Perjalanan panjang sudah lama kami tempuh, akhirnya kami mulai memasuki desa tempat tinggal Rusli, terdapat Gapura selamat datang yang bernamakan Desa Jaya mekar.
Tinggal beberapa kilo meter lagi kami tiba, sepanjang jalan aku lihat pemandangan begitu asri, masih hijau dan udaranya pun sejuk. Di kelilingi banyak pohon dan juga sawah.
Kini Iman pun memberhentikan motornya di depan sebuah rumah panggung yang sederhana, dindingnya pun masih terbuat dari anyaman kayu.
" Kita sampai bah, ini dia rumah Rusli, Ayo kita ke sana." Seru Iman berjalan mendekati pintu rumah tersebut. Aku pun mengikutinya.
Tok tok tok.
''Assalamualaikum." Iman mengucapkan salam dan mengetuk pintu.
"Walaikumsalam.''
Terdengar sebuah jawaban dari dalam rumah, lalu ada seseorang yang membukakan pintu untuk kami.
Terlihat seorang bapak paruh baya yang tersenyum ramah menyambut kami, badannya tegap dan sehat meski terlihat sudah berumur.
''Eh Iman, sudah datang!'' sambut Bapak tua yang tidak lain adalah Ayah Rusli Pak Amin.
" Iya Pak, bagaimana keadaan bapak dan keluarga sehat?" tanya iman menanyakan kabar, lalu mencium tangan Pak Amin.
" Alhamdulilah Man, hanya sedikit lelah karena terus bolak-balik ke rumah sakit. Akhir-akhir ini saya selalu mencemaskan keadaan Rusli." keluhnya dengan wajah sedih.
" Bapak Jangan terlalu banyak pikiran, nanti kesehatan bapak menurun, bapak harus sehat, Insyaallah Rusli akan baik-baik saja, Nah! kebetulan Pak, saya bawa teman yang waktu itu saya ceritakan. namanya Nandy. Nah! Bah ini kenalkan ini Pak Amin, Bapaknya Rusli.'' Seru Iman memperkenalkan kami berdua.
" Halo pak, salam kenal, saya Nandy." Jawab ku menyapa Pak Amin lebih dulu.
" Oh, ini orang nya! salam kenal juga nak, saya Pak Amin, senang sekali akhirnya bisa bertemu, terima kasih lho Nandy, sudah bersedia menyempatkan diri untuk berkunjung ke sini." seru Pak amin yang menjabat tanganku.
"Sama-sama pak." Jawabku tersenyum
" Panggilnya Abah saja Pak, jangan Nandy, semua orang di lingkungan rumahnya sering memanggilnya Abah." Ujar Iman menjelaskan.
"Oh begitu, ternyata sebutan Abah bisa juga dipakai untuk anak muda ya, hahaha." tertawa membuat suasana lebih akrab.
"Ya sudah Abah, Iman mari masuk, ayo silahkan duduk.'' sahut Pak Amin mengajak kami masuk ke dalam rumahnya.
Saat masuk ke dalam rumah Pak Amin, nampak suasana pedesaan begitu terasa, meski dindingnya masih terbuat dari anyaman kayu, namun tata ruangannya begitu rapih, bersih dan terawat.
"Ibu kemana Pak?'' tanya Iman membuka obrolan lebih dulu.
''Ibu ada, dia sedang di dapur." Jawab Pak Amin.
Lalu Pak Amin berteriak memanggil istrinya.
"Bu! sini sebentar, ada tamu!"panggil Pak Amin.
" Siapa yang datang Pak?" Terdengar suara ibu dari dapur.
Lalu dari balik pintu dapur muncul seorang ibu yang sedikit gemuk dan bungkuk. memakai daster dan kerudung pendek, ibu itu mendekati kami yang sedang duduk di ruang tamu, sambil berjalan dia terus mengelap wajahnya yang berkeringat karena kepanasan oleh panasnya api dari tungku kayu bakar.
" Astaga! Iman." seru ibu tersebut kaget melihat keberadaan ku dan Iman yang sedang duduk di ruang tamu.
Iman pun mencium tangan Ibu tersebut. Begitupun aku.
"Sejak kapan kalian sampai? ibu sudah tunggu kamu dari pagi Man, kenapa baru datang sekarang? Lho ini siapa? Temanmu man?" Tanya Ibu pada Iman sambil menatapku.
" Iya maaf Bu, tadi pagi teman saya ini masih kerja lembur katanya, ini teman saya yang waktu itu saya ceritakan bu."jawab Iman.
Kening ibu nampak berkerut, seolah dia sedang mencoba mengingat.
" Itu lho Bu, teman Iman yang dia bilang bisa membantu kita untuk menyelamatkan Rusli." Tutur Pak Amin menjelaskan.
" Halo Bu, saya Nandy" ucapku memperkenalkan diri lebih dulu.
" Oh ini! wah, masih muda sekali ya, kenalkan Saya Ibu Yasmin, ibunya Rusli." Ucap Ibu menjabat tanganku.
Aku pun membalasnya dengan senyuman.
" Nandy, terima kasih ya, sudah mau datang ke sini jauh-jauh, pas ke sini malah di buat repot, di mintai tolong masalah Rusli anak ibu, maaf ya nak, habisnya ibu sama bapak sudah bingung mau minta tolong kepada siapa lagi." Ucap ibu terharu menatapku sambil memegang pundak ku.
" Sama-sama Bu, nggak apa-apa kok Bu, saya senang bisa membantu." Jawabku. mendengar perkataan ku yang tulus, ibu Yasmin kembali terharu.
" Oh iya, ibu lupa. Ibu belum membuatkan minuman, ibu tadi baru beres-beres dapur. Nandy mau minum apa?" Tanya Ibu begitu antusias.
" Jangan bu, nggak usah repot-repot " Sahutku.
" Eh, ternyata Nandy ini pemalu ya man. nggak seperti kamu." Ibu tertawa.
" Panggil Nandy Abah aja Bu, biar lebih akrab." Ujar Iman.
" Oh begitu, ya sudah, Abah Nggak perlu sungkan, anggap saja ini rumah sendiri. Ibu sangat senang kalian datang ke sini." Ucap Ibu Yasmin tersenyum senang.
" Iya ibu terimakasih." Jawabku sedikit malu.
" Kalau begitu ibu ke dapur dulu ya, buatkan minuman untuk kalian. Ayo teruskan saja ngobrolnya." Ucap Bu Yasmin berlalu menuju dapur.
Kami pun kembali fokus dengan obrolan kami.
" Oh ya, Abah berarti sudah tahu cerita mengenai anak saya Rusli kan? Dan tujuan saya ingin bertemu Abah?" Tanya Pak Amin langsung padaku tanpa basa-basi lagi.
" Sudah Pak, Iman yang cerita semua pada saya." Jawabku.
" Oh syukurlah kalau begitu, Tapi Abah benar mau membantu saya untuk menyelamatkan anak saya?"Tanya Pak Amin memastikan lagi
" Insya Allah Pak, saya akan coba membantu bapak sebisa mungkin untuk menyelamatkan Rusli." Jawabku.
" Alhamdulillah ya allah, terima kasih banyak sebelumnya bah. Saya tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa tentang masalah Rusli yang aneh seperti ini, saya sudah hampir putus asa." Ungkap Pak Amin terlihat lega.
" Sama-sama." Jawabku.
"Tapi ada yang ingin saya tanyakan, saya ingin memastikan, benarkah Rusli mendapat gangguan mistis dari penghuni pohon?" Tanya Pak Amin penasaran.
"Sebelumnya maaf, kalau kesannya seperti tidak masuk akal Pak, tapi menurut penerawangan saya memang begitu. Rusli seperti itu karena ulah penunggu pohon keramat." Ungkap Ku menjelaskan dengan berhati-hati. Takut jika Pak Amin tidak percaya pada ucapanku.
"Ternyata benar, saya dan semua warga sudah menduga ke arah sana, saya merasa ada hal ganjil yang terjadi pada Rusli, tapi saya bingung bagaimana cara menjelaskannya, bapak tidak tahu sama sekali mengenai hal mistis semacam ini, sebelumnya saya juga resah bagaimana mengatasinya. Untunglah ada Abah sekarang, saya harap dengan bantuan Abah Rusli bisa sembuh dan selamat." Ungkap Pak Amin.
" Tenang saja pak, Abah ini ahlinya, dia sudah banyak pengalaman mengatasi hal mistis semacam ini, kenapa saya percaya, karena saya dulu pernah di tolong oleh Abah juga pak." Puji iman mengenaliku.
" Wah benarkah? Ternyata Abah ini hebat." Puji Pak Amin.
" Ah tidak juga pak, Iman saja yang bicaranya terlalu berlebihan, saya hanya senang kemampuan saya bisa bermanfaat untuk banyak orang." Ungkap Ku.
" Abah begitu baik, bapak salut." Puji Pak Amin.
Aku sangat tersanjung dan senang mendengarnya.
" Ngomong-ngomong, apa Abah bisa menjelaskan bagaimana keadaan Rusli sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi pada Rusli dalam hal mistis semacam ini? lalu apa yang telah mahluk itu lakukan pada Rusli, hingga Rusli menjadi koma?" Tanya Pak Amin meminta penjelasan ku tanpa jeda.
"Menurut penerawangan saya, Rusli jatuh koma karena sukma nya telah keluar dari tubuhnya. Sehingga raganya kosong. Dan yang membuat sukma Rusli keluar dari tubuhnya itu, karena ulah si penunggu pohon keramat, saya lihat dia membawa sukma Rusli secara paksa ke dimensi ghaib miliknya dan di tawan di sana, itulah sebabnya kenapa Rusli belum kunjung sadar." Ungkap Ku menjelaskan sambil membuka kembali penglihatan ku.
Pak Amin kaget dan syok, dia tidak mampu berkata-kata dengan ceritaku. dirinya hanya bisa diam mematung. Wajahnya memucat dan sangat khawatir.
" Ta, tapi mengapa mereka tega melakukan hal itu terhadap Rusli bah? Setahuku tujuan Rusli ke sana hanya untuk mencari kayu bakar. Apa mungkin mereka merasa terganggu? Atau Rusli berbuat salah?" Tanya Pak Amin dengan nada yang sedikit bergetar.
" Sepertinya tanpa di sadari Rusli melakukan kesalahan yang memancing kemarahan si penunggu pohon keramat." Jelas Ku.
Pak Amin nampak termenung berpikir keras dan begitu khawatir.
" Tenang saja Pak, selama jantung Rusli masih berdetak, Rusli masih bisa di selamatkan, tapi jika Sukma nya terlalu lama pergi jauh dari raganya kemungkinan yang terburuk bisa saja terjadi. Maka dari itu saya akan secepatnya menyelematkan Rusli sebisa mungkin. Bapak jangan khawatir, perbanyak saja kita berdoa, agar Allah memudahkan jalan untuk kita menyelematkan Rusli." Ungkap Ku menjelaskan pada Pak Amin.
" Baiklah Abah, saya mohon sekali bantuannya. Saya berharap Abah berhasil menyelamatkan Rusli. Dan selalu dalam lindungan allah." Ungkap Pak Amin.
" Aamiin." ucap kami semua.
" Kalau begitu pak, boleh tidak saya minta tolong, untuk mengantar saya ke hutan, ke lokasi Rusli terakhir di temukan?" Ujarku.
" Se, sekarang?" Tanya Pak Amin kaget dan ragu. Iman pun sama terkejutnya mendengar permintaanku.
" Iya sekarang pak." Jawabku jelas.
"Bah! Nggak salah? Masa ke hutan?" Tanya Iman heran.
" Lho, memangnya kenapa?" Tanyaku juga.
" Loe enggak lihat di luar sudah gelap bah, masa malam-malam begini ke hutan, mau apa?!" Tanya Iman dengan nada kesal.
" Ya, gue harus ke sana Man, gue harus memastikan sesuatu." Jawabku tenang.
" Astaga, memastikan apa lagi Bah? Hutan tetap aja hutan, banyak pohon banyak binatang buas, apa lagi yang mau Loe pastikan, loe pikir hutan bakal jadi taman surga begitu." Ucap Iman sewot dengan wajah kesal.
''Ck! Gue ke sana untuk cari petunjuk yang berkaitan dengan Rusli, bilang aja loe takut Man" Ledekku.
" Bukan gitu, coba aja loe pikir, mana ada orang yang pergi ke hutan malam-malam, kan bahaya, pasti Pak Amin juga takut bah. Ucap Iman mencari alasan untuk membenarkan pendapatnya.
" Hm, iya sih Man, saya juga takut sebenarnya. Tapi apa boleh buat, kalau ini menyangkut keselamatan Rusli,bapak bersedia kok." Ungkap Pak Amin berterus terang.
Iman nampak menepuk jidat.
" Nah, gimana Man? Ikut nggak? Pak Amin saja orang tua ikut, masa loe enggak?" Ujar ku tersenyum meledek Iman.
Iman nampak enggan.
"Tapi bah, gue..
"Sudah Man, ikut saja temenin saya, saya juga sudah tua butuh yang mendampingi, ada banyak orang kan lebih ramai, lebih baik daripada sendirian kan?" Ujar Pak Amin yang langsung memotong alasan Iman.
" Iya man, ada satu hal juga yang harus gue pastikan, mungkin di sana kita menemukan petunjuk." Ungkapku menjelaskan tujuanku.
"Ck, Iya, iya.. " Iman pun terpaksa menyetujui.
Aku pun tersenyum senang melihat wajah Iman yang cemberut.
"Kalian tunggu sebentar di sini, sebelum pergi saya mau pamit sama ibu dulu ya? sekalian saya mau cari senter untuk penerangan selama perjalanan." Sahut Pak Amin pergi menuju dapur dan meminta Izin pada istrinya.
Setelah perlengkapan kami siap, kami pun pergi bersama ke hutan melalui jalan yang berada belakang rumah, karena jalan tersebut adalah jalan pintas yang dekat menuju hutan.
................
Sudah cukup lama kami berjalan, akhirnya kami tiba di kawasan hutan. Aku lihat jam tanganku menunjukan pukul satu dini hari.
Kami mulai melewati kebun yang ada di hutan, disini keadaan sedikit terang karena sinar bulan nampak menerangi perjalanan kami.
Namun semakin kami memasuki kedalaman hutan, suasana mulai mencekam, semilir angin yang dingin, membuat bulu kuduk berdiri.
Bulan mulai bersembunyi di lebatnya rimbunan pohon, penerangan kami sekarang hanya mengandalkan senter masing-masing.
Suara lolongan anjing dan suara burung hantu seolah saling bersahutan, suara-suara mereka menemani setiap langkah kami menuju pohon keramat.
Beberapa kali angin bertiup kencang dengan tiba-tiba, membuat nyali Pak Amin dan Iman semakin menciut.
Tidak jarang juga Iman beberapa kali mengajak kami untuk kembali pulang. Namun aku tetap mengingatkan untuk terus melanjutkan perjalanan. Bagaimanapun juga, aku harus melihat pohon keramat dengan mata kepalaku sendiri.
Kemungkinan aku bisa bertemu dan berbicara dengan sosok penghuni pohon keramat tersebut. siapa tahu mahluk itu dengan sukarela mau melepaskan Rusli.
Hampir lima belas menit berjalan, akhirnya kami tiba di pohon keramat tersebut.
Iman berdiri jauh di belakangku. dia enggan mendekati pohon itu. sangat jelas bentuk pohonnya yang besar memberikan kesan menakutkan karena aura negatif dari pohon itu sendiri.
Saat melihat dengan mata batinku, sekilas pada batang pohon keramat Itu memiliki sebuah lubang yang memancarkan cahaya hijau yang menyilaukan mata namun seketika menghilang begitu saja.
Kini aku paham, jika pohon keramat ini merupakan pintu atau portal menuju dimensi ghoib.
Kami pun berjalan lebih mendekati pohon keramat, namun pada jarak lima meter, aku menyuruh Iman dan Pak Amin untuk berhenti. Karena jarak yang terlalu dekat bagi mereka orang biasa dengan pohon keramat ini sangatlah beresiko.
Aku mengambil sebuah ranting kayu, lalu membuat garis yang melingkari tempat Iman dan Pak Amin berdiri.
Tujuannya agar mereka terlindung dan aman saat aku melakukan komunikasi dengan mahluk penunggu pohon keramat tersebut.
" Bah, kalau berbahaya lebih baik kita pulang." kata Iman yang mulai ketakutan dan khawatir.
" Nggak apa apa Man, kalian aman kok di dalam lingkaran yang aku buat, jangan sampai kalian melewati batas itu, berdoa saja agar kita semua bisa selamat. aku akan mencoba berkomunikasi dengan penunggunya." Ungkapku menjelaskan.
Iman dan Pak Amin mengangguk.
Aku segera mendekati pohon tersebut, langkah demi langkah, aku semakin dekat dengan pohon tersebut, namun pada jarak satu meter, keanehan mulai terjadi.
Tiba-tiba pohon keramat bergoyang-goyang sangat kencang dengan sendirinya. Daun daun berjatuhan begitu banyaknya, padahal tidak ada angin yang berhembus menyentuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara geraman seperti binatang buas, namun begitu keras dan menggema.
Roarr!!!
" Bah! itu suara apa!'' Tanya Iman bergidik ketakutan sambil memeluk Pak Amin.
Pak Amin juga sama ketakutan, tubuh mereka berdua gemetar sambil berpelukan satu sama lain, mereka takut dengan apa yang mereka dengar, mereka celingukan mencari dari mana asal suara itu.
Namun aku merasa yakin jika suara itu berasal dari pohon keramat, karena aku merasakan energi negatif yang kuat muncul dari pohon tersebut. Bahkan pohon itu kini mulai mengeluarkan asap hitam dari seluruh bagiannya.
Tiba-tiba Geraman itu berubah menjadi suara seseorang yang berat menggema, seperti berbicara kepada kami.
''Untuk apa kalian kemari wahai manusia!!"
" Pergilah kalian dari sini!! Ini wilayahku!!'' ucap suara itu marah.
Iman dan Pak Amin makin gemetaran, tapi tidak denganku, karena aku tahu dia adalah mahluk penunggu pohon keramat.
Tiba-tiba Pak Amin berteriak.
" Ruslii !!"
"Lihat Bah! Man, di sana! Di sana ada Rusli!"
" Ruslii ! Ruslii ! Cepat kemari nak! Bapak ada disini !!" teriak Pak Amin memanggil-manggil Rusli dan melambaikan tangannya ke arah pohon keramat.
" Dimana Pak?! mana Rusli?!"ucap Iman tangah mencari keadaan Rusli ke arah yang di tunjuk Pak Amin, namun Iman tidak bisa melihat apa yang di lihat Pak Amin dia hanya kebingungan sendiri.
"Di sana Man ! Rusli di pohon itu." jawab Pak Amin yang panik. seketika matanya membelalak.
"Di, dia di ikat, Man! tubuhnya berdarah !Astaga.. Ruslii !! Ruslii !!" teriak Pak Amin yang kemudian histeris.
Pak Amin bahkan hendak berlari keluar dari batas lingkaran yang aku buat, Aku segera berteriak mencegahnya.
" Pak Amin !! Bapak jangan keluar dari batas lingkaran itu Pak, bahaya !!" Teriakku menegaskan.
" Tapi Bah, Rusli minta tolong! Bapak harus kesana menyelamatkan Rusli !!" teriak Pak Amin makin panik.
"Itu bukan Rusli pak ! Rusli tidak ada di sini !Rusli masih ada di dimensi miliknya. itu hanya ilusi Pak! " teriakku cepat menyadarkan Pak Amin.
Namun Pak Amin tidak mendengar ucapan ku, satu kakinya sudah keluar satu dari batas yang ku buat.
" Iman! tarik Pak Amin, cepat ! tenangkan dia!'' Teriakku pada Iman. Ku lihat dengan sigap Iman menarik kembali tangan Pak Amin sehingga dia pun masuk kembali ke dalam lingkaran.
" Pak tenanglah! Bapak tidak dengar apa yang Abah bilang? Rusli tidak ada di sini pak, bapak mungkin hanya berhalusinasi." ucap Iman menarik tubuh Pak Amin kembali ke dalam lingkaran.
" Tidak mungkin! itu terlihat nyata Iman! apa yang harus bapak lakukan sekarang!" teriak Pak Amin yang mulai panik dan menangis. Iman hanya menahan dan menghalangi Pak Amin.
" Lepas Man! Kamu buta ! Rusli kesakitan di sana, saya harus kesana ! saya harus menolong Rusli Man! " Pak Amin cemas dia mulai memberontak, Iman dengan sekuat terus mengunci pergerakan Pak Amin dari belakang dengan memeluknya.
" Tidak Pak! Jangan kemana-mana di sana terlalu berbahaya, biar Abah yang bertindak!" Teriak Iman juga menghimbau dan menahan Pak Amin.
" Dengar saya Pak, Bapak itu hanya berhalusinasi! Aku bahkan tidak melihat apa-apa di sana! sadarlah Pak! tetaplah berada di dalam lingkaran ini, jika bapak tetap ke sana, bapak hanya akan menganggu dan merepotkan Abah nantinya. Biar Abah yang bertindak pak!" Teriak Iman pada Pak Amin.
Mendengar Ucapan Iman, Pak Amin sadar dan mulai berhenti memberontak, kini dia tertunduk menangis tersedu-sedu.
Lalu, muncul angin yang semakin lama semakin besar berhembus. Kami mencoba melindungi wajah kami dari terpaan angin besar tersebut, semua daun-daun yang berserakan di tanah berterbangan kemana-mana. Dan..
Ctar !!!!
Terdengar suara yang sangat kencang hingga memekakkan telinga, suara itu seperti suara petir yang sedang menyambar keras.
Lalu muncul sebuah bola api di atas pohon.
Seketika bola api itu berubah menjadi sosok kera hitam raksasa yang berbulu lebat, matanya merah menyala, bertaring besar dan menyeringai kepada kami.
Seketika kami bertiga terkejut melihat sosok tersebut.
Iman yang melihatnya sangat ketakutan hingga dia tidak sadarkan diri.
Pak Amin dengan sigap menangkap tubuh Iman yang hampir jatuh ke tanah, dia mencoba melindungi Iman di sampingnya.
" Wahai Siluman kera! Kenapa kamu membawa Rusli ke dimensi mu. Apa salahnya?! Cepat lepaskan dia!" bentak ku berteriak pada siluman kera itu.
" Jangan ikut campur!! Kalau tidak, kau pun akan ku bawa juga ke alamku." ucap siluman kera remeh.
Tiba-tiba makhluk itu merangkak turun dari atas pohon, Dan datang menghampiriku. Dia tertawa dan berkata.
" Hahahaha.. aku akan menyantap daging manusia hari ini. Hahaha." Ucap siluman kera itu senang dan menyeringai.
Tentu saja aku tidak dapat menghindar karena tubuhku tiba-tiba saja di buatnya tidak bisa bergerak, dia memang mahluk yang kuat.
"Akh, sial!" Lirihku.
Siluman kera itu pun memutari ku yang tengah berdiri mematung.
" Berani sekali manusia sepertimu menemuiku dan memerintakanku untuk melepaskan tawananku, bagaimana jika aku merusak wajahmu lebih dulu, sebagai hukumannya. Agar kau paham! manusia sepertimu tidak boleh berbuat seenaknya!." ucapnya sambil melayangkan cakaran tajam ke arah wajahku. Seketika mataku terpejam dan tiba-tiba,
Wush!
Bug!
Terdengar suara pukulan di dekatku, seketika aku membuka mata untuk melihat apa yang terjadi, dan ternyata siluman kera itu sudah terpental menjauh dan tersungkur.
" Akh, sial! Rupanya kau tidak sendirian bocah!" sindir siluman kera menggeram marah melihat ke arah belakangku.
" Kenapa kau mengganggu cucuku! Akulah lawanmu." Ucap seseorang di belakangku.
Sontak aku menoleh, ku lihat Ki Sugro muncul dan melindungiku.
Ki Sugro adalah rekan ghoib ku yang berwujud seorang kakek tua yang bersorban dan berpakaian serba putih, dia bertubuh manusia dan wajahnya berbentuk harimau.
Siluman kera dan Ki Sugro pun saling melawan satu sama lain. Namun sekali lagi siluman kera itu terpental.
" Siapa kau berani sekali menghalangiku?!dasar kucing tua!" Ucap siluman kera marah dengan kondisinya yang kini melemah.
" Cih, tangguh juga dasar kera b*doh! seharusnya kau paham, akibat menyerang manusia di dunia manusia, Energimu jadi terkuras habis." ejek Ki Sugro.
Mengerti dengan kondisinya sekarang, siluman kera itu sadar dan kembali melesat ke puncak pohon, dia diam sejenak melihat ke arahku dari atas sana.
"Heh! Bocah manusia! Kamu ingin temanmu bebas, jika mau, kau harus menjadi budakku, jika tidak tangkap saja aku, bunuh aku juga! barulah teman manusia mu itu bebas. Tapi aku yakin kau pasti tidak akan mampu hahaha.." ejek siluman kera itu lalu menghilang.
"Ck, aku akan mengejarnya!" Ucapku yang hendak berlari menuju portal pintu pohon keramat yang terbuka, tiba-tiba tangan Ki Sugro menahan pundakku.
" Jangan terpancing Anom! dia hanya menggertak mu." tutur Ki Sugro.
" Tapi Ki..
" Jika kamu mengejarnya dan masuk ke dimensinya akankah kamu bisa untuk kembali ke sini?! jangan ceroboh!" ucap Ki Sugro.
" Tapi bagaimana dengan temanku yang dia dia tangkap, dia juga dalam bahaya." ujarku.
" Jangan gegabah Anom, masih ada cara lain untuk bisa menyelamatkan teman manusiamu itu. Tapi tidak sekarang, kita butuh rencana dan persiapan yang matang. jika kita gegabah kita akan celaka, siluman kera itu bukan lawanmu, dia adalah mahluk yang cukup kuat. mengerti!" tutur Ki Sugro memperingatkan ku.
"Baik, aku mengerti Ki." jawabku.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Ia Asiah
waalikumslam....keren ini cerita nxa
2022-08-31
1
Rini Antika
Astagfirulloh..serem amat visualnya kak, aku sampai kaget..🤭
2022-08-14
1
Rini Antika
Wa'alaikumsalam..🤗
2022-08-14
1