Kondisi Rusli

Tidak lama setelah siluman kera itu kabur, tiba-tiba saja kami semua di kejutkan oleh suara teriakan seseorang yang entah dari mana asalnya.

"Aaaaaaaaaaaakh.. !!!"

Teriakan itu terdengar menyakitkan, dan memilukan seolah pemilik suara tersebut mengalami kesakitan yang amat luar biasa.

Sontak aku kebingungan mencari asal suara teriakan tadi.

"Rusli ! Itu suara Rusli bah! Apa yang terjadi padanya?! tanya Pak Amin begitu gusar, Dan benar saja dia langsung berlari menghampiri pohon keramat, hingga membiarkan Iman terbaring di tanah begitu saja.

''Rusliii ! Rusliii !" teriak Pak Amin memanggil-manggil Rusli sambil menangis dan memukul-mukul batang pohon yang keras.

" Kembalikan Rusli ! Tolong Kembalikan Ruslii! Rusli bapak di sini untuk jemput kamu ! Rusliii...! " teriak Pak Amin yang begitu putus asa, dia menangis sejadi-jadinya di bawah pohon keramat, meratapi nasib anak semata wayangnya, sambil memukul- mukul pohon keramat itu tanpa henti.

Hatiku begitu tersayat melihat keadaan Pak Amin, ada rasa amarah yang muncul ketika mengingat semua yang terjadi tadi, jelas sekali ini adalah ulah siluman kera, sehingga memacu diriku untuk ingin segera menyelematkan Rusli. Namun saat ini aku tidak boleh gegabah Dalam mengambil tindakan.

" Sepertinya karena kalah bertarung, siluman kera itu melampiaskan kekesalannya pada Rusli. Dia juga sengaja memperdengarkan Rusli yang kesakitan untuk memancing amarah kita, Anom." Tutur Ki Sugro menjelaskan situasi Rusli padaku di sana.

" Aku tahu Ki, ingin sekali aku membunuh siluman kera itu sekarang juga, Memusnahkan mahluk itu hingga benar-benar binasa dari dunia ini." Ucapku marah.

" Tidak Anom, jika kamu membunuhnya lebih dulu, teman manusia mu itu justru akan terjebak di sana selamanya atau yang terburuk, dia akan ikut binasa bersamanya dan seluruh dimensinya." Tutur Ki Sugro.

" Bagaimana bisa?!" Ucapku kaget dan tidak mengerti.

" Tentu bisa, dia bahkan mampu membuat dimensi ghoib miliknya sendiri, dia jelas bukan makhluk sembarangan, dan tidak salah lagi dia pasti memiliki kunci portal antar dimensi, dan tidak sembarangan makhluk bisa memilikinya, buktinya dia bisa keluar masuk dunia manusia sesuka hati seperti tadi, bahkan menyerang manusia seenaknya." Tutur Ki Sugro.

Aku tertegun mendengar penjelasan Ki Sugro. Aku sadar berarti dia bukan tandingan ku, dia jauh lebih kuat dari perkiraan ku. Jelas aku tidak bisa melawannya sendirian.

"Apa Aki bersedia membantuku untuk menyelamatkan temanku? Aku ragu bisa mengalahkannya sendirian." Tanyaku.

" Tentu saja, aku akan selalu mendampingi mu, malam nanti kita akan membicarakan masalah ini saat kau selesai bermeditasi, aku akan menemui mu." Tutur Ki Sugro lalu menghilang begitu saja.

Aku kembali melihat Pak Amin, dia masih saja terisak di depan pohon keramat, aku ingin memberinya waktu untuk sendiri. Namun ku lihat Pak Amin beranjak dari sana menghampiriku perlahan.

Kulit mata yang sudah berkeriput itu sudah basah di banjiri air mata, dia memegangi tanganku dengan penuh harapan.

" Abah, Tidak bisakah Abah menolong Rusli lebih cepat? Saya benar-benar khawatir sekarang, mendengar jeritannya yang kesakitan tadi, bapak tahu dia sedang tidak baik-baik saja di sana." pinta Pak Amin padaku dengan raut wajah yang kacau.

" Tenanglah pak, jangan terlalu panik, tentu saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Rusli. Untuk sekarang lebih baik kita kembali ke desa." Sahutku menenangkan Pak Amin.

Pak Amin hanya tertunduk dan mengangguk.

Di saat yang bersamaan, Iman juga bangun dari pingsannya, dia mengaduh sambil memegangi kepalanya yang pusing.

Dia lalu melirik ke sekelilingnya, dengan raut wajahnya yang berubah seketika menjadi pucat dan ketakutan, sepertinya dia teringat dengan kejadian sebelum dirinya jatuh pingsan tadi. Dia lalu bergidik.

" Bah.. apa yang sudah terjadi selama gue pingsan? Ta, tadi gue lihat setan! Ada setan bah, sekarang kemana setannya? masih ada?" Tanya Iman celingukan sambil bergidik ngeri.

" Dia udah pergi Man." Ucapku menghampirinya. Mendengar jawabanku wajah iman terlihat lega.

" Terus Rusli gimana?" Tanya Iman lagi.

Aku terdiam, bingung menjawab apa, Pak Amin juga diam dan nampak kalut.

Melihat kondisi kami, Iman seolah paham dia tahu untuk sementara dirinya tidak dulu mempertanyakan soal Rusli.

"Ugh ! badan gue kok rasanya lemas banget. Pusing sama mual juga, kenapa ya Bah?" Tanya Iman mencoba mengalihkan.

" Enggak apa-apa Man, itu hal wajar kok. loe yang orang biasa akan seperti itu jiga berbenturan dengan energi mahluk ghaib yang kuat." Tuturku sambil membantu Iman berdiri.

Iman hanya terdiam, seolah mengerti dengan penjelasanku.

" Ayo kita pulang, loe masih bisa jalan kan?" Tanyaku memastikan.

Iman mengangguk, Pak Amin pun dengan sigap memapah Iman.

"Syukurlah kita bisa pulang juga, gue sudah enggak sanggup dengar suara-suara aneh di sini, apa lagi lihat setan seperti tadi, rasanya gue mau mati aja di tempat. Gue beneran takut bah. Apa itu si penunggu pohon keramat?" Tanya Iman penasaran.

Aku mengangguk membenarkan. Iman pun bergidik ngeri.

Aku mengerti apa yang di rasakan Iman sekarang.

Bagi orang biasa seperti Iman dan Pak Amin, kuatnya energi negatif dari siluman kera, memberikan dampak yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Energi manusia akan terhisap oleh energi yang lebih besar.

Apalagi jika ada dua energi berbeda yang berbenturan, seperti pertarungan Ki Sugro dan siluman kera tadi, tanpa sadar akan memberikan efek samping pada orang biasa saja.

Tubuh akan terasa pusing, mual, dan juga lemas.

Maka dari itu, aku mengajak mereka untuk kembali ke desa agar Pak Amin dan Iman bisa beristirahat dan memulihkan tenaga mereka.

................

Kami masih terus berjalan menyusuri hutan.

Ku lihat jam tanganku menunjukan pukul empat pagi.

Suara ayam berkokok saling bersahutan, menandakan kami sudah dekat dengan pedesaan.

Jauh di belakang kami terdengar suara lolongan anjing yang mengaung dari kedalaman hutan.

Membuat Iman bergidik lagi, sepertinya dia trauma untuk pergi ke hutan lagi setelah kejadian buruk yang di alaminya tadi.

Aku merasa terhibur melihat tingkah Iman yang lucu saat ketakutan, tubuhnya terus saja bergidik, namun situasi itu tetap tidak bisa menutupi rasa kegelisahanku, karena aku belum berhasil menyelematkan Rusli. Ku kira mahluk itu akan mudah di bujuk ternyata tidak.

Kulihat wajah Pak Amin juga begitu sedih, dia tertunduk dengan tatapan yang kosong. Seolah dirinya kehilangan harapan.

................

Setelah melewati jarak tempuh yang cukup lama, akhirnya Kami pun tiba di rumah Pak Amin.

Pak Amin membuka pintu dengan tatapan yang kosong, sampai lupa mengucap salam saat masuk, di wajahnya tersirat kesedihan yang amat mendalam.

" Lho! Pak sudah pulang?" Tanya Bu Yasmin yang kaget karena tidak tahu jika kami sudah pulang.

Pak Amin nampak termenung, Bu Yasmin nampak kebingungan.

" Apa yang terjadi pada Bapak?" Tanya Bu Yasmin padaku dan Iman.

" Maaf Bu, saya tidak tahu, saya pingsan saat melihat sosok menyeramkan di hutan." Ujar Iman.

" Sosok? Apa maksudnya?" Tanya Bu Yasmin tidak mengerti.

" Tadi kami semua melihat sosok siluman penunggu pohon keramat yang telah membawa sukma Rusli Bu. Kami mencoba berkomunikasi dengan sosok tersebut tapi dia tidak mau melepaskan Rusli." Ungkapku menjelaskan.

Bu Yasmin nampak begitu syok sampai menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.

" Tidak hanya itu, bapak seperti ini karena beliau tertipu dengan ilusi yang di buat siluman kera, bapak melihat Rusli di di siksa oleh mereka. bahkan pada saat kami hendak pulang bapak mendengar teriakan Rusli di hutan. Mungkin bapak seperti itu karena syok dan panik bu." Tuturku.

" Tunggu! Teriakan Rusli? Maksudnya kalian, kalian juga mendengar suara teriakan Rusli begitu?" Tanya Bu Yasmin padaku dan Iman.

Kami berdua mengangguk.

" Tidak mungkin, kenapa semua itu bisa terjadi secara bersamaan? Atau itu hanya kebetulan." Lirih Bu Yasmin nampak berpikir.

" Memang ada apa Bu?" Tanya Iman penasaran.

"Begini, tidak lama sebelum kalian sampai tadi. Mungkin sekitar beberapa jam lalu, ibu dapat telepon dari menantu ibu. Dia bilang Rusli sempat sadar namun dia hanya menjerit kesakitan, dan anehnya itu terjadi hanya sebentar dan Rusli kembali tidak sadarkan diri . " Ungkap Bu Yasmin menerangkan.

Kami bertiga terkejut mendengar kabar itu.

" Benarkah Bu?" Tanya Pak Amin begitu kaget dan memastikan.

"Iya pak, ibu juga bingung kok bisa seperti itu, masa teriakan Rusli di rumah sakit terdengar hingga ke hutan, bahkan ibu saja tidak mendengar hanya mendapat kabar saja. Itu kan tidak masuk akal. Bahkan kejadiannya seperti terjadi di waktu yang bersamaan." Bu Yasmin nampak terheran-heran.

" Bah, apa abah tahu apa yang sedang terjadi dengan Rusli tadi? kenapa dia berteriak? Apa makhluk itu menyakiti rusli? Tolong jelaskan?" Tanya Pak Amin begitu serius.

" Ada satu hal yang saya pahami, sebenarnya itu pertanda yang baik pak, artinya raga dan sukmanya masih terhubung satu sama lain. Namun buruknya memang sepertinya siluman kera itu melakukan sesuatu kepada Rusli, dan dengan sengaja memperdengarkannya kepada kita, untuk memancing amarah kita terutama saya yang akan mencoba menyelamatkannya" Tuturku.

"Lalu bagaimana sekarang Bah, kasihan Rusli, Apakah ada kemungkinan Rusli masih bisa di selamatkan?" Tanya Pak Amin lagi.

" Tentu saja Pak, aku akan bergegas menemukan cara untuk membawa Rusli kembali." Ungkapku senang.

" Alhamdulillah Pak, mudah-mudahan kita bisa membawa kembali Rusli secepat mungkin.".sahut Iman ikut senang.

Semua nampak lega sekaligus khawatir dengan kabar tersebut.

Apa lagi Pak Amin seolah dia kembali menemukan secercah harapan namun kegelisahannya masih terlihat.

''Lantas, apa langkah kita selanjutnya,Bah?" tanya Iman padaku.

Aku berpikir sejenak.

" Untuk saat ini sepertinya kita sudahi dulu Man, saya lihat kalian berdua nampak kelelahan apalagi Abah, saya tidak mau jika kalian terlalu memaksakan diri. Apalagi sampai membebani kalian, Lagipula mendengar kemajuan Rusli tadi saya sudah lega dan yakin, dia pasti kuat dan masih bisa bertahan sampai kita selamatkan." Ungkap Pak Amin menjelaskan.

" Gimana menurut loe Bah?" Tanya Iman menanyai pendapatku.

"Ya Baiklah pak, sebenarnya saya pun membutuhkan waktu untuk merencanakan penyelamatan Rusli, ini semua tidak mudah, tidak bisa tergesa-gesa siluman kera itu adalah makhluk yang kuat, saya harus sangat berhati-hati dengannya, jika gegabah, saya dan Rusli bisa saja celaka." Ungkapku.

Semua nampak mengangguk dan paham dengan situasiku.

"Setelah di rasa rencana saya matang dan saya siap, saya akan akan datang lagi ke sini. hm.. mungkin hari Minggu nanti." Tanyaku memastikan.

" Bah, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Rusli tanpa kita duga, bahkan tadi Rusli teriak begitu, pasti siluman itu melakukan sesuatu sama Rusli. jadi hari Minggu bukankah terlalu lama, kita nggak tahu kemungkin buruk apa yang akan terjadi." ujar Iman menjelaskan.

" Hm, benar juga man kita kan haru bergegas, Tapi gue bingung kalau hari-hari biasa gue masih ada jadwal kerja." ucapku kebingungan.

"Ya terus kapan dong bah. kasihan juga Rusli." ujar Iman.

Kami semua terdiam, dan aku tengah berpikir.

" Ya sudah tiga hari lagi saya kembali ke sini tepat hari Jum'at, bagaimana bapak tidak keberatan kan?" tanyaku memastikan.

"Tidak sama sekali, saya tidak keberatan, datanglah kapanpun Abah siap, saya akan selalu menunggu kedatangan Abah kemari. Jika di rasa Abah siap langsung kabari saya." jawab Pak Amin yakin.

" Baiklah kalau begitu, oh ya, ada satu hal lagi yang harus bapak lakukan selama saya tidak ada. Boleh saya minta satu botol air?" Ungkapku.

" Tentu saja, Bu tolong ambilkan sebotol air di dapur ya." ucap Pak Amin.

" Iya pak, tunggu sebentar saya akan ambilkan." ucap Ibu Yasmin.

Setelah itu Ibu Yasmin kembali membawakan satu botol air dan memberikannya padaku.

Lantas aku pun membacakan ayat Al Qur'an pada air tersebut serta berdoa memohon kepada allah untuk memberikan perlindungan dan kesembuhannya kepada Rusli.

" Ini pak, air di dalam botol ini tolong berikan pada Rusli di rumah sakit, berikan pada waktu zuhur dan magrib, usapkan airnya sedikit pada pergelangan tangan dan kakinya." ungkapku sambil menyerahkan botol air itu ke Pak Amin

" Oh baiklah kalau begitu Bah, terima kasih banyak sudah bersedia membantu bapak demi keselamatan Rusli." timpal Pak Amin terharu.

" Sama-sama pak, bapak jangan putus asa, teruslah panjatkan doa pada allah demi keselamatan Rusli. Doa orang tua selalu menyertai anaknya." ucapku.

Bapak dan ibu pun mengangguk.

Aku dan Iman pun pamit pulang pada mereka.

Di perjalanan pulang ku lihat jam tanganku menunjukkan pukul enam pagi.

Sejuk nya udara pagi itu membuat tubuhku sedikit segar.

Di perjalanan pulang pun iman terlihat

pendiam, tidak seperti biasanya, aku tidak terlalu memikirkannya, mungkin iman pun lelah sama seperti ku, kami berdua melewati hari yang tidak biasa.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat.

Ingin rasanya aku segera sampai ke rumah dan merebahkan tubuhku yang sudah begitu penat di atas kasur.

Setibanya aku di depan rumah, Iman pun berniat pamit.

" Alhamdulilah ya bah, kita sudah sampai." ucap Iman bersyukur.

" Iya Man, makasih ya, loe udah mau anter jemput gue, mau mampir dulu? kita ngopi dulu." ajak ku

" Itu kan udah kewajiban, lagipula gue yang minta pertolongan loe bah, tapi kalau gue sekarang ngopi di rumah loe, kapan gue balik ke rumah? bisa-bisa gue kena penyakit gula dan susah tidur. sekarang tuh gue rencananya mau tidur seharian bah, badan gue udah pegal-pegal nih." Keluh Iman sambil memijat bahu kirinya.

" Hahaha, bener juga Man."jawabku

" Ya udah Bah, gue pamit ya. Assalamualaikum." Ucap Iman.

" Walaikumsalam." Jawabku.

Iman pun pergi melajukan motornya.

Aku pun masuk membuka pagar, dan mulai mengetuk pintu rumah, tidak lama Dita pun membukakan pintu.

Saat Dita melihat kedatanganku, Tidak banyak kata yang dia lontarkan.

Dia hanya menatap wajahku beberapa lama di ambang pintu. Sepertinya dia paham bahwa kondisiku saat ini sudah sangat lelah.

Aku pun masuk ke dalam rumah.

" Mandi dulu yah, terus sarapan. aku udah siapkan sarapan. Setelah itu segera istrahat." Ucap Dita meraih tas ku dan jaketku.

" Ya. Terima kasih. Anak-anak bagaimana tidurnya, nyenyak?" Tanyaku.

" Kakaknya tidur nyenyak, tapi adiknya yang kebangun tengah malam sampai jam tiga pagi, tapi setelah perutnya Kenyang dia tidur lagi." Ujar Dita menjelaskan sambil menggantungkan tas dan jaket di balik pintu kamar.

"Mungkin dia lapar." Tuturku berjalan menuju dapur. Terlihat di meja makan sudah tersedia nasi beserta lauk pauk nya. Aku pun duduk di meja makan.

" Iya mungkin dia terbangun karena tertidur sebelum makan malam." Jawab Dita, diapun mengambil piring dan menyiapkan makanan untukku.

" Tapi di rumah nggak terjadi apa-apa kan?" Tanyaku sambil makan dengan lahap untuk mengembalikan energiku.

" Alhamdulilah nggak ada kok." Jawabnya.

" Syukurlah, aku kan sudah mengaji sebelum berangkat, jadi rumah aman." Tuturku sambil mengunyah.

" Iya, makasih, makan dulu yang benar dong, masa makan sambil ngomong, aku siapkan air hangat untuk kamu mandi ya?" Ujar Dita.

Aku hanya mengangguk menjawabnya.

Selalu ada hal ganjil yang biasa Dita alami selama aku pergi meninggalkannya di malam hari. Semacam gangguan dari makhluk ghoib namun tidak terlalu mengancam. Mungkin mereka sengaja mengganggu keluargaku karena tahu aku tidak ada di rumah.

Entah itu semacam suara, sekelebat bayangan, atau kadang-kadang mereka dengan sengaja mengganggu anak-anak yang sedang tertidur lelap, sengaja membuat anak-anakku terjaga dan bermain sepanjang malam.

Sungguh aneh dan tidak masuk akal, ketika anak kecil yang sedang tertidur pulas bersama kita, tanpa tahu kapan terbangunnya, tiba-tiba sudah asik sendirian dengan mainannya di tengah malam.

Mata anak terlihat mengantuk bahkan menguap, meski sudah berusaha untuk kembali menidurkannya mata anak tetap tidak mau terpejam. Lantas apa lagi sebabnya jika bukan karena gangguan makhluk ghaib, Meski tidak mengancam tetap saja itu menganggu, tidak jarang pula Dita jatuh sakit karena selalu bergadang menemani anak-anak, mereka akan kembali tidur jika adzan subuh berkumandang.

Itulah yang sering terjadi kepada kedua anakku Rayi (2 tahun) dan Raka (10 tahun), maka dari itu jika aku hendak pergi meninggalkan mereka aku selalu mengaji surat Al-Baqarah saat malam, untuk membuat Pagar atau pelindung agar makhluk astral tidak dapat masuk ke dalam rumah.

Selesai mandi, ku dengar suara anak-anak mulai berisik di ruang televisi. Ku hampiri mereka, kulihat Rayi tengah asik menonton sambil bernyanyi, sedangkan Dita tengah menemani Raka belajar.

"Mah, enggak apa-apa kalau aku tidur?" Tanyaku pada Dita.

" Iya, tidur aja sana. Aku nggak apa-apa kok, peer Raka dikit lagi selesai." Ujar Dita menjelaskan kegiatannya.

" Ya sudah, kalau butuh bantuan, bangunkan saja." Tuturku.

" Iya, eh hari ini kerja kan? Masuk jam berapa?" Tanya Dita tiba-tiba.

" Iya kerja, hari ini kebagian masuk sif siang, jangan lupa bangun kan jam satu siang."

" Iyaa.." jawab Dita.

" Awas jangan sampai lupa, nanti kesiangan." timpal ku mengingatkan lagi.

"iya, aku tahu" jawab Dita.

Aku pun segera masuk kamar dan merebahkan tubuhku, tidak sampai lima menit, aku pun sudah terlelap.

......................

Tepat pukul satu siang Dita membangunkan ku.

" Bangun yah ! Ini udah jam satu. Nanti telat." Panggil Dita.

"Hmmm... Iya, ini juga sudah bangun kok." Jawabku lirih lalu bangkit dari kasur menuju kamar mandi.

Aku segera mencuci muka dan bersiap, sedangkan Dita tadi pamit untuk menjemput Raka pulang dari sekolah sambil membawa si bungsu Rayi jalan-jalan keluar rumah.

Tiba-tiba handphoneku berdering, ada tanda pesan masuk. Ku lihat pesan itu dari Pak Amin.

Dalam pesannya Pak Amin mengabari ku mengenai kondisi Rusli, ada beberapa pergerakan refleks dari tubuh rusli, namun dokter belum bisa mengetahui kapan Rusli akan terbangun.

Syukurlah kabar ini lebih baik daripada Rusli yang hanya terbaring koma. Ada sedikit kemajuan. Aku turut senang mendengarnya. Itu artinya arahan ku di laksanakan oleh Pak Amin.

Pak Amin juga menyuruhku untuk tetap memantau Rusli dari jauh, dia juga tidak lupa mengingatkanku akan janjiku untuk datang ke rumahnya pada malam jumat nanti.

Aku pun segera membalas pesannya, aku lupa untuk menyampaikan arahan ku waktu itu, agar pada hari Jumat nanti Pak Amin juga harus mengadakan pengajian di rumahnya. Doa harus selalu ada untuk melancarkan dan mempermudah setiap prosesnya agar Allah selalu melindungi kami semua.

..........

Tepat pukul sepuluh malam, aku selesai bekerja dan segera pulang ke rumah. Untunglah tempat kerjaku tidak terlalu jauh bisa di capai dengan jalan kaki.

Setelah sampai di rumah ku lihat hanya Dita yang masih terjaga, anak-anak sudah terlelap. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri yang sudah lengket dengan keringat.

Selesai mandi, aku pun makan malam bersama Dita, saat tengah menyantap makanan aku teringat akan ucapan Aki sugro, dia akan menemui ku malam ini.

Dan Selesai makan malam aku pun bergegas untuk shalat isya dan bermeditasi.

Sesuai janji Ki Sugro kami akan berdiskusi membahas rencana tentang penyelamatan Rusli.

Sebelum memulainya, Aku meminta pada Dita agar tidak ada yang menggangguku saat sedang shalat dan bermeditasi. Untunglah anak-anak juga sudah tidur, jadi aku bisa leluasa bermeditasi di ruang televisi.

................

Terpopuler

Comments

Rini Antika

Rini Antika

jgn pernah berhenti berdo'a, karena Kekuatan Do'a sangatlah besar..💪💪

2022-08-14

1

Yona

Yona

bunga dri My Salvador 🌹🌹

2022-07-22

1

Author yang kece dong

Author yang kece dong

😍 semangat aku mampir 🤗

2022-07-13

1

lihat semua
Episodes
1 Sang penunggu
2 Rusli
3 Rekan ghoib
4 Kondisi Rusli
5 Meraga sukma
6 Persiapan
7 Mahluk pengganggu
8 Menembus Dimensi
9 Kampung Demit
10 Rekan Ghoib.
11 Kekuatanku?
12 Dimensi siluman kera.
13 Rusli bebas.
14 Bantuan Iman.
15 Raja kera kabur.
16 Musyawarah
17 Teror
18 Dukun sang kuncen pohon.
19 Pertemuan.
20 Menebang pohon.
21 Kerasukan
22 Musnahnya Musuh
23 Pamit
24 Bab 2. Lilis
25 Gentayangan
26 Akses Dimensi.
27 Konflik
28 Penyebab kematian Lilis
29 Flashback Lilis
30 Mengakses Masa Lalu.
31 Diriku Yang Lain
32 Pengintaian Roni
33 Menggagalkan Ritual Pemujaan
34 Akhir Nini Kutek
35 Bab 2. Sekte 18
36 Kondisi Pak Rizal
37 Belenggu
38 Klewing
39 Iman Aneh
40 Teror Klewing
41 Teror Klewing 2
42 Teror Klewing 3
43 Tersesat
44 Tersesat 2
45 Adzan
46 Selamat
47 Yono
48 Di intai
49 Di bakar
50 Teror untuk Iman.
51 Putus Asa
52 Iman bergabung?
53 Kepastian
54 Pertemuan
55 Tujuan Pak Yono.
56 Berkumpul
57 Klewing menghadang
58 Terbawa Ilusi
59 Sigil
60 Kanjing Kunci
61 Kematian
62 Sang Penguasa Api
63 Dimas
64 Bab 4. Awal Mula Kekuatanku
65 Waktu berharga.
66 Membuka Diri kembali.
67 Jin Qorin Milikku
68 Dimensi pertama.
69 Bertemu Ki Dayeng
70 Aki Rongge
71 Mendapatkan brajamusti
72 Tugas Pertamaku
73 Bangsa Arof
74 Menyepi
75 Ilmu Sukma
76 Bab 5. Tugas pertamaku
77 Iman
78 Kuncen Air Terjun
79 Siluman Ular
80 Mempertahankan Iman
81 Bernegoisasi
82 Kondisi Ayah Iman.
83 Hutan
84 Pak Kuncen
85 Setan kerdil
86 Tertangkap
87 Akhir Siluman Ular
88 Bab 6. Bang Syukur
89 Ritual Aneh
90 Mencurigakan
91 Akal bulus
92 Pembuktian
93 Pernyataan Asep
94 Pintar Berdalih
95 Teror Untuk Bang Syukur
96 Pengakuan Bang Syukur
97 Bab 7 .Asep
98 Nenek Tua
99 Penjelasan Deni
100 Pertarungan Di Dunia Pararel
101 Kawan lama
102 Memulai Rencana
103 Sandiwara
104 Membongkar semuanya
105 Akhir Rita
106 Bab 8. Teluh
107 Penjelasan ilmu hitam
108 Serangan Tiba-Tiba
109 Terjadi Hal Aneh
110 Kondisi Paman Surya
111 Kisah Pak Surya
112 Family Time
113 Gubuk Tua
114 Siluman Anjing
115 Bertahan
116 Kembali pulang
117 Paman Surya Siuman
118 Dimensi Mimpi
119 Perubahan Wujud.
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Sang penunggu
2
Rusli
3
Rekan ghoib
4
Kondisi Rusli
5
Meraga sukma
6
Persiapan
7
Mahluk pengganggu
8
Menembus Dimensi
9
Kampung Demit
10
Rekan Ghoib.
11
Kekuatanku?
12
Dimensi siluman kera.
13
Rusli bebas.
14
Bantuan Iman.
15
Raja kera kabur.
16
Musyawarah
17
Teror
18
Dukun sang kuncen pohon.
19
Pertemuan.
20
Menebang pohon.
21
Kerasukan
22
Musnahnya Musuh
23
Pamit
24
Bab 2. Lilis
25
Gentayangan
26
Akses Dimensi.
27
Konflik
28
Penyebab kematian Lilis
29
Flashback Lilis
30
Mengakses Masa Lalu.
31
Diriku Yang Lain
32
Pengintaian Roni
33
Menggagalkan Ritual Pemujaan
34
Akhir Nini Kutek
35
Bab 2. Sekte 18
36
Kondisi Pak Rizal
37
Belenggu
38
Klewing
39
Iman Aneh
40
Teror Klewing
41
Teror Klewing 2
42
Teror Klewing 3
43
Tersesat
44
Tersesat 2
45
Adzan
46
Selamat
47
Yono
48
Di intai
49
Di bakar
50
Teror untuk Iman.
51
Putus Asa
52
Iman bergabung?
53
Kepastian
54
Pertemuan
55
Tujuan Pak Yono.
56
Berkumpul
57
Klewing menghadang
58
Terbawa Ilusi
59
Sigil
60
Kanjing Kunci
61
Kematian
62
Sang Penguasa Api
63
Dimas
64
Bab 4. Awal Mula Kekuatanku
65
Waktu berharga.
66
Membuka Diri kembali.
67
Jin Qorin Milikku
68
Dimensi pertama.
69
Bertemu Ki Dayeng
70
Aki Rongge
71
Mendapatkan brajamusti
72
Tugas Pertamaku
73
Bangsa Arof
74
Menyepi
75
Ilmu Sukma
76
Bab 5. Tugas pertamaku
77
Iman
78
Kuncen Air Terjun
79
Siluman Ular
80
Mempertahankan Iman
81
Bernegoisasi
82
Kondisi Ayah Iman.
83
Hutan
84
Pak Kuncen
85
Setan kerdil
86
Tertangkap
87
Akhir Siluman Ular
88
Bab 6. Bang Syukur
89
Ritual Aneh
90
Mencurigakan
91
Akal bulus
92
Pembuktian
93
Pernyataan Asep
94
Pintar Berdalih
95
Teror Untuk Bang Syukur
96
Pengakuan Bang Syukur
97
Bab 7 .Asep
98
Nenek Tua
99
Penjelasan Deni
100
Pertarungan Di Dunia Pararel
101
Kawan lama
102
Memulai Rencana
103
Sandiwara
104
Membongkar semuanya
105
Akhir Rita
106
Bab 8. Teluh
107
Penjelasan ilmu hitam
108
Serangan Tiba-Tiba
109
Terjadi Hal Aneh
110
Kondisi Paman Surya
111
Kisah Pak Surya
112
Family Time
113
Gubuk Tua
114
Siluman Anjing
115
Bertahan
116
Kembali pulang
117
Paman Surya Siuman
118
Dimensi Mimpi
119
Perubahan Wujud.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!