"Apakah Mamih memberi tugas khusus untuk kamu?" Iqbal terperangah dengan pertanyaan yang Karin lontarkan. Dahinya berkerut dan sekilas menoleh anak majikannya. Ternyata di belakang, Karin pun sedang menatapnya sehingga tatapan mereka bertemu.
"Apa maksudnya, Non? Tugas khusus gimana maksudnya?" tanya Iqbal penasaran.
Karin pun mendengus kemudian menoleh dengan menunjukkan wajah kesal kemudian memberi perintah, "Udahlah, mending kita jalan."
"Baik, Non." balas Iqbal langsung menyalakan mesin mobil dan mobil pun melaju meninggalkan area parkir kampus.
Dalam.perjalanan, sungguh Iqbal masih memikirkan pertanyaan Karin. Pikirannya pun mencerna dan mencoba mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaan Karin.
Setelah beberapa saat berpikir, Iqbal pun mengingat ucapan nyonya Amanda, ibunya Karin. Iqbal pun mengerti maksud dari peryanyaan Karin. Tapi dia juga merasa heran. Bagaimana mungkin perintah sang Nyonya malah dianggap tugas khusus oleh Karin. Bukankah wajar jika hal itu dilakukan oleh seoeang ibu demi menjaga anaknya. Kenapa Karin seakan mempermasalahkannya? Sungguh Iqbal tak habis pikir jika Karin menganggap perhatian orang tua adalah tugas khusus untuknya.
"Maksud Non Karin, tugas khusus yang diberikan Nyonya itu tugas mengawasi kegiatan Non Karin dan melaporkannya, gitu yah?" tanya Iqbal meluapkan apa yang ditemukan dalam pikirannya.
Karin langsung menoleh dan menatap sebal ke arah Iqbal. "Nah itu tahu, tadi pura pura nggak tahu," sungut Karin.
Iqbal terperangah. Tuduhan Karin membuat dia terkejut bukan main. Iqbal pun segera menyangkalnya. "Non. Itu bukan tugas khusus kali, itu kan wajar sebagai bentuk perhatian orang tua."
Nampak wajah masam dan sebal langsung Karin tampilkan. Bagaimana mungkin Iqbal semudah itu menyimpulkan apa yang ada dipikirkannya.
"Itu bukan bentuk perhatian tapi itu adalah bentuk pengekangan dan ketidak percayaan orang tua kepada anaknya. Bagaimana mungkin seenak itu kamu mengatakannya?" sungut Karin.
Lagi lagi Iqbal terperangah. "Ketidak percayaan bagaimana? Gini ya, Non. Contoh saja ibu saya. Dia juga sering melakukan hal itu ke saya. Iya sih kadang jengah saat diperlakukan seperti itu. Namun Mereka kayak gitu juga demi kebaikan kita. Untuk kita agar bisa menjaga diri."
Ucapan Iqbal yang berapi api sungguh terlihat semakin menyebalkan dimata Karin. Dia pun mendengus dan langsung berpaling menatap jalanan. Bibirnya tertutup rapat dengan perasaan yang sangat bergemuruh.
Diamnya Karin membuat Iqbal tercengang sesaat, namun dia menyimpulkan kalau Karin mungkin sudah mengerti setelah Iqbal dengan lantang menjabarkan apa yang menurut Karin itu salah.
Sedetik kemudian, saat Iqbal kembali fokus ke jalan dengan pikiran tertuju pada wanita yang duduk di jok belakang, tiba tiba wanita itu bersuara dengan nada bergetar.
"Orang tuaku dan orang tuamu beda, Bal. Orang tua kamu masih percaya sama kamu sedangkan orang tuaku. Mereka sama sekali tidak percaya dengan apapun yang berhubungan denganku."
Iqbal tercekat. Dia menoleh sejenak ke arah Karin. Matanya memicing saat menyaksikan Karin seperti mengeluarkan air mata. Iqbal semakin dibuat bingung dengan keadaan seperti ini. Biar lebih tenang, Iqbal pun mencari tempat untuk mengehentikan mobil sejenak.
Beruntung, Iqbal masih mengingat jalan yang tadi dia lewati sesuai petunjuk yang Karin arahkan saat berangkat kampus. Dan Iqbal juga sedikit mengingat apa yang dia lihat sepanjang perjalanan. Dan saati ini mobil itu berhenti di sebuah taman yang tadi di lalui.
Berhubung waktu sudah siang, taman itu terasa panas dan sepi pengunjung. Tidak sama seperti saat tadi pagi.
"Kenapa berhenti?" tanya Karin.
Iqbal pun mengulas senyum kemudian berkata, "Biar Non Karin bisa menenangkan diri sejenak."
Setelah mengucapkan kata tersebut, Iqbal memilih diam. Begitu juga Karin. Pikiran mereka berkelana. Banyak pertanyaan yang ingin Iqbal ajukan kepada Karin, namun dia sadar, dia hanya supir dan dia baru kerja hari ini. Jadi Iqbal tidak ada keberanian untuk bertanya lebih jauh.
Saat hati dan pikiran Iqbal berpacu mencerna dan menyimpulkan semua yang dia alami tiba tiba Karin mengatakan sesuatu yang membuat Iqbal terperangah.
"Aku sudah tidak dipercaya sama sekali oleh orang tuaku. Saking tidak percayanya, orang tuaku selalu mengontrol kemanapun aku pergi dan apapun yang aku lakukan."
Iqbal hanya sanggup mendengar tanpa menoleh. Dari suaranya dia tahu kalau Karin sedang menahan diri agar tidak menangis.
"Apa aku boleh tahu, sejak kapan hal itu terjadi?" tanya Iqbal pelan.
Sejenak Karin menghela nafasnya dan dia pun menjawab pertanyaan Iqbal hingga pria itu kembali ternganga.
"Sejak kedua kakakku kembali dari luar negeri."
...@@@@@...
Astaga! kenapa aku bikin kisah se aneh ini? Yeahh ketiganya akan menghadapi konflik yang beragam, kira kira diantara ketiga pria ini, siapa yang paling beruntung dan siapa yang paling brengsek? Ikuti terus kisah ketiganya, dan jangan lupa kasih dukungan juga dong, biar othor makin semangat up nya? oke, kalian tahu kan dukungan apa apa itu? dan jangan lupa juga besok senin loh ya.
Kemarin yang minta fisual, ini dia yang menurut aku cocok untuk ketiganya. Jangan pada protes, oke?
Jamal
Rizal
Iqbal
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
kepada majikan seharusnya menggunakan kata 'saya' sebagai bentuk sopan santun.
2023-11-23
2
juendidi
foto nya ga ada satu pun nyangkut.. hehe
2023-11-18
0
juendidi
ya dikasihlaa...
2023-11-18
0