Saat bersama Ki Sugro dulu, aku memasuki dimensi kera melalui dunia pararel dengan cara meraga Sukma, berkat kekuatan Ki Sugro kami langsung terhubung ke kerajaan siluman kera.
Tapi kali ini berbeda, aku memasuki portal melalui pohon keramat, dan aku justru muncul di sebuah hutan yang sangat asing.
Bahkan, terlihat sangat jelas, terjadi perbedaan waktu antara duniaku dengan dimensi kera.
Sebelum memasuki portal di pohon keramat jelas sekali hari sudah gelap karena larut malam tapi saat memasuki portal waktu berubah menjadi siang.
Aku sedikit kebingungan sekarang.
Aku harus kemana sekarang? aku sama sekali tidak mengetahui area hutan ini.
Aku tengah berdiri di jalan setapak yang di setiap sisinya di rimbuni pepohonan besar.
Mungkinkah aku harus mengikuti jalan setapak ini, karena cuma ini satu-satunya jalan yang ada.
Aku pun memutuskan untuk mengikuti jalan setapak ini.
Suasananya sangat sepi, mataharinya sangat terik, membuatku yang lama berjalan, mulai merasa gerah dan kehausan.
Entah sudah berapa lama aku menyusuri jalan setapak ini.
Dimana sebenarnya siluman-siluman kera itu. Aku tidak melihat mereka satupun disini,apa mungkin mereka bersembunyi?
" Hey! siluman kera! Dimana kalian! Keluarlah! aku sudah ada di dimensi kalian." teriakku dan memanggil mereka.
Namun tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda dari keberadaan mereka.
Arrghh, menyebalkan, aku merasa sedang di permainkan oleh mereka.
......................
Aku sudah begitu lama menyusuri hutan ini, entah sudah seberapa jauh aku berjalan.
Aku mulai kelelahan.
Tiba-tiba aku mendengar bunyi gamelan.
Refleks, aku mengikuti arah suara itu.
Suara gamelan itu menuntunku, ke sebuah tempat yang memiliki sebuah pintu masuk dengan gapura besar, di atas gapura ada sebuah janur kuning yang tergantung, aku keheranan.
Apa mungkin di dimensi seperti ini, ada yang mengadakan acara hajatan.
Aku melihat keatas, dan membaca tulisan yang digantung di janur tersebut.
Aku terkejut, melihat tulisan yang tertera di janur itu.
Astaga, itu kan namaku! apa -apaan ini kenapa namaku bisa tertulis disana.
Aku termenung, tidak mengerti sama sekali dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Tiba tiba muncul asap tebal di depan gapura.
Lalu muncul bayangan seseorang disana.
Bayangan itu datang menghampiriku.
Semakin mendekat, semakin jelas, bayangan itu berubah menjadi sesosok pria yang bertelanjang dada.
Dia seperti seorang ajudan prajurit kerajaan.
"Kami sudah menunggumu, ikutlah denganku." ucap pria itu tanpa ekspresi.
Perasaanku tidak enak, entah apa yang akan terjadi padaku nanti, yang jelas saat ini aku merasa bodoh tanpa rekan-rekan ghaibku di sampingku.
Karena tidak ada pilihan lain, aku hanya bisa mengikuti prajurit itu.
Tidak lama aku berjalan, tiba-tiba muncul banyak prajurit, para dayang dan warga lain yang berdiri di tepi jalan setapak yang aku lalui, seakan mereka tengah menyambut kedatanganku.
Namun mereka hanya diam terpaku menatapku tanpa ekspresi.
Aku masih terus berjalan sambil memperhatikan keadaan.
Lama-kelamaan suara gamelan semakin keras terdengar.
Tiba-tiba aku disambut oleh para penari yang menari mengelilingiku.
Di tengah tarian, aku mendengar suara ramainya orang-orang yang bersorak.
Namun aneh, mereka semua tidak bersorak, justru mulut mereka tertutup dan diam.
Mereka semua hanya memasang wajah tanpa ekspresi dan menatapku tajam.
Oh Tuhan, ada apa ini? apa yang sedang terjadi?
Aku seakan terhipnotis dengan keadaan saat itu.
Ingin aku melawan, namun tubuhku tidak bisa aku kendalikan, justru aku bergerak mengikuti keinginan mereka.
Tiba- tiba entah dari mana, muncul seorang putri cantik di depanku, dia mengenakan kebaya kuning, mahkota emas dan selendang merah.
Sepertinya aku sudah terlalu jauh mengikuti alur mereka. Aku harus pergi dari sini.
Aku akan mencoba melawan dan berdoa dalam hati.
Sebab bibirku saat ini terasa kaku, mulutku seolah terkunci dan tidak bisa berkata-kata.
Aku membaca ayat kursi dalam hati.
Perlahan, ayat-ayat aku lantunkan.
Sedikit demi sedikit wujud asli mereka mulai terlihat.
Dan aku terkejut melihat kebenaran yang terbuka di balik tipuan mereka.
Seorang putri cantik tadi, berubah menjadi sosok ular raksasa.
Aku langsung teringat pada kejadian waktu di jurang, saat dimana aku di hadang oleh tiga mahluk astral.
Yang salahsatunya adalah sosok ular ini, yang sebelumnya merayuku untuk menikah untuk menjadi raja di negerinya.
Mungkinkah ini kerajaan miliknya? Aku ada lingkungannya, Aku tidak boleh diam saja, aku harus melakukan sesuatu.
Para prajurit, dayang, para penari, dan warga disini berubah menjadi ular kecil yang begitu banyaknya.
Setelah tujuh kali aku membaca ayat kursi, akhirnya mulutku bisa kembali berbicara.
" Dasar siluman ular! Lepaskan aku! Aku tidak sudi menikah denganmu!" teriakku dengan penuh amarah.
Seketika itu prajurit, dayang dan penari langsung menangkapku.
"Hihihi, kamu bisa apa? saat ini kamu sudah menjadi tawananku! tidak sia sia aku mengikuti permintaan raja kera itu, setelah sekian lama, akhirnya aku bisa mendapatkanmu. kamu tidak bisa pergi dari tempat ini, kamu harus menjadi rajaku, kita harus menikah!" seru siluman ular itu .
Sial, ternyata aku sudah di jadikan jaminan dalam perjanjian mereka.
Dasar siluman kera licik, begini caramu mencegahku agar tidak bisa menyelamatkan Rusli.
Aku mencoba memberontak dan melarikan diri dari mereka.
Namun banyak kawanan ular yang mencoba menghalangi jalanku.
Aku tetap berlari sambil menendang ular-ular itu dengan kakiku, namun ular raksasa itu tetap mengerjarku dari belakang.
Aku masih terus berlari, berlari sejauh mungkin dari tempat ini, tapi matahari yang terik membuatku kelelahan dan sangat kehausan.
Lariku juga semakin lambat, aku mencoba menepi dan mencari tempat bersembunyi.
Namun sayang, ular raksasa itu selalu berhasil menemukanku.
Aku sudah tidak kuat lagi untuk berlari, alhasil aku tertangkap dan dililit olehnya.
" Mau lari kemana lagi kamu! kamu sudah tidak bisa melarikan diri lagi sekarang, karena aku sudah menangkapmu. hihihihi..
mau atau tidak, kamu harus tetap menikah denganku." serunya
Di saat terdesak seperti ini, aku harus membacakan lagi ajian brajamusti agar siluman ular itu terbakar.
Aku mulai membacanya. baru saja aku membaca di awal ayat, lilitannya semakin kuat.
Tapi aku harus bertahan, meski sesak aku harus tetap membaca ajian itu sampai ayat terakhir.
Ditengah-tengah ayat brajamusti yang sedang aku bacakan.
Muncul energi kuat yang menyelimutiku.
Sehingga membuat lilitan ular itu mulai melonggar sedikit demi sedikit.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan
Aku segera memusatkan energi di kedua telapak tanganku.
Tepat di bagian ayat terakhir brajamusti , yang berbunyikan takbir.
Aku langsung menyerang ular itu.
"Allahuakbar!!" teriakku sambil mendorong ular itu dengan sekuat tenaga.
Seketika ular itu terpental jauh, dan dia berubah kembali menjadi tubuh manusianya yang berwujud seorang putri.
Dia terkapar lemas karena seranganku tadi.
Dia merintih kesakitan sambil memegang dadanya.
Dia lalu menangis dan memohon ampunanku.
"Ampun.. ampun..! Tolong jangan bunuh aku, jika aku mati bagaimana dengan nasib kerajaanku tanpa pemimpin, aku hanya menjalankan perintah siluman kera , karena jika tidak menurutinya dia akan menghancurkan negeriku. aku juga sudah berjanji padanya untuk menangkapmu" ucap ular itu memohon dan menjelaskan semuanya.
Begitu rupanya, ternyata di dimensi ini, siluman kera itu sungguh mendominasi, sehingga semua mahluk disini takut padanya.
" Baiklah aku mengampunimu dan akan melepaskanmu kali ini, tapi jangan pernah kamu menggangguku atau menghalangi jalanku untuk membunuh siluman kera itu" ucapku memperingatkannya.
" Baiklah, saya mengerti. terimakasih." jawab siluman ular itu dengan perasaan lega, lalu dia pun menghilang.
Aku mencoba duduk bersila untuk mengumpulkan energiku kembali.
Aku kehabisan energi karena melakukan brajamusti tadi.
......................
Hari mulai menjelang malam.
Entah mahluk apa lagi yang akan aku temui.
Saat ini aku sungguh sangat kehausan dan kelelahan.
Tiba- tiba datang seorang kakek mendekatiku dengan tersenyum.
Dia terlihat kurus kering, namun bertelanjang dada.
Aku yakin dia bukan manusia.
Sebab aku sadar, saat ini aku tengah berada dimensi lain
"Sedang apa kamu disini anak muda? kamu terlihat begitu kelelahan dan kehausan lebih baik ikut lah bersamaku ke gubuk ku, kau bisa minum dan istrahat disana, ini sudah larut malam." ucap kakek tua itu membujukku
Sepertinya tidak ada yang aneh dengan kakek ini, saat ini aku memang butuh tempat untuk istirahat. Namun aku sedikit curiga bagaimana kalau ini juga jebakan
" Tenang saja nak, kakek tidak seperti penghuni yang lainnya. tidak semua mahluk disini jahat, mari ikutlah denganku." ucap si kakek seolah bisa tau isi pikiranku.
"Baiklah kek, terimakasih." jawabku mulai berdiri dan menuruti ajakan si kakek.
Aku berjalan mengikutinya dari belakang.
Hari semakin gelap, tidak heran, karena ini adalah hutan di dimensi lain, maka mahluk-mahluk lain sebagai penghuninya.
Mereka mulai bermunculan dengan bentuk dan rupa yang aneh. memang sepertinya tidak aman jika aku berjalan di hutan ini sendirian.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Achi
🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️
2022-07-23
0
Cindy
lahh kirain bakal kolab sama putri ntu buat ngalahin siluman kera😆😆but its ok gpp tetep seruuu lanjutttt👍👍👍🤩
2022-06-27
1
VEty SAry
next nya kak, 🥳ceritanya seru sekali
2022-06-27
1