"Ibu bicara apa? Kerjanya bagus kok. Dia bisa diandalkan. Lagi pula, aku tidak bisa mengeluarkan orang sembarangan tanpa sebab yang jelas."
"Tapi posisinya sangat berbahaya. Dia bisa setiap waktu mengambil posisimu sebagai GM(General Manager), kevin." Ibu Kevin menarik kursi di samping anaknya dan duduk sambil meletakkan gelas berisi air putih di atas meja makan.
"Memang kenapa? Dia kan anak Ayah?"
"Kau anak pertama. Kaulah yang harusnya memiliki tv itu."
"Ibu, apa ibu lupa? Saat Ibu melahirkan aku, Ibu minta cerai dari Ayah sehingga Ayah menikah lagi dengan mantan pacarnya yang orang Jerman itu. Wanita itu masuk Islam demi menikah dengan Ayah. Walaupun umurnya tak panjang tapi dia jadi Istri pertamanya secara hukum. Dia Ibu Abra Bu, dan dia gak masalah ketika Ayah menikah lagi dengan Ibu."
"Itu karena kami dijodohkan oleh kakekmu. Ibu sudah punya pacar waktu itu, jadi setengah hati menikah dengan Ayahmu."
"Lah terus, kenapa Ibu bercerai dengan Ayah? Toh, mantan yang dikejar juga pada akhirnya ninggalin Ibu dan menikah dengan orang lain jadi Ibu terpaksa menikah lagi dengan Ayah kan?"
"Itu atas desakan Kakekmu," Ibu Kevin menggerutu, ia memainkan tali bajunya. "Juga demi kamu Ibu lakukan itu."
"Ayah tetap yang terbaik kan? Buktinya ada Diandra setelah itu."
Ibu Kevin menatap anaknya. Garis-garis halus di wajahnya tidak menyebabkan ia kehilangan kecantikannya yang masih tersisa. Ia menyentuh wajah anaknya dengan lembut. "Ibu melakukan itu karena ibu sayang kamu Nak. Ibu memikirkan masa depanmu."
Kevin menyentuh tangan Ibunya yang sedang membelai wajahnya. "Ibu, Abra bukan ancaman. Usaha Ayah kan banyak. Ada hotel dengan beberapa cabangnya."
"Tapi itu Ayahmu pegang sendiri. Dia malah memasukkan Abra ke stasiun tv itu. Kenapa tidak ke hotel saja, biar stasiun tv itu untukmu. Aku sudah bilang begitu tapi Ayah bilang, aku tidak usah ikut campur." Ibu Kevin menarik tangannya sambil merengut. Terlihat sekali wanita ini, walaupun sudah paruh baya tapi sifatnya masih kekanak-kanakan.
Kevin melengkungkan bibirnya setiap kali Ibunya merajuk. Selalu ia yang berusaha mendinginkannya. "Ibu, aku sudah dewasa Bu, Ibu sudah tidak perlu memikirkan aku lagi. Lagi pula aku dan Abra juga sama-sama anak Ayah, demikian pula Diandra. Kami juga telah dewasa jadi Ibu tak perlu pusing dengan hidup kami, karena kami bisa mengurusnya dengan baik."
"Ngomong-ngomong, adikmu ke mana, Ibu tidak lihat dari tadi?" Ibu Kevin baru menyadarinya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Ibu tidur sih. Dia baru pulang juga tadi bareng aku."
"Sudah tidur?" Ibu Kevin berdiri dari kursinya.
"Entahlah Bu. Ibu cek saja."
"Mmh. Belakangan sejak lulus kuliah, kerjanya suka keluyuran gak jelas jadi ibu takut kenapa-kenapa."
"Nah, kalo Diandra, Ibu pantas cemas." Kevin tertawa.
"Iya. Ibu ke kamarnya dulu." Wanita itu langsung menaiki anak tangga menuju kamar anak perempuannya.
Sementara itu Abra keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia memeriksa hp-nya yang ternyata ada miss call dari seseorang. Ia tersenyum dan langsung menghubunginya. "Halo Ayah. Tadi Ayah telepon?"
"Oh, iya. Bagaimana adaptasimu dengan lingkungan kerja di Indonesia? Kamu bisa kan kerjasama dengan Kevin? Kakakmu itu biar terlihat keras dia care(peduli) sama kamu, Abra."
"Iya Yah."
"Mmh?"
"Kenapa?"
"Kau ... tidak minta pulang ke Amerika? Tumben. Kemarin-kemarin kamu masih ingin minta pulang ke Amerika karena tidak betah." Ayah Abra terdengar bingung.
"Mmh ...." Abra berdehem sebentar. "Mungkin saat itu aku masih belum menikmati enaknya tinggal di Jakarta. Masih terbawa suasana di Boston karena aku sekolah di sana, but ... frankly speaking(tapi ... jujur) aku sudah mulai adaptasi Ayah, di sini."
"Mmh, berarti kamu sudah mulai punya teman di sana. Atau bahkan pacar?"
Abra tertawa. Kenapa Ayah tahu saja?"Ya, itu bagian dari adaptasi."
"Syukurlah. Ini negrimu juga Abra, walaupun keluarga Ibumu tinggal di Amerika dan Jerman tapi Ayahmu ini orang Indonesia. Kenali negri Indonesia ini walaupun hanya di Jakarta. Ayah ingin kamu tinggal di Jakarta. Walaupun sejak kematian Ibumu kamu ingin mandiri dan tinggal di luar negri bersama keluarga Ibumu tapi sudah saatnya kau kembali ke Jakarta dan bekerja di sana. Jangan khawatirkan tentang Ibu dan Saudara Tirimu itu karena kamu anak Ayah. Mereka keluargamu juga, sudah pasti mereka harus menerimamu."
Ayah Abra tahu, hubungan Abra dan Ibu Tirinya tidak begitu baik sehingga Abra mengalah dan memilih sekolah di luar negri sendirian, tapi Abra anak kandungnya juga karena ia juga punya banyak rencana untuk masa depan anak-anaknya, Kevin, Abra dan Diandra. Karena itulah ia meminta Abra pulang, padahal di Boston, Abra sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta terkenal dan baru saja dipromosikan sebagai Manager di sana. Abra baru beberapa bulan tinggal di Indonesia dan Ayah Abra berharap Abra bisa menetap di Jakarta.
"Jangan khawatirkan itu Ayah, aku sibuk bekerja."
"Mmh. Apa kamu punya pacar?"
"Ayah!" Abra tertawa.
"Sepertinya ya? Karena tidak mungkin kamu berubah pikiran dengan cepat seperti ini. Kemarin-kemarin kamu masih memohon untuk minta kembali ke Boston."
"Sudahlah Ayah. Yang penting aku mulai betah tinggal di Jakarta. Ngomong-ngomong Ayah kapan pulang? Ayah sepertinya nih yang jadi betah tinggal di Amerika," ledek Abra lagi.
Keakraban mereka berdua memang tak tertandingi mengingat sebenarnya Abra adalah anak kesayangan Ayahnya. Demikian pula Ibunya. Sayang, sakit kanker merengut Ibunya beberapa tahun silam sebelum Abra lulus SMA sehingga ia memutuskan pindah ke Boston karena dibuat tidak betah tinggal di Indonesia oleh Ibu Tirinya. Ia kemudian tinggal di dekat rumah keluarga Ibunya di Boston sambil menyelesaikan SMA dan kuliahnya. Ia sempat kerja setahun sebelum akhirnya pindah ke Jakarta atas permintaan Ayahnya.
"Ayah tinggal beberapa hari lagi kok, setelah itu langsung pulang."
"Ya sudah Ayah, selamat siang," Abra tertawa karena saat itu siang di Amerika sedang ia di Jakarta sudah malam.
"Siang."
Abra menutup hp-nya. Ia menghela napas pelan dan berbaring di tempat tidurnya.
Tentu saja Ayahnya benar soal dirinya, ada seorang gadis telah mencuri hatinya hingga membuatnya memutuskan untuk menetap. Walaupun ia tahu gadis itu sudah punya pacar tapi ia berniat mengejarnya. Ia berharap punya kesempatan walaupun sangat kecil, yaitu menunggu gadis itu putus dari pacarnya.
Mmh, kamu mengingatkanku dengan kelinci. Kelinci kecil yang sangat lucu. Aku menunggu kau lepas dari kandangnya agar aku bisa memberimu rumah yang baru. Rumah di hatiku. Kau harus bertanggung jawab untuk itu nona kecilku, karena jiwaku takkan tenang bila kau tak di sampingku. Mmh, cepatlah kamu kabur dari rumah itu kelinciku, aku menunggumu.
Abra tersenyum sendiri setiap mengingat wajah gadis itu. Entah bagaimana caranya ia bisa jatuh cinta pada gadis itu pada pandangan pertama, tapi bayangan gadis itu tak pernah lepas dari benaknya sejak pertama kali bertemu, padahal mereka tidak banyak bicara.
Saat pertama bertemu pun gadis itu memakai topeng jadi tidak mungkin feelingnya(perasaannya) begitu kuat tapi itulah yang terjadi dan feelingnya benar. Setelah melihat wajahnya ia makin tidak bisa melupakan gadis itu. Ini aneh.
Namun saat itu, siapa yang ditemuinya lebih dulu, Rika atau Shasa? Gadis itu pertama kali menabraknya di pesta dan itu pertemuan pertama. Ia ingat itu. Apa itu Rika? Mmh, gadis itu membawa tas tangan sedang Rika ... ia membawa tas tali. Iya benar! Abra menjentikkan tangannya. Yang merebut buku itu juga gadis dengan tas tangan dan yang punya tas tangan itu gadis bernama Shasa itu bukan? Ah, jadi dia yang kutemui berkali-kali itu? Mereka juga meributkan buku yang aku tidak dengar tentang apa karena suara berisi di pesta itu tapi mereka jelas memperebutkan buku itu. Jangan-jangan ... Shasa jugalah yang menulis buku itu. Pasti itu! Aku tak tahu kenapa Rika berbohong tentang buku itu tapi itu bisa dibuktikan bila aku bertemu dengannya.
Abra tersenyum. Aku pasti akan bertemu dengan mereka lagi. Ia kembali menjentikkan tangannya. Segera ia menarik selimutnya untuk tidur.
-------+++-------
Damar terbangun tengah malam. Lagi. Segera ia duduk di atas tempat tidur. Ia mengucek-ngucek matanya yang masih sedikit mengantuk. Setelah itu ia langsung ke luar kamar dan mendatangi sebuah kamar. Ia mengetuknya. Tak berapa lama, pintu terbuka.
Shasa masih terlihat mengantuk. "Lagi Kak?"
"Iya. Aku tunggu di bawah." Damar segera berlalu. Ia menuruni tangga.
Shasa menguap sambil menutup mulutnya. Ia kemudian mengikuti Damar menuruni tangga. Ia langsung ke dapur sementara Damar ke meja makan. Pria itu menarik sebuah kursi dan memainkan hp-nya di atas meja sambil menunggu Shasa datang.
Gadis itu datang kemudian sambil membawa piring berisi telur dadar dan sosis goreng beserta nasi. Rupanya tiap malam Shasa memasakkan sesuatu untuk Damar karena katanya pria itu sering susah tidur karena lapar. Ia juga kadang meminta Shasa membantunya dengan hal lain.
"Oh, iya. Tolong semir sepatuku ya?"
"Yang mana Kak?"
"Yang coklat."
Kembali Shasa menghela napas. Ia naik ke lantai atas ke kamar Damar sedang pria itu segera makan makanan yang dimasaknya. Tak lama pria itu menyusul masuk kamarnya.
"Sudah Kak!" Shasa baru saja memasukkan sepatu itu dalam kotak sepatu.
Damar tersenyum dan menahan tawa melihat wajah dan tubuh Shasa yang cemong karena terkena semir. "Coba aku lihat dulu." Ia menyodorkan tangannya meminta sepatu yang disemir Shasa. Terpaksa gadis itu mengeluarkan kembali sepatu itu dari kotaknya.
"Ini Kak."
"Mmh. Ini kurang rapi, kurang rata." Pria itu memperlihatkan di beberapa tempat.
Gadis itu memperhatikan. Ia tidak bisa melihat apa yang dikatakan Damar. "Yang mana sih Kak?"
"Itu belum."
"Yang mana?"
Damar menatap gadis itu dengan tatapan tajam. "Semir saja."
"Tapi Kak."
Damar menarik Shasa dekat ke tempat tidurnya dan mengeluarkan alat semirnya. "Ini. Ayo!"
Shasa terpaksa duduk di lantai dan menyemir sepatu Damar sementara pria itu naik ke tempat tidur. Ia berbaring tertelungkup sambil bermain hp. Sesekali ia mengintip Shasa sambil tersenyum.
Entah kenapa pria itu senang sekali mengganggu Shasa walaupun tidak tiap malam. Shasa yang menahan ngantuk terpaksa melakukannya.
Pria satu itu juga mirip dengan Rika, tapi mengganggunya saat tidak ada yang melihatnya, dan itu juga cukup meresahkan.
Pernah ia coba menolaknya tapi tangannya dicengkram hingga kemerahan. Pria itu marah.
__________________________________________
Halo reader, jangan lupa vitamin author like komen, vote, hadiah dan mungkin koin agar author tetap semangat menulis. Ini visual Bima Arsetya Rahim, pria yang sangat mencintai Rika. Salam, Ingflora. 💋
Author Chocooya menulis kisah perjodohan dengan gaya berbeda. Falling Into Your Trap, itu judulnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Ratna Dadank
damar suka shansa
2022-08-12
2
AdindaRa
Mending gini aja deh. Damar ama Shasha. Trus Bima sama Rika. Cocok kan?
2022-07-28
4
Senandung Rinduw Serin
sepertinya damar suka sama Shasa😁😁😍😍
2022-07-20
3