Di hari pertama kerja, Iqbal justru bingung mau melakukan apa. Beres beres, sudah dilakukan dua pembantu yang ada disana. Cuci mobil hanya dilakukan seminggu sekali di setiap mobil dan ada jadwalnya masing masing. Maka itu di hari pertama, Iqbal memilih menunggu di pos penjaga dekat pintu gerbang menemani pria yang yang bertugas disana.
Sungguh Iqbal yang awalnya keberatan saat mendengar pekerjaan ini, merasa beruntung karena apa yang dipikirkannya berbeda dengan kenyataan yang ada. Cara bekerjanya mudah dan waktunya pun sedikit lebih santai. Apalagi kata pembantu yang semalam memberi pengarahan, tugas Iqbal adalah menemani dan mengawasi putri ketiga yang ada di rumah ini.
Entah kenapa, putri ketiga yang bernama Karin berbeda dengan dua kakaknya. Karin lebih banyak pendiam dan seperti tertutup. Berbeda dengan kedua kakak perempuannya yang lebih blak blakan.
Bukan hanya dari sikap. Dari cara berpakaian pun Karin lebih tertutup. Seperti pagi tadi, Iqbal benar benar terpaku dengan pemandangan yang disuguhkan dua kakak Karin, Aleta dan Belinda. Pakaian minim bahan yang mereka gunakan benar benar menggeliatkan sesuatu yang ada di tubuh Iqbal. Namun saat melihat Karin, dia lebih tertutup busananya meski tetap menonjolkan keseksiannya tapi masih pantas dikatakan memakai pakaian daripada kedua kakaknya.
Konon kabarnya kedua kakaknya dulu pernah tinggal di luar negeri dimana kebebasan sangat dijunjung tinggi termasuk hal hal negatif. Maka itu gaya hidup negara itu tentu saja mempengaruhi kedua kakaknya.
Disaat Iqbal sedang asyik ngobrol bersama mang Sapto si penjaga rumah, tiba tiba terdengar suara Mbak Inah memanggil namanya.
"Iqbal, disuruh siap siap. Non Karin bentar lagi berangkat." ucap Mbak Inah begitu langkahnya mendekati tempat keberadaan Iqbal.
"Aku udah siap kok Mbak, aku nungguin di mobil," balas Iqbal seraya berdiri dan merapikan sebentar pakaiannya.
"Baiklah, aku akan sampaikan ke dalam." ucap Mbak perempuan berusia tiga puluh delapan tahun itu sembari berlalu menuju ke dalam.
Tak lama kemudian terlihat Karin keluar rumah. Pembawaannya yang pendiam menimbulkan tanda tanya besar pada diri Iqbal. Apa lagi sikap Karin kepada dua kakaknya selalu memandang dengan wajah seperti seseorang yang membenci. Membuat rasa penasaran Iqbal semakin membuncah.Tapi Iqbal bisa apa. Rasa penasarannya hanya mampu dia pendam dalam hati.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, tak butuh waktu lama, mobil pun bergerak melaju meninggalkan kediaman menuju kampus. Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menemani mereka.
Untuk membuang jenuh, Iqbal pun mendendangkan sebuah lagu. Awalnya lirih namun lama kelamaan volume suaranya semakin keras. Entah Iqbal sadar atau tidak kalau dibelakangnya ada mata yang memperhatikannya dalam diam.
Karin yang sedari tadi terdiam sambil mengedarkan pandangannya ke jalanan, mendadak terusik dengan suara Iqbal yang mendendangkan sebuah lagu. Suara Iqbal yang cukup merdu membuat Karin terpaku dan diam diam memuji supir barunya.
Satu lagu yang dinyanyikan entah diulang berapa kali, nyatanya membuat keheningan yang terjadi di dalam mobil memudar. Bahkan Karin yang sedari tadi diam mulai ikut berdendang dalam hati.
"Kamu biasa nyanyi waktu di kampung apa?" pertanyaan pertama yang Karin lontarkan cukup membuat Iqbal terkejut. Dia pun sejenak menolwh dan tersenyum malu.
"Iya, Non," jawab Iqbal. "Suaranya jelek ya, Non."
"Lumayan bagus kok." puji Karin dan hal itu membuat Iqbal merasa bangga.
"Non Karin suka musik?" tanya Iqbal yang akhirnya menemukan ide obrolan untuk melepas keheningan dan agar bisa akrab dengan majikannya.
"Ya suka, cuma nggak bisa nyanyi sebagus kamu." balas Karin sembari melempar pandangannya ke arah jalan.
Iqbal pun cengengesan dan dirinya semakin merasa tersanjung dengan pujian yang diucapkan Karin. "Non Karin bisa aja."
"Nama kamu siapa sih?" tanya Karin sembari menoleh sejenak menatap supirnya.
"Iqbal, Non." Karin pun manggut manggut mendengar jawaban Iqbal.
"Semoga saja kamu betah kerja di rumahku." Kening Iqbal seketika berkerut mendengar pernyataan Karin. Entah apa maksudnya Karin ngomong seperti itu.
Meski penasaran, Iqbal hanya mengaminkan ucapan Karin. Dia enggan bertanya alasan Karin bicara seperti itu. Hingga akhirnya sampailah Mobil yang dikendarai Iqbal di depan kampus Karin.
Iqbal menghela nafas setelah sang majikan turun dan melesat pergi memasuki kampusnya. Untuk membuang waktu, Iqbal iseng iseng mengecek segala kelengkapan dan kebersihan mobil.
Saat Iqbal merogoh kantung yang ada dibelakang kursi supir, Iqbal menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan dirinya. Matanya membulat.
"Kenapa ada alat pengaman bekas pakai di dalam sini?" pekik Iqbal tak percaya.
...@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Juwanto
Wah kenapa Pikiran ku bisa jadi Melayang Yah Thor.... emang Cerita nya Agak Terputus Tapi Penasaran
Lanjutkan Author Kebelakang nya Makin Hot hot hahahah
2023-03-28
1
Kardi Kardi
wadouchhh balonnnn. balonnnn....prtttttt
2023-01-30
0
Uneh Wee
bekas siapa tuh pngamn bekas karin atau kk nya ....
2023-01-08
1