Hari pun kini berganti. Setelah cukup beristirahat, ketiga pemuda mulai melakukan tugasnya yang sudah diarahkan oleh masing masing tuan rumah melalui pembantu yang ada disana.
Pagi ini Jamal membantu pekerjaan Mbok Sum membereskan rumah dari mulai mengepel dan menyapu. Berbekal arahan Mbok Sum, Jamal pun dengan sigap melakukan tugasnya hingga Mbok Sum yang melihatnya merasa puas.
Disaat Jamal sedang bersih bersih, Mbok Sum menyiapkan sarapan untuk tuan rumah dan putrinya yang sebentar lagi akan berangkat kuliah.
"Loh? Yang ngepel kamu, Mal?" tanya sang tuan bernama gustavo begitu keluar kamar dan melihat Jamal sedang berkutat dengan alat pelnya.
"Eh iya, Tuan," jawab Jamal sembari menghentikan sejenak kegiatannya.
"Baguslah, semoga kamu betah kerja disini," ucap Gustavo dan Jamal hanya mengangguk karena sang tuan segera melangkah meninggalkannya turun ke lantai bawah.
Saat melakukan pekerjaannya, Jamal dibuat tertegun dan penasaran karena setelah tuannya keluar kamar, Jamal tidak melihat ada wanita yang keluar kamar setelahnya. Seorang wanita yang menjadi pendamping tuan Gustavo. Dengan pertanyaan yang tumbuh dalam benaknya, Jamal memilih melanjutkan pekerjaannya.
Saat Jamal mengepel di depan pintu sebuah kamar, dia dikejutkan dengan pintu kamar yang terbuka dan mata Jamal terbuka lebar saat sebuah kaki putih jenjang melangkah dihadapnnya. Mata Jamal bergerak dari ujung sepatu hingga menuju keatas dan jantung Jamal mulai berdegup kencang saat matanya telah sampai dalam pandangan ke arah bagian lutut hingga ke atas hingga mata Jamal bertemu dengan mata memicing milik sang anak majikan.
"Apa kamu lihat lihat!" hardik wanita bernama Selin dengan wajah judesnya.
Merasa tertangkap basah, Jamal pun gelagapan dan seketika langsung menunduk. "Maaf, Non. Tadi kaget aja."
"Cepat selesaikan pekerjaanmu terus siapin mobil, sebentar lagi aku berangkat." titah Selin jutek.
"Baik, Non."
Saat Selin melangkahkan kaki yang satunya tiba tiba kaki Selin terpeleset.
Srakk!
Selin pun oleng. Jamal yang melihat kejadian di depannya spontan melepas alat pelnya dan menangkap tubuh Selin yang gendak jatuh kebawah.
Seketika jantung Jamal berdegup kencang saat tubuh anak majikannya berada dalam rengkuhannya. Selin pun sesaat terdiam mentralkan perasaan yang kaget karena hampir terjatuh.
Saat Selin sadar, dia merasa salah satu tangannya memegang sesuatu yang sangat familiar milik pembantunya dari luar kolor yang dipakai Jamal. Seketika Selin berontak dan berdiri. Antara kesal dan malu, Selin melayangkan tatapan tajam kearah pembantunya.
Sementara Jamal sendiri juga perasaannya tak karuan. Sesuatu yang dia sembunyikan selama hidupnya malah pagi ini harus tersentuh oleh tangan wanita. Di tambah kebiasaan dia yang tidak suka memakai celana segitiga bermuda sebagai pelapis bagian dalam membuat dirinya malu setengah mati saat ini.
Selin yang berniat memarahi Jamal langsung mengurungkan niatnya saat matanya kembali melihat sekilas kolor yang Jamal pakai. Selin pun segera berbalik badan dan melangkah menuju lantai bawah.
"Sial, sial sial! Kenapa aku nggak pakai celana double?" pekik Jamal sambil menjitak kepalanya sendiri.
Jamal pun langsung mempercepat pekerjaanya. Setelah dirasa cukup beres dan bersih, bergegas dia turun ke bawah untuk bersiap siap melakukan tugas berikutnya.
"Jamal! Sini!" panggil tuan Gustavo.
Pemuda itu pun mendekat. "Iya, Tuan."
"Kamu pegang telfon? Berapa nomer telfonmu?" tanya Gustavo.
Jamal pun merogoh saku dan mengambil pinselnya. Mata Gustavo dan Selin serentak membulat melihat ponsel yang dpakai Jamal.
"Kamu pakai hp jadul?" tanya Gustavo tak percaya.
"Iya, Tuan." balas Jamal sambil tersenyum canggung.
"Ya udah, nanti kamu minta ponsel bekas milik anak saya ya?" titah Gustavo. "Selin kasih salah satu ponsel bekasmu buat Jamal dan ajari dia beberapa aplikasi yang menyangkut rumah ini."
"Baik pah," jawab Selin kemudian dia meminta tolong Mbok Sum ke kamarnya mengambil koleksi ponsel bekasnya.
"Nih kamu pilih sendiri mana yang kamu suka," ucap Selin beberapa saat kemudian setelah Mbok Sum mengambil kotak yang dia maksud dan ditaruhnya di atas meja makan.
Jamal tertegun melihatnya. Entah ada berapa ponsel dalam kotak itu dan semuanya masih terlihat bagus. Pilihan Jamal jatuh pada ponsel dengan merk sungsang berwana hitam. Setelah itu Jamal mohon diri untuk bersiap siap karena harus mengantar Selin kuliah.
Di dalam kamarnya, sebelum berganti pakaian, Jamal mencoba mengisi daya ponsel tersebut. Saat ponsel itu menyala, mata Jamal membulat saat melihat tampilan foto di layar ponsel tersebut.
"Apakah ini Non Selin?" gumam Jamal antara percaya dan tidak percaya.
...@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Dwisur
sungsang... wekaweka
2024-09-20
1
Im Ha
sungsang is the best choice /Facepalm/
2024-04-01
0
kok bisa pegangnya ke situ ? 😓
2023-11-23
1