"Apaa...??" Andreas tak yakin dengan apa yang di ucapkan oleh Bryan.
"Elu sendiri yang menginginkannya." ulang Bryan. " Gue cuma memberi kan elu kesempatan. Gue hanya memberikan alamat elu karena wanita itu yang ingin bertemu dengan elu." Di minum lagi Vodka yang tinggal separuh itu sampai habis.
Andreas masih berdiri mematung, ia tak percaya jika semua hal yang terjadi itu atas keinginannya sendiri.
Bryan berjalan sempoyongan ke arahnya, di peluknya Andreas. Bau alkohol menyeruak dari tubuhnya,
"Selamat yaa Bro, elu sudah dapetin yang elu mau." bisik nya di telingan Andreas.
Mata Andreas membulat, ia langsung mendorong Bryan menjauh dari nya.
"Hahahahah...terimakasih sama gue, karena berkat Vodka dan obat yang gue beri, elu punya keberanian untuk ngedapetin nya." Bryan tertawa terbahak-bahak.
Andreas kian murka, di hajarnya lagi Bryan sampai ia terkapar.
Hari telah malam saat Andreas tiba di Apartemen rumahnya. Di ruang tamu telah duduk Rendy yang telah menunggunya dari tadi siang.
Begitu melihat Andreas pulang, Rendy langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Andreas.
"Maaf Tuan Muda, saya datang kemari. Tapi ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan anda secepatnya."
Andreas berjalan melewatinya, pandangannya hanya tertuju pada Mini Bar tempat ia meletakkan koleksi minuman Vodkanya. Dengan tergesa ia berjalan ke sana, di pandanginya rak tinggi berisi berbotol-botol minuman Vodka dari berbagai jenis. Sedetik kemudian Andreas mengambili botol-botol tersebut dan menghancurkan semuanya.
Rendy mengangga tak percaya. "Apa yang anda lakukan...?" Rendy mendekat untuk mencegah Andreas memecahkan lebih banyak.
Langkahnya terhenti saat sebuah botol terlempar di dekatnya.
"Praaaanggg!!" pecahan kacanya berhamburan di lantai, nyaris mengenai Rendy. Ia tak berani mendekat, ia memilih mundur dan menyaksikan Andreas yang memecah kan semua koleksi Vodka nya.
Andreas baru berhenti setelah semua botol-botol Vodka itu hancur berantakan, dengan segala isinya yang mengenangi lantai sekitar ia berdiri. Nafasnya terengah-engah, di tangan dan wajahnya terdapat torehan warna merah yang terkena pecahan kaca.
Rendy menelan ludah melihatnya, ia diam menunduk ketika Andreas berjalan melewatinya, kemudian masuk ke dalam kamar dengan suara pintu yang tertutup kencang.
Dengan segera Rendy menelpon cleaning service Apartemen untuk membersihkan segala kekacauan yang di perbuat Andreas.
Di dalam kamar, Andreas segera membuka laci meja kerjanya. Di ambilnya plastik-plastik kecil berisi serbuk putih dan sebuah kotak berisi lintingan-lintingan kertas. Di bawanya itu semua ke dalam kamar mandi.
Begitu sampai di dalam kamar mandi, di keluarkannya semua serbuk putih dari plastiknya dan di buangnya ke dalam kloset. Ia juga membuka semua lintingan-lintingan kertas yang berisi semacam daun kering, dan kembali ia membuangnya ke dalam kloset. Air berputar-putar menghilang bersama"barang-barang"tersebut ketika Andreas memencet tombol Flush. Di buang juga bekas plastik dan kertas nya ke dalam tempat sampah, sebelum ia melangkah keluar dari kamar mandi.
Ketika kembali ke kamarnya, barulah Andreas sadar kemejanya basah oleh keringat yang bercampur dengan Vodka. Di bukanya kemeja nya dan di buangnya begitu saja di lantai. Ia duduk di pinggir ranjang sambil memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut.
Ia tak mengerti kenapa ia menghancurkan botol-botol Vodkanya, padahal itu minuman kegemarannya.Ia juga membuang obat-obatan yang biasa ia konsumsi ketika stres dengan banyaknya pekerjaan. Obat-obatan yang membuat ia harus kehilangan jabatan dan di buang ke luar negeri selama 5 tahun oleh Ayahnya, tapi tidak membuat ia jera untuk terus mengkonsumsinya.
Tapi kali ini dengan sadar dan tanpa ada yang meminta ia membuang semuanya. Andreas tidak sadar, jauh di dalam dirinya ada perasaan takut jika ia terus mengkonsumsi kedua barang barang itu, suatu saat ia akan melakukan hal yang sama kepada Marisa.
Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada nakas yang berada di sampingnya. Cek 20 miliar yang ia tinggalkan untuk Marisa masih tergeletak pada tempatnya, di ambilnya cek tersebut dan di remas-remasnya dengan penuh emosi.
"Wanita sombong..!" umpatnya sambil melempar cek yang telah di remas-remasnya menjadi bulatan itu sembarangan.
Di rebahkan dirinya di ranjang, kata-kata Bryan terngiang-ngiang di pikirannya ,bergantian dengan wajah Marisa yang menagis dan memandang penuh benci kepadanya, membuat ia memijit-mijit keningnya.
Andreas merasa begitu lelah, perlahan-lahan di pejamkan kedua matanya, sesaat kemudian ia telah tertidur.
Seminggu berlalu sejak tragedi itu, secara tidak terduga Marisa mendapat pemberitahuan soal beasiswanya yang tetap bisa di lanjutkan.
Tapi perasaan Marisa sudah tidak seperti yang dulu, bahkan jika bukan karena orang tuanya yang tidak tahu apa-apa, ia begitu enggan melanjutkan kuliahnya lagi.
"Habat sekali dia, bisa begitu mudah mengendalikan hidup orang lain." Marisa tersenyum pahit, saat membaca pemberitahuan yang di kirim lewat Whatsapp.
Dalam malam-malamnya Marisa sama sekali tidak berani untuk tidur, mimpi buruk terus menerus datang setiap kali ia memejamkan matanya.
"Kyaaaaaaa...!!!" jerit Marisa tengah malam, nafasnya tersengal-sengal dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia bermimpi Andreas datang dan memcoba memaksanya kembali, Marisa gemetaran.Ia sangat takut, karena mimpi itu terasa begitu nyata.
Orang tuanya langsung datang dan menenagkannya.
"Ada apa Nak...?" Indira langsung memeluk nya.
Agung menatap putrinya dengan cemas. " Apa mimpi buruk lagi...?" tanyanya.
Marisa tak menjawab, ia hanya menangis.
"Maaf kan aku Ayah...Maaf kan aku Ibu...." Di peluknya erat-erat Indira seperti anak kecil yang tidak mau di tinggal pergi.
Kejadian itu terus menerus terjadi, Marisa sampai tidak berani untuk tidur, ia takut bermimpi buruk lagi. Kedua orang tuanya mengira Marisa terlalu lelah dengan segala kegiatannya, makanya mimpi buruk.
Marisa yang tidak ingin membuat kedua orang tuanya cemas, hanya bisa menahan tangis dan ketakutan sendir tiap malam. Ia.takut memejamkan mata, ia takut tragedi itu datang kembali menjadi mimpi buruknya.
Hanya dalam waktu satu minggu, berat badan Marisa langsung turun. Ia yang semula sudah kurus dengan banyaknya kegiatan bertambah kurus karena beban pikiran. Meski begitu Marisa tetap berangkat bekerja seperti biasa, Erwin dan Lenna lah yang selalu memperhatikannya, terlebih Erwin yang begitu menyayangi Marisa.
"Pak Erwin memanggil saya?" tanya Lenna begitu memasuki ruangan.
Di situ Erwin telah menunggunya, dengan isyarat tangan Erwin menyuruh Lenna untuk menutup pintu dan duduk.
"Apa Marisa sedang sakit?" tanya Erwin begitu Lenna duduk di kursi yang jarak dengannya hanya di batasi meja kerja.
Lenna tersenyum mendengar pertanyaan Erwin. Ia paham Managernya itu mengkhawatirkan sahabatnya.
"Saya sudah mencoba bertanya berkali-kali, tapi selalu di jawab "tidak apa-apa". Tapi Pak Erwin lihat sendiri kan perubahannya..?"
"Apa mungkin dia ada masalah...?" Erwin bertanya lagi.
Lenna berpikir sejenak. "Sepertinya tidak ada."jawabnya." Dia tipe orang yang jarang menceritakan masalahnya,tapi saya pikir dia tidak sedang dalam masalah. Malah terakhir dia bercerita kalau sebentr lagi mau lulus kuliah jadi bisa lebih fokus mencari uang."
Raut wajah Erwin terlihat kecewa, ia berharap bisa mendapatkan informasi dari Lenna.Tapi ternyata Lenna pun tidak tahu ada apa degan Marisa.
"Oo, iya Pak!" kata Lenna tiba-tiba. "Seminggu lalu terakhir saya pergi dengannya, tiba-tiba dia panik setelah membaca sebuah pesan, ia langsung pergi. Saya rasa sejak itu dia mulai berubah, bahkan pada saya." Lenna menerangkan.
"Seminggu lalu..." Erwin jadi teringat saat ia memergoki Marisa yang tengah menangis di belakag Restoran.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk!" Erwin mempersilahkan.
Seorang Karyawan laki-laki masuk, ia kelihatan cemas. "Maaf Pak, ada karyawan yang pingsan." terangnya.
"Siapa yang pingsan?" tanya Erwin langsung berdiri dari duduknya.
"Marisa, Pak." jawab karyawan laki-laki itu.
Erwin dan Lenna sama-sama terkejut mendengarnya.
Erwin Irwansyah Ginting
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Hani Hanifah
gantengan Erwin yaa.. 🤔 daripada Andreas 😬
2022-12-23
0
Ndhe Nii
beneran traum yg mengerikan Marissa 😀🙏
2021-11-25
0
aran
wow 20M dibuang begitu saja..
2021-09-29
0