Persiapan

Hari ini aku tengah berpuasa, dan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, tepatnya hingga hari jum'at tiba.

Berpuasa membuat staminaku bertambah apalagi tenaga dalam, hati dan pikiran menjadi lebih tenang dan positif, sehingga persiapanku lebih optimal dalam misi penyelamatan Rusli.

Namun, aku sedikit bingung, karena di hari jum'at aku masih memiliki jadwal kerja. Itu berarti aku harus memilih antara pekerjaan ku atau tugas ku menyelamatkan Rusli.

Memang bagus jika aku memilih waktu saat hari libur kerja, pekerjaanku bisa selesai tepat waktu dan aku bisa fokus terhadap Rusli, namun itu terlalu lama, mengulur waktu bisa berisiko untuk keselamatan Rusli. Sukma nya sudah terlalu lama meninggalkan raganya, Bagaimana jika terjadi hal buruk padanya tanpa di duga, jadi apa boleh buat, aku memutuskan izin kerja selama sehari pada hari jum'at tersebut.

........

Hari Jum'at pun tiba.

Untunglah pihak pabrik menerima surat izin ku dengan alasan keluarga. Namun sebagai gantinya aku harus lembur di hari libur.

Sore hari aku tengah menyiapkan seluruh perlengkapan ku bersama Dita.

" Hari ini Iman akan jemput lagi kan?" Tanya Dita sambil memasukan makanan ringan ke dalam tas sebagai bekal di perjalanan.

" Iya tentu, kan memang keluarga korban yang sengaja meminta tolong pada Iman, agar Iman bisa membujukku untuk membantu mereka." Jelas Ku.

" Oh begitu. Tapi aku dengar hal yang menimpa keluarga korban kali ini cukup berat, pasti risiko nya juga besar kan? bukankah itu terlalu berbahaya? Kamu yakin bisa membantu mereka?" Tanya Dita dengan wajah cemas.

" Tentu saja, insyaallah semua akan baik-baik saja, Lagipula kejadian yang seperti ini bukan pengalaman yang pertama bagiku. Sudah banyak orang-orang yang ku tolong dalam permasalahan semacam ini, jadi aku tahu bagaimana harus bertindak, bukankah kamu juga tahu itu? sudah jangan terlalu cemas." ucapku menenangkan istriku

"Ck, justru aku cemas sekali, jika ini memang tugas yang cukup berisiko, kamu kan bisa menolaknya, pikirkan keselamatan dirimu sendiri dan keluarga kita." Tutur Dita dengan wajah cemberut.

" Aku tahu, aku juga bisa jaga diri kok, kamu dan anak-anak aku pastikan agar kalian tetap aman, jadi tenang saja oke? Jangan cemas. Lagi pula aku tidak bisa untuk tidak peduli pada orang yang meminta bantuanku, apalagi mereka terlihat menaruh harapan begitu besar padaku, bukankah jika aku menolak, aku seperti orang yang tidak memiliki hati nurani. Padahal aku mampu dan bisa menolong mereka. Bukankah lebih baik jika kemampuanku bisa bermanfaat untuk menolong banyak orang, Lagipula ini memang sudah jalan takdir ku, Kamu mengerti kan maksudku?" Tuturku menjelaskan.

"Iya, Tapi..

" Sudahlah, jangan terlalu berpikir negatif, akan lebih baik jika kamu mau mendoakan dan merestui ku untuk tugas-tugas seperti ini, doakan aku agar jalan ku mudah, doakan aku agar aku berhasil menyelamatkan korban, dan doakan juga akan keselamatanku. " Pintaku pada Dita.

Dita pun mengangguk, aku pun tersenyum.

" Nah gitu dong, aku kan jadi tenang ninggalin kamu dan anak-anak pergi, nggak lama kok, besok juga pulang" Ucapku.

Dita pun mengangguk lagi.

Tidak heran jika Dita bersikap seperti itu, aku memakluminya, karena kami sudah melewati banyak masalah yang seperti ini. bahkan jauh sebelum kami menikah, Dita selalu menemani ku di setiap tugas-tugas mistis.

Aku pun teringat akan kenanganku bersama Dita. Pernah waktu itu aku sedang menolong seseorang yang terkena guna-guna oleh dukun jahat, dan aku mencoba menolongnya, namun ternyata dukun itu tahu jika aku telah menolong korban dan menggagalkan rencananya. Sehingga dia berbalik menyerangku.

Aku sedang duduk di hadapan Dita sambil mengobati korban yang terbaring tidak berdaya, tiba-tiba tubuhku terpental jauh ke belakang dan membentur dinding. Saat itu aku di serang dari jarak jauh oleh dukun tersebut. Aku terkena pukulan tenaga dalam yang di kirimnya untuk memperingatkan ku, bahkan pukulannya itu meninggalkan bekas telapak tangan yang merah dan bengkak di bagian dada.

Dita yang menyaksikan itu tentu syok, namun dia berusaha tenang, meskipun dia panik. Tapi anehnya ku pikir dia akan takut dan pergi meninggalkan ku karena kejadian itu, tapi dugaanku salah justru dia senantiasa merawat ku hingga aku sembuh.

Tidak sampai di sana penyerangan dukun itu terhadapku terus berlanjut. Suatu hari saat terbangun dari tidur kedua mataku terasa amat perih dan panas, entah apa penyebabnya, sudah ku basuh dengan air, di tetesi obat mata tetap terasa panas dan perih hingga mataku sulit terbuka.

Dita tentu panik dan menangis, dia bingung apa lagi yang harus dia lakukan untuk membuat kedua mataku membaik, Dita mencoba membaca Ayat kursi dan meniupkannya pada mataku, lalu saat itu kedua mataku mampu terbuka, meski rasa sakitnya masih ada.

Namun sayang saat aku membuka mata aku tidak dapat melihat apapun, semuanya gelap. Kami sudah pasrah, berobat ke sana kemari namun hasil nya tetap sama, hanya berharap pada keajaiban dan pertolongan dari sang pencipta.

Selama beberapa hari itu kegiatanku di bantu Dita, sedih suka kami alami bersama, dia tidak marah, tidak benci atau pun kesal dengan keadaanku yang buta saat itu, dia senantiasa di sampingku dan selalu merawat ku.

Pada hari ketiga aku di suruh Ki Sugro untuk bermeditasi, aku di obati oleh Ki Sugro saat itu, di sanalah pertolongan Allah menyertai ku akhirnya mataku bisa kembali melihat, Dita terlihat bahagia dan terharu, Dita juga menyaksikan ada bubuk besi dan biji cabai yang keluar dari kedua mataku secara ghoib. Mungkin itulah penyebabnya, dan semua ini adalah ulah si dukun tersebut.

Terkadang terbesit rasa bersalah di benak ku, bukan kesan atau kenangan romantis yang ku berikan pada istriku saat masa pacaran dulu, justru malah kesan mistis dan kenangan seram yang aku berikan padanya.

Bahkan jarang sekali kami kencan bersama, kami justru pergi ke sana kemari bersama-sama untuk menemui orang-orang yang membutuhkan pertolonganku.

Dari jauh sebelum kami memulai hubungan, aku sudah memberi tahu semua kehidupanku padanya.

Dia dengan senang hati dapat menerimaku apa adanya hingga akhirnya dia tetap setia mendampingiku hingga sekarang.

Tidak ku sangka akan ada seorang wanita yang senantiasa mendampingiku di kala susah maupun senang. Aku seolah memiliki tujuan hidup baru di tengah rumitnya masalah mistis yang ku hadapi.

Aku berjanji aku akan selalu melindungi keluarga kecilku, akan ku pastikan mereka selalu aman, meski diriku sering kali dalam bahaya. Tidak akan ku biarkan makhluk atau pun orang jahat menyakiti keluargaku, jika sesuatu mengancam mereka, mereka akan langsung berhadapan denganku.

................

Tepat pukul tujuh malam.

Iman datang menjemput ku.

" Bah, ayo udah siap belum? Pak Amin dari tadi telepon terus nih, katanya persiapan untuk pengajian sudah beres, tapi pengajian enggak akan mulai sebelum kita datang." Ungkap Iman memberitahuku.

"Lho kenapa enggak langsung mulai aja, pake acara nungguin kita segala, perjalanan ke sana kan jauh, kalau terlambat datang gue jadi enggak enak man, kita kan bukan tamu penting."keluhku.

" Haha, sama gue juga bingung harus gimana lagi kasih tahu mereka, gue juga sudah suruh mereka mulai lebih dulu, tetap aja Pak Amin kekeuh nunggu kita datang." Keluh Iman juga.

" Ya sudah, gue juga sudah siap kok, kita berangkat sekarang aja." ucapku bergegas.

"Dita, Aku berangkat ya? Jaga anak-anak, aku tadi sudah mengaji jadi kalian bisa tidur nyenyak malam ini, awas lho! jangan sampai bergadang nunggu aku pulang." Himbau Ku pada Dita.

" Iya, iya enggak.. semoga semuanya lancar ya, hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut." Jawab Dita mengecup tanganku.

" Iya kamu jaga diri baik-baik di rumah ya." Ucapku mengecup kening Dita.

"Bah, ayo cepetan!" Seru Iman berteriak dari luar pagar dengan motor yang sudah menyala.

Aku pun pamit pada Dita. Dita pun melambaikan tangannya di depan pintu. Kami pun pergi.

Berat rasanya meninggalkan keluarga seperti ini. Bahkan dalam setiap tugas mistis sering kali menyita waktuku bersama keluarga.

Apa boleh buat itu lah resikonya, tapi jika tugas ini selesai, aku akan mengganti waktu yang hilang dengan mengajak keluargaku liburan.

"Ya allah tolong lindungi kami semua, dan mudahkanlah segala urusanku, aamiin." Ucapku dalam hati.

.....

Selama perjalanan kami bercerita, Iman menceritakan kemajuan kondisi Rusli di rumah sakit.

Aku juga menceritakan tentang hasil meditasi ku bersama Ki Sugro kemarin malam.

Aku bercerita saat aku melakukan meraga sukma, dimana aku berhasil menemukan keberadaan Rusli di dimensi siluman kera.

Lalu menceritakan keadaan Rusli yang tidak baik-baik saja di sana. banyak juga korban lain yang di jadikan budak, Mereka di siksa dengan kejam oleh para siluman kera.

Tentu saja ceritaku itu membuat Iman bergidik.

" Hii! Sadis banget, jadi selama ini bukan hanya si Rusli yang di tangkap, tapi ada juga korban lain? Kok bisa mereka terjebak di sana Bah. Jangan-jangan mereka adalah orang yang sengaja datang ke pohon keramat lalu di culik semua oleh siluman kera itu." Ungkap Iman.

"Bukan Man, mereka semua itu korban tumbal." Ucapku memberitahu

Ckiiit!

Tiba-tiba Iman menghentikan laju motornya.

"Apa loe bilang tadi?! Korban tumbal?!" Jawab Iman syok.

PLAK! Aku memukul helm Ima sedikit keras.

" Aw! Sakit bah.. Kenapa mukul sih." keluh Iman membetulkan helmnya yang miring karena pukulan ku.

" Heh! Loe gila apa?! Ngerem mendadak begitu! loe mau kita celaka?!" Bentak ku marah.

"Sorry bah, gue syok sama cerita loe tadi. Kenapa loe nggak cerita dari awal kalau si Rusli itu di bawa ke dimensi tempat arwah korban tumbal."Ujar Iman.

" Tapi kan enggak usah pake ngerem mendadak gitu Man, loe mau gue mati penasaran gara-gara belum beres nolongin si Rusli? Lagi pula gue juga baru tahu akhir-akhir ini, Setelah gue selesai meditasi waktu itu." Ungkapku.

"Iya Sorry, gue terkejut dengar cerita loe bah, Jadi selama ini pohon keramat itu tempat pesugihan dong bah, dan berarti selama ini warga desa sudah memuja siluman kera dong. Pantas saja di sebut pohon keramat." Ucap Iman.

" Ya bisa di bilang begitu, tapi menurut gue enggak semua warga melakukan pesugihan man, pasti itu ulah warga yang tidak bertanggung jawab, manusia yang menganggap sakral sebuah tempat ataupun benda, pasti di manfaat kan oleh makhluk ghoib jahat untuk keuntungan mereka, mereka akan menghuni tempat atau benda tersebut agar tugas mereka yang menyesatkan Manusia berhasil." Tuturku.

" Hii.. Ya sudah makanya loe sekarang musnahkan saja itu dimensi, habisi si siluman kera biar enggak menyesatkan manusia lagi, terus loe selamatkan si Rusli." Ucap Iman enteng.

" Eggak semudah itu Man, loe nggak lihat pengorbanan gue gimana? sudah ninggalin keluarga, izin kerja pula, semua gue lakukan buat apa, demi menyelamatkan Si Rusli." Ujarku.

Puk. Puk. Puk.

Iman tiba-tiba menepuk-nepuk pundak ku.

"Gue tahu Bah, makannya gue mau bilang Makasih, loe udah bersedia membantu sampai mengorbankan waktu loe sendiri, Apa yang loe lakuin ini nggak akan sebanding meski dunia gue kasih buat loe. Gue yakin Allah akan memberikan hal yang terbaik buat loe sebagai gantinya. Gue bakal selalu doain yang terbaik buat loe bah." Ungkap Iman terharu.

" Sama-sama Man. Gue bisa bantu orang saja sudah senang, Itu artinya kemampuan gue bermanfaat untuk orang lain." Tuturku.

" Loe memang yang terbaik bah." Ungkap Iman.

" Ada lagi satu hal yang loe belum loe tahu man." Ucapku.

" Apaan tuh?" Tanya Iman penasaran.

" loe pernah lihat kan siluman kera yang di hutan waktu itu?" Tanyaku.

" Lah, kenapa loe malah ngingetin kejadian yang gue mau lupain, gue sudah lihat kok gue juga tahu itu makhluk seram banget bah. Jadi sudah ya nggak usah di ingat-ingat gue merinding." Ungkap Iman bergidik.

" Bukan gitu Man, maksud gue cuma kasih tahu kalau siluman kera yang loe lihat itu adalah rajanya." Ungkapku.

" What! anj*r! Eh astagfirullah, beneran itu bah?!" Ucap Iman kaget.

" Beneran lah Man, buktinya dia bisa keluar masuk dunia kita lewat dimensinya, sampai bisa jadiin manusia sebagai tumbalnya. Berarti dia kuat, bawahan kera nya aja ada ribuan, Ukurannya saja sudah raksasa begitu." Ungkapku.

Gleg.

Iman terlihat menelan ludah.

" Terus cara kita selamatkan si Rusli gimana? Lawan kita aja sekuat itu bah, loe yakin loe bisa hadapin mereka semua?" Tanya Iman cemas.

" Ya tinggal lawan man." Jawabku.

" Raja ini bah, dia raja siluman kera. Pasti enggak mudah habisin makhluk model begitu. Hmm.. gimana ya.. kita butuh bantuan bah, gimana kalau loe bawa teman-teman setan loe, kan banyak, bisa buat pasukan." Ucap Iman.

" Teman setan apaan! Kalau ngomong tuh jangan asal, Gimana kalau setan yang loe maksud dengar, terus nggak terima loe sebut mereka setan terus gentanyangan sama loe." ucapku.

" Haduh dasar mulut jahat! mulut nakal!" Ungkap Iman ketakutan sambil memukul bibirnya.

"Makannya kalau ngomong tuh di jaga, enggak usah khawatir Man, gue yakin Allah juga bantu gue kok, gue enggak akan sendirian, sudah yu lanjut lagi perjalanan masih jauh ini! Malah keenakan ngobrol di pinggir jalan begini" keluhku.

"Eh, iya, hahaha.. keasyikan ngobrol sih." Iman pun kembali menyalakan motornya. Kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Berjam-jam kami lalui selama perjalanan dan akhirnya kami tiba di rumah Rusli.

Dari kejauhan aku melihat banyak orang di depan rumah Rusli, Pak amin terlihat sibuk menyapa dan mengobrol dengan para tamu.

Untunglah kami tidak terlambat datang, Mungkin sebentar lagi Pak Amin akan segera memulai pengajian.

Setelah kami memarkirkan motor, kami pun turun dan berjalan menghampiri Pak Amin.

"Assalamualaikum."

ucapku dan iman memberi salam.

"Walaikumsalam." Jawab semua orang.

" Wah! Abah, Iman sudah datang! Baru sampai?" sambut Pak Amin. Kami pun bersalaman.

" Hehe, iya Pak maaf ya kalau kami terlambat datang." jawab Iman.

" Tidak kok tidak apa-apa saya juga maklum perjalanan ke sini kan jauh, lagi pula kami belum memulai pengajiannya kok, kan nunggu kalian berdua." Ujar Pak Amin.

"Ya sudah Pak, mari silahkan di mulai saja acara pengajiannya, kasihan para tamu sudah menunggu." ujarku.

" Oh iya, ya sudah mari silahkan masuk, semua tamu sudah datang semua." sahut Pak Amin.

Kami duduk dan mencoba membaurkankan diri dengan tamu yang lain.

Masih bisa terhitung jumlah tamu yang datang untuk pengajian hari ini, mungkin sekitar dua puluh orang.

Dan sepertinya mereka warga asli desa sini.

"Ayo bah, Iman ngopi dulu." Ucap Ibu Yasmin memberikan nampan berisi kopi dan beberapa potong kue di hadapan kami.

"Tidak perlu repot-repot bu, tapi terima kasih banyak." ucap Iman malu-malu.

" Oh iya Pak, bagaimana keadaan Rusli di rumah sakit sekarang, apa semakin membaik" tanya ku pada Pak Amin.

"Alhamdulillah Bah, Meski belum terbangun keadaannya baik-baik saja. Tidak ada hal aneh terjadi" Ungkap Pak Amin merasa senang.

" Syukurlah kalau begitu, semoga dengan Rusli berhasil selamat nanti, dia akan segera terbangun." Tuturku.

" Amiin ,Tapi bah, apa tidak apa-apa jika bapak merepotkan abah terus seperti ini bapak jadi merasa tidak enak." ucap Pak Amin.

"Tidak apa- apa pak, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong dengan sesama, dan kita juga tidak boleh lupa untuk terus berdoa, Itulah sebabnya kenapa saya menyuruh bapak untuk mengadakan pengajian, agar Allah memberi kelancaran dan kemudahan dalam proses penyelamatan Rusli." ucapku mendoakan.

Aku ingin menceritakan soal kondisi Rusli di di dimensi sana, namun aku mengurungkan niatku, aku khawatir Pak Amin dan keluarga semakin panik dan terpuruk. Biarlah aku dan Iman saja yang tahu.

"Kalau begitu, kita langsung mulai saja Pak! Sekarang saya akan pergi ke pohon keramat sendirian, sementara bapak- bapak disini tetap melakukan pengajian, jangan berhenti sampai saya kembali." himbauku pada mereka semua.

Semua nampak terkejut dengan ucapan rencanaku.

"Hah! Mau kemana? loe nggak salah ngomong bah? Masa loe pergi sendirian ke hutan?" ucap Iman dengan wajah kaget.

"Iya Man, gue memang harus pergi sendiri, kalau bawa yang lain, terlalu berbahaya" tegas ku.

"Tetap saja itu berbahaya Bah, jika ada apa-apa sama loe, siapa yang nolong nanti?" ujar iman cemas.

"Tenang Man, gue gak sendirian kok." ucapku sambil tersenyum.

"Maksud loe?" Iman nampak berpikir. Lalu dia tersenyum seakan mengerti dengan ucapan ku.

" Gue paham sekarang, lu bawa teman-teman setan lu ya? Udah bikin pasukan? Berapa banyak?" tanya iman memastikan.

" Kalau memang loe bawa mereka, ya gue rasa gue enggak perlu terlalu khawatir loe ke sana sendirian Bah." ungkap Iman.

Mendengar percakapan antara aku dan Iman membuat Pak Amin dan warga menatapku dengan wajah keheranan seakan meminta penjelasan.

" Hahaha, imajinasi loe bagus man, mana ada teman setan, ngarang aja loe ah, udah lah, gue harus bergegas pergi ke pohon keramat sekarang." Ucapku sambil menyenggol lengan Iman.

" Eh, ah iya benar, mana ada teman setan yang kan? ada juga setan yang gangguin kita. Hehehe." Jawab Iman mengembalikan suasana aneh tadi. Dan warga pun tertawa sambil menggeleng-geleng kepalanya.

" Nah ingat Man! bapak -bapak sekalian ! Tolong jangan berhenti mengaji sebelum saya kembali ya." himbauku pada semua orang kembali mengingatkan.

" Benar bah nggak mau saya temani, saya khawatir." ungkap Pak Amin.

" Tidak Pak, jika bapak ikut bapak bisa dalam bahaya, lebih baik baik bapak di sini saja, bapak bisa bantu saya dengan doa bapak, Doakan saya supaya berhasil menyelamatkan rusli." Jawabku tegas.

" Ya sudah, tapi hati-hati ya? Jaga diri kamu baik-baik." Tutur Pak Rusli.

" Iya bah, loe harus jaga diri di sana, bawa hp kan? Kalau ada apa-apa langsung telpon gue." ucap iman sambil memegang pundak ku.

"Siap Man, tenang aja insyaallah gue bisa jaga diri kok." ucapku meyakinkan Iman.

Iman pun mengangguk.

Aku pun pergi dan pamit pada mereka semua dan segera bergegas menuju hutan sendirian.

Ki Sugro pasti sudah menunggu ku di pohon keramat.

................

Terpopuler

Comments

rakarayi

rakarayi

Haha iya kak, biar gak belibet baca nya cz permintaan dari narasumber aslinya minta begitu. hehehe

2022-09-08

0

Yona

Yona

namanya orang jaman dulu gampang di baca 😆 memudahkan untuk memanggil

2022-09-08

1

Achi

Achi

semangat 💪💪

2022-07-20

0

lihat semua
Episodes
1 Sang penunggu
2 Rusli
3 Rekan ghoib
4 Kondisi Rusli
5 Meraga sukma
6 Persiapan
7 Mahluk pengganggu
8 Menembus Dimensi
9 Kampung Demit
10 Rekan Ghoib.
11 Kekuatanku?
12 Dimensi siluman kera.
13 Rusli bebas.
14 Bantuan Iman.
15 Raja kera kabur.
16 Musyawarah
17 Teror
18 Dukun sang kuncen pohon.
19 Pertemuan.
20 Menebang pohon.
21 Kerasukan
22 Musnahnya Musuh
23 Pamit
24 Bab 2. Lilis
25 Gentayangan
26 Akses Dimensi.
27 Konflik
28 Penyebab kematian Lilis
29 Flashback Lilis
30 Mengakses Masa Lalu.
31 Diriku Yang Lain
32 Pengintaian Roni
33 Menggagalkan Ritual Pemujaan
34 Akhir Nini Kutek
35 Bab 2. Sekte 18
36 Kondisi Pak Rizal
37 Belenggu
38 Klewing
39 Iman Aneh
40 Teror Klewing
41 Teror Klewing 2
42 Teror Klewing 3
43 Tersesat
44 Tersesat 2
45 Adzan
46 Selamat
47 Yono
48 Di intai
49 Di bakar
50 Teror untuk Iman.
51 Putus Asa
52 Iman bergabung?
53 Kepastian
54 Pertemuan
55 Tujuan Pak Yono.
56 Berkumpul
57 Klewing menghadang
58 Terbawa Ilusi
59 Sigil
60 Kanjing Kunci
61 Kematian
62 Sang Penguasa Api
63 Dimas
64 Bab 4. Awal Mula Kekuatanku
65 Waktu berharga.
66 Membuka Diri kembali.
67 Jin Qorin Milikku
68 Dimensi pertama.
69 Bertemu Ki Dayeng
70 Aki Rongge
71 Mendapatkan brajamusti
72 Tugas Pertamaku
73 Bangsa Arof
74 Menyepi
75 Ilmu Sukma
76 Bab 5. Tugas pertamaku
77 Iman
78 Kuncen Air Terjun
79 Siluman Ular
80 Mempertahankan Iman
81 Bernegoisasi
82 Kondisi Ayah Iman.
83 Hutan
84 Pak Kuncen
85 Setan kerdil
86 Tertangkap
87 Akhir Siluman Ular
88 Bab 6. Bang Syukur
89 Ritual Aneh
90 Mencurigakan
91 Akal bulus
92 Pembuktian
93 Pernyataan Asep
94 Pintar Berdalih
95 Teror Untuk Bang Syukur
96 Pengakuan Bang Syukur
97 Bab 7 .Asep
98 Nenek Tua
99 Penjelasan Deni
100 Pertarungan Di Dunia Pararel
101 Kawan lama
102 Memulai Rencana
103 Sandiwara
104 Membongkar semuanya
105 Akhir Rita
106 Bab 8. Teluh
107 Penjelasan ilmu hitam
108 Serangan Tiba-Tiba
109 Terjadi Hal Aneh
110 Kondisi Paman Surya
111 Kisah Pak Surya
112 Family Time
113 Gubuk Tua
114 Siluman Anjing
115 Bertahan
116 Kembali pulang
117 Paman Surya Siuman
118 Dimensi Mimpi
119 Perubahan Wujud.
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Sang penunggu
2
Rusli
3
Rekan ghoib
4
Kondisi Rusli
5
Meraga sukma
6
Persiapan
7
Mahluk pengganggu
8
Menembus Dimensi
9
Kampung Demit
10
Rekan Ghoib.
11
Kekuatanku?
12
Dimensi siluman kera.
13
Rusli bebas.
14
Bantuan Iman.
15
Raja kera kabur.
16
Musyawarah
17
Teror
18
Dukun sang kuncen pohon.
19
Pertemuan.
20
Menebang pohon.
21
Kerasukan
22
Musnahnya Musuh
23
Pamit
24
Bab 2. Lilis
25
Gentayangan
26
Akses Dimensi.
27
Konflik
28
Penyebab kematian Lilis
29
Flashback Lilis
30
Mengakses Masa Lalu.
31
Diriku Yang Lain
32
Pengintaian Roni
33
Menggagalkan Ritual Pemujaan
34
Akhir Nini Kutek
35
Bab 2. Sekte 18
36
Kondisi Pak Rizal
37
Belenggu
38
Klewing
39
Iman Aneh
40
Teror Klewing
41
Teror Klewing 2
42
Teror Klewing 3
43
Tersesat
44
Tersesat 2
45
Adzan
46
Selamat
47
Yono
48
Di intai
49
Di bakar
50
Teror untuk Iman.
51
Putus Asa
52
Iman bergabung?
53
Kepastian
54
Pertemuan
55
Tujuan Pak Yono.
56
Berkumpul
57
Klewing menghadang
58
Terbawa Ilusi
59
Sigil
60
Kanjing Kunci
61
Kematian
62
Sang Penguasa Api
63
Dimas
64
Bab 4. Awal Mula Kekuatanku
65
Waktu berharga.
66
Membuka Diri kembali.
67
Jin Qorin Milikku
68
Dimensi pertama.
69
Bertemu Ki Dayeng
70
Aki Rongge
71
Mendapatkan brajamusti
72
Tugas Pertamaku
73
Bangsa Arof
74
Menyepi
75
Ilmu Sukma
76
Bab 5. Tugas pertamaku
77
Iman
78
Kuncen Air Terjun
79
Siluman Ular
80
Mempertahankan Iman
81
Bernegoisasi
82
Kondisi Ayah Iman.
83
Hutan
84
Pak Kuncen
85
Setan kerdil
86
Tertangkap
87
Akhir Siluman Ular
88
Bab 6. Bang Syukur
89
Ritual Aneh
90
Mencurigakan
91
Akal bulus
92
Pembuktian
93
Pernyataan Asep
94
Pintar Berdalih
95
Teror Untuk Bang Syukur
96
Pengakuan Bang Syukur
97
Bab 7 .Asep
98
Nenek Tua
99
Penjelasan Deni
100
Pertarungan Di Dunia Pararel
101
Kawan lama
102
Memulai Rencana
103
Sandiwara
104
Membongkar semuanya
105
Akhir Rita
106
Bab 8. Teluh
107
Penjelasan ilmu hitam
108
Serangan Tiba-Tiba
109
Terjadi Hal Aneh
110
Kondisi Paman Surya
111
Kisah Pak Surya
112
Family Time
113
Gubuk Tua
114
Siluman Anjing
115
Bertahan
116
Kembali pulang
117
Paman Surya Siuman
118
Dimensi Mimpi
119
Perubahan Wujud.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!