitu," jawab Rika asal, padahal ia tak pernah menanyakan itu pada Bima dan Papa Rika sudah bisa menebaknya.
Pria itu kembali mengerutkan keningnya, tapi pada saat bertanya pada Shasa, ia menampilkan wajah senangnya. "Jadi kamu diterima kerja di perusahaan Bima? Om ikut senang. Sayang kamu gak mau kuliah, padahal Om sudah menyisihkan uang untuk biaya kuliahmu."
"Mmh, anak sendiri dilupain," Rika mencibir.
Papa Rika selalu saja bingung saat harus bicara dengan Shasa karena Rika selalu cemburu. "Kamu juga Papa tawarin kuliah kamu gak mau?"
"Ngak ah, males mikir. Mendingan kerja aja."
"Kamu mau masuk perusahaan Bima juga, seperti Shasa?"
"Ngak ah! Ada temen nawarin kerja di perusahaan keluarganya."
Papa Rika tertegun. "Tapi jaga sikapmu ya, jangan seenaknya. Jaga nama baik Papa."
Rika merengut. "Papa gak pernah percaya sama anak sendiri sih! Shasa aja ...." Rika menggantung kalimatnya karena kesal dan ia sudah berlari ke arah kamarnya di lantai 2.
Tinggal Papa Rika yang menghela napas panjang. Shasa langsung pamit ke kamar karena tak ingin salah bicara.
Damar mengintip dari pintu kamarnya yang berada di lantai atas juga. Ia kemudian menutup pintu. "Huh, dasar cewek egois," gerutu Damar sambil membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Sebentar ia melipat tangannya di belakang kepalanya sambil tidur terlentang. Ia sedang membayangi sesuatu sambil menyeringai senang. "Ah, tidur dulu ah!" Ia menyamping dan menutup kedua matanya.
Shasa telah bertukar pakaian dengan baju tidurnya. Iapun juga sudah membersihkan makeup-nya. Ia membaringkan diri di atas tempat tidur, tengkurap sambil menindih guling. Gadis itu mengangkat sedikit tubuhnya lalu melepas ikatan rambut dan menyisir pelan dengan jemarinya. Rambutnya yang lurus terlihat bergelombang karena diikat terlalu lama.
Shasa merebahkan diri dengan meluruskan tangan dan meletakkan kepalanya di atas guling yang dihimpitnya.
Ia mengingat kembali hari ini yang penuh warna. Dulu hidupnya sangat kesepian. Sebagai anak tunggal keluarga kaya ia tidak punya teman bicara. Walaupun kini sebagai gantinya ia kehilangan kedua orang tuanya, ia sangat senang tinggal bersama Rika walaupun gadis itu tidak mudah dipahami.
Apapun yang dilakukannya tidak pernah membuatnya senang, tapi Shasa tidak pernah marah. Ia berusaha memaklumi keinginan Rika walau terkadang tidak masuk akal. Ia melakukan itu karena ingin membuat Om dan Tantenya senang mereka tidak pernah bertengkar dan juga agar masalahnya cepat selesai.
Bukan apa-apa, Rika saat ia disalahkan marahnya bisa berhari-hari. Apalagi kalau Papa Rika memenangkan Shasa, dan itu seringkali, masalahnya bisa merambat ke mana-mana. Barang-barang Shasa hilang satu-satu atau ada yang rusak, atau gadis itu ngambek tak bicara, atau yang lebih parahnya lagi gadis itu akan merundungnya. Shasa pasrah karena ia tinggal dengan mereka. Pilihan yang hanya satu-satunya.
Shasa tersenyum. Apa hari ini hari terbaik dalam hidupnya? Pria yang diam-diam disukainya malah mengajaknya pacaran. Padahal tadinya ia berpikir Rika akan berpacaran dengan Bima karena seringnya Bima datang menjemput Rika. Bahkan mengantar-jemput Rika sekolah dan ia sering ikut menumpang bersama mereka. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat cocok satu sama lain bahkan Shasa mengagumi Bima karena terlihat sangat baik pada Rika.
Namun melihat Rika yang belakangan ini berubah, Shasa sama sekali tidak mengerti ada apa di antara keduanya. Ia juga meragukan pernyataan Bima yang ingin pacaran dengannya yang membuat ia bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Bima itu. Perlahan rasa simpatiknya pada Bima berkurang walaupun ia masih menyukainya.
Ia kemudian mengingat pria bernama Abra. Pria itu lebih tampan dari Bima bahkan ia mengira pria itu seorang model karena tubuhnya yang tinggi, putih, hidung mancung dan wajah rupawan. Sepertinya pemuda itu masih ada darah Indo mengalir ditubuhnya. Shasa memgagumi pria itu yang terlihat masih sangat muda untuk menjadi seorang CEO. Apalagi saat pria itu mencuri-curi pandang dan tersenyum kepadanya.
Ah, ia tidak ingin berkhayal terlampau jauh. Ia kini hanyalah seorang anak yatim piatu yang menumpang di rumah saudaranya yang kaya. Kaya itu masa lalu. Kini ia hanya seorang gadis pengkhayal yang sedang berjuang untuk dirinya sendiri.
Ya, ia ingin berdiri sendiri dan keluar dari rumah itu secepatnya karena ia merasa terbebani tinggal di sana. Ia tahu Omnya berusaha mengurusnya tapi ia melihat Rika tidak menyukainya. Ia tidak ingin gara-gara dirinya, keluarga itu jadi saling bertengkar. Ia akan mengalah dan keluar dari rumah itu baik-baik.
------+++-------
"Abra!"
Pria itu berhenti dan menghela napas. Ia menoleh.
Seorang pria dengan masih menggunakan pakaian kerjanya duduk di samping meja makan. Ia mengapit cangkir kopi dengan kedua tangannya di atas meja. "Kamu ke mana, aku cari tadi? Kamu tahu kan tv itu operasionalnya 24 jam!" sergah pria itu.
"Maaf Kak, aku lagi suntuk jadi memilih pulang," Abra berusaha menghindar karena ia tahu Kakaknya Kevin sedang mencarinya untuk meeting. Ada hal-hal yang ia tidak setujui dalam meeting itu dan ia belum menemukan solusi penggantinya karena itu ia coba menghindar. Ia tahu Kevin selalu mencecar pekerjaannya sehingga ia harus siap dengan solusi bila ia tidak menyetujui usul Kevin.
Kevin terkenal tangan besi dalam kepemimpinannya. Semua bawahannya tahu bahwa pria itu hanya bicara 'ya' atau 'tidak'. Dia tidak suka peragu dan negoisasi sedang Abra tipe pria yang yang sangat fleksibel tergantung situasi karena pekerjaan di tv itu sangat dinamis.
"Tidak ada yang namanya suntuk memikirkan yang lain karena kerja di tv itu harus fokus."
"Aku juga sedang memikirkan itu."
"Bagus!"
Sunyi merayap.
"Aku tidur dulu Kak."
"Iya, sana!"
Abra menaiki tangga menuju kamarnya.
Seorang wanita paruh baya dengan baju tidur mewahnya keluar dari arah dapur mendatangi Kevin. Ia melihat Abra menaiki tangga. "Mmh, kenapa sih kamu masih mempertahankan Adik Tirimu itu. Dia gak becus kan?" Wanita yang sedikit gemuk itu terlihat sebal.
___________________________________________
Masih baru-baru nih di awal. Masih pemanasan. Yuk dukung Author dengan partisipasimu di novel ini dengan memberi like, vote, komen, hadiah bahkan koin biar authornya tambah semangat. Ini visual Anrika Widya Prawira, atau yang akrab dipanggil Rika. Kecantikannya membuat ia menjadi gadis egois yang ambisius. Salam, ingflora. 💋
Author Age Nairie dengan novel terbarunya berjudul Kamuflase Cinta Sang CEO bercerita tentang pernikahan yang terlanjur terjadi karena keadaan. Mungkinkah mereka akan mengakhiri atau mungkin malah akan memperbaiki?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
AdindaRa
Aku mampir lagi kasih saweran iklaaan 😘😍
2022-07-28
4
Ayu Andila
Rika egois ya thor 🥺
2022-06-20
4
Novi Ana
semangat thor masih nyimak .....lanjuttt.....
2022-06-03
2