Setelah menyatakan setuju menerima pekerjaan yang ditawarkan, ketiga pemuda itu pun memilih pulang guna memberi tahu kabar bagus ini kepada keluarga masing masing dan mereka diberi waktu tiga hari untuk mempersiapkan diri.
Beruntung, biaya pemberangkatan ditanggung oleh pihak pencari kerja jadi ketiga pemuda hanya mempersiapkan diri serta bekal yang akan mereka bawa. Gaji yang lumayan besar menjadi faktor pendukung paling kuat alasan mereka mau menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga.
"Ya syukur lah, Mal. Kalau kamu memang serius mau merantau. Yang penting disana jaga diri. Jaga pergaulan. Syukur syukur majikan kamu orang yang baik, biar kamu betah disana." ucap Emak setelah anak sulungnya menceritakan kabar pekerjaan yang dia dapat.
Sebagai orang tua, dia hanya bisa mendoakan dan memberi nasehat. Keadaan ekonomi yang pas pasan membuat wanita parub baya tersebut harus merestui dan merelakan sang anak pergi jauh darinya demi sebuah pekerjaan agar kehidupan mereka ada perubahan ke arah yang lebih baik.
"Baik, Mak. Semoga dengan Jamal bekerja. Bisa membantu ekonomi Emak sama Bapak. Doakan Jamal ya, Mak. agar betah nanti di tempat kerja?" balas Jamal yang sedang duduk di atas dipan yang ada di dapur sambil menikmati singkong goreng dan segelas teh tawar. Sang emak pun mengangguk dan mengulas senyum.
"Jangan terlalu mikirin Emak sama Bapak, Mal. Mikirin juga masa depan kamu." ucap Emak sembari ikutan duduk di atas dipan setelah selesai menggoreng singkong.
"Ya iya lah, Mak. Selain mikirin diri sendiri, aku kan juga punya keluarga, Mak. Apalagi aku ingin Kamal sekolah yang lebih tinggi dari aku. Biar bisa ngangkat derajat kita, Mak." Sang Emak terharu mendengar penuturan anak pertamanya. Emak juga sebenarnya ingin menyekolahkan Jamal ke jenjang yang lebih tinggi. Namun apa daya, biaya yang tidak mendukung membuat Jamal harus berhenti sampai tingkat SMP saja.
Pembicaraan serius juga terjadi di rumah Rizal. Putra kedua dari tiga bersaudara tersebut juga menyampaikan berita yang sama seperti Jamal kepada keluarganya.
"Kalau kamu memang sudah mantap ya Bapak nggak bisa melarang, Zal. Toh kamu sudah gede, sudah tahu mana yang baik dan tidak buat kamu sendiri." ucap Bapak setetelah mendengar kabar dari Rizal.
"Apa nggak bisa nyari kerja disini aja, Zal? Kenapa harus jauh jauh ke kota?" tanya Ibu yang terlihat keberatan dengan mendengar keputusan anak keduanya.
"Kalau ada, sudah pasti aku nggak ambil pekerjaan ini, Bu. Lagian susah Bu nyari kerja disini. Paling banter pelayan toko. Lagian Rizal kan laki laki Bu. Rizal bisa jaga diri kok. Toh Rizal kerjanya juga nggak kemana mana. Cuma diam di rumah majikan nanti." terang Rizal berusaha meyakinkan sang Ibu sambil memegang tangannya.
"Ya sudah sih, Bu. Biarkan Rizal mencari pengalaman juga. Percaya saja sama Rizal, Bu." timpal Bapak.
"Tapi Ibu takut kamu kenapa napa, Nak." dalih Ibu mencoba mempertahankan pendapatnya.
"Loh, Ibu jangan aneh gitu dong. Lebih kasian mana melihat Rizal luntang lantung nggak jelas di rumah menjadi pengangguran. Usia Rizal semakin bertambah, Bu. Entar kalau dia ingin nikah tapi masih nganggur, mana ada wanita yang mau?" Bela Bapak.
"Iya, Bu. Selama ini aja mana ada cewek yang mau pacaran sama aku karena ngangngur. Ibu tahu sendirikan kampung kita laki laki nganggur kayak nggak punya harga diri." Ucap Rizal.
"Baiklah. Tapi kamu harus bisa jaga diri." ucap Ibu akhirnya pasrah dan merestui keputusan anaknya.
Hal yang sama juga terjadi di rumah Iqbal. Pemuda itu juga mengabarkan hal yang sama kepada keluarganya dimana hanya ada sang kakak dan Ibunya di rumah. Sang Bapak seperti biasa sedang mencari barang dagangan.
"Yah. Nggak ada kamu entar rumah pasti sepi, Bal." keluh Sofi satu satunya saudara Iqbal.
"Kan masih ada Bapak sama Ibu, Mbak. Sepi darimananya?" tanya Iqbal merasa heran.
"Ya sepi lah. Biasanya ada teman ribut di rumah, eh yang biasa ngajak ribut malah mau merantau." cicit Sofi.
Sang adik pun tergelak mendengar alasan kakaknya. "Ya Mbak ngajak ribut aja si Amel sana. Kan lebih seru ribut dengan saingan demi laki laki pujaan."
"Ogah amat ribut sama nenek lampir macam dia. Nggak tahu malu. pacar orang pake ngaku ngaku." sungut Sofi.
"Udah udah, kalian ini ribut mulu. Ibu sih cuma pesan, Bal. Selama disana jaga diri. Yang jujur. Jangan berbuat yang macem macem yang bisa merugikan kamu." ucap Ibu dengan segala nasehatnya.
"Siap, Bu."
Dan tak terasa, waktu keberangkatan pun akhirnya tiba. Setelah pamit kepada masing masing keluarga, tiga pemuda itu pun akhirnya berangkat menuju kota meninggalkan kampung halaman tercinta.
...@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
ayu nuraini maulina
masih pada lengkap para orang tua nya
2023-11-05
1
ayu nuraini maulina
sapa tau pas pulang kampung bwa mantu Mak 🤣
2023-11-05
0
Fajar Ayu Kurniawati
.
2023-02-03
1