Aku tiba di sebuah perkampungan.
Dengan rumah-rumah dari bambu beratapkan jerami. Dan hanya obor yang dijadikan penerangan disini.
Mungkin karena sudah larut malam, kampung nampak sepi.
Aku tiba di sebuah rumah. Kakek itu mengetuk pintu yang sedikit terbuka.
" Nini..! Aki membawa tamu jauh" ucap Kakek itu memberitahu.
" Siapa Ki? suruh dia masuk." sambut seorang nenek yang datang menghampiriku dari dalam rumah, dia menatapku lalu tersenyum.
Sepertinya saat ini tidak ada yang mencurigakan dari mereka, wajah mereka tidak pucat dan terlihat normal
" Ayo anak muda, duduklah kita makan bersama. Nini sudah menyiapkan makan malam untuk kita." ucap kakek itu ramah.
Di atas meja kayu tersedia berbagai macam hidangan lezat, ada banyak jenis buah, daging ayam yang utuh, serta kepala kambing. Sangat menggugah selera.
Mereka makan dengan lahap, lalu menawariku untuk ikut makan bersama.
Namun aku sedikit ragu untuk memakan semua hidangan itu, aku harus tetap waspada.
Aku menahan diri untuk tidak memakan apapun. Aku hanya meminum segelas air. Karena aku sudah sangat kehausan.
"Nak, kenapa kamu tidak makan, apakah masakan nini tidak enak?" tanya Nenek itu heran.
" Bukan ni, aku hanya sangat kelelahan, jika boleh aku ingin ikut beristirahat disini." ucapku mencari alasan.
" Silahkan, silahkan, kamar nya ada di ujung sana, istirahatlah dengan nyaman." ucap si Nenek ramah.
Aku segera pergi menuju kamar tersebut. Dan meninggalkan Kakek Nenek itu berdua yang tengah menyantap makanan.
......................
Ternyata untuk menuju Kamar itu, aku harus melewati sebuah lorong gelap, dan aku hanya membawa obor kayu di tanganku sebagai penerangan.
Sesampainya di kamar itu, di dalamnya hanya ada satu tikar yang terhampar disana, tanpa rasa curiga aku masuk dan pun duduk di tikar tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara yang ramai dari luar. refleks aku berdiri, dan mengintip dari balik jendela. Untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Lho? kok sudah siang?! Baru saja aku masuk kamar ini tadi masih malam hari ." ucapku heran.
Aku termenung sejenak.
" Arrghhh sial, tipuan apalagi ini, aku yakin sepertinya aku sudah terjebak di tempat siluman lagi." Keluhku sambil mengusap wajahku dengan kasar.
Aku segera keluar dari kamar. Ku lihat keadaan rumah nampak kosong
Kurasa Kakek dan Nenek itu tidak ada di rumah.
Ini kesempatan bagus untuk lari dan pergi dari sini.
Bergegas Aku menuju pintu keluar, namun saat ku buka pintu, yang seharusnya suasana perkampungan berubah menjadi pasar yang ramai.
"Lho kok! ada pasar di depan rumah ?" ucapku penuh tanda tanya dan kebingungan.
Aku lihat banyak sekali bermacam-macam pedagang, dan banyak juga orang yang berlalu lalang. Aku mencoba mendekati keramaian untuk mencari jalan keluar dari kampung ini.
Ternyata warga di sini memakai pakaian orang desa di jaman dulu. Pria bertelanjang dada, sedangkan wanita memakai kain kemben.
Sepertinya mereka cukup ramah, karena saat melihatku mereka tampak tersenyum.
Aku di hampiri oleh seorang pria, badannya kurus, memikul sebuah keranjang buah dipundaknya. Dia menawariku buah yang di bawanya.
"Silahkan Tuan, belilah buah- buahan ini. rasanya segar dan manis." ucap pria itu tersenyum sambil menyodorkan keranjang buah nya padaku.
Aku kebingungan. Karena seingatku aku tak membawa uang sepeserpun. Aku meraba-raba saku dipakaianku.
Anehnya ku dapati uang receh di saku celana. Bentuk koinnya juga berbeda, seperti koin jaman dulu, ada yang berwarna emas dan juga perak.
Aku hanya bisa terdiam mencoba berpikir dengan memegang uang itu di tanganku,
Aneh.. kenapa uang ini bisa ada di celanaku
" Harganya hanya dua keping saja,Tuan." ucap penjual itu memberi tahu. seketika membuyarkan lamunanku.
Tanpa pikir panjang aku langsung membeli buahnya dengan uang tersebut.
Karena lapar aku mencoba mencicipi buahnya.
"Buah ini enak sekali." seruku sambil memakannya dengan lahap.
Sambil memakan buah yang aku beli tadi, aku berjalan- jalan mengamati sekitar.
Kampung ini cukup asri. Warganya ramah sekali.
Aku mulai terbawa suasana di tempat ini tanpa sadar aku pun jadi berbaur dengan mereka. Mengobrol dan berbincang.
Aku mulai nyaman, enggan rasanya aku meninggalkan tempat ini. Hingga aku pun lupa akan tugasku untuk menyelematkan Rusli.
......................
Kurang lebih sudah empat hari aku disini. Selama itu pula, aku melakukan aktivitas yang sama. obrolanku dengan mereka terus-menerus berulang dengan kejadian yang sama.
Kenapa aku merasa, seperti de Javu.
Seperti kemarin, di tempat biasa aku membeli buah kemarin. datang lagi si penjualnya buah. namun kali ini berbeda.
Wajah si penjual tampak asing dan tidak ramah bukan si penjual yang biasa datang. Penjual buah ini menghampiriku dan menatapku tajam, sambil menyodorkan keranjang buahnya padaku.
"Sudah terlalu lama kamu disini dan tidak seharusnya juga kamu ada disini." ucapnya berbisik.
Aku keheranan mendengar ucapannya.
Orang ini bicara apa sih. Aku tidak mengerti.
Tiba- tiba pria penjual buah itu menyiramku dengan air. Refleks aku langsung mengusap-usap wajahku yang basah.
Saat aku membuka mata, aku terkejut. Suasananya jadi berubah. yang tadi siang sekarang jadi malam.
Si penjual buah tadi juga menghilang. segera aku melihat ke sekelilingku.
"Astaga !!"
Warga yang tadi terlihat seperti warga desa. berubah menjadi mahluk-mahluk aneh yang mengerikan.
Rumah dan pasar yang tadi aku lihat berubah menjadi rimbunan dan tumpukan pohon bambu yang busuk.
Kini aku mulai sadar, bahwa aku sekarang berada di perkampungan Dedemit.
Tapi sepertinya mereka tidak menyadari jika aku sudah sadar dan terlepas dari tipuan mereka.
Lalu terdengar suara bisikan tanpa wujud di telingaku
Bersikaplah seperti biasanya, berpura-puralah agar mereka tidak curiga.
Aku pun mengikuti arahan dari bisikan di telingaku, aku mulai bersandiwara, melakukan semua aktivitas yang sama seperti tadi, namun kali ini aku dalam keadaan sadar sepenuhnya dan tanpa tertipu apapun.
Meski risih aku tetap berpura- pura mencoba mengobrol dan berbaur dengan warga desa.
Bukan warga desa, melainkan warga demit. Kini aku bisa melihat wujud asli mereka.
Wajah mereka Hancur. Salah satu matanya menyembul keluar seperti akan jatuh. Banyak benjolan- benjolan di seluruh tubuh mereka. Benjolan itu mengeluarkan nanah dan darah, sehingga bau busuk tercium menyengat dari tubuh mereka. Perutku terasa mual.
Tanpa rasa curiga warga demit itu juga ikut membaur denganku, seperti biasa mereka menyuguhiku dengan makanan dengan ramah padaku.
Tapi bukan makanan yang kulihat melainkan, tumpukan hewan-hewan kecil menjijikan dan menggeliat di wadahnya.
Menyadari semua itu, aku makin mual. Ingin rasanya aku memuntahkan semua isi perutku.
Karena tidak kuat mencium aroma-aroma menjijikan dari mereka. Aku segera berbalik badan.
Tiba-tiba saat aku berbalik, muncul si pria penjual buah yang biasa menawari buah saat aku belum sadar. Aku sontak kaget.
Namun aku berusaha tenang dan mulai lagi bersandiwara, pura-pura menyapa dan bercengkrama dengannya.
Seperti biasa lagi dia menawari aku buahnya.
"Silahkan Tuan, kali ini aku menjual buah durian yang sudah matang lho, baru saja jatuh dari pohonnya." ucapnya membujukku untuk membeli.
Saat aku melihat ke keranjang buah, bukan buah durian yang ku dapati. Melainkan sebuah kepala Demit yang di satukan bersama buah busuk lainnya dalam keranjang.
Kepala demit itu memasang mata yang membelalak. Serta mulut yang menganga dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya,Bau nya sangat amis dan busuk.
Perutku kembali bergejolak. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku ingin muntah.
Agar mereka tidak curiga aku hanya membeli buah lain yang busuk di keranjang itu, lalu pergi meninggalkan mereka.
Aku harus segera mencari jalan keluar dari sini
......................
Setelah lama aku berjalan mencari jalan keluar.
Akhirnya aku berhasil menemukan sebuah gapura. Itu berarti ini jalan keluar dari Kampung Demit.
Aku segera berlari ke sana.
Tepat saat aku hampir sampai di depan gapura.
Tiba-tiba ada yang memanggilku dari arah belakang.
Ternyata si Nenek yang memanggilku.
" Mau kemana, Nak! " teriak si Nenek.
" Rumah Nenek kan disini" ucapnya lagi.
" Ah ,i.. itu Nek, aku mau jalan jalan ke hutan sebentar" jawabku berbohong.
" Untuk apa ke hutan? Di sana bahaya. banyak siluman yang lapar, nanti mereka akan memakanmu. Ayo cepat kita pulang saja." ucap si Nenek membujukku.
Agar dia tidak curiga terpaksa aku mengikutinya si Nenek untuk kembali ke rumahnya.
Namun bukan rumah yang aku lihat melainkan tumpukan pohon bambu yang tergeletak dan membusuk.
Aku makin penasaran dengan bentuk asli mereka yang sudah menipuku.
Aku melihat perubahan bentuk dari si Kakek, dia berubah menjadi sosok Dedemit yang menyeramkan, dia tengah makan dengan lahapnya.
Namun dia bukan sedang memakan makanan busuk ataupun hewan aneh seperti yang kulihat tadi, dia justru sedang memakan tubuh manusia asli yang utuh.
Dia tengah menggerogoti isi perut tubuh manusia tersebut.
Aku mual lagi, namun aku coba tahan meski ingin muntah.
Perlahan aku mendekati si Kakek. Mencoba melihat siapa mayat yang tengah di santapnya.
Mataku terbelalak saat melihat wajah mayat itu. Ternyata wajah mayat itu adalah aku.
Spontan aku kaget dan berteriak. Segera aku melarikan diri.
Melihat tingkah laku ku. Mereka mulai menyadari kalau aku sudah kembali normal.
Semua demit itu menyeringai kepadaku dengan tatapan yang tajam, seolah mereka bersiap menerkamku.
" Cepat tangkap manusia itu !!" teriak si Kakek marah.
Kini wujud kakek itu semakin jelas, wajahnya menyeramkan, giginya bertaring, kukunya tajam dan panjang. Aku segera berlari melarikan diri.
Sesekali aku mendorong demit- demit yang menghalangi jalanku. Aku mulai dikejar oleh mereka, karena jumlah mereka sangat banyak aku jadi terkepung.
Dari arah belakang. Aku tertangkap oleh si kakek demit, aku mencoba membaca ajian brajamusti.
Tapi tiba-tiba aku mendadak lupa akan ayat nya. Aku malah di seret oleh mereka.
Tubuhku di angkat, tangan dan kakiku di cengkram oleh mereka satu persatu.
Si Kakek itu malah tertawa senang.
"Hahaha.. akhirnya kita semua akan memakan daging manusia kali ini. hahaha." seru si Kakek kepada semua demit. Mereka semua pun bersorak seakan berpesta.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Entah bagaimana nasibku kali ini.
Tuhan. Aku mohon tolong aku..
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Yona
Judul bab nya saja sudah gitu di bacanya 😔
2022-09-08
1
Cindy
aiiihhhhhhhh... nunggu deuii kr rame ramena☹️cepet up yaaa kk jgn lama²🤗
2022-06-29
1
VEty SAry
seremm 😱 tapi penasaran kak ceritanya, semangat terus kak. baguss kak ceritamu ,merinding aku
2022-06-29
1