Makan Siang

Sesekali Bima melirik Shasa yang diam tak bicara. Gadis ini sama sekali beda dengan Rika. Rika memang cantik tapi memusingkan, sedang sepupunya ini, dia pendiam dan tidak banyak bicara. Bahkan tipe penurut. Aku tidak begitu memperhatikannya sampai Rika menyuruhku berpacaran dengannya. Kadang-kadang tingkahnya lucu dan senyumnya sangat manis.

Aku tidak pernah memperhatikan perempuan selain Rika, sebetulnya, tapi sejak Rika menjodohkanku dengan gadis ini, aku lihat ia tidak terlampau buruk. Lagipula umurku terus merangkak naik dan orang tuaku di Jogja juga terus menanyakan soal pasangan. Kenapa tidak dicoba saja dengan Shasa, toh wajahnya juga tidak buruk. Dia gadis yang baik dan lembut.

Lain lagi dengan Shasa yang sedang diam membisu. Ia sedang memikirkan Abra. Mengapa aku bertemu lagi dengannya? Bukankah Rika berniat mau mengejarnya, tapi ke mana dia? Eh, itu kan jam kerja ya, kenapa Kak Abra ada di sana? Apa dia lagi janjian ketemu orang ya? Mmh, makin ganteng aja dia .... Shasa tersenyum senang.

"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"

Pertanyaan Bima menyadarkannya. "Oh, eh, itu. Senang saja sudah dapat kerjaan dengan cepat," jawab gadis itu panik.

"Oh."

Hampir saja. Aku memikirkan cowok lain. Ah! Tapi aku sebenarnya bingung dengan hubungan ini. Apa ini sungguhan? Kak Bima kan suka sama Kak Rika? Shasa melirik pria di sampingnya.

"Ada apa?" Bima ternyata menyadarinya.

"Kak, soal pacaran ini ...."

"Aku ingin mencobanya," potong Bima cepat. Ia tidak ingin membuat Shasa ragu padanya.

"Tapi Kak, segala sesuatu yang dimulai dengan paksaan tidak akan bagus hasilnya."

Bima meliriknya sambil tersenyum. "Aku tidak menyangka dengan umurmu yang masih muda begini kau terdengar sangat bijak."

Wajah Shasa memerah mendengar pujian Bima.

"Aku serius Shasa, aku tidak pernah tidak serius. Cinta bukan permainan aku tahu, jadi aku sungguh ingin mencobanya. Biarkan kau melihat kesungguhanku padamu. Apa ... kau tidak menyukaiku?"

Ditanya begitu, Shasa tidak bisa menjawabnya karena wajah kembali merah merona.

Bima langsung menebaknya. "Kamu suka padaku juga kan?"

Gadis itu tak berani menatap pria itu dan hanya melihat lurus ke depan.

"Kalau begitu, kenapa kita tidak sama-sama mencoba, kan kau tidak menolakku kan?"

Gadis itu masih diam.

"Kalau kita tidak saling cocok, aku tidak akan memaksamu. Kita bisa putus. Seperti aku dengan Rika."

Gadis itu menoleh. Pria itu terlihat bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Entah kenapa, walaupun pria itu berusaha meyakinkannya, ia merasa masih saja ada yang mengganjal di hatinya. Entah apa.

Mobil memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah hotel. Mobil itu mulai mencari tempat untuk parkir.

"Eh, Kak. Kenapa kita ke sini?" Shasa terlihat panik.

"Kita ketemu klien sambil makan siang."

"Apa?"

Bima melirik gadis itu, ia tertawa. "Shasa, kamu tidak berpikir aku akan melakukan sesuatu padamu kan?"

Gadis itu masih melongo.

"Aku tidak bohong." Pria itu masih tertawa.

Mobil diparkir di lantai dasar dan mereka naik lift ke lantai atas. Karena hanya berdua, Bima mendekati Shasa. Gadis itu sedikit panik dan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding, tapi pria itu tetap mendatanginya.

"Jangan-jangan kamu sudah menyukaiku sejak masih bersama Rika ya?" tebak Bima sambil meletakkan tangannya di samping wajah Shasa.

Gadis itu syok dengan manik mata yang membulat sempurna karena tubuhnya terkunci dengan pandangan dan tangan Bima. Dengan wajah memerah, Shasa sempat menelan ludah sebelum akhirnya ia buru-buru menjatuhkan pandangannya ke bawah menghindari pandangan pria itu karena malu.

"Bagus! Permulaan yang sempurna. Aku suka itu." Tiba-tiba pria itu berbalik bersandar pada dinding lift di samping Shasa dan menggenggam tangan gadis itu.

Gadis itu kembali terkejut tapi merasa lega. Bima tidak seperti yang ditakutkannya. Pria itu melirik gadis di sampingnya dengan senyum di kulum.

Pintu lift terbuka. Mereka sama-sama keluar dan gadis itu mengikuti Bima. Sambil menata hatinya, gadis itu bergegas mengekor pria itu. Bima pun tak lupa memperhatikan Shasa saat berjalan. Ia menunggunya saat gadis itu tak bisa mengikutinya.

Suasana hotel mulai ramai dan mereka telah mencapai restoran. Klien mereka tenyata telah menunggu mereka di sana.

Shasa mendampingi Bima bertemu klien dan berbicara. Baru pertama kalinya ia melihat sendiri bagaimana orang bicara bisnis sambil makan siang.

Seingatnya dulu, Papa dan Mamanya juga pernah bicara tentang berbisnis sambil makan siang dan kini ia bisa melihat bentuk nyatanya. Kedua orang tua Shasa bekerja di tempat berbeda. Ayahnya punya perusahaan sedang Ibunya berkarier di perusahaan ternama dengan posisi yang sudah tinggi pula. Ayahnya kebetulan menemani Ibunya ke Jepang. Sayang, saat kepulangan mereka, mobil mereka kecelakaan dan mereka dinyatakan meninggal di tempat.

"Ayo, Shasa," Bima menegur Shasa yang tidak menyentuh makanannya.

Gadis itu tanpa sadar hampir menjatuhkan air matanya kalau tidak ia segera seka. Bima memperhatikannya.

"Kamu kenapa?"

"Gak papa."

"Shasa ...." Bima memutar kursinya menatap gadis itu. Shasa malu karena klien mereka juga memperhatikan mereka.

"Gak papa Kak, eh Pak."

"Maaf ya, kami butuh waktu sebentar," pinta Bima pada kliennya. "Ini pacar saya. Dia lagi belajar bisnis."

"Eh, tidak apa-apa," Klien yang terdiri dari satu pria dan satu wanita itu memaklumi. Mereka juga salut pada Bima yang begitu perhatian pada Shasa.

"Kamu bener gak papa?" bisik Bima dengan lembut pada gadis itu.

"Maaf Pak, aku hanya tiba-tiba teringat kedua orang tuaku yang sudah tiada. Maaf," ucap gadis itu pelan.

"Mmh." Bima masih menatap Shasa. "Mau pulang atau bagaimana?"

"Ngak papa, teruskan aja. Aku gak papa," Shasa makin merasa bersalah.

"Tapi ini agak lama lho, kamu yakin?" tanya pria itu lembut.

"Iya aku senang kok Kak, eh Pak, bisa belajar." Shasa mulai tersenyum.

"Bener?" Bima berusaha memastikan.

"Bener." Shasa mengangguk.

"Kalo bener kamu makan ya?"

Shasa merapikan kursi merapat pada meja. Ia berusaha membuat pria itu percaya ia baik-baik saja. Hanya sebuah lintasan masa lalu yang membuatnya sedikit mengguncang dunianya, selebihnya ia adalah orang yang kuat. Ia akan buktikan itu pada Bima.

Pembicaraan bisnis sambil makan siang pun kembali lancar.

---------+++---------

"Kak!"

Abra menoleh. Ternyata Rika sudah kembali ke kantornya. "Kamu sudah selesai interview?"

"Sudah Kak, dan aku diterima." Rika meloncat-loncat senang sambil menghampiri pria itu.

"Eh, ini kan kantor. Kamu sekarang harus panggil aku Pak!"

Rika hampir saja memeluk pria itu dan akhirnya ia urungkan. Di sana kantor dan ia tidak bisa seenaknya.

"Kok ... Bapak, sudah kembali Pak? Sudah makan siang?" Rika sedikit kesulitan memanggil Abra 'Pak' karena pemuda itu masih terlihat muda.

"Belum. Ada yang mau aku periksa sebelum makan siang. Kenapa?"

"Ah, pas tuh. Aku juga belum makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"

Para pegawai dan Sekretaris Abra yang berada di situ menoleh pada gadis itu. Dengan mudahnya ia mengajak CEO stasiun tv itu makan siang, padahal banyak yang naksir Abra di sana tapi karena posisinya yang sudah cukup tinggi, tidak ada yang berani menggodanya karena selain takut ditolak mereka juga takut dipecat.

Abra berpikir sebentar. Mungkin kalau aku tahu rumahnya ... "Aku mau keliling sebentar. Kalau kamu mau menungguku di sini ...."

"Oh, iya. Aku tunggu Kak, eh Pak," potong Rika cepat. Ia sudah mendapat kesempatan dan ia tidak akan melepaskannya.

"Ok, tunggu di sini ya?"

Rika kembali duduk di kursinya. Abra mendatangi Sekretarisnya yang kesal melihat sikap Rika yang sok akrab.

Mentang-mentang cantik. huh!

"Ada berkas-berkas yang mesti aku tanda tangani?"

"Ah, belum ada Pak."

"Belum ada yang cari saya kan?"

"Ada tadi Pak, bagian berita sama sponsor. Sponsor di tempat biasa Pak."

"Ok, aku ke sana." Abra segera keluar sambil sekilas melirik Rika dan senyum di kulum.

Sudah setengah jam Rika menunggu bahkan hingga jam satu tapi Abra belum juga kembali. Ini membuat gelisah Rika karena sudah lewat jam makan dan ia lapar sekali. Kemudian 20 menit pun berlalu.

"Oh, maaf. Lama ya?" Kepala Abra muncul dari balik pintu.

"Oh, enggak," Rika berusaha tersenyum walaupun hatinya sedang kesal tak terkira. Cowok, gini amat. Gak peka! Untung ganteng dan tajir, kalo enggak uh ... boro-boro, pekik hati Rika. "Memangnya sering makan jam segini ya?"

"Ya ... namanya pekerjaan. Aku suka lupa kalo lagi fokus."

"Jangan gitu eh, Pak. Nanti sakit."

Abra tertawa pelan. "Iya." Pria itu menatap gadis itu sejenak. "Seharusnya kamu jangan tunggu aku tadi ya, pasti sekarang kamu kelaparan."

"Eh, gak papa sih. Aku baru lapar sekarang. Beneran!" Gadis membuat huruf 'V' dengan jarinya.

"Oh, ya udah. Ayo!"

Gadis itu dengan santainya memeluk lengan Abra, berusaha membuat iri karyawan di sana dengan keakraban mereka karena ia sadari mereka terlihat mulai tidak menyukai keberadaannya.

"Eh, apa ini?" Abra menunjuk tangan gadis itu yang sudah melingkar di lengannya.

Ternyata apa yang dilakukannya malah menuai pandangan aneh pada sekeliling dan juga protes Abra.

Rika melepas lengan pria itu dengan wajah malu. "Ma-maaf."

"Ok, aku maafkan kali ini."

Kalimat Abra pun juga tidak menyelamatkan gadis itu dari rasa malu. Ih, gak peka! Jahat banget sih! Awas aja kalo kamu udah cinta ama aku, aku bikin kamu nangis darah berhari-hari gak dapetin aku, batin Rika kesal.

"Ayo, kita ke parkiran."

Di dalam mobil perut Rika berbunyi. Ih, rese! Bunyi lagi. Ia menyentuh perutnya.

Abra hampir tertawa. "Wah sudah lapar sekali ya? Maaf."

Rika memberikan senyum termanisnya, walaupun berat.

"Kamu mau makan di mana?"

"Aku suka restoran Itali, La Luna atau restoran Jepang, Cha Seven."

Mmh, pelanggan restoran mewah rupanya. "Tapi kedua restoran itu jauh dari sini. Apa perutmu kuat menunggu sampai ke sana? Lagi pula tempat itu juga berada di daerah macet, sejam rasanya belum tentu sampai."

Rika terlihat kecewa. "Jadi kita makan di mana?"

"Daerah sini juga macet, tuh kamu lihat sendiri." Abra menunjuk pada mobil dan motor yang banyak dan menumpuk di depan mereka ketika mobil mereka bisa keluar dari pagar gedung. Padat walaupun mobil masih bisa melaju pelan.

"Lalu?"

"Kalau deket sini ada warteg sama ... oh, Hotdog Ekspres."

Wajah Rika terlihat jijik, pasalnya gadis itu tidak pernah makan di warteg dan ia merasa makan di sana sangat kotor dan hanya orang miskin saja yang makan di sana. "Hotdog Ekspres saja." Pilihan yang sangat sulit sebab ia belum pernah makan di sana.

____________________________________________

Author As Cempreng menuliskan tema yang sedikit menantang dengan kisah cinta yang berbalut dengan masalah perdagangan manusia. Cekidot!

Terpopuler

Comments

Novi Ana

Novi Ana

semoga abra tidak pernah tertarik ma rika .....terus semangat thor

2022-06-08

3

lihat semua
Episodes
1 Pesta Topeng
2 Pacaran
3 Pulang
4 Malam
5 Melamar Kerja
6 Mengintai
7 Makan Siang
8 Resah
9 Hubungan
10 Menyangkal
11 Kerja
12 Bertahan
13 Rencana
14 Kesempatan
15 Bantuan
16 Amarah
17 Perkenalan
18 Pergi
19 Memecah malam
20 Kecelakaan
21 Rumah Sakit
22 Kunjungan
23 Menunggu
24 Tuduhan
25 Berdua
26 Ayah Pulang
27 Apartemen
28 Pewaris
29 Foto iklan
30 Pantai
31 Sekretaris Dadakan
32 Om
33 Merawat Abra
34 Karena
35 Membuntuti
36 Syuting
37 Pernyataan Cinta
38 Keputusan
39 Makan Malam Dengan Damar
40 Kunjungan Bima
41 Keluarga
42 Aku
43 Kamu
44 Mengetahui
45 Kerja lagi
46 Pertengkaran
47 Abang
48 Sebuah Permohonan
49 Segenggam Maaf
50 Di Apartemen Abra
51 Pintu Hati
52 Mal
53 Mendadak Keluarga
54 Kelinciku
55 Perkara Cinta
56 Yang Datang Dan Yang Pergi
57 Awal
58 Mengejar Ketinggalan
59 Terbalik
60 Jebakan Panggung
61 Godaan
62 Awal Bencana
63 Dan Seterusnya
64 Berani
65 Sebuah Kelanjutan
66 Menyangkal
67 Insiden Cinta
68 Penghianatan?
69 Healing(penyembuhan)
70 Tuan Putri
71 Surat Pengunduran Diri
72 Berpisah
73 Cemburu
74 Teman Atau Pacar
75 Di Kejar
76 Perayaan
77 Kesempatan
78 Tak Pasti
79 Kucing
80 Pesta
81 Dilamar 1
82 Dilamar 2
83 Dilamar 3
84 Perjodohan
85 Rekonsiliasi
86 Berkunjung
87 Pilihan
88 Persiapan
89 Menikah
90 Rahasia
91 Sesuai Skenario
92 Tragedi Lingerie
93 Roadshow
94 Puisi Rindu Yang Terkekang
95 Makan Siang Yang Ricuh
96 Magic(Sihir)
97 Viral
98 Memulai Dari Nol
99 Pengangguran
100 Hidupku Bersamamu
101 Hari Baru
102 Hamil
103 Menjenguk Shasa
104 Kecewa
105 Belum Berakhir
106 Tak Terhentikan
107 Ujungnya
108 Kelahiran
109 Pernikahan
110 Pertemuan Meyakinkan
111 Terperangkap Kenyamanan
112 Ingin
113 Padamu
114 Aku Tanpamu
115 Ramai
116 Untukmu
117 Bertemu Kembali
118 Panggungku
119 Shasa Diculik!
120 Racun Merindu
121 Cincin
122 Ayah
123 Pengakuan
124 Yang Tersisa
125 Untuk Bahagia
126 Akhirnya
127 CEO And Twins
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Pesta Topeng
2
Pacaran
3
Pulang
4
Malam
5
Melamar Kerja
6
Mengintai
7
Makan Siang
8
Resah
9
Hubungan
10
Menyangkal
11
Kerja
12
Bertahan
13
Rencana
14
Kesempatan
15
Bantuan
16
Amarah
17
Perkenalan
18
Pergi
19
Memecah malam
20
Kecelakaan
21
Rumah Sakit
22
Kunjungan
23
Menunggu
24
Tuduhan
25
Berdua
26
Ayah Pulang
27
Apartemen
28
Pewaris
29
Foto iklan
30
Pantai
31
Sekretaris Dadakan
32
Om
33
Merawat Abra
34
Karena
35
Membuntuti
36
Syuting
37
Pernyataan Cinta
38
Keputusan
39
Makan Malam Dengan Damar
40
Kunjungan Bima
41
Keluarga
42
Aku
43
Kamu
44
Mengetahui
45
Kerja lagi
46
Pertengkaran
47
Abang
48
Sebuah Permohonan
49
Segenggam Maaf
50
Di Apartemen Abra
51
Pintu Hati
52
Mal
53
Mendadak Keluarga
54
Kelinciku
55
Perkara Cinta
56
Yang Datang Dan Yang Pergi
57
Awal
58
Mengejar Ketinggalan
59
Terbalik
60
Jebakan Panggung
61
Godaan
62
Awal Bencana
63
Dan Seterusnya
64
Berani
65
Sebuah Kelanjutan
66
Menyangkal
67
Insiden Cinta
68
Penghianatan?
69
Healing(penyembuhan)
70
Tuan Putri
71
Surat Pengunduran Diri
72
Berpisah
73
Cemburu
74
Teman Atau Pacar
75
Di Kejar
76
Perayaan
77
Kesempatan
78
Tak Pasti
79
Kucing
80
Pesta
81
Dilamar 1
82
Dilamar 2
83
Dilamar 3
84
Perjodohan
85
Rekonsiliasi
86
Berkunjung
87
Pilihan
88
Persiapan
89
Menikah
90
Rahasia
91
Sesuai Skenario
92
Tragedi Lingerie
93
Roadshow
94
Puisi Rindu Yang Terkekang
95
Makan Siang Yang Ricuh
96
Magic(Sihir)
97
Viral
98
Memulai Dari Nol
99
Pengangguran
100
Hidupku Bersamamu
101
Hari Baru
102
Hamil
103
Menjenguk Shasa
104
Kecewa
105
Belum Berakhir
106
Tak Terhentikan
107
Ujungnya
108
Kelahiran
109
Pernikahan
110
Pertemuan Meyakinkan
111
Terperangkap Kenyamanan
112
Ingin
113
Padamu
114
Aku Tanpamu
115
Ramai
116
Untukmu
117
Bertemu Kembali
118
Panggungku
119
Shasa Diculik!
120
Racun Merindu
121
Cincin
122
Ayah
123
Pengakuan
124
Yang Tersisa
125
Untuk Bahagia
126
Akhirnya
127
CEO And Twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!