Setelah sekian lama aku menunggu, lalu tak lama terdengar deru motor Iman yang berhenti di depan rumah.
Aku segera membukakan pintu pagar, Iman pun masuk untuk memarkirkan motornya, setelah itu, dia pun turun dari motor dan menaruh helm nya di atas meja.
Kami pun saling menghampiri dan menyodorkan tangan kami untuk bersalaman.
" Minal Aidin..." Ucap kami bersamaan.
" Haha, lebaran udah lewat Man." ujarku.
" Ya, nggak masalah, sekalian mohon maaf lahir batin kan, siapa tahu selama nggak ketemu, gue punya salah sama loe Bah." ujar Iman cengengesan.
" Duh, kesalahan loe mah Banyak Man."jawabku.
Iman hanya terkekeh.
"Terus gimana kabar keluarga sehat?" Tanya Iman yang menjabat tanganku dengan gaya soulmatenya.
" Alhamdulillah sehat, sudah lama kita enggak ketemu Man, makin tinggi aja loe, mau saingan sama tiang listrik?" Candaku.
" Lah, loe sendiri makin pendek. Makanya kalau tumbuh itu ke atas, bukan mentok di perut." Jawab Iman membalas candaan ku.
" Mau jadi sales susu loe?" Ujarku sambil berjalan menuju pintu.
" Sensi bener, lagi dapet Bah?" ejek Iman.
" Dapet pusing kalau datang loe man." ejek ku lagi.
" Yah, kalau begitu gue balik lagi dah, merajuk gue." keluh Iman.
" Hehehe, canda man, gitu aja marah.. ih gemes deh ingin nampol." jawabku merangkul Iman, kami berdua pun terkekeh dan masuk ke dalam rumah.
" Tumben lama? Padahal rumah kita kan dekat." Tanyaku mempersilahkan Iman untuk duduk.
" Lho! Kan loe sendiri yang tadi minta di bawain makanan kemari, jadi gue keliling dulu lah, cari orang yang jualan" jawab Iman.
" Oh, mana lihat, bawa apaan?'' tanyaku.
" Martabak Nih.." ucap Iman sambil memberikan kantong keresek berisikan sekotak martabak padaku.
"Wah, makasih man, lumayan buat mengganjal perut." Ujarku sambil membuka kotak martabak tersebut untuk di makan bersama.
" Yoi." Jawab Iman sambil membuka jaketnya.
" Enak nih kalau di tambah kopi, gue ke dapur dulu ya, bikin kopi buat tamu terhormat." Ujarku sambil beranjak dari kursi.
" Duh, jadi malu ngerepotin tuan rumah." Jawab Iman.
" Gak apa-apa, biasanya memang loe malu-maluin." Timpal Ku sambil berlalu menuju dapur. Iman kembali terkekeh.
Tidak lama kopi pun siap, aku bawa menuju ruang tamu.
" Nih man diminum, awas masih panas." Ucapku menyuguhkan kopi tersebut pada Iman.
"Makasih bah, ngomong-ngomong istri sama anak pada kemana Bah, kok sepi?" tanya Iman sambil menyeruput kopinya.
" Ini kan sudah jam sebelas malam, ya anak sama istri udah tidur man, masa dugem." ujarku.
" Oh iya ya. Ya kali gue kira masih pada bangun gitu, Berarti kemalaman dong gue datang kesini." Ujar Iman.
" Kepagian." Timpal Ku. Iman pun kembali terkekeh.
" Ya sengaja juga sih bah, gue ke sini malam-malam, ada yang mau gue ceritain sama loe. Gue rasa pas aja ngobrol begituan malam-malam."ujar Iman
"Begituan apaan sih loe, merinding gue." Ucapku bergidik karena merasa aneh dengan ucapan Iman.
" Memangnya loe mikir apaan? Pake acara merinding segala" Ucap Iman terkekeh.
" Langsung aja lah, loe mau cerita apaan jangan bikin gue mikir yang aneh-aneh." Keluhku.
" Lah, otak loe sendiri yang kemana-mana, curiga belum dapat jatah dari istri ya? Hahaha.." Iman tertawa terbahak-bahak.
" Wah, Minta di usir ini orang. Jadi cerita kagak nih ?"ujarku jengkel.
" Iya, iya.. jadi gini, Gue tuh punya teman di komunitas burung, Rusli namanya. Dua minggu yang lalu, gue sempat titip burung gue si tohir ke rumahnya. Nah.. baru tiga hari yang lalu gue mau ambil si tohir balik,
Gue kaget lah pas datang ke sana dapat kabar kalau Si Rusli koma di rumah sakit." Ungkap Iman.
" Sakit apa memangnya?" Tanyaku penasaran, sambil mengambil satu potong martabak.
"Nah Itu dia bah yang aneh, dokter yang memeriksanya pun bingung." Ujar Iman.
" Lah, kok bisa ada dokter yang bingung sama pasiennya sendiri. dokter-dokteran kali ." Jawabku sambil mengunyah.
" Gue serius bah, Si Rusli di tangani sama banyak dokter, malah hasil Diagnosisnya menyatakan dia sehat, tidak memilik riwayat penyakit, tapi kehilangan kesadaran dalam waktu yang cukup lama, sampai sekarang dokter belum menemukan apa penyebab pastinya, Aneh kan?" Ujar Iman menjelaskan dengan serius.
" Hmm.. iya sih. apa enggak ada yang aneh sebelum dia jatuh Koma? mungkin dia jatuh di kamar mandi atau kepalanya terbentur sehingga kesadarannya hilang seperti itu." Tanyaku memastikan.
" Nah, ini yang jadi pertanyaan semua orang bah, sebelum dia koma, dia sempat hilang selama dua hari. Di temuin warga malam hari di hutan, dan lebih aneh lagi dia di temukan dalam keadaan pingsan di depan pohon yang di keramat kan oleh warga sana. Firasat gue bilang, ini bukan masalah penyakit atau apa, tapi ke lebih masalah mistis, benar nggak bah?" Ungkap Iman.
Mendengar perkataan iman, seketika aku menghentikan aktifitas makanku.
" Yang menjadi pertanyaannya adalah, apa mungkin yang telah menimpa si Rusli itu ada sangkut pautnya dengan pohon keramat tersebut, soalnya ada salah satu warga yang merasa yakin, Rusli begitu karena ulah dari si penunggu pohon keramat. Kalau menurut elu gimana?" Tanya Iman.
Iman pun menunjukkan sebuah Poto di handphone nya, ada sosok pria yang tersenyum dalam foto tersebut.
" Ini orang nya. namanya Rusli bin Amin. coba loe lihat" ucap Iman menjelaskan identitas Rusli
"Hmm, Gue nggak terlalu yakin sih, tapi biar jelas gue coba terawang dulu." ucapku sambil memandangi poto Rusli tersebut.
Aku pun memejamkan mata dan duduk bersila sambil menerawang.
Beberapa detik kemudian, Terlihat gambaran seorang pria yang wajahnya sama persis dengan pria yang ada di poto tersebut, dia terperangkap di sebuah tempat yang begitu asing dan aneh menurutku.
Gambaran itu melintas begitu saja. Tidak butuh waktu lama aku sudan mendapatkan sebuah titik terang tentang penyebab Rusli koma.
Aku memutuskan untuk menceritakan penglihatan ku itu pada Iman.
" Apa yang loe lihat bah, ketemu jawabannya?" tanya Iman penasaran yang seolah sudah mengerti dengan caraku menerawang.
"Menurut penglihatan gue man, benar adanya sih apa yang di duga warga, apa yang menimpa Rusli itu sepertinya memang ulah dari penunggu di pohon keramat tersebut." Ungkap ku.
" Nah benar kan, gue juga udah feeling sih. Terus menurut loe, kenapa si Rusli sampai jadi sasaran penunggu pohon keramat. Setahu gue dia ke sana cuman cari kayu bakar, segitu jahatnya ya, itu mahluk ganggu orang." Ujar Iman terlihat jengkel.
"Nggak juga Man, gue yakin tanpa sadar Rusli melakukan sesuatu yang membuat si penunggu pohon itu marah." Ujarku.
" Hmm, memangnya orang yang cari kayu bakar bisa bikin mahluk itu marah?"tanya Iman lagi.
" Ya kali, si Rusli nyari kayu bakar dengan cara menebang pohon, bisa aja dia tanpa sengaja menebang pohon keramat man." Ucapku.
"Nah kalau itu sih masuk akal, bisa jadi karena si Rusli mau menebang pohon keramat si penunggunya merasa terancam lalu nyerang dia." jawab Iman menduga.
" Pasti, dugaan gue juga sama." Tuturku.
" Tapi parah juga sih, penunggu pohon itu menyerang si Rusli sampai dia jatuh koma, brutal banget." Ujar Iman bergidik.
" Si Rusli Koma itu, bukan karena dia di serang secara fisik man. Tapi jiwanya Si Rusli di bawa penunggu pohon itu ke dimensinya." Tuturku.
" A, Apa!"ucap Iman terkejut bukan main.
" Maksud loe roh nya si Rusli di bawa gitu sama mahluk itu?" Tanya Iman sedikit bingung.
" Ck, kalau roh nya di ambil udah jelas si Rusli meninggal, tapi ini kan enggak, dia cuman koma, jadi yang di culik itu Sukma nya, kalau dalam daerah gue itu lelembut." Tuturku menjelaskan.
Iman mengangguk tanda dia mulai paham.
" Sukmanya di bawa kemana?" Tanya Iman penasaran.
" Tentu saja ke tempat tinggal mahluk itu, lebih tepatnya ke dimensi ghoib miliknya." tutur ku lagi.
"Gila, gila. Mahluk apaan sih itu? pasti kuat banget, sampai bisa bawa Sukma manusia ke dimensi ghaib." Ujar Iman.
" Rajanya para kera" jawabku.
"Hah! maksud loe Sun go kong." Ujar Iman.
" Ya loe kira aja, si Sun go kong mahluk jenis apa? Dia kan kuat." Ucapku memberi Iman pertanyaan.
" Hmm, jenis siluman kera kan." Jawab Iman.
" Nah itu tahu." Jawabku lagi.
Sedikit lama Iman mencerna perkataan ku.
" Berarti mahluk penunggu pohon keramat itu. sejenis siluman kera!? Begitu?" Duga Iman.
Aku mengangguk.
" Wah? kok bisa? berasa cerita film jadi kenyataan bah." Ujar Iman.
" Menurut loe, cerita film begitu, berasal dari mana? kalau nggak ada sumbernya. Nggak mungkin seratus persen imajinasi. Tentu ada mahluk nyatanya man, jangan salah mahluk mitologi benar adanya, makannya di sebut mahluk ghoib, berarti kan mahluk yang tidak terlihat, dan hanya terlihat oleh orang tertentu dengan mata batin, macam gue yang bisa lihat mereka, mereka memang ada man. Nama pun mereka punya."Tuturku.
Iman merasa takjub mendengar penuturan ku.
" Siluman raja kera yang bawa Sukma si Rusli itu bentuknya beda, pasti deh loe mikir wujudnya mirip sun go kong." Ujarku.
" lah gue kira sama." Tanya Iman.
" Ya beda lah Tohir." Ungkapku tak habis pikir.
"Bawa-bawa si tohir, nama burung gue itu, ya Gue kira sama gitu bah." Ucap Iman.
" Beda Man, wujudnya lebih besar dan lebih bringas dari yang loe kira. Mungkin loe bakal lihat langsung sosoknya sewaktu-waktu." Ucapku.
" Mulai nakut-nakutin!" Ucap Iman kesal, nampak Iman sedikit menelan ludah.
" Hahaha.." aku tertawa.
" Terus ada cara nggak buat nolong si Rusli bah?" tanya Iman.
" Ada, caranya pertama bujuk siluman kera itu untuk melepaskan Rusli, tapi jika siluman kera itu enggak mau, apa boleh buat, harus ada yang bisa membebaskan Rusli keluar dari dimensi siluman kera. Tapi itu nggak mudah karena siluman kera itu kuat." Tuturku.
"Terlalu berisiko dong bah, terlalu bahaya. Tadinya gue pikir masalah Rusli ini gak seberat yang gue kira, mungkin dengan begitu loe bisa bantu dia, bahkan Ayahnya juga minta tolong ke gue, nyuruh gue buat bujuk loe, berharap loe bersedia membantu. Tapi kalau bahaya begini gue jadi ragu nyuruh loe bantu mereka." Tutur iman nampak berpikir keras.
" Gue bisa bantu kok." Jawabku.
" Eh, Eh, Elu yakin? Menurut gue ini berat bahkan bahaya, kalau loe sampai kenapa-kanapa gimana?" Ucap Iman panik.
" Man gue bantu orang dalam masalah mistis begini bukan sekali dua kali, loe juga tahu kan. " Ucapku.
" Iya sih, tapi beneran loe yakin bisa bantu mereka? Asli gue jadi nggak enak sama loe Bah, seandainya gue juga bisa bantu tolong si Rusli."ujar Iman.
" Loe bantu doa aja udah cukup Man, kemungkinan besar buat negoisasi dengan mahluk kaya begitu susah di bujuk, paling cara terakhir yang bisa di pakai, Pergi Ke dimensi ghoib mereka pun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa. Gak sembarang orang bisa ke sana apalagi loe." Ungkapku.
"Hm, ya udah, kalau begitu, kapan loe ada waktu? Gue mau ajak loe ketemu ayahnya Rusli."tanya Iman.
" Minggu aja, gue libur kerja" Ucapku.
" oke lah, minggu gue jemput loe kemari, sebelum itu gue mau kabarin keluarga Rusli dulu, mau kasih kabar kalau loe bersedia bantu mereka." Ujar Iman, aku pun mengangguk tanda setuju.
Tidak terasa waktu pun sudah berlalu dengan cepat, jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.
" Duh, udah jam dua pagi bah, Gimana cara gue pulang" Keluh Iman cemas, sambil mengintip di balik tirai jendela, melihat suasana malam di luar yang terlihat begitu sepi.
" Pulang ya, tinggal pulang Man. rumah loe kan dekat." ucapku enteng.
" Dekat sih dekat, tapi kan loe tahu bah. jalan ke rumah gue banyak rintangannya, harus lewat kuburan, terus sekolahan malem-malem gini, Apalagi sekolah itu terkenal banyak yang lihat penampakan di sana." keluh Iman bergidik.
" Aman kok, gue pantau loe dari jauh." sambung ku.
" Beneran nih aman? kalau ada apa-apa sama gue, loe harus tanggung jawab." pinta Iman. Sambil memakai jaketnya
" Hahahaha, aman, aman, setan juga pilih-pilih, mana ada yang mau gangguin loe Man." Candaku yang mengantar Iman keluar rumah.
" Sial*n loe Abah. Mentang-mentang teman loe banyaknya setan. Sombong! Ih gemes pengen deh gue geprek." Ujar Iman terlihat kesal dan memakai helm nya.
" Hahaha, geprekin itu ayam bukan gue." Jawabku lagi. Kami pun tertawa.
Lalu Iman pun pamit, dia keluar pagar dan menyalakan motornya.
" Kalau mereka udah siap ketemu loe, nanti gue kabarin, udah ya gue balik, assalamualaikum.." ucapnya Iman pamit.
"Walaikumsalam." Jawabku, Iman pergi melaju dengan motornya.
................
Hari Minggu tiba.
Pukul sembilan pagi, Iman menelepon. Posisiku saat itu sedang bekerja.
" Bah, loe ada di rumah nggak?" tanya Iman di telepon.
" Gue lagi di tempat kerja Man."jawabku.
"Lah! Bukannya libur?" Tanya Iman heran.
" Gue di suruh lembur, kerjaan lagi numpuk. ada apa?" Tanyaku lagi.
" Loe lupa kita mau ke rumah keluarga si Rusli?" Tanya Iman.
" Waduh! Iya, sorry gue lupa" Ungkapku
" Terus gimana jadi kita ke sana?" Tanya Iman lagi.
" Malam aja gimana? Gue pulang kerja jam dua siang." ucapku memberitahu.
" Oh, ya udah malam aja gue jemput, gue udah ceritakan semua ke Mereka kemarin. Mereka nunggu kedatangan loe sekarang." pungkas Iman.
"Oke, gue tunggu loe di rumah." jawabku, Dan kami pun mengakhiri pembicaraan kami di telepon.
Seperti inilah keseharian ku, aku sudah terbiasa dengan tugas hal mistis yang terkadang ada saja waktu yang tidak pas dengan waktu bekerja, aku harus bisa semaksimal mungkin membagi waktu, selagi aku sehat tidak masalah bagiku, selama kemampuan ku bermanfaat bagi orang lain aku juga turut senang.
................
Pukul dua siang, aku pulang ke rumah. Aku di sambut oleh kedua anak laki-lakiku.
Aku melihat mereka tengah bermain bersama, Sedangkan Istriku tengah fokus menonton tv.
" Ayaaah pulang!" Ucap si sulung Raka namanya, dia bersorak melihat aku datang. Begitupun si bungsu Rayi namanya, yang sama ikut antusias.
Aku mencoba bermain dengan mereka sebentar sambil memberitahu Istriku jika aku harus pergi lagi malam nanti karena urusan mistis.
" Mah, nanti malam aku ada urusan, mau pergi sama Iman." ucapku memberi tahu Dita istriku.
" Pergi kemana?" Tanya Dita.
"Ada urusan penting yang harus aku Selesaikan." Ujarku.
"Ada orang yang harus kamu bantu ya? " tebak Dita.
" Itu tahu, kasihan pasien yang sekarang, kalau enggak di tolong segera, bisa berbahaya." Jelas ku.
" Pulang jam berapa kira-kira? Kalau bisa jangan pulang kemalaman. Kalau kamu enggak ada, anak-anak enggak bisa tidur nyenyak, seolah kaya ada yang gangguin mereka." Keluh Dita.
" Insya Allah kalau beres lebih cepat aku pulang subuh, nanti malam sebelum pergi aku mengaji dulu, biar aman anak-anak bisa tidur nyenyak." Ungkapku.
" Ya sudah, aku siapkan barang-barang yang kamu butuhkan nanti malam, aku juga sudah masak tadi, lebih baik makan siang dulu, kalau mau istirahat tidur aja di kamar, biar malam pas berangkat badan kamu segar." usul Dita.
" Iya nanti saja, aku sedang main dengan anak-anak." sahutku yang tengah seru menggambar dengan kedua putraku.
................
Malam pun tiba.
Tepat pukul delapan malam, Iman datang.
Terdengar suara motornya berhenti di depan rumah.
" Assalamualaikum." ucap Iman mengucap salam.
Dita pun membukakan pintu.
" Walaikumsalam. Eh Iman, ayo masuk dulu man." Ucap istriku mempersilahkannya masuk.
"Oh, iya kak makasih, Nandy mana kak?" tanya Iman pada Dita
" Ada Man, dia sedang mengaji di kamar. bentar ya, saya panggilkan." Kata Dita pergi menuju kamar.
Dita pun membuka pintu kamar.
" Ayah, Iman sudah datang tuh." ucap Dita memberitahuku.
" Oh, iya. suruh tunggu saja dulu, aku belum bersiap." sahutku.
" Ya sudah cepetan, kasihan nunggu kelamaan, barang-barang kamu semua sudah aku masukkan di ransel." Ujar Dita.
" Oke." Jawabku.
Selesai bersiap. Aku segera keluar dari kamar, dan menemui Iman di ruang tamu.
Aku lihat Iman tengah duduk dengan memegangi ponselnya.
" Man, mau langsung atau ngopi dulu ?" tanyaku menawari.
" Langsung aja Bah, keluarganya sudah nunggu." sahut Iman.
" Ya, ayo." Jawabku.
" Mah. Aku pamit berangkat ya? jangan lupa kunci rumah sama jendela, enggak usah nunggu pulang, aku pasti pulang subuh nanti," himbauku pada Dita mengingatkan.
" Iya." jawab Dita.
" Saya pinjam Nandy bentar ya kak, tenang aja Nandy saya ajak cari setan kak, bukan cari cewek" cetus Iman.
Dita terlihat menahan tawanya.
" Gini-gini setan juga banyak yang nyari man, kalau setan ketemu loe, setannya yang bakal lari." Timpal Ku.
"Iya , iya, terserah abah deh, leluhur abah memang yang terhebat." canda Iman membungkuk padaku seolah sedang memberi hormat.
"Wah! ini kepala minta di jitak." jawabku kesal.
"Ampun Abah suhu." ucap Iman takut melindungi kepala nya.
Kami semua pun tertawa.
Kami pun pamit pada Dita, dan segera pergi menuju rumah Rusli.
Perjalanan yang kami tempuh, kurang lebih memakan waktu dua jam untuk bisa sampai.
Karena rumah Rusli berada di sebuah kampung yang berada di kaki gunung.
Perjalanan kami kesana tidaklah mulus, banyak hambatan yang terjadi selama perjalanan.
Aku tahu ini misi menyelamatkan seseorang, pasti tidaklah mudah, tapi aku harus berusaha semaksimal untuk menyelamatkan Rusli.
Berbagai macam hambatan yang kami alami begitu banyak. Tiba-tiba hujan deras, ban yang kempes, motor tiba-tiba mogok, motor tidak kuat saat naik tanjakan, dan masih banyak lagi.
Tapi kami tidak gentar, kami terus berdoa dan berusaha untuk sampai dengan selamat ke kediaman Rusli.
................
Assalamualaikum..
Sesudah baca, jangan lupa like nya ya.. biar makin semangat buat nulis.
Jangan lupa komen dan sarannya tentang apa yang kamu rasakan setelah membaca. sebagai semangat untuk memperbaiki tulisanku yang masih kurang bagus
Terima kasih atas dukungannya.
i love you readers.
😍🥰😘
Wasalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Risfa
Mangatt kaa
2023-05-22
0
Bagus Effendik
kali ini mampir yang kedua ya kak
semangat
2022-10-13
1
Rini Antika
Aku sudah mampir lg ya, semangat terus..💪💪 maaf bacanya nyicil..🤭
2022-08-12
1