Tanpa sepengetahuan Selin, dari dalam rumah ada yang mendengar dan menyaksikan pertengkaran ibu dan anak sedari tadi. Dialah Jamal dan kini dia menyadari kenyataan kenapa nyonya rumah tidak kelihatan.
Jamal yang hendak menaruh kunci mobil yang terletak di ruang tengah, secara tak sengaja mendengar semua pertengkaran yang cukup keras tersebut.
Jamal yakin, bukan hanya dia saja yang mendengar, Si mbok pun juga pasti tahu pertengkaran tadi. Dan bisa saja Si Mbok mungkin sering menyaksikan pertengkaran yang seperti itu. Apa lagi jika dicermati dari masalah yang ada. Sudah pasti pertikaian ibu dan anak itu sudah lama terjadi.
Setelah suara saling teriak tidak terdengar lagi, Jamal melangkah perlahan ke arah ruang tamu dan mengintip keadaan disana. Mata Jamal memicing saat melihat Selin duduk bersandar pintu dengan wajah menelungkup pada dua lututnya. Pundaknya terlihat bergerak dan jelas sekali kalau perempuan itu sedang menangis. Jamal pun hanya mampu memandang wanita itu dengan iba. Dia tidak berani berbuat apa apa karena takut akan menjadi masalah. Perlahan dia pun mundur dan berbalik arah menuju dapur.
"Perangnya sudah selesai?" tanya Mbok Sum pelan. Mbok Sum yang sedang menyetrika di sebuah ruang sebelah dapur. Dia keluar sejenak karena sudah tak mendengar suara ribut lagi.
"Sudah, Mbok." jawab Jamal sembari bersandar di tepi lemari yang menempel di dinding.
Si mbok menghela nafas dalam dan menggembuskannya pelan. Wanita berusia lima puluhan itu jelas sekali merasa prihatin dengan apa yang terjadi di rumah ini.
"Kasian Non Selin. Gara gara masalah ini dia jadi sering murung." ucap Mbok Sum sembari memutar arah meninggalkan Jamal melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti tadi.
Jamal mengernyitkan dahi dan mencerna ucapan Mbok Sum sesaat. Setelah mengerti dengan apa yang diucapkan si Mbok, Jamal mengambil gelas di dalam lemari tempat dia bersandar lalu mengisinya dengan air putih dan membawa air minum ke dalam kamarnya. Sebelum mandi, dia ingin merebahkan badan sejenak karena terlalu lelah.
Saat berbaring, pikiran Jamal pun kembali menerawang dengan kejadian yang baru dia saksikan. Sungguh takdir apa yang terjadi di rumah ini? Dua orang yang tadi ditemuinya di kampus adalah dua orang yang menumbuhkan rasa benci di hati Selin. Sungguh kenyataan yang sangat susah diterima. Bagaimana bisa seorang ibu berselingkuh dengan pacar anaknya? Benar kata Selin, mereka seperti tak punya malu. Jamal pun sempat bergidig saat mendengarnya.
Di sisi lain dalam hati Jamal, tumbuh rasa kagum kepada nona majikannya. Selin terlihat kuat saat menghadapi sang ibu meski setelahnya Selin jatuh dalam air mata kerapuhan. Jamal dapat merasakan betapa sakit hatinya pengkhiatan yang dilakukan ibu dan kekasihnya.
Hingga tak terasa waktu pun beranjak malam. Setelah selesai makan, Jamal memilih duduk di kursi dekat kolam renang sembari mempelajari ponsel barunya.
"Lagi ngapain kamu?" suara perempuan sontak saja membuat Jamal kaget. Seketika dia menoleh ke arah sumber suara.
"Non Selin!" pekik Jamal.
Namun Selin tak menimpali. Wajahnya begitu datar. Selin duduk di kursi yang ada disitu, tak jauh dari kursi yang di duduki Jamal.
"Sudah bisa menggunakan aplikasi yang tadi aku download?" tanya Selin sekilas melihat Jamal yang terus mengutak atik ponselnya.
"Belum, Non. Belum sempat beli kuota, jadi belum maksimal belajarnya," jawab Jamal pelan. Sekilas senyumnya tersungging untuk menutupi rasa gugup di hatinya. Jamal bahkan mengutak atik ponselnya untuk membuang rasa canggung karena duduk berdua bersama majikannya.
Mata Selin yang terlihat sembab menandakan kalau wanita itu habis menangis dalam waktu yang cukup lama. Jamal tak berani menatap maupun bertanya tentang keadaan Nona majikannya.
"Cemilan tadi yang aku beli mana, Mal?" tanya Selin kemudian.
"Ada di meja dapur. Mau saya ambilkan, Non?" tawar Jamal.
"Boleh, tolong sekalian ambil minuman bersoda yang sudah dingin ya?" pinta Selin dan Jamal pun mengangguk.
Di taruhnya ponsel di atas meja yang terletak diantara kursi yang di duduki mereka berdua. Kemudian dia bergegas beranjak menuju dapur mengambil apa yang diperintahkan nona majikannya.
Tak butuh waktu lama Jamal pun sudah kembali ke tempat semula dengan menenteng pesanan Selin. Karena terlalu semangat melangkah, Jamal tidak menyadari ada kain basah disekitarnya. Tanpa sengaja Jamal menginjak kain tersebut.
Srak! Byur!
"Jamal!" Pekik Selin.
Jamal terpeleset dan kecebur ke dalam kolam. Beruntung Jamal bisa berenang. Dengan sigap Jamal langsung bisa menguasai dirinya dan dia segera menepi dan naik. Jamal langsung membuka kaosnya yang basah begitu telah berada di darat.
Mata Selin seketika membulat dengan mulut menganga saat melihat badan atletis Jamal. Selin seketika meneguk salivanya sendiri. Namun saat mata itu manangkap sesuatu yang menonjol dari celana supir barunya, Selin langsung memekik dan berpaling.
"Jamal!"
...@@@@@...
Makasih ya yang sudah memberi dukungan. Semoga kebaikan kalian akan mendapat balasan kebaikan dari arah yang tak disangka sangk. Dan semoga kalian juga terus mengikuti kisah tak biasa ini sampai dipenghujung nanti. Kisah tak biasa Jamal sudah mulai terlihat, terus bagaimana dengan kisah tak biasa Rizall dan Iqbal? ditunggu pokoknya mah.
visual Jamal dan Selin. ini menurut saya ya? jika kurang cocok, bayangin aja sendiri mana yang pas. Oke?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Mbk Yuana
wahahahaaahha🤣🤣
2024-02-21
2
Asngadah Baruharjo
semangat thoorrr
2023-06-23
1
Juwanto
Cukup Serasi Jamal dan Selin Lanjutkan Author
2023-03-28
0