"Jamal, itu non Selin udah mau berangkat," panggil si Mbok saat Jamal selesai bersiap siap.
"Oh iya, Mbok," sahut Jamal. Pemuda itu pun bergegas menyambar kedua ponselnya dan berjalan cepat menuju halaman rumah.
Begitu sampai tempat mobil terparkir, tak lama kemudian Tuan Gustavo beserta putrinya pun terlihat keluar dari rumah.
"Samsul, kunci mobilnya Selin sudah kamu kasih ke Jamal?" tanya Tuan Gustavo kepada supir pribadinya.
"Sudah, Tuan. Baru saja," balas Pak Samsul.
"Jamal, laksanakan dan jaga baik baik anak saya yah? Hari ini kamu baru percobaan. Semoga kamu bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan saya," titah Tuan Gustavo. Pelan namun terdengar cukup tegas dengan tatapan yang lumayan tajam.
"Baik, tuan." balas Jamal pelan.
"Ya udah, Pah. Selin berangkat dulu," ucap Selin kemudian menjabat dan mencium punggung tangan sang ayah kemudian langsung masuk ke dalam mobil.
Tuan Gustavo hanya menghela nafasnya berat. Dia benar benar kehilangan keceriaan anaknya beberapa bulan terakhir ini. Kali ini dia tidak memberi sang anak nasehat karena dia tahu sang anak malah akan membantahnya dan semakin bersikap dingin.
"Jamal! Ngapain bengong? Ayo masuk! Sudah siang juga," ucap Selin sedikit membentak hingga Jamal terkesiap dan tergagap. Jamal pun langsung pamit dan bergegas duduk dibelakang kemudi terus melaju lah mobil yang dikendarainya.
Tadi Jamal terbengong karena merasa ada yang aneh dengan keluarga tuannya. Dari kuluar kamar hingga berangkat kerja, Jamal tidak melihat istri majikannya sama sekali. Bahkan saat Jamal bertugas membersihkan rumah, tak satupun ada foto keluarga di semua ruangan. Sungguh rasa penasaran Jamal mencuat begitu saja.
"Ikuti arahanku dan hapalkan jalannya biar aku nggak perlu mengulang memberi arahan sama kamu," ucap Selin begitu mobil sudah keluar dari rumah dan sekarang hendak keluar komplek perumahan elit tersebut.
"Baik, Non." balas Jamal tanpa menoleh. Dari belakang Selinpun memberi petunjuk dan Jamal mengamati serta menghafalnya.
"Ponsel kamu mana?" tanya Selin. Nada bicaranya benar benar tak bersahabat sama sekali. Wajahnya pun tetap menunjukkan raut marah.
"Buat apa, Non? Mau diambil lagi?" tanya Jamal dengan polosnya. Karena Jamal merasa kaget saat tiba tiba wanita yang duduk dikursi belakang meminta ponselnya.
"Ngapaian aku ngambil barang yang sudah aku kasih? Tinggal ngasih aja, apa susahnya sih? pake nuduh sembarangan," sungut Selin semakin judes ucapannya.
Jamal pun hanya mengulas senyum kemudian merogoh saku celana. Sedangkan Selin yang melihat Jamal merogoh saku, pikirannya kembali mengingat kejadian dipagi hari saat tangannya tak sengaja menggengam sesuatu yang tak lazim pada diri Jamal.
"Nih, Non, " ucap Jamal sambil menyerahkan ponselnya. Dengan wajah juteknya, Selin langsung meraih ponsel tersebut dan menyalakannya.
Mata Selin membulat sempurna dengan bibir membulat dan tangan kiri terangkat menutup mulutnya saat mata itu menatap foto dirinya berada dalam layar ponsel tersebut.
"Sial! Kenapa foto ini masih ada?" gumam Selin namun cukup terdengar oleh sang sopir. Jamal pun mengulas senyum hingga mengundang tatapan tajam sang pemilik foto.
Dari senyum yang Jamal sunggingkan membuat Selin menyadari kalau sopir barunya itu sudah melihat foto dirinya yang sedang berpose seakan perempuan nakal.
"Jangan berpikir buruk tentang saya hanya karena foto seperti ini!" sungut Selin.
Kening Jamal pun berkerut sembari mencerna ucapannnya nona majikan. Sedetik kemudian dia mengerti apa maksud dari ucapan Selin dan dia hanya mengangguk sembari menahan senyum.
"Sini ponsel jadul kamu," pinta Selin dan lagi lagi Jamal merogoh sakunya.
Setelah menerima ponsel jadul Jamal, Selin langsung bertindak mengutak atik ponsel tersebut sesuai petunjuk yang Tuan Gustavo berikan. Melalui bantuan data ponsel pribadinya, ponsel yang akan digunakan Jamal diisi berbagai macam aplikasi yang diburuhkan. Dari aplikasi pesan chat dan petunjuk arah. Selin pun tak lupa menghapus semua sisa foto yang ada di dalam ponsel yang akan Jamal pegang.
"Nih sudah lengkap. Tinggal kamu pelajari," titah Selin masih dengan nada ketus.
"Siap, Non. Makasih." balas Jamal sumringah namun Selin hanya berdecih.
Hingga beberapa saat kemudian, sesuai petunjuk Selin, mobil pun telah sampai di depan kampus. Setelah mobil terparkir, Selin bergegas turun dari mobil. Namun saat kedua kakinya menginjak bumi, mata Selin menangkap dua sosok orang yang pernah dia sayangi dengan tatapan kebencian.
Jamal yang ikut turun pun merasa heran sat matanya menatap Selin kemudian arah pandangnya mengikuti arah Selin memandang.
"Siapa mereka? Kenapa pandangan Non Selin begitu?" gumam Jamal dalam hatinya.
...@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
fitria linda
gaya... hp ne wes manak
2023-03-25
2
Kardi Kardi
hahaha foto vulgar maybeee sel
2023-01-30
1
misterius
aksi mulai terjadiii
2022-12-29
0