"Aku?" Abra menunjuk dirinya dengan nada bingung.
"Eh, maaf Pak, tapi dia Klien kami bukan Model," terang Vera.
"Masa, tapi dia tidak seperti pengusaha," pria itu memperhatikan Abra.
Abra menyodorkan kartu namanya. "Aku CEO Indo TV."
Pria itu membaca kartu nama yang disodorkan Abra. Ia saling berpandangan pada wanita di sampingnya.
"Maaf, tapi aku juga berpikir sama dengan rekan saya ini bahwa Bapak cocok jadi Model iklan pasta gigi produk kami. Apa Bapak bersedia?" jawab wanita itu.
"Saya sebenarnya pernah jadi Model waktu di Amerika, tapi itu karena kenal dengan Fotografernya, jadi saya melakukannya untuk iseng saja karena teman."
Pengakuan Abra malah mengejutkan mereka semua yang berada di sana.
"Tuh kan, mataku tak salah," ucap Klien pria itu.
"Saya juga pernah main film tapi film Indi. Itu juga karena teman juga yang jadi Sutradaranya."
"Wah, hebat. Jadi Bapak bisa dong jadi model iklan kita?" rayu klien wanita itu. "Kami sanggup membayar dengan tarif serupa dengan artis terkenal kalau Bapak mau." Rupanya Klien wanita itu terlanjur suka dengan wajah Abra.
"Waduh ... itu cerita lama ya, saat saya masih kuliah dulu," Abra mengusap belakang lehernya.
"Tolonglah Pak, biar kami tinggal cari Model wanitanya saja. Biar cepat bisa membuat iklan video dan fotonya."
Abra melirik Shasa. Entah kenapa, pikiran nakal yang bersemayam di kepalanya kembali menggelitiknya. Ia memberi ide gila yang sebenarnya iseng belaka. "Kalau sama dia aku mau deh!" ucap Abra menarik tangan Shasa.
Gadis itu terkejut tapi Haris malah tertawa.
Namun pihak Klien menanggapinya serius, mereka malah memperhatikan Shasa yang terlihat bingung diperhatikan oleh mereka.
"Ngak papa sih, gak jelek-jelek amat," ucap Klien pria itu.
"Apa?" Shasa menyentuh wajahnya.
"Iya, yang perempuan juga punya wajah remaja yang fresh(segar)."
"Eh?" Shasa menutup pipinya dengan kedua tangannya.
"Ya sudah, gak papa," Klien wanita itu akhirnya memutuskan.
"Apa?" kini Abra yang terkejut. Ia tidak menyangka permintaannya dikabulkan. "Ya, terserah ... dia." Ia kembali melirik gadis itu.
Semua orang terlihat bingung di ruangan.
Tiba-tiba Bima masuk dari pintu depan. Ia baru saja pulang dari bertemu kliennya. Ia melihat Abra dan terkejut. "Oh, Pak. Apa kabar? Ada yang bisa aku bantu?"
Abra berdehem demi untuk memperbaiki keadaan yang terlanjur gamang. "Aku datang untuk menawarkan kerja sama, sebenarnya."
"Benarkah?"
"Menyambut ulang tahun stasiun TVnya, Pak Abra ingin membuat iklan stasiun TV dan slogan yang baru," terang Haris.
"Oh, begitu."
"Maaf ya, tapi aku menawarkan Pak Abra menjadi model kami. Apa boleh begitu?" Klien pria itu malah ikut bicara.
Abra panik sebab klien pria itu bicara pada Bima yang notabene adalah pacar Shasa. Kalau Bima mendengar tentang candaan Abra tadi tentang Shasa ... Abra tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
"Oh, itu terserah Pak Abra saja. Saya tak masalah," sahut Bima kemudian.
"Eh, iya aku ...."
Kalimat Abra langsung dipotong klien pria itu dengan ucapannya. "Tapi kami juga mau pinjam pegawai Bapak untuk jadi pemeran wanitanya."
"Apa?" Bima terlihat bingung. Ia tidak tahu pegawai wanita mana yang dimaksud. "Yang mana?"
Selain Abra, semua orang menunjuk ke arah Shasa. Wajah gadis itu merah padam tapi ia juga bingung saat ditatap oleh Bima. Ia menggoyang-goyangkan tangannya. "Aku nggak ...."
Bima beralih menatap Abra.
Abra cepat-cepat berdehem kembali. Bagaimana cara menerangkannya ini? Aduhh, padahal bukan aku yang memulai. "Aku eh, maksudku ...."
"Tunggu sebentar," potong Bima. Ia menarik Shasa menjauh dan kemudian berbisik kepada gadis itu. "Kenapa kamu gak mau coba?" bisiknya.
"Apa?" Di luar dugaan, Bima malah menyemangati gadis itu. "Kenapa?" Shasa balas berbisik.
"Bukankah aku sudah bilang, golkan 2 proyek lagi agar kamu bisa ikut khursus PR. Pak Abra itu punya perusahaan besar. Kalau kita bisa bekerja sama dengan projeknya sekarang, bukan tidak mungkin ia akan mengajak kita ke projek-projek berikutnya. Kau telah mendapat ikan besar Shasa. Tinggal menunggu ia memberi pekerjaan padamu saja. Kau harus bisa menjaga hubungan baik dengan klien kita, agar mereka terus datang dan menjadi pelanggan kita."
Shasa melongo. Kak Bima tidak cemburu? Dia malah ... "Tapi permintaan klien itu bagaimana? Memintaku jadi Model," tanya Shasa sambil manik bola matanya melirik ke arah Klien yang datang berdua.
"Terima saja. Sekali dayung, 2 pulau terlampaui. Kalau kau tidak terima, kau mempermalukan Pak Abra di depan umum dan bukan tidak mungkin ia akan berpikir untuk mengalihkan kerja samanya pada perusahaan lain dan kita juga kesulitan mencari Model untuk video dan foto iklan klien yang satunya, tapi kalau kamu menerimanya kamu telah menyelesaikan masalah mereka semua dan untuk itu kamu juga dapat tambahan uang dari menjadi Model iklan ini. Bagaimana?"
Netra Shasa menatap Bima dengan pandangan nanar. Jadi ia harus bagaimana? Ikut menjadi model bersama Pak Abra? Bukan saja segan, ia juga tidak punya keberanian kalau untuk jadi bintang iklan. Ia tidak bisa membayangkan kalau harus bergaya di depan TV dan menjadi artis. Belum apa-apa ia akan sangat gugup dan juga malu. Lagipula, apa Bima benar-benar tidak cemburu? "Eh .... "
"Kau akan jadi artis dan terkenal."
"Kak, aku tidak mau."
"Kalau begitu, pikirkan yang terbaik untuk klien saja. Klien adalah raja."
Shasa menghela napas panjang.
Sementara Abra menduga-duga percakapan apa yang terjadi antara Shasa dan Bima. Ia tidak berharap mereka bertengkar karena kehadiran dan ide gilanya itu, sebab ia sendiri tak sengaja bercanda seperti itu hanya guna menghindar dari kedua Klien itu tapi ternyata di luar dugaan mereka malah menyetujuinya.
Abra memang tidak melihat Shasa dan Bima bertengkar tapi ia tidak mau berspekulasi hingga ketika Shasa dan Bima kembali, ia memutuskan untuk tidak jadi memakai jasa mereka. Ia tidak mau keisengannya membawa musibah bagi orang lain. Ini semua gara-gara pikirannya yang tak bisa lepas dari gadis itu tapi ia juga tidak ingin jadi penyebab retaknya hubungan Shasa dengan pacarnya. Ia bukan orang serendah itu. "Eh, aku pikir sebaiknya aku ...."
"Eh, sebentar Pak," Bima menahannya bicara. "Apa Bapak bersedia menjadi Model Klien ini?" Ia menunjuk pada Klien yang meminta Abra menjadi Model.
"Oh, aku cuma bercanda kok Pak, jangan di masukan ke dalam hati."
"Padahal Shanum bersedia kalau Bapak mau," ucap Bima penuh penyesalan. Ia sengaja berbicara seperti itu memancing Abra mengeluarkan keinginannya. Ia ingin pria itu menyetujui agar memudahkan pekerjaan, tidak perlu lagi melakukan pencarian Model dan karena senang, pastinya Abra akan memberikan mereka banyak pekerjaan.
Yang ia tidak tahu, Abra menyukai Shasa bukan karena pekerjaannya yang memuaskan tapi karena cinta.
"Mmh?" Abra menatap Bima heran. Ini beneran pacarnya boleh dipinjemin? Apa dia tidak takut salah satu dari kita jatuh cinta? Atau malah kedua-duanya?
"Nah, Pak. Ibu Shanum mau, bagaimana Pak?" tanya Klien wanita itu pada CEO stasiun TV itu.
Abra beralih menatap Shasa. Gadis itu menunduk sambil menyatukan tangannya.
"Kamu gak keberatan untuk jadi Model Iklan?"
"Saya gak ngerti tapi akan saya coba," sahut Shasa sambil menggaruk-garuk dahinya, bingung. Ia menatap balik Abra berusaha untuk profesional tapi entah kenapa jantungnya malah mulai berdebar.
"Ya ... sudah, aku terima," Abra sendiri tak tahu apa keputusannya sudah benar karena ia bingung dengan keputusan Bima yang meminta pacarnya sendiri untuk menjadi Model bersanding dengan pria lain. Apa ini pure(seutuhnya) profesional? Kalau begitu dia hebat karena biasanya tidak ada yang berani melakukan itu karena berpotensi perselingkuhan sebab ia hanya melihat keuntungan tanpa berusaha menjaga pacarnya.
Kalau aku jadi dia, aku tak akan membiarkan Shasa bersama pria lain, sebanyak apapun tawaran uang yang berikan atas nama pekerjaan ataupun profesional tapi dia ... ah!
"Ok, jadi masalahnya selesai. Nanti akan kita buat jadwal pemotretan untuk poster dan video. Nanti Bapak akan kami pandu melakukannya," terang Bima lagi.
Kedua Klien itu bernapas lega.
"Pak, Pak Abra sudah ada pengalaman jadi Model dan main film Pak, jadi akan lebih mudah lagi mengarahkannya," Haris menerangkan pada bosnya.
"Oya. Pantas saja, penampilan Anda mencerminkan seorang Model profesional," puji Bima pada Abra.
Abra hanya menautkan sedikit ujung bibirnya mendengar pujian yang menurutnya hanya basa basi belaka.
"Mungkin dalam waktu dekat akan dilakukan pengambilan gambar karena skripnya sudah dibuat tinggal pengambilan gambarnya. Mungkin kalian ingin melakukan pendekatan dulu sebelum pengambilan gambar?"
"Apa?" Shasa dan Abra berucap bersamaan. Mereka saling pandang. Abra sudah tahu itu tapi Shasa terlihat gugup.
Sudah punya pacar tapi pergi dengan pria lain? Walaupun atas nama profesional, tetap saja. Ini hati nurani yang sedang bicara. Pantaskah? Namun ini permintaan pacar sendiri sekaligus bosnya, ia bisa bilang apa. "Iya ...." ucap gadis itu pelan. "Mohon bimbingan Pak." Ia menganggukkan kepala pada Abra.
Abra menggoyang-goyangkan tangannya. "Ah, aku bukan Model Profesional hanya punya pengalaman saja," ujarnya merendah. Ia mengusap belakang lehernya. Kenapa jadi begini jadinya ....
"Sebentar lagi jam makan siang, apa kalian mau makan siang bersama atau mungkin Shanum menemani Pak Abra di tempat kerjanya, mungkin."
Abra hampir tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Pacar gadis itu malah menawarkan Shasa 'pacaran' dengannya? Walaupun cuma untuk beberapa hari saja, ia takkan melewatkan itu. Dia sendiri yang menyerah pacarnya padaku, kalau suatu saat ia minta putus darimu karena ingin datang padaku, aku tak kan lepaskan. Lihat saja nanti! "Ok Sha, kita makan siang dulu." Ia langsung menggandeng Shasa melangkah menuju pintu utama.
"Eh?" Dalam kebingungan Shasa masih menoleh ke belakang melihat pada Bima sebelum akhirnya hilang di balik pintu.
"Pak, yakin Pak," tanya Haris pada Bima.
"Sebenarnya enggak, tapi gimana?" Pria itu menghela napas. "Secepatnya saja pemotretan itu dilakukan, biar Shasa bisa kembali bekerja normal di sini. Coba tanyakan Ardan, kapan di buat videonya."
"Iya, baik Pak."
Sementara itu, Shasa sudah berada di mobil bersama Abra. Mereka sudah berada di jalan raya.
Bukan hanya Shasa, Abra pun bingung harus bagaimana. Senangkah? Sedang ia hanya bisa memiliki gadis itu hanya untuk beberapa hari saja. Setelah itu, Shasa akan kembali jadi milik orang lain lagi. Tentu saja, bila ia egois ia tidak akan melepaskannya, tapi ia hanya 'dipinjami'. Bagaimana kalau dalam beberapa hari ini ia melibatkan hatinya, ia makin jatuh cinta dan akhirnya terluka? Bagaimana?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Senandung Rinduw Serin
satu kata Thor, keren, like, lopein♥️♥️
2022-07-22
2
Waradaharafah Ara
sejauh ini AQ membaca,, ceritanya bagus,,menarik,, suuuukkaaaaaa ....😘😘
2022-07-18
2
Laeli Amalia
lanjutkan 👍
2022-06-15
2