"Bukankah itu Tuan Tomi? Kok mesra gitu sama..." gumam Rizal tak melanjutkan kata katanya saking terlalu syok.
Dalam keterkejutannya, Rizal pun mencoba memikirkan keanehan keanehan yang dialaminya dari pertama dia datang hingga tadi pagi saat di rumah. Namun Rizal juga tetap berusaha bepikir positif tentang tuannya. Bisa saja itu adalah saudara Tuan Tomi. Lagian Rizal belum dua puluh empat jam bekerja di rumah Tuan Tomi, jadi tak sepantasnya dia berpikir buruk tentang majikannya.
Saat Rizal menoleh ke arah toko yang dikunjungi Miranda, betapa terkejutnya dia melihat sang Nona terpaku dengan arah pandang yang sama dengan apa yang tadi dia lihat. Wajah sang Nona nampak murung. Entah apa yang sedang dia pikirkan, namun sikap dan perubahan wajahnya cukup membuat Rizal penasaran dan kembali befikir buruk.
Setelah merasa cukup memandang ke arah sang suami berada, Miranda bergegas melangkah menuju mobilnya dengan raut wajah yang susah diartikan. Marahkah? Kecewakah? sungguh sang Nona tak mudah ditebak.
Yang membuat Rizal tambah heran, kenapa Miranda memilih masuk mobil bukan mendatangi suaminya? Tanpa banyak bertanya, Rizal pun kembali masuk mobil dan segera melajukannya sesuai perintah sang majikan.
Sepanjang perjalanan, Miranda hanya terdiam dengan tatapan menerawang ke arah luar. Sesekali dia menghirup nafasnya dalam dalam dan perlahan menghembuskannya.
Hingga sampai ke tempat tujuan, Miranda masih terdiam dengan wajah murung. Rizal hanya bisa memandanginya tanpa bisa berbuat apa apa.
Ditempat kedua, lagi lagi Rizal menunggu di ruang dapur. Dia membaringkan badannya pada sebuah sofa dengan mata terpejam. Beberapa saat setelahnya Rizal mendengar ada dua orang datang ke dapur sembari bercengkrama. Dia tetap memejamkan matanya dan pura pura tertidur disana.
Namun telinga Rizal dikejutkan dengan pembicaraan dua orang tersebut saat nama Miranda dan Tomi disebutkan.
"Kamu tadi lihat kan wajah Mbak Miran murung? Pasti bermasalah lagi sama suaminya."
"Iya, aku kasian sama Mbak Miran. Padahal dia cantik dan baik. Namun rumah tangganya sepertinya tidak bahagia."
"Apa mungkin Tuan Tomi berselingkuh? Tapi rasanya nggak mungkin kan?"
"Ya nggak tahu juga. Bisa jadi dibalik kemesraan yang sering mereka umbar, memang ada masalah yang serius diantara mereka."
"Pasti itu. Apalagi sekarang supirnya ganti lagi. Paling nanti juga supir yang ini nggak akan tahan lama."
Rizal tercengang mendengar semuanya. Namun dia tetap pura pura memejamkan matanya sampai kedua orang tersebut pergi. Pikiran Rizal seketika berkecamuk. Apa lagi mendengar pembicaraan tentang supir yang sering ganti. Tentu saja Rizal semakin dibuat penasaran.
Karena suasana hatinya sedang tidak baik baik saja, Miranda memutuskan pulang lebih cepat dari biasanya. Namun dalam perjalanannya, Miranda mengajak Rizal mencari makan terlebih dahulu.
"Zal, kamu ikut turun ya? Temenin saya makan?" pinta Miranda begitu mobil berhenti sebuah restoran.
"Aduh, Non. Saya mana berani makan di tempat seperti ini. Malu saya," jawab Rizal jujur.
Miranda sontak mengulas senyum melihat kepolosan supirnya. "Loh? Ngapain mesti malu, kita kan makan bayar, nggak nyuri."
"Tapi, Non..."
"Udah, cepat kamu turun dan ikuti perintah saya. Saya sudah lapar." titah Miranda dengan paksaan.
"Baiklah," ucap Rizal pasrah. Mereka pun segera turun dan bersama melangkah masuk ke dalam restoran yang terlihat mewah.
Setelah menemukan tempat duduk, Rizal mengedarkan pandangannya ke setiap sisi ruang restoran tersebut. Dirinya seketika merasa kurang percaya diri karena kebanyakan pengunjungnya adalah orang orang sekelas majikannya.
Miranda pun hanya mengulas senyum melihat tingkah supir barunya. Miranda memang sering mengajak siapapun makan bersama termasuk karyawan serta pembantunya. Jadi dia tak begitu canggung saat membawa Rizal ke restoran tersebut.
Setelah memesan beberapa makanan, kini mereka saling ngobrol guna mencairkan suasana sambil menunggu hidangan datang. Lebih tepatnya Rizal memberi informasi dalam bentuk cerita dari pertanyaan pertannya yang di lontarkan Miranda. Keluarga, pendidikan, kegiatan Rizal di kampung, semua diceritakan Rizal tanpa ada kebohongan sedikitpun.
Setiap melihat Rizal tersenyum, sungguh Miranda merasa terpana menatapnya. Bukannya Miranda tak pernah melihat pria tampan. Dia bahkan sebelum menikah hidupnya dikelilingi banyak pria tampan, namun entah kenapa senyuman yang Rizal sunggingkan mampu menggetarkan isi hati Miranda.
Dalam diam, hati Miranda pun memuji katampanan supirnya yang satu ini. Jika dipoles sedikit pasti ketampanan Rizal akan terpancar dengan sempurna.
Kedatangan hidangan pesanan membuat pikiran Miranda buyar. Dia pun beberapa kali merutuki dirinya sendiri karena diam diam memuji sang supir hingga Rizal pun merasa heran dibuatnya.
"Nona kenapa? Senyum senyum sendiri?" gumam Rizal dalam hati.
...@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
juendidi
suaminya gayy kali ya.. cobaa apa yang didapat bercinta sesama jenis thorr tauu kali ya 😅😎
2023-11-18
4
Irma Tjondroharto
senyum senyum.. kesengsem sama kamu rizal.. hehehe
2023-03-03
0
Alvia Nora
sabar ya mir
2023-02-14
0