Seperti dua sahabat sebelumnya, Iqbal kini juga sudah berada di rumah calon majikannya. Benar kata Pak Budi, tempat kerja mereka memang terpisah namun masih satu komplek. Nyatanya memang benar, hanya beda blok saja. Jaraknya juga tidak terlalu jauh. Rumah majikan Jamal ada di blok A, sedangkan majikan Rizal Di blok D dan Iqbal kini ada di rumah Blok F.
Mata Iqbal menerawang, menyapu setiap sisi ruang tamu. Berkali kali rasa takjub hadir dari dalam hatinya melihat betapa mewah dan besarnya rumah ini. Jika dibandingkan, ruang tamu rumah ini sama dengan ruang tamu, ruang tengah dan dua kamar rumah Iqbal. Pemuda itu hanya geleng geleng kepala saat isi kepalanya membayangkan itu semua.
"Seandainya ini rumahku, pasti para cewek sudah banyak yang antri nunggu giliran minta di sayang." gumam Iqbal sembari cengengesan. Dari ketiga pemuda itu, tingkat halusinasi Iqbal memang paling tinggi. Terutama soal berpacaran.
Disaat Iqbal sedang menikmati halusinasinya, mata bulat Iqbal dikejutkan dengan kedatangan tiga wanita dari arah dalam rumah. Bisa dipastikan tiga wanita itu adalah sang ibu dan putri putrinya. Itulah yang Iqbal tebak dalam hatinya sendiri.
Sesaat Iqbal pun tertegun dengan apa yang dilihat olehnya. Matanya seraya enggan berkedip saat melihat penampilan dua wanita yang nampak masih muda di belakang wanita paruh baya. Pemandangan yang tersaji membuat nafas Iqbal tiba tiba menderu hebat. Bagaimana Iqbal tidak bergejolak jika dihadapannya ada dua wanita cantik memakai celana yang super pendek serta pakaian atas super ketat dan terbuka dibagian perutnya. Sungguh ini pemandangan nyata pertama yang Iqbal saksikan secara langsung dihadapannya.
"Apa kamu yang akan berkerja disini sebagai supir? Yang direkomendasikan was wus drive kursus setir mobil?" tanya wanita paruh baya lembut namun tanpa senyum.
"Iya, Nyonya." balas Iqbal pelan dan terkesan sopan.
"Wow! Brondong, Mih." ucap salah satu wanita muda yang rambutnya di ikat ekor kuda.
"Hush kalian ini, dia jatahnya Karin." balas wanita yang di panggil Mamih itu.
"Iya tahu, Mih. Lagian kita juga sudah punya calon suami," balas Wanita yang satunya lagi yang rambutnya digerai dengan panjang sebahu.
Sang nyonya yang tadi sejenak menatap dua putrinya pun kembali mangarahkan pandanganya ke arah Iqbal. Sementara Iqbal, hatinya dibuat bingung dengan ucapan sang nyonya. Entah apa maksud dari perkataan nyonya yang menyebutkan kalau dirinya adalah jatah untuk wanita bernama Karin. Siapa Karin? Apa anaknya juga? Batin Iqbal bertanya tanya.
"Nama kamu siapa?" tanya sang nyonya.
"Iqbal, Nyonya."
"Baik. Iqbal, nanti tugas kamu adalah mengantar anak saya yang ketiga kemanapun dia pergi dan laporkan ke saya. Dan tolong, disini saya minta kerjasama dan kejujuran kamu dalam mengemban apa yang saya tugaskan, mengerti." titah sang nyonya tegas dan penuh wibawa namun tetap anggun.
Iqbal pun mengangguk meski hatinya sedikit bingung dengan pekerjaannya. "Baik, Nyonya. Apa tugas saya itu saja Nyonya?"
"Tugas inti kamu itu. Menemani anak saya kemanapun dan mengawasinya. Untuk tugas tugas yang lain, nanti kamu bisa tanyakan ke Mbok Inah saja." terang sang nyonyah.
Dan disaat bersamaan, masuklah dua orang dari pintu utama. Seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda yang berjalan dibelakang pria itu. Mata mereka pun langsung tertuju pada seorang pemuda yang sedang duduk di kursi tamu dan memandang mereka juga.
"Ada apa ini, Mih? Kok pada ngumpul?" tanya pria paruh baya tersebut yang ternyata suami dari sang nyonya.
"Ini pih, orang yang bekerja untuk ngawasin Karin. Biar dia nggak salah gaul lagi," jawab Nyonya. Iqbal pun memberi hormat dengan menganggukan kepalanya satu kali.
"Itu anak saya Karin. Mulai besok kamu akan mengantar dan mengawasi kegiatan dia," sambung sang nyonya. Sementara anak yang bernama Karin terlihat memandang sang orang tua dengan tatapan tak suka.
"Nggak usah protes, turutin aja apa kata Mamih." ucap sang kakak lantang.
"Bener, semua itu juga demi kebaikan kamu," timpal kakak yang satunya lagi.
Sementara Karin hanya terdiam. Tanpa mau melawan kata kata kakaknya. Perempuan itu segera saja berlalu pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Nampak sekali wajahnya dipenuhi amarah yang sedang dia tahan.
Iqbal yang menyaksikan itu semua pun semakin dibuat penasaran. Entah ada masalah apa yang terjadi di rumah ini. Namun dilihat dari sikap kedua kakaknya, sepertinya telah terjadi sesuatu terhadap perempuan bernama Karin itu. Apalagi tugas yang diberikan, semakin membuat Iqbal penasaran ada masalah apa di rumah ini?
"Ya sudah, mending kamu istirahat dulu, biar nanti Mbok Inah yang menunjukkan kamar kamu."
"Baik, Nyonya, terimakasih."
...@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
El Wang Xiao
piye to kiiiiiii 🤣🤣🤣🤣
2023-11-22
2
ayu nuraini maulina
waduh jgn2 si Iqbal jd .....
2023-11-05
0
DenMasHerryGrp
ke enaknya hidup lanang betigo itu
2023-03-31
0