Pacaran

Abra tanpa sengaja melihat Rika menjatuhkan sesuatu. "Hei, milikmu jatuh." Namun gadis itu tidak mendengarnya.

"Halo." Rika berjalan menjauhi sofa sambil masih memegang hp-nya.

Sebentar, ia mendengarkan.

"Apaan sih, sebentar doang lo gak betah!" omelnya. Ia berjalan makin menjauh sementara Abra, ia mendekati buku note itu dan mengambilnya. Ia membukanya. Sebuah puisi tertulis dengan beberapa coretan di beberapa tempat.

'Kepada senja yang bersinar kemerahan

Kutitip kerinduan pada jejak yang tersapu hujan

Pada angin yang bertiup kelelahan

Pada awan yang mendekap mentari'

Shasa yang sedang mencari Rika, melihat seorang pria sedang membaca sebuah buku note. Buku itu seperti miliknya. Ia mendekati pria itu perlahan dari samping. Pria itu, dengan serius melihat buku yang berwarna hijau itu dan isinya ... puisi. Itu bukunya! Segera ia merebutnya.

"Eh?" Abra terkejut.

Gadis berjilbab itu, menggangguk-anggukkan kepalanya meminta maaf dengan tanpa suara lalu kemudian pergi berlari.

Eh, itu bukannya cewek tadi ya? Eh, lucu juga cewek itu. Datang dan pergi. Mana hanya satu-satunya lagi di sini yang berjilbab. Eh, tapi puisinya bagus juga, mengingatkanku pada ....

Tanpa sadar Abra mencarinya. Ia malah terkejut menemukan 2 orang gadis berpakaian sama di hadapannya. Apa? Mereka kembar?

Rika baru saja menutup hp-nya ketika Shasa datang membawa buku note milik sendiri.

"Kak, kok bukuku jatuh?" tanya Shasa.

Rika segera merebut dari tangan sepupunya. "Eh, gak sengaja."

"Tapi Kak, itu kan punyaku." Shasa berusaha merebut kembali tapi berhasil dijauhkan Rika.

"Eh, maaf."

Kedatangan Abra mengejutkan keduanya. Bahkan Shasa sampai meraih lengan sepupunya dan bersembunyi di balik punggungnya.

"Buku itu milik siapa ya?" Abra memberanikan diri.

"Oh, itu milikku." Rika memamerkannya pada Abra. Shasa hanya melihat saja.

Bukan milik yang satu lagi ya? Tadi mereka bertengkar kenapa? Bukannya gara-gara buku itu? Mmh, tapi mereka sangat mirip. Bagaimana membedakannya? Abra tak bisa membedakan keduanya karena mereka berpakaian sama dan postur tubuhnya pun juga mirip. Hanya Shasa bertubuh lebih mungil, dan Rika sedikit lebih tinggi.

"kamu pintar juga bikin puisinya. Boleh kenalan?"

"Oh, boleh. Namaku Rika." Gadis itu menyodorkan tangannya.

"Abra."

Mereka berjabat tangan, tapi Abra tidak berhenti sampai di situ saja. Ia menyodorkan tangannya pada Shasa. Gadis itu terlihat bingung. Rika segera menarik tangan Shasa dan menyodorkannya pada Abra. Mereka bersalaman. Entah kenapa, Abra lebih tertarik pada gadis kembar yang kedua. Matanya menyoroti gadis yang terlihat enggan dan malu-malu itu padanya.

"Maaf kami mau pulang." Rika merapikan tasnya.

"Oh, begitu. Kok, cepat-cepat pulang," Abra mengungkap kekecewaannya.

Rika terlihat senang. "Mau nganterin pulang?"

"Yah, tapi hari ini aku tidak bawa mobil. Aku datang bareng teman."

Ah, ini sih mah kere. Paling juga pegawai. Huh! "Eh, maaf ya, kami buru-buru." Rika meraih tangan Shasa dan melangkah ke pintu.

Benarkah gadis yang bernama Rika ini yang menulis buku itu, tapi aku lebih suka kembarannya yang satu lagi itu yang menulis buku itu, entah kenapa. Eh siapa namanya tadi? Eh, aku lupa menanyakan namanya. Abra mengejar kedua gadis itu yang sudah keluar ruangan dan membuka topeng mereka untuk mengembalikannya di meja resepsionis. Wajah mereka ternyata berbeda. Yang namanya Rika ternyata cantik dan yang satu lagi ... wajahnya sangat manis.

Rika dan Shasa terkejut karena Abra mengejar mereka sampai ke tempat itu.

"Eh, maaf."

"Curang!" sahut Rika, tapi di dalam hatinya ia senang pria itu mengejarnya sampai ke tempat itu.

Abra membuka topengnya dan itu membuat Rika dan Shasa kembali terkejut karena pria itu ternyata sangat tampan. "Kalian terlihat masih sangat muda. Apa kalian punya usaha sendiri?" Ia memperkirakan kedua gadis itu masih pelajar melihat wajah mereka yang masih belia.

Rika jadi salah tingkah. "Eh, sebenarnya kita baru lulus SMA, berniat mencari pekerjaan jadi kalau ke sini mungkin bisa bertemu Eksekutif Muda yang bisa membantu kami masuk ke perusahaan mereka," kilah Rika sambil tertunduk. Toh ia tak bisa mengelak karena wajah mereka tak bisa membohongi pria itu.

"Oh, begitu." Abra mengeluarkan kartu namanya. "Ini, kartu namaku. Aku bekerja di stasiun TV ini sebagai CEO. Kalian bisa coba mendaftar kerja di sini."

Rika mengambilnya dengan mata membulat sempurna. Ia kegirangan. "Terima kasih Pak, eh Kak, eh apa ya?"

Abra dengan ringannya tertawa. "Tidak apa-apa."

"Apa sekarang ada lowongan?"

"Aku sendiri tidak tahu ya, tapi coba saja." Abra melirik Shasa yang hanya diam. "Eh, kamu namanya siapa?" Ia coba bertanya.

Namun Rika dengan sigap menarik tangan Shasa. "Oh, ini sepupu saya. Eh, maaf kami mau segera pulang." Ia buru-buru melangkah sambil menarik tangan Shasa.

Dari dulu ia memang tak suka sepupunya itu diperhatikan orang atau lebih terkenal dari dirinya karena dia merasa dialah yang paling cantik diantara mereka berdua.

Shasa adalah anak tunggal keluarga kaya raya yang selalu dapat pujian karena pintar dan baik hati. Rika kesal dibanding-bandingkan dengan sepupunya itu hanya karena kedua ayah mereka bersaudara.

Setelah kedua orang tua Shasa meninggal, Papa Rika yang mengurus perusahaan kakaknya itu. Shasa terkadang terlihat diistimewakan oleh Papa Rika yang membuat Rika sering meradang dan Shasa merasa tak enak hati pada Rika. Padahal Shasa tak ingin diistimewakan, dan Papa Rika juga sebenarnya berusaha adil kepada kedua anak dan ponakannya tapi Rika melihatnya berbeda.

Abra berusaha menyamakan langkah mengantar mereka. Entah kenapa, ia begitu penasaran pada sepupu Rika yang ia tidak tahu namanya itu tapi ia juga tidak ingin terlihat mengejarnya karena Rika seperti melindunginya.

"Eh, jadi kalian akan mencoba melamar pekerjaan di mana?"

"Eh, tidak tahu."

"Oh." Pria itu mencoba mencari bahan obrolan lain tapi ia tidak bisa menemukannya. Tidak bila harus terburu-buru seperti itu. "Eh, mau ku panggilkan taksi?"

Rika mulai curiga Abra tidak mengejar dirinya tapi Shasa. Ia mulai terlihat kesal. "Eh maaf udah ada jemputan." Ia menunjuk pada mobil yang terparkir dekat dengan pintu masuk. Ada Bima di dalam mobil itu melambaikan tangan. Mereka mendekati mobil itu.

"Eh, ini pacarmu?" tanya Abra melihat pakaian mahal yang dipakai Bima.

"Oh, bukan. Ini pacar Shasa." Rika mendorong Shasa ke kursi mobil di muka. Bahkan membantu membukakan pintunya.

"Eh?"

"Tapi ...." Bima bingung dengan pernyataan Rika.

"Iya kan?" Rika menoleh pada Bima.

Melihat wajah serius Rika, akhirnya Bima menyetujui. "I-iya."

"Mmh?" Kini Shasa yang bingung dengan pernyataan keduanya. Kenapa ceritanya jadi begini?

Yah, sayang ... dia sudah milik orang lain. Namanya Shasa ya? "Jadi, kapan kalian akan mengirimkan resumenya biar aku tanya HRD." Siapa tahu, saat dia kerja padaku, dia putus dengan pacarnya, Abra tersenyum samar dengan khayalannya.

Rika melihat pandangan Abra yang tak putus pada Shasa. "Oh, aku mungkin bisa tapi Shasa mungkin dia kerja di tempat pacarnya."

Kembali pernyataan Rika menuai pandangan aneh pada Bima dan Shasa.

Shasa bekerja padaku? Apa itu yang kau mau? Bima terlihat kesal pada Rika.

Aku bekerja di perusahaan Kak Bima? Shasa melirik Bima dengan wajah bingung.

"Oh, Anda punya perusahaan apa?" Abra mendekat pada Bima. Ia penasaran.

"Perusahaan periklanan."

"Oh, cocok sekali. Aku bekerja di stasiun TV. Mungkin suatu saat kita bisa rekanan." Abra mengeluarkan kartu nama.

Bima pun mengeluarkan kartu namanya sehingga mereka bisa bertukar kartu nama.

"Ok, kapan-kapan mungkin aku telepon ya?" ucap Abra sambil membaca kartu nama itu.

"Terima kasih."

Saat Abra ingin bicara lagi, Rika segera menyudahi. Ia tak ingin lama-lama di situ karena takut ketahuan ia berbohong. Ia segera masuk ke dalam mobil di kursi belakang.

Abra melambaikan tangan dan melihat mobil itu menjauh. Ah, gadis semanis itu. Kenapa milik orang lain? Kenapa tidak Rika saja yang pacaran dengan pria itu? Aaah, kesal! Ia mengacak-ngacak rambutnya.

"Jadi lo naksir yang mana?" Ronny datang sambil tertawa. "Makanya gue bilang juga apa. Lo dapet sesuatu kan? Lo kemakan omongan sendiri, lo sekarang naksir pacar orang kan?" Ronny melipat tangannya di dada.

"Iya," jawab Abra dengan wajah kusut. Tuhan, gue tuh sebenarnya telat berapa tahun sih dapetin dia? Hah ....

---------+++--------

Di tengah jalan mobil Bima berhenti. Ia menoleh ke arah Rika di belakang. "Apa maksud perkataanmu tadi? Coba tolong jelaskan."

Shasa hanya berani memperhatikan mereka berdua tapi tak mampu bicara karena ia sendiri dalam kebingungan.

"Sudah jelas kan? Mau ditanya apa lagi?" Rika melipat tangannya di dada dan melihat ke arah luar lewat jendela kaca di sampingnya.

Bima masih belum mengerti. "Aku masih bingung. Apa, maksud perkataanmu tuh apa?"

"Ya kamu pacaran dong sama Shasa."

"Apa?"

Shasa terlihat semakin bingung. Kenapa aku yang harus pacaran dengan Kak Bima? Apa maksudnya? "Kak, Kak Bima kan ...."

"Diem! Ngak ada yang menyuruh lo bicara." Rika menatap tajam pada Shasa.

"Rika ...."

"Aku kan pernah bilang aku gak ingin pacaran sama kamu, tapi kamu maksa dengan alasan ini-itu ini-itu dan aku kasih kondisi cadangan kamu mau. Nah, kalau kamu benar-benar cinta sama aku buktikan dong. Pacari Shasa!"

Shasa benar-benar bingung melihat keduanya. Kenapa sekarang dia jadi bahan percobaan?

Bima terdiam. Ia melirik Shasa juga Rika. "Ok." Ia melirik Shasa. "Kamu mau jadi pacarku kan?"

"Apa?" Shasa menatap Rika, juga Bima. Apa-apa sih ini? Kenapa aku jadi bahan taruhan?

"Udahlah terima aja, beres!" sahut Rika dengan gampangnya pada Shasa. "Udah, dia pasti mau kok. Sudah ...." Ia meyakinkan Bima.

Bima masih terlihat bingung pada kedua gadis di hadapannya.

"Tunggu Kak." Shasa melihat iba pada Bima. "Kakak ...."

Belum selesai Shasa bicara, Rika memotongnya. "Aku ingin mengejar CEO yang bernama Abra yang ganteng itu. Kalian harus mendukungku. Terserah kalau kalian mau pacaran beneran atau bohongan, aku gak perduli tapi sekarang aku mau ngejar cowok itu jadi aku minta partisipasi kalian dengan sandiwara yang aku buat ini. Bisa kan?"

Shasa melihat wajah Bima yang kecewa. Pria itu menunduk sebentar kemudian menoleh ke arah Shasa. "Sha, kamu jadi pacar aku sekarang, mau kan?"

"Ta-tapi ...."

"Aku akan memasukkanmu kerja di perusahaanku."

"Bagus!" ucap Rika yang membuat Shasa makin tersudut.

"Ta-tapi ...."

"Sudah terima aja. Susah banget sih!" Rika makin mendesaknya. Ia membuka tasnya dan memperlihatkan buku note Shasa. "Gimana?"

"I-iya." terbata-bata Shasa menjawab karena tak punya pilihan.

Tiba-tiba Bima meraih lengan Shasa sambil mencondongkan wajahnya ke depan.

Cup!

Ia mengecup kening gadis itu.

____________________________________________

Baru perkenalan karakter ya Reader. Ikutin terus cerita di novel ini. Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiah-hadiah dan mungkin juga koin. Ini visual Abra atau Abraham Natawijaya, CEO muda dengan cinta sederhananya. Salam, ingflora. 💋

Author Ummu Salamah dengan novel berjudul My Love Forever menceritakan cinta yang berakhir dengan dendam.

Terpopuler

Comments

Nirwana Asri

Nirwana Asri

dasar muka dua

2022-08-13

2

Novi Ana

Novi Ana

jangan dibuat terlalu lemah dong thor tokoh utamanya.......paleng gk suka deh tokoh utama d tindas n gk bisa glawan kurang greget jadinya

2022-06-02

6

💞 NYAK ZEE 💞

💞 NYAK ZEE 💞

ada ya org ngak tau malu seperti Rika dan mudah2an Shasa org nya ngak lemah2 amat .... ngadepin kelakuannya Rika ...

2022-06-02

3

lihat semua
Episodes
1 Pesta Topeng
2 Pacaran
3 Pulang
4 Malam
5 Melamar Kerja
6 Mengintai
7 Makan Siang
8 Resah
9 Hubungan
10 Menyangkal
11 Kerja
12 Bertahan
13 Rencana
14 Kesempatan
15 Bantuan
16 Amarah
17 Perkenalan
18 Pergi
19 Memecah malam
20 Kecelakaan
21 Rumah Sakit
22 Kunjungan
23 Menunggu
24 Tuduhan
25 Berdua
26 Ayah Pulang
27 Apartemen
28 Pewaris
29 Foto iklan
30 Pantai
31 Sekretaris Dadakan
32 Om
33 Merawat Abra
34 Karena
35 Membuntuti
36 Syuting
37 Pernyataan Cinta
38 Keputusan
39 Makan Malam Dengan Damar
40 Kunjungan Bima
41 Keluarga
42 Aku
43 Kamu
44 Mengetahui
45 Kerja lagi
46 Pertengkaran
47 Abang
48 Sebuah Permohonan
49 Segenggam Maaf
50 Di Apartemen Abra
51 Pintu Hati
52 Mal
53 Mendadak Keluarga
54 Kelinciku
55 Perkara Cinta
56 Yang Datang Dan Yang Pergi
57 Awal
58 Mengejar Ketinggalan
59 Terbalik
60 Jebakan Panggung
61 Godaan
62 Awal Bencana
63 Dan Seterusnya
64 Berani
65 Sebuah Kelanjutan
66 Menyangkal
67 Insiden Cinta
68 Penghianatan?
69 Healing(penyembuhan)
70 Tuan Putri
71 Surat Pengunduran Diri
72 Berpisah
73 Cemburu
74 Teman Atau Pacar
75 Di Kejar
76 Perayaan
77 Kesempatan
78 Tak Pasti
79 Kucing
80 Pesta
81 Dilamar 1
82 Dilamar 2
83 Dilamar 3
84 Perjodohan
85 Rekonsiliasi
86 Berkunjung
87 Pilihan
88 Persiapan
89 Menikah
90 Rahasia
91 Sesuai Skenario
92 Tragedi Lingerie
93 Roadshow
94 Puisi Rindu Yang Terkekang
95 Makan Siang Yang Ricuh
96 Magic(Sihir)
97 Viral
98 Memulai Dari Nol
99 Pengangguran
100 Hidupku Bersamamu
101 Hari Baru
102 Hamil
103 Menjenguk Shasa
104 Kecewa
105 Belum Berakhir
106 Tak Terhentikan
107 Ujungnya
108 Kelahiran
109 Pernikahan
110 Pertemuan Meyakinkan
111 Terperangkap Kenyamanan
112 Ingin
113 Padamu
114 Aku Tanpamu
115 Ramai
116 Untukmu
117 Bertemu Kembali
118 Panggungku
119 Shasa Diculik!
120 Racun Merindu
121 Cincin
122 Ayah
123 Pengakuan
124 Yang Tersisa
125 Untuk Bahagia
126 Akhirnya
127 CEO And Twins
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Pesta Topeng
2
Pacaran
3
Pulang
4
Malam
5
Melamar Kerja
6
Mengintai
7
Makan Siang
8
Resah
9
Hubungan
10
Menyangkal
11
Kerja
12
Bertahan
13
Rencana
14
Kesempatan
15
Bantuan
16
Amarah
17
Perkenalan
18
Pergi
19
Memecah malam
20
Kecelakaan
21
Rumah Sakit
22
Kunjungan
23
Menunggu
24
Tuduhan
25
Berdua
26
Ayah Pulang
27
Apartemen
28
Pewaris
29
Foto iklan
30
Pantai
31
Sekretaris Dadakan
32
Om
33
Merawat Abra
34
Karena
35
Membuntuti
36
Syuting
37
Pernyataan Cinta
38
Keputusan
39
Makan Malam Dengan Damar
40
Kunjungan Bima
41
Keluarga
42
Aku
43
Kamu
44
Mengetahui
45
Kerja lagi
46
Pertengkaran
47
Abang
48
Sebuah Permohonan
49
Segenggam Maaf
50
Di Apartemen Abra
51
Pintu Hati
52
Mal
53
Mendadak Keluarga
54
Kelinciku
55
Perkara Cinta
56
Yang Datang Dan Yang Pergi
57
Awal
58
Mengejar Ketinggalan
59
Terbalik
60
Jebakan Panggung
61
Godaan
62
Awal Bencana
63
Dan Seterusnya
64
Berani
65
Sebuah Kelanjutan
66
Menyangkal
67
Insiden Cinta
68
Penghianatan?
69
Healing(penyembuhan)
70
Tuan Putri
71
Surat Pengunduran Diri
72
Berpisah
73
Cemburu
74
Teman Atau Pacar
75
Di Kejar
76
Perayaan
77
Kesempatan
78
Tak Pasti
79
Kucing
80
Pesta
81
Dilamar 1
82
Dilamar 2
83
Dilamar 3
84
Perjodohan
85
Rekonsiliasi
86
Berkunjung
87
Pilihan
88
Persiapan
89
Menikah
90
Rahasia
91
Sesuai Skenario
92
Tragedi Lingerie
93
Roadshow
94
Puisi Rindu Yang Terkekang
95
Makan Siang Yang Ricuh
96
Magic(Sihir)
97
Viral
98
Memulai Dari Nol
99
Pengangguran
100
Hidupku Bersamamu
101
Hari Baru
102
Hamil
103
Menjenguk Shasa
104
Kecewa
105
Belum Berakhir
106
Tak Terhentikan
107
Ujungnya
108
Kelahiran
109
Pernikahan
110
Pertemuan Meyakinkan
111
Terperangkap Kenyamanan
112
Ingin
113
Padamu
114
Aku Tanpamu
115
Ramai
116
Untukmu
117
Bertemu Kembali
118
Panggungku
119
Shasa Diculik!
120
Racun Merindu
121
Cincin
122
Ayah
123
Pengakuan
124
Yang Tersisa
125
Untuk Bahagia
126
Akhirnya
127
CEO And Twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!