"Apa ini?" pekik Rizal.
Miranda yang melihatnya sontak membelalakan mata serta mulut membulat sempurna. Dengan gerakan cepat, Miranda merebut benda rahasia miliknya.
Sungguh wajah Miranda seketika merah menahan malu. Bagaimana bisa dia lupa dengan benda pribadinya di dalam mobil. Biasanya benda tersebut berada di kamarnya. Namun entah kenapa, kemarin saat berlibur sendirian, Miranda ingin sekali membawa benda tersebut.
Rizal pun hanya mengulas senyum dan meminta maaf. Bergegas dia menyalakan mesin mobil dan tak lama kemudian mobil sudah beranjak dari kediaman Miranda.
Rizal mengemudi mobil sesuai dengan petunjuk yang Miranda arahkan. Sepanjang perjalanan, supir dan majikan tersebut hanya saling diam meski pikiran mereka berkelana entah kemana.
Dalam diamnya, Rizal tak habis pikir dengan ulah majikannya. Meski Rizal anak kampung, tapi dia tahu benda yang tadi dia temukan itu fungsinya untuk apa. Rizal heran, kenapa majikannya memiliki benda seperti itu sedangkan dia sudah mempunyai suami. Berbagai macam pemikiran pun bermunculan dalam pikiran Rizal selama dalam perjalanan.
Dari kursi belakang, Miranda sesekali melirik dan memperhatikan supir barunya. Jika diamati lebih dalam, supir barunya itu sebenarnya cukup tampan. Hanya saja pakaian yang dia gunakan menutupi ketampanannya. Entah karena berasal dari kampung atau memang anaknya cuek, tapi jika supir barunya bisa memperhatikan penampilannya, pasti aura maskulin dan rupawannya akan keluar.
Miranda yang sadar pikirannya sudah kemana mana langsung mengalihkan pandangannya ke arah luar hingga tak terasa mobil pun telah sampai di tempat boutiqnya yang pertama.
"Kamu ikut masuk saja. Nanti kamu bisa nunggu di dapur. Aku disini lumayan lama karena banyak yang harus aku urus," titah Miranda begitu mobil berhenti sempurna.
"Baik, Non." balas Rizal singkat.
Mereka pun keluar mobil hampir bersamaan. Rizal melangkah mengikuti sang manjikan masuk ke dalam boutiqnya. Di dalam sana, Rizal langsung di bantu salah satu karyawaan butik yang menunjukkan letak dapurnya.
Mata Rizal menelisik ke setiap area dapur. Dapur yang lumayan luas tersebut terbilang cukup nyaman dengan peralatan yang lengkap dan juga ada ruang istirahatnya. Rizal pun terbengong duduk menyendiri disana. Entah apa yang akan dia kerjakan agar tidak jenuh saat menunggu sang majikan.
"Supir baru, Mbak?" tanya salah satu karyawan boutiq ketika dia masuk di dalam kantor atasannya.
Miranda pun menatap karyawannya sekilas kemudian mengangguk terus kembali menatap lembaran lembaran kertas yang terpampang dimeja kerjanya.
"Kira kira dia akan bertahan berapa lama ini, Mbak?" tanya karyawan itu lagi sambil duduk disisi lain tapi masih satu meja dengan Miranda.
"Kamu perhatian sekali sama supirku, Tik," balas Miranda tanpa mengubah arah pandangnya.
Karyawan bernama Tika itu hanya tergelak mendengar apa yang Miranda ucapkan. Tentu saja semua yang bekerja ditempat Miranda pasti akan menanyakan hal yang sama tentang supirnya.
Miranda memang terkenal sering ganti ganti supir. Dalam satu bulan bisa tiga kali dia ganti. Semua pun penasaran dengan pergantian supir yang terlalu sering. Padahal Miranda terkenal wanita yang baik dan ramah meski ke orang lain yang status ekonominya dibawah sekalipun. Tapi pergantian supir membuat bermacam dugaan yang kadang menyudutkan Miranda.
Meski Miranda sering tidak peduli dengan pemberitaan miring tentangnya, namun semua itu cukup menganggu. Karena mereka tidak tahu cerita sebenarnya dibalik gonta gantinya sang supir pribadi.
Selain membicarakan tentang supir baru, Miranda dan karyawan kepercayaannya itu pun membahas ke hal lainnya yang berhubungan dengan butiq hingga tak terasa waktu sudah bejalan cukup lama.
Setelah urusan di butiq selesai, Miranda menyuruh karyawannya memanggil Rizal untuk bersiap karena Miranda akan mengunjungi tempat lainnya.
"Kamu habis tidur, Zal?" tanya Miranda begitu sampai di tempat mobil terparkir.
"Iya, Non. Maaf." balas Rizal sambil menampakan senyum manisnya hingga membuat Miranda terpana sejenak.
Mendadak Miranda merasa gugup melihat senyum manis Rizal dan dia segera saja masuk agar kegugupannya tak diketahui sang supir. Rizal pun segera masuk juga dan menyalakan mesin mobil. tak lama kemudian mobil pun melaju menuju tempat berikutnya.
Setelah beberapa menit perjalanan Miranda meminta singgah sejenak ke sebuah toko untuk membeli cemilan. Setelah sampai di depan toko, Miranda segera keluar mobil dan menyuruh Rizal menunggu sebentar. Dan Rizal pun ikut keluar dan berdiri dengan punggung bersandar pada mobil.
Sembari menunggu sang majikan, Rizal mengedarkan pandangannya ke tempat sekitar hingga tak sengaja matanya menangkap seseorang yang membuatnya tercengang bukan kepalang.
"Bukankah itu Tuan Tomi? Kok mesra gitu sama..." gumam Rizal tak melanjutkan kata katanya saking terlalu syok.
...@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Im Ha
aku percaya kamu bisa rizal/Drool/
2024-04-01
0
supirnya takut dengan suaminya Miranda 😂
2023-11-23
1
suaminya kaum pelangi ?
2023-11-23
1