Resah

Rika dan Abra akhirnya makan di sebuah restoran Fast Food, Hotdog Ekspress. Mereka duduk di salah satu sudut ruang restoran yang ramai sambil menikmati makanan mereka, seharusnya.

"Mmh, lumayan." Rika tak punya pilihan lain dan ia kelaparan. Ia mengunyah makanannya dengan wajah aneh yang entah.

"Lumayan, kenapa wajahmu seperti itu?" Abra melahap makanannya dengan santai, tidak seperti gadis itu yang coba merasa-rasa apa yang sedang ia makan. Ia seperti takut salah makan dan muntah. Alisnya sampai-sampai membumbung tinggi mungkin karena ngeri di tolak lambung.

Pelan-pelan gadis itu mulai bisa menelan makanannya karena mulai berdamai dengan rasa atau mungkin perutnya tak lagi kompromi menahan lapar. "Ya ... ok."

Abra hampir tertawa. Gadis itu menaikkan standarnya terlampau tinggi sedang kualitas dirinya belum tentu. Sebuah potret remaja jaman sekarang yang terlalu tinggi bermimpi, sedang Shasa terlihat seperti potret gadis yang realistis. Gadis berjilbab itu berusaha berbaur dengan sekitar saat ia mulai bekerja.

Mereka berdua berbanding terbalik dalam sifat. Abra segera mengetahuinya saat berusaha mengenal mereka berdua dari dekat. "Jangan berlama-lama makannya karena aku harus bekerja lagi."

Ih, tega banget. Ini gue, gitu lho! Cewek cantik yang diminati banyak cowok. Saat aku bersamamu, sabar sedikit dong. Cewek, mana bisa sih makan buru-buru? Bisa pegel gigiku kalo harus mengunyah bak singa lapar, Rika menatap Abra kesal.

"Ada apa?" Abra sengaja pura-pura tidak peka. Ia mencoba menyelesaikan makan Hotdog-nya dan mengusap mulutnya dengan tisu. Ia menyeruput dari sedotan, milkshake-nya di gelas plastik berukuran sedang.

"Mmh, enggak. Aku ...." Rika diam sejenak. Ia menunduk. "Tadi aku nyasar Kak, tapi akhirnya sampe juga ke stasiun tv. Kakak bisa ngak anterin aku pulang ke rumah, soalnya aku gak tau jalan," pintanya.

"Sekarang?" Abra memang sudah berpikir akan ke sana arah pembicaraannya sebab stasiun tv itu besar dan terkenal dan tak mungkin Rika tidak menemukan tempat itu apalagi ia naik taksi ke stasiun tv itu. Namun ini memang yang dinantikannya saat Rika mengajak makan bersama. Barangkali saat mengantar gadis itu ia bisa tahu tempat tinggal Shasa.

"Eh, iya kalo bisa. Kakak kan yang punya perusahaan, jadi membolos beberapa jam kan tidak masalah," Rika mulai membujuk pria itu.

Oh, begitu teorinya. "Baiklah, untuk kali ini aku kabulkan." Dengan wajah sedikit menyesal yang dibuat-buat Abra mengiyakan.

"Maaf ya Kak," Rika menyentuh tangan pria itu.

"Iya, gak papa."

Rika tidak menghabiskan makannya, tapi ia cukup senang karena pria itu mau mengantarnya pulang. Abra hanya mengantarnya sampai depan pagar rumah gadis itu.

"Kok gak masuk Kak?"

"Maaf, kerjaanku banyak. Aku gak bisa lama-lama. Jadi kamu tinggal di sini?" Abra memperhatikan rumah mewah di depannya. Mmh ... pantas. Makanannya gak mau yang murah.

"Iya Kak. Kapan-kapan main ke sini ya," ajak Rika ramah. Ia berusaha memberikan senyum terbaiknya.

"Lalu sepupumu tinggal di mana? Deket sini juga?"

Raut wajah Rika seketika berubah menjadi sebal. "Ngapain cari anak yatim piatu itu? Dia kan numpang di rumah aku!"

Abra terkejut. Yatim piatu? Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah reaksi Rika saat ditanya soal sepupunya. Setega itu ia bicara tentang sepupunya?

"Oh, maaf ...." Abra tidak tahu harus bereaksi apa karena saking terkejutnya.

"Aku ngomong gini karena dia bukan level Kakak. Daripada Kakak nyesel cari-cari dia tapi Kakak kecewa, lebih baik dari sekarang-sekarang Kakak tau siapa dia. Dia udah aku jodohin sama mantan pacar aku Kak."

Jodohin? Berarti aku boleh mengejarnya dong? Apa mereka sudah jadian? Hanya itu yang terlintas di kepala Abra saat itu. "Eh, aku permisi dulu."

"Iya Kak."

Rika tak curiga saat Abra bergegas pergi.

Shasa, kau selalu beruntung. Aku tidak mau Abra mengejarmu juga karena itu dia kuberi tahu siapa kamu sebenarnya. Mmh! Kau tidak boleh lebih beruntung dari aku, pokoknya. Sampai kapanpun! Rika melihat kepergian Abra dengan mobilnya dengan mengeratkan geraham.

Abra menghentikan mobilnya di jalan dan menepi. Ia masih menggenggam stir mobil sebelum akhirnya perlahan menurunkan tangan. Pandangannya masih mengawan.

Namun kemudian ia mengeratkan geraham. Ia kembali meninju stir mobil dengan keras. Kesal, hatinya terombang ambing tak menentu.

Kemudian ia menyerah dengan melipat tangannya di atas stir mobil dan menenggelamkan kepalanya di sana. Namun itu hanya sebentar. Ia mengangkat kepalanya.

Kenapa aku bisa sebodoh ini karena cinta? Mereka pasti sudah pacaran kan? Terus, apa yang kucari sekarang? Menunggu mereka putus? Bodohnya ... Bagaimana kalau mereka sampai ke pelaminan? Abra mendesah panjang dan berat. Ia menjatuhkan punggungnya di sandaran mobil.

Cinta itu luar biasa. Kau baru saja mengenalnya tapi takut kehilangannya, ia mencibir dirinya sendiri. Kau memang sanggup menjungkir balikkan duniaku, Shasa.

Pria itu menghembuskan napas kasar dan mengacak-ngacak poninya. Ia menyandarkan sedikit sikunya di pinggiran kaca mobil di sampingnya sambil mencubit bibir.

Shasa, aku harus bagaimana? Alasanku menetap adalah kamu. memikirkanmu. Kalau aku tidak mendapatkanmu aku harus bagaimana?

Ia masih mengingat bagaimana Shasa menolaknya saat mengajaknya makan siang bersama. Berarti ... mereka sudah pacaran kan? Hanya sunyi yang menjawab sepi.

Lama Abra terdiam di dalam mobil, tapi kemudian ia bergerak maju.

Aku tahu ini tidak ada untungnya untukku, menunggumu, tapi aku memilih yang tak pasti. Aku tahu ini mungkin akan sia-sia atau bahkan hanya akan membuatku sakit hati tapi aku ingin menunggumu ... sebab hatiku, duniaku dan seluruh isinya hanya menatap ke arahmu.

Mungkin, sebenarnya aku hanya ingin menunggu sampai hatiku siap melepasmu tapi sekarang, aku hanya ingin melihatmu. Bolehkan? Mata ini masih belum mau jauh darimu.

Abra menghidupkan mesin mobilnya. Tak lama, mobil itu meninggalkan tempat itu.

--------+++--------

Pintu diketuk dan kepala Abra muncul. "Kak."

"Ya, masuk." Kevin yang sedang memperhatikan berkas-berkas di hadapannya segera mengalihkan pandangan. Ia menatap lurus ke arah adiknya yang mendatanginya.

"Ada apa Kak?"

"Gimana persiapan Konser artis Gania, sudah berapa persen?"

"Sudah 80 persen Kak. Tinggal bikin panggung baru dan lagi dibuat konsepnya sama anak-anak." Abra menyebut 'anak-anak' pada pegawainya. "Artisnya sendiri gak masalahin panggungnya asal nyaman bergerak aja."

"Ya, sudah, teruskan. Pantau terus ya, soalnya artisnya mau konser di tv karena kamu, jadi jangan kecewakan dia karena artis satu itu terkenal sulit diajak kompromi."

"Iya Kak."

"Pastikan apa-apa yang dimintanya, sesuai."

Abra mengangguk.

"Aku ingin tahu apa kamu sudah menemukan program baru pengganti acara hiburan dari Jepang itu, soalnya masa putarnya sudah habis. Kita bisa saja memutar ulang tapi akan mengecewakan penonton."

"Itu jamnya bukan Prime Time(jam tayang utama) jadi kalau dibuat ulangan, gak masalah. Kalau bisa diputar ulang siaran dari jam tayang lain lebih baik lagi jadi kesannya tidak monoton."

"Kamu sendiri sedang developing (mengembangkan) program apa?"

"Aku ada program satu tentang pariwisata, jalan-jalan menggandeng salah satu maskapai penerbangan dan sedang mencari presenternya, tapi aku belum tahu fokus di apanya. Apa penginapan, makanan atau tempat pariwisatanya."

"Mmh, boleh juga. Apalagi?"

Abra melirik kakaknya dengan kesal. Memangnya gampang membuat program acara? Dia hanya menyetujui atau tidak program yang aku tawarkan dan kemudian menggelontorkan dana. Hanya itu. Setelah itu, kalau ada peresmian atau pembukaan perdana aku yang mengurusnya juga. Dia hanya duduk manis sambil menikmati acara tapi kenapa ia terus menekanku dengan banyak pekerjaan? Bantuin kasih ide kek, enggak juga, Abra membatin.

"Kak Kevin punya ide gak?"

"Itu kan bukan tugasku," jawab pria kaku itu acuh.

"Ya, paling tidak membantu memberi ide biar program kita banyak pilihan bagusnya. Biar nanti aku yang 'godok' dilapangan."

"Lho, itu kan sebenarnya tugas Tim Kreatifmu jadi kamu tinggal tanya mereka, kenapa kamu yang susah?" jawab pria berwajah es ini tak mau tahu.

Yah, gak tau sih gimana susahnya nyari ide tayangan. Tim Kreatif tidak selalu bisa diandalkan. Lalu gimana? Kitanya juga kan yang harus turun tangan? "Iya Kak."

"Ya sudah, beri tahu aku kalau ada perkembangan lainnya."

----------+++-----------

Pintu dibuka oleh seorang pembantu. Damar dan Papanya masuk ke dalam rumah. Damar bekerja di perusahaan keluarga bersama ayahnya.

"Oh, Rika. Kamu sudah pulang?" Papa Rika melihat anak gadisnya sedang makan sendirian di meja makan. "Mama mana?"

"Masih di kampus, ngajar."

Mama Rika adalah seorang dosen di salah satu kampus swasta.

"Shasa?"

Rika menoleh dengan malas. "Belum pulang."

"Mmh."

"Papa kok gak nanyain aku?" ucap Rika kesal.

Damar hampir tertawa.

"Apaan lho, menertawakan penderitaan gue?" Gadis itu menatap tajam pada Kakaknya.

"Ih, gitu. Taunya nyolot," ujar Damar santai.

"Eh, udah. Gitu aja bertengkar. Kenapa Shasa belum pulang ya, kan sudah malam." Papa Rika masih memikirkan ponakannya itu.

"Mana aku tau. Main kali sama temannya," ucap Rika sinis.

"Mmh."

"Ih, kok gak jadi nanyain akuuu," rengek gadis itu.

Kali ini Damar benar-benar tertawa.

"Eh, iya. Kamu bagaimana? Diterima?"

"Iya dong. Aku mulai besok kerja di stasiun tv," jawab gadis itu senang.

"Wah, hebat ya anak ayah," Papa Rika mengusap pucuk kepala anaknya.

'Makanya ayah harus percaya, anak ayah bisa, bukannya malah mematahkannya. Buktinya aku diterima walau cuma punya ijazah SMA," jawab gadis itu sengit.

"Maaf deh, ayah salah."

"Paling karena ada temennya di sana dia masuk jalur belakang," sindir Damar.

"Enak aja, gue ikut tes lho ya, gak kayak elo cuma bisa ngintilin bokap," ucap Rika pedas.

Damar menggebrak meja dengan keras.

"Emang elo gak bisa apa-apa kalo gak dibantu Papa," Rika makin mencibir Kakaknya.

Manik mata Damar melotot tajam pada adiknya. Ingin rasanya ia mencekik karena mulut lancangnya itu kalau saja ia tidak ingat itu mulut berbisa adiknya.

"Udah, udah. Kenapa jadi berantem masalah sepele ini sih. Udah, baikan! Kita kan keluarga?"

"Ogah!" ucap Rika dan Damar berbarengan. Mereka saling melengoskan wajah mereka ke arah lain.

Tak lama terdengar suara pintu gerbang dibuka dan masuk sebuah mobil sedan ke dalam perkarangan membuat ketiganya penasaran. Tentu saja karena pintu utama terbuka lebar dan mereka mengenali mobil siapa yang datang. Shasa dan Bima keluar dari mobil itu.

"Eh, Pak maaf terlambat. Tadi ada klien tiba-tiba datang jadi terpaksa kami meeting dulu," ujar Bima menerangkan keterlambatannya.

Papa Rika menatap Shasa dan Bima bergantian. Kenapa Shasa diantar pulang olehnya? "Kalian pacaran?"

Terpopuler

Comments

Novi Ana

Novi Ana

semangat untuk abra shasa mash bisa km raih kok

2022-06-08

3

lihat semua
Episodes
1 Pesta Topeng
2 Pacaran
3 Pulang
4 Malam
5 Melamar Kerja
6 Mengintai
7 Makan Siang
8 Resah
9 Hubungan
10 Menyangkal
11 Kerja
12 Bertahan
13 Rencana
14 Kesempatan
15 Bantuan
16 Amarah
17 Perkenalan
18 Pergi
19 Memecah malam
20 Kecelakaan
21 Rumah Sakit
22 Kunjungan
23 Menunggu
24 Tuduhan
25 Berdua
26 Ayah Pulang
27 Apartemen
28 Pewaris
29 Foto iklan
30 Pantai
31 Sekretaris Dadakan
32 Om
33 Merawat Abra
34 Karena
35 Membuntuti
36 Syuting
37 Pernyataan Cinta
38 Keputusan
39 Makan Malam Dengan Damar
40 Kunjungan Bima
41 Keluarga
42 Aku
43 Kamu
44 Mengetahui
45 Kerja lagi
46 Pertengkaran
47 Abang
48 Sebuah Permohonan
49 Segenggam Maaf
50 Di Apartemen Abra
51 Pintu Hati
52 Mal
53 Mendadak Keluarga
54 Kelinciku
55 Perkara Cinta
56 Yang Datang Dan Yang Pergi
57 Awal
58 Mengejar Ketinggalan
59 Terbalik
60 Jebakan Panggung
61 Godaan
62 Awal Bencana
63 Dan Seterusnya
64 Berani
65 Sebuah Kelanjutan
66 Menyangkal
67 Insiden Cinta
68 Penghianatan?
69 Healing(penyembuhan)
70 Tuan Putri
71 Surat Pengunduran Diri
72 Berpisah
73 Cemburu
74 Teman Atau Pacar
75 Di Kejar
76 Perayaan
77 Kesempatan
78 Tak Pasti
79 Kucing
80 Pesta
81 Dilamar 1
82 Dilamar 2
83 Dilamar 3
84 Perjodohan
85 Rekonsiliasi
86 Berkunjung
87 Pilihan
88 Persiapan
89 Menikah
90 Rahasia
91 Sesuai Skenario
92 Tragedi Lingerie
93 Roadshow
94 Puisi Rindu Yang Terkekang
95 Makan Siang Yang Ricuh
96 Magic(Sihir)
97 Viral
98 Memulai Dari Nol
99 Pengangguran
100 Hidupku Bersamamu
101 Hari Baru
102 Hamil
103 Menjenguk Shasa
104 Kecewa
105 Belum Berakhir
106 Tak Terhentikan
107 Ujungnya
108 Kelahiran
109 Pernikahan
110 Pertemuan Meyakinkan
111 Terperangkap Kenyamanan
112 Ingin
113 Padamu
114 Aku Tanpamu
115 Ramai
116 Untukmu
117 Bertemu Kembali
118 Panggungku
119 Shasa Diculik!
120 Racun Merindu
121 Cincin
122 Ayah
123 Pengakuan
124 Yang Tersisa
125 Untuk Bahagia
126 Akhirnya
127 CEO And Twins
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Pesta Topeng
2
Pacaran
3
Pulang
4
Malam
5
Melamar Kerja
6
Mengintai
7
Makan Siang
8
Resah
9
Hubungan
10
Menyangkal
11
Kerja
12
Bertahan
13
Rencana
14
Kesempatan
15
Bantuan
16
Amarah
17
Perkenalan
18
Pergi
19
Memecah malam
20
Kecelakaan
21
Rumah Sakit
22
Kunjungan
23
Menunggu
24
Tuduhan
25
Berdua
26
Ayah Pulang
27
Apartemen
28
Pewaris
29
Foto iklan
30
Pantai
31
Sekretaris Dadakan
32
Om
33
Merawat Abra
34
Karena
35
Membuntuti
36
Syuting
37
Pernyataan Cinta
38
Keputusan
39
Makan Malam Dengan Damar
40
Kunjungan Bima
41
Keluarga
42
Aku
43
Kamu
44
Mengetahui
45
Kerja lagi
46
Pertengkaran
47
Abang
48
Sebuah Permohonan
49
Segenggam Maaf
50
Di Apartemen Abra
51
Pintu Hati
52
Mal
53
Mendadak Keluarga
54
Kelinciku
55
Perkara Cinta
56
Yang Datang Dan Yang Pergi
57
Awal
58
Mengejar Ketinggalan
59
Terbalik
60
Jebakan Panggung
61
Godaan
62
Awal Bencana
63
Dan Seterusnya
64
Berani
65
Sebuah Kelanjutan
66
Menyangkal
67
Insiden Cinta
68
Penghianatan?
69
Healing(penyembuhan)
70
Tuan Putri
71
Surat Pengunduran Diri
72
Berpisah
73
Cemburu
74
Teman Atau Pacar
75
Di Kejar
76
Perayaan
77
Kesempatan
78
Tak Pasti
79
Kucing
80
Pesta
81
Dilamar 1
82
Dilamar 2
83
Dilamar 3
84
Perjodohan
85
Rekonsiliasi
86
Berkunjung
87
Pilihan
88
Persiapan
89
Menikah
90
Rahasia
91
Sesuai Skenario
92
Tragedi Lingerie
93
Roadshow
94
Puisi Rindu Yang Terkekang
95
Makan Siang Yang Ricuh
96
Magic(Sihir)
97
Viral
98
Memulai Dari Nol
99
Pengangguran
100
Hidupku Bersamamu
101
Hari Baru
102
Hamil
103
Menjenguk Shasa
104
Kecewa
105
Belum Berakhir
106
Tak Terhentikan
107
Ujungnya
108
Kelahiran
109
Pernikahan
110
Pertemuan Meyakinkan
111
Terperangkap Kenyamanan
112
Ingin
113
Padamu
114
Aku Tanpamu
115
Ramai
116
Untukmu
117
Bertemu Kembali
118
Panggungku
119
Shasa Diculik!
120
Racun Merindu
121
Cincin
122
Ayah
123
Pengakuan
124
Yang Tersisa
125
Untuk Bahagia
126
Akhirnya
127
CEO And Twins

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!