Aku sedikit kebingungan, ingin aku bertanya pada Ki Sugro yang berada di sampingku, namun jika aku berbicara secara langsung, itu terlalu menarik perhatian banyak orang.
Aku mencoba untuk berdialog dengan Ki Sugro lewat pikiran dan batin ku.
" Bagaimana ini Ki ? "
"Semua terserah padamu, Anom! kamu juga pasti tahu keputusan apa yang terbaik untuk semuanya." Tutur Ki Sugro
" Kalau menurut ku lebih baik di tebang saja Ki, gimana?" tanyaku pada Ki Sugro, namun Ki Sugro malah menghilang begitu saja.
" Lah si aki kemana? Malah ngilang, dasar! hufffht.. ya sudahlah, semoga keputusanku ini, keputusan yang benar." harapku
" Bah?! Woy ?! Elu kenapa? Di tanya malah diem." ucap Iman bertanya membuyarkan lamunanku.
" Eh, iya Man, sorry, hmm..setelah tadi aku berpikir lama, menurutku lebih, kalau kita tetap menebangnya, Agar siluman itu tidak bisa kembali lagi." Tuturku pada semua.
Pak Amin dan semua warga yang setuju mengangguk, namun ada sebagian yang ragu akan keputusannku.
"Tapi bah, gimana kalau setelah menebang teror itu tetap tidak hilang "ungkap Pak Yaya ragu.
" Aku yakin teror itu hanya gertakan, untuk mencegah kita agar tidak menebang nya, aku yakin setelah di tebang kekuatan mereka juga akan ikut melemah, karena dengan menebangnya juga, tempat sumber energi mereka akan ikut menghilang." jelasku pada Pak Yaya.
Semua pun mulai paham dan setuju dengan keputusanku.
" Tapi bah, siapa yang akan menebang pohon itu, kelihatannya warga sudah tidak mau dan ragu untuk menebangnya. Gara-gara teror itu semua warga jadi ketakutan " ungkap Pak Toto.
"Bagaimana kalau Abah saja yang menebang?" sahut Pak Yaya.
"Mohon maaf Pak, bukannya saya tidak mau, tapi alangkah baiknya jika yang menebang pohon itu adalah warga asli dari kampung sini. sedangkan saya hanya tamu pak." Jelasku.
" Benar juga, apa tidak ada dari kalian yang sukarela mau menebang pohon itu demi kebaikan kampung kita?" Tanya PaK Yusuf kepada seluruh warga yang hadir disini.
Mendengar perkataan Pak Yusuf semua warga saling bertatapan dengan ragu bahkan ada yang enggan, Mereka hanya bisa berbisik saling menyuruh satu sama lain untuk mengajukan diri.
Melihat itu, Pak Yusuf hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. kecewa akan sikap para warga.
" Biar aku saja yang menebang pohon itu, Pak!" Ucap Rusli berbicara dengan lantang.
Semua warga kaget mendengarnya, terutama Pak Amin.
" Jangan, Rus! bagaimana jika penunggu pohon itu menangkap kamu lagi! Tidak! bapak tidak setuju! Bapak tidak mau!" tegas Pak Amin pada Rusli.
" Kalau bukan saya, lantas siapa lagi, Pak! semua ini terjadi juga gara-gara saya. Karena saya bebas, Siluman kera itu kini mengincar warga. Semua ini salah saya. Lagian saya sudah muak melihat pohon itu Pak! mengingatkan saya pada penderitaan yang saya alami selama disana. Mungkin dengan cara ini aku bisa membalas perbuatan siluman itu dengan menghancurkan pohon berharga miliknya!" Tukas Rusli dengan geram dan menahan Amarah.
" Kamu sangat berani,Rus! Tenang saja kamu tidak sendirian, aku akan ikut membantu menebang pohon itu bersamamu." sahut Iman mendukung Rusli..
"Saya hanya akan mengawasi keadaan, jika terjadi sesuatu saya akan langsung menolong dan menjaga kalian dari jauh." sahutku pada Iman dan Rusli.
"Kalau gitu bapak juga ikut,Rus. Bapak tidak mungkin membiarkan anak bapak berjuang sendirian." sahut Pak Amin.
" Kalau begitu saya Juga! " ungkap Pak toto dengan semangat.
" Pak Yaya? elu ikut kagak? kalau nggak ikut berarti elu penakut, palingan ntar elu juga kabur lagi." sindir Pak Toto.
Pak Yaya pun tertunduk malu.
Warga yang lain pun mulai setuju dan ikut dengan suka rela.
Ada sekitar lima belas orang yang akan ikut. Pak Toto, Pak Yaya, Pak Amin, Pak yusuf, Iman juga Rusli yang akan turun langsung menebang pohon tersebut, dan sisanya akan ikut membantu dengan perannya masing- masing. Begitu pun Aku dengan tugasku, yang melindungi mereka jika terjadi sesuatu.
"Baiklah, semua sudah sepakat, malam ini kita akan menebang pohon itu ramai-ramai." ucap Pak Yusuf semangat.
Jam menunjukan pukul Tujuh malam, setelah kami semua melakukan sholat isya berjamaah, kami pun segera bergegas pergi bersama ke pohon besar/pohon keramat.
......................
Kami semua mulai menyusuri hutan, namun tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya. Di sertai angin yang cukup kencang.
Kami memutuskan untuk berteduh, dan ada beberapa dari warga yang memutuskan untuk pulang.
"Waduh Nak Abah, kenapa bisa ya! tiba tiba hujan lebat seperti ini? bahkan anginnya pun cukup kencang, apa tidak apa apa?"ucap Pak Yusuf.
"Iya nih, Bah. Anginnya besar sekali, bisa-bisa pohon-pohom disini nanti ikut tumbang dan menimpa kami." timpal Pak Yaya.
" Hush! kalau ngomong tuh di jaga! ngomong nya yang baik-baik aja bisa nggak!? Rese lu" timpal Pak toto kesal pada Pak Yaya.
"Inyaallah, tidak akan terjadi apa apa , tuhan ada bersama kita. Anggaplah hujan ini sebagai rintangan, jadi kita harus bisa melewatinya." ucap ku pada semua orang.
Mendengar ucapanku ,Rusli pun pergi mendahului kami ,menerobos hujan dan angin yang mencoba menghadangnya.
"Hey Rusli, Mau kemana? tunggu Bapak! jangan pergi sendirian !" teriak Pak Amin.
"Ayo pak! Apa yang di ucapkan abah itu benar, kita nggak boleh kalah, sama setan-setan di hutan ini" eriak Rusli dengan lantang menyemangati semua warga.
Dengan Penuh semangat Rusli pun pergi menjauh dari rombongan warga yang masih meneduh dan terdiam.
Aku, Iman dan Pak Amin segera menyusul Rusli yang sudah berjalan lebih dulu di depan kami.
"Ayo semua kita ikuti mereka." Ajak Pak Yusuf kepada para warga.
......................
Akhirnya, tibalah kami di depan pohon besar. kami dan para warga berdiri dengan berani menatap pohon, sambil memegang perkakas di tangan kami seperti kapak,gergaji dan golok.
"Nah bah, apa kita langsung mulai saja menebang pohon ini?" tanya Pak Yusuf.
"Apa gak ada ritual dulu gitu,bah? Sebelum memulainya?" Ujar Pak Yaya.
"Kita berdoa saja pada sang kuasa dan memohon perlindungan padanya, dialah pemilik segala isi di bumi ini." Ucapku
Kami mulai berdoa bersama di depan pohon, yang di pimpin oleh Pak Amin.
Cahaya senter dari warga, mulai menyoroti para penebang, Rusli menyalakan gergaji mesin nya dan mengarahkan gergaji nya pada pohon tersebut.
Suaranya mesinnya meraung-raung dengan keras. Namun anehnya akar pohon itu tetap tidak terpotong.
"Wah, keras sekali pohon ini! gergaji mesin milik saya saja tidak tembus?! keluh Rusli.
Sementara Pak Toto, Pak Yaya bersama dua warga lain mulai mencoba memotong akar gantung dari pohon itu. mereka juga kesulitan menebang pohonnya.
Imam dan Pak Toto juga berseru pada Rusli.
"Sama, Rus! akar-akar gantung ini juga keras, golok dan kapak gak bisa tembus, padahal waktu itu bisa, sekarang kenapa tidak bisa ya? bagaimana ini." keluh Pak Toto
Aku hanya bisa termenung melihat kejadian ini. Entah akan ada gangguan apalagi yang akan menimpa kami.
"Mungkin karena pohon ini sudah tua dan juga besar, lantas akar dan batang nya juga keras untuk di potong." cetus Pak Yusuf.
Rusli dan para warga pun tak berhenti mencoba , mereka berusaha untuk bisa memotong batang dan akar gantung dari pohon tersebut.
Meski dengan sekuat tenaga, hasilnya masih tetap sama, pohon itu kuat dan sulit di hancurkan
Lalu sesuatu yang tidak kami duga pun terjadi.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Yona
mampir lgi Thor
Tpi tak bisa lama aq tinggalkan hadiah!!!
2022-10-03
1
Achi
seru Thor.
2022-07-13
0
Cindy
crazy upppp
2022-07-13
1