Sesuai janjiku pada Pak Amin, hari ini aku akan mengunjungi kediamannya.
Aku segera menelepon Iman untuk memintanya menemaniku ke rumah Pak Amin.
Ternyata Iman dengan senang hati mau menemani. dia akan segera datang untuk menjemputku.
Tak lama Iman pun datang.
Aku menyuruhnya masuk ke rumahku, dia tengah duduk lesehan dia atas karpet. Sedangkan aku tengah memasukan semua barang yang ku butuhkan ke dalam tas.
"Eh iya Man, kemarin beneran elu nggak nelepon gue?" tanyaku penasaran.
''Gue nggak nelepon lu abah! gue udah tidur waktu itu. Kan, kemarin gue udah jelasin. Emang ada apa sih, cerita dong, gue kan jadi penasaran." keluh iman.
" Kemarin malem tuh keluarga gue di teror lagi,Man. Secara bersamaan elu juga nelepon ke gue. Elu bilang ,elu juga sama di teror, malahan di teras rumah lu, ada banyak pocong berjejer. Dan elu nyuruh gue buat datang nolongin elu di sana, tapi gue gak bisa, soalnya keadaan keluarga gue juga sama, di teror. Eh pas semua udah aman, gue coba nge-cek kondisi elu, lu malah bilang yang lain-lain, yaa.. gue jadi heran dan berasa bego sendiri." keluhku.
" Waduh! tapi elu yakin itu gue? siapa tau elu salah denger atau gak fokus nyangka orang lain itu gue." timpal Iman.
" Lah, makanya gue yakin itu elu, soalnya.. suaranya mirip elu, malahan di ponsel gue tertera nama elu ,Man." ungkapku.
"Asli loh bah! sumpah! gue gak berasa nelpon elu! dan gue udah tidur dari pas isya! hiiii ..kok bisa ya? gue jadi merinding. Apa jangan-jangan ada yang nyamar jadi gue ya." ujarnya bergidik.
" Paling salah satu dari pocong itu kali, ada yang pengen jadi kembaran elu ,Man" jawabku singkat.
"Amit-amit deh, Jangan ngomong gitu dong bah, gue jadi takut beneran." keluh Iman.
" Habisnya gue jadi ngenes sama setan yang pura -pura jadi elu. bisa-bisa nya gue kena tipu." cetusku.
" Ya, jangan salahin gue bah, gue gak tahu apa-apa suerr! Tapi, elu dah tahu belum siapa pelaku di balik semua kejadian ini,Bah?" tanya Iman.
"Dugaan gue sih ada, mungkin setelah kita ketemu Pak Amin nanti, semua akan jadi jelas." ungkapku.
" Oh iya ya, gimana mau otw sekarang? " tanya Iman.
" Yups, gue udah siap" ucapku.
Setelah aku pamit pada anak dan istriku aku pun berangkat menuju rumah Pak Amin.
......................
Setelah menghabiskan waktu dua jam dalam kemacetan di jalananan, akhirnya kami tiba.
Aku di sambut oleh Pak Amin di depan rumah.
Melihat kedatanganku. Banyak tetangga saling memberi tahu warga yang lain.
Satu-persatu mereka pun mulai berdatangan ke rumah Pak Amin.
Ada Pak Yaya, ada juga Pak toto. dan warga yang lain yang tidak terlalu aku kenali, kami saling menyapa dan bertukar kabar.
Ada seorang bapak tua juga, yang umurnya tak jauh dari Pak Amin, dia sangat berwibawa dan di hormati oleh semua orang di sini, ternyata itu adalah Pak Kepala Desa sebut saja dia Pak Yusuf.
Suasana menjadi ramai sekarang. Semua tengah berbincang satu sama lain, aku terpaku pada seorang pemuda yang duduk di pojokan dekat Ibu yasmin.
Dia terus menatapku tanpa berkedip. Aku kenal pemuda itu. Dia Rusli.
Aku tahu dari tadi dia sedang mengamatiku. Secara, aku yang menolong dia di dimensi kera waktu itu, mungkin pertemuannya denganku seperti mimpi. karena kami kembali dengan cara yang terpisah. Sepertinya dia tidak menduga jika aku adalah orang yang sama dengan orang yang telah menolongnya.
Aku mencoba tersenyum padanya.
Melihat aku tersenyum dia justru berpindah dari tempat duduknya, kini dia duduk di samping Pak Amin yang ada tepat di sebelahku.
Dia masig menatapku dengan ragu. Dia kaget saat Iman langsung menyapanya.
"Rusli! elu udah sehat?! " seru Iman yang duduk di sebelahku.
" Alhamdulilah, Man hehehe..." ucap Rusli tersipu.
"Kapan elu balik dari rumah sakit?" tanya Iman lagi.
"Udah lama. Sekitar seminggu yang lalu." ungkap Rusli sambil sesekali melirikku.
Iman sadar bahwa Rusli terus memperhatikanku dari tadi. Dia tahu Rusli pasti canggung. Iman pun mencoba mengakrabkan kami.
" Elu kalau mau nyapa si abah, sapa aja Rus, dia gak bakal gigit kok, udah jinak." ejek Iman pada ku.
" Hehehe, iya man, dari tadi saya mau sapa dan ingin bertanya, tapi takut salah orang." ungkap Rusli malu.
" Dia yang selametin kamu Rus, orang yang bapa ceritain ke kamu tuh, selama ini dia." sambung Pak Amin.
" Oh kalau begitu, apa mungkin Aa orang yang sama yang datang ke tempat saya saat saya di tawan dulu?" ucap Rusli memastikan pertanyaan yang ingin dia utarakan dari tadi.
" Iya Rusli, saya orang yang sama yang datang melepaskan kamu dari jeratan rantai dan membawamu lari ke sebuah gua, kamu ingat?" Tuturku menjelaskan.
" Waaahhh benar! senang sekali akhirnya saya bisa bertemu Aa disini. saya ingin sekali mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya sama Aa. kalau bukan karena Aa, entah bagaimana nasib saya disana, untung Aa datang bantu saya, saya bisa selamat dan berkumpul kembali dengan keluarga. terima kasih banyak, A " ungkap Rusli bahagia senang dan haru menatapku.
" Sama- sama Rusli, kita jadikan kejadian kemarin sebagai pembelajaran dan pengalaman. Jangan di jadikan beban atau trauma. hiduplah lebih baik untuk kedepannya." Tuturku
" Iya A, sekali lagi terima kasih." ucap Rusli.
" Jangan panggil dia Aa rus! dia seumuran sama kita loh, berasa geli gimana gitu gue dengernya hehehe. dia mah cocoknya di panggil Abah. ya kan Bah?" ucap Iman sambil menyenggolku dengan bahunya.
Aku hanya terkekeh.
"Lah, bukannya Abah itu sebutan buat orang yang sudah tua, dia kan masih muda seumuran kita, Man." ucap Rusli heran.
" Lah, emang kenapa? bapak lu aja manggil dia Abah." ujar Iman terkekeh.
" Gak apa-apa rus, saya lebih nyaman dipanggil Abah, mereka yang lebih muda atau tua, justru merasa nyaman memanggil saya dengan sebutan itu, saya sama sekali tidak keberatan kok." jelasku pada Rusli.
" Ohhh ." jawab Rusli dengan mulut yang membulat
" kita mulai saja ya ke inti pembicaraan." Ucap Pak Amin pada semua warga. warga mulai fokus dan mendengarkan.
" Bah begini ,tujuan bapak nyuruh abah kemari, di kampung kami sedang ribut, ada kabar dari semua warga disini, mereka sering di teror oleh mahluk halus, Apa mungkin abah tahu penyebabnya? Dan bagaimana caranya untuk menghentikan teror itu?" Tanya Pak Amin padaku
" Iya nak Abah, bapak sebagai kepala desa disini, minta tolong sama Nak Abah ,untuk membantu kami. Semua warga mulai resah. apalagi jika menjelang malam. Kampung jadi terasa mencekam tak ada yang berani keluar." Tutur Pak Yusuf.
" Seperti apa pak? teror yang di alami warga disini?" tanyaku memastikan.
" Dua hari yang lalu, saya ketemu seorang wanita di jalan menuju hutan, dia menangis, memintaku mengantarkannya pulang, ku kira dia tersesat, entah kenapa aku merasa terhipnotis, dia justru menuntunku ke dalam hutan, lalu dia menghilang dan meninggalkan saya tepat di depan pohon besar itu, Bah" tutur Pak Yaya.
" Kalau saya! kejadiannya baru kemarin malam! Saya di datangi hantu kepala buntung bah! Dia bilang jangan tebang pohon itu, jangan tebang pohon, gitu bah, hiii.. serem." cetus Pak Toto sambil menirukan suara hantu tersebut.
"Nah, kalau dari warga yang meronda, mereka di datangi seorang kakek tua yang berpakaian serba hitam, dia juga bilang hal yang sama mengenai pohon itu. Katanya jika kita menebang pohon itu, kampung kita akan terkena kutukan. Jadi sebab itulah sekarang di kampung kita terasa terancam, bahkan sudah tidak ada yang berani meronda." Tutur Pak Yusuf sedih
Deg!
Sepertinya dugaanku kali ini benar. Sepertinya teror yang terjadi pada keluargaku, Iman, dan semua warga ini, di buat oleh satu pelaku sama, si kakek dukun sang kuncen pohon! Dia bisa tahu semua targetnya pasti karena siluman kera Memberi tahu semuanya .
" Bah, apa mungkin si penunggu pohon tahu, kalau kita akan menebang pohon itu? Lantas untuk mencegah kita, dia melakukan teror pada kami semua. " Ucap Pak toto.
" Lalu kita harus bagaimana, apa kita akan meneruskan rencana kita untuk menebang pohon itu?" tanya Pa yaya ragu.
" Harus!! kita harus menebang pohon itu !! jika tidak ,akan banyak korban lain yang berjatuhan akibat tumbal pesugihan, seperti yang di alami Rusli." tegas Pak Amin.
" Tapi kita juga tidak mau, jika harus di teror terus seperti ini pak! bagaimana kalau ternyata semua ucapan kakek tua itu benar , kampung kita akan terkena kutukan jika kita menebang pohonnya. Lagian siapa juga yang mau dan berani menebang pohon itu, terlalu beresiko!" Keluh Pak Yaya mewakili warga yang menolak.
"Justru dengan kita menebang pohon tersebut, teror ini semua akan berakhir." sambung Pak Toto.
" Tapi jika tidak berakhir bagaimana? kita kan tidak tahu akhirnya akan seperti apa setelah kita menebangnya. Bagaimana jika situasi semakin memburuk atau bahkan malah menjadi malapetaka bagi kampung kita. Lebih baik kita cari aman saja lah. Siapa tahu jika kita tidak menebangnya justu teror itu menghilang." timpal Pak yaya.
Semua orang terdiam dan termenung dalam kebimbangan.
" Bagaimana ini bah? Bapak juga bingung, apakah ada jalan yang terbaik dari semua permasalahan ini." ungkap Pak Yusuf.
" Iya bah, bagaimana? kita lanjut atau tidak untuk menebang pohon itu?" tanya Pak Amin.
Kini semua mata tertuju padaku. seolah mereka menanti sebuah penjelasan yang keluar dari mulutku.
Justru itu, saat ini aku juga bingung, aku harus bagaimana? aku tidak mau usulanku sampai salah apalagi sampai merugikan banyak orang, aku harus berhati-hati dalam mengambil keputusan.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Achi
☕☕ kopi panas buat author biar semangat up lagi nya🤗🤗
2022-07-12
0
rakarayi
hebat
2022-07-11
0
Cindy
menurutku pasti ditebang🤔
2022-07-11
1