"Mbak,bangun..!" kata seorang anak laki-laki berumur kisaran 17 tahunan. Ia Marvin, adik Marisa yang tahun ini kelas 2 SMA. Ia mengetuk pintu kamar Marisa lagi. "Mbaak,sudah di tunggu Ayah dan Ibu untuk sarapan bareng..!" panggilnya dengan suara yang di keraskan.
Perlahan-lahan Marisa membuka matanya, ia meringis sambil memegangi kepalanya.
"Aduuh...anemia ku selertinya kambuh.." keluhnya. Di dengarny suara Marvin yang terus memanggilnya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
Marisa segera bangkit dari tidurnya, berjalan perlahan ke arah pintu dan membukanya.Tampak raut cemas Marvin.
"Mbak nggak apa-apa..?" tanyanya.
"Memang aku kenapa?" Marisa tersenyum sambil merapika rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
"Nggak biasanya Mbak bangun terlambat, biasanya matahari belum muncul Mbak sudah bangun."
"Aku lupa menyetel alarm."
Marvin mengkerutkan keningnya tak percaya. Kakaknya bukan tipe orang yang pelupa.
"Hari Minggu ini Mbak juga kerja..?" tanyanya.
"iyah..." jawab Marisa sambil menguap." Yaa sudah sana..!" usir nya sambil mendorong tubuh Marvin pelan, menyuruhnya berbalik pergi. "Aku mau mandi dulu, nanti aku susul. Kalian sarapan saja dulu."
Sebelum Marvin sempat berkata, Marisa sudah menutup pintu kamarnya.
Marisa menghela nafas panjang sambil menyandarkan diri di pintu. Ia melirik ke arah jam dinding di kamarny yang sudah menunjukan pukul 07.30 pagi. Seketika Marisa lupa akan sakit kepalanya dan bergegas mandi.
Di hari Minggu pun Marisa tidak membiarkan tubuhnya beristirahat. Kampus memang libur, tapi ia harus tetap berangkat bekerja. Restoran Padang tempatnya bekerja memang tidak mengijinkan karyawannya libur di hari Minggu, karena biasanya di hari Minggu itu lah ramai-ramainya orang makan di sana. Sebagai gantinya, mereka akan mendapat uang lembur seratus ribu rupiah bagi yang mau berangkat pagi sampai malam. Dan Marisa yang sangat membutuhkan uang tambahan tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Padahal dengan kondisinya saat ini, bisa saja ia ijin setengah hari atau pulang sore. Bahkan tidak berangkat pun pasti ia di ijinkan, karena selama 3 tahun Marisa bekerja di situ hampir ia tidak pernah ijin libur kecuali libur yang memang menjadi hak nya.
Beberapa saat kemudian Marisa sudah duduk bersama keluarganya di meja makan yang bergabung satu ruangan dengan dapur di rumah sederhana tapi nyaman milik mereka.
"Kau agak pucat Marisa?" tanya Indira Ibu Marisa, di perhatikannha wajah putrinya.
Marisa tersenyum kaku, "Aah...cuma kurang tidur." Jawabnya perlahan. Ia tidak berani memandang wajah ibunya.
"Benar kan kau sakit." Marvin langsung berkomentar. "Libur lah Mbak.." lanjutnya khawatir.
"Kau sendri hari minggu malah kerja di bengkel." Marisa memasang wajah sebal. "Lebih baik kau main futsal bersama teman-temanmu."
"Kerja ku kan memang hari Minggu. Itu pun cuma sekedar bantu-bantu di bengkel Om Evan. Beda dengan Mbak yang full dari senin ketemu senin sibuk dengan kampus dan kerja sambilan." Marvin mulai ngomel.
Anak ini memang suka sekali bicara. Lagaknya sudah seperti orang tua, kadang Marisa gemas sekali dengannya. Tapi Marisa juga tahu Marvin seperti itu karena khawatir padanya.
"Maaf yaa anak-anak..."Agung,Ayah Marisa berkata perlahan. Seketika Marisa dan Marvin berhenti berdebat dan memandang Ayah mereka. "Andai saja Ayah punya pekerjaan yang lebih baik.." tunduknya.
"Ayah..."Indira memegangi tangan suaminya.
"Ayah bicara apa? Pekerjaan Ayah adalah pekerjaan yang mulia." kata Marisa emosi. Ia tidak suka Ayahnya bersikap sepeti itu. Marisa tahu susah payahnya dulu Ayahnya membesarkannya dan Marvin.
"Tidak Nak, terkadang Ayah hanya kasian denganmu dan Marvin. Anak-anak seusia kalian harusnya menikmati masa muda. Bukan memikirkan beban hidup." kata Agung sedih.
"Ayah, harusnya Ayah bangga dengan anak-anak kita." Indira mengenggam lebih erat tangan suaminya. "Mereka anak-anak yang mandiri." Indira memandang Marisa dan Marvin bergantian. "Ayah lah yang mendidik mereka seperti ini. Anak-anak baik yang tidak pernah menyusahkan kedua orang tua nya." lanjutnya sambil tersenyum.
"Benar kata ibu ,Ayah..." Marisa bangkit berdiri dan memeluk Ayahnya dari belakang. Di rasakannya tubuh Agung yang semakin rapuh. Marisa tahu, Ayahnya selalu memikirkan semua dalam diamnya.
"Kami sudah dewasa Ayah, meskipun sedikit. Kami juga ingin membantu Ayah." kata Marvin menimpali.
"Beruntungnya Ayah memiliki kalian..." mata Agung berkaca-kaca dan di sambut pelukan istrin dan anak perempuannya.
"Ayo kita makan, aku sudah lapar..!" kata Marvin mencairkan suasana. Dia mengelus-elus perutnya pura-pura kelaparan.
"Hahahahahahaha..."Agung,Indira dan Marisa tertawa bersamaan.
"iyaah, ini sudah bukan sarapan lagi kurasa." kata Marisa di sela tawanya.
"Ayo,Ayah pimpin doa." Indira tersenyum pada suaminya. Agung balas tersenyum dan memegang mengecup tangan istrinya. Marisa ikut tersenyum sambil kembali duduk di samping Marvin.
Begitulah romantisnya kedua orang tua Marisa..Di usia pernikahan yang sudah tidak muda lagi dan dalam keadaan pas-pas an sekali pun mereka tetap saling menyayangi dan melengkapi.
Agung mengangkat kedua tangannya di ikuti Indira dan kedua anaknya berbarengan..Serayak mengucap syukur karena hari ini masih di berikan nikmat hidup dan makanan yang cukup untuk keluarga mereka.
Ini lah keluarga Marisa yang ia sangat sayangi. Keluarga sederhana dengan seorang Ayah yang bijak, ibu yang penyayang, Adik yang jahil tapi pengertian. Merekalah penyemangat Marisa.
"Ayo Nak,makan yang banyak." Agung meletakan tempe goreng di piring Marisa.
"Yaa,Ayah..."Marisa tersenyum lebar dan makan dengan lahap.
Hari minggu itu jalanan begitu ramai dengan kendaraan pribadi. Marisa berboncengan motor dengan Marvin membelah jalan raya yang padat.
"Dek, bisa cepat sedikit..?" kata Marisa di telingan Marvin. "Aku sudah terlambat." lanjutnya dengan suara di kerasakan. Maklum suara kendaraan lain dan angin membuat suara Marisa terdengar pelan.
Marvin memberi kode jempol tangan ke arah Marisa, kemudian melaju dengan kecepatan tinggi. Marisa mendekap erat punggung adiknya, sebenarnya ia agak takut ketika motor Vario type lama Marvin berjalan dengan kecepatan tinggi, tapi ia lebih takut terlambat bekerja.
Di sebuah belokan dari arah berlawanan, melaju sebuah mobil Fortuner TRD warna putih.
"Sudah banyak berubah yaa daerah sini." Seorang laki-laki yang duduk di kursi belakang berkata.
Matanya yang di bingkai kacamata hitam memandang jalanan yang di lalui.
"Tentu saja sudah banyak perubahan di sini Tuan." kata si Sopir sambil tersenyum memperhatikan Tuan nya dari kaca spion tengah. "Selama 5 tahun Tuan muda hampir tidak pernah pulang." lanjut pria yang sudah terlihat tua tapi masih terlihat bersemangat itu lagi.
"Untuk apa aku pulang..?" Laki-laki yang di panggil Tuan Muda itu melengos. Dia bertopang dagu sambil kembali melihat jalanan. Laki-laki dengan tinggi tidak kurang dari 185cm itu penampilannya sangat menawan, dengan hanya kemeja lengan panjang warna putih yang di lipat sampai siku, bawahan celana jeans hitam dan di pundaknya tersampir sweater rajut warna hitam. kacamata hitam melengkapi penampilan dan mempertegas garis wajahnya yang tampan dengan hidung mancung dan bibir bawahnya yang tipis membuat wanita manapun akan berpaling sekedar mengagumi fisiknya.
"Tuan mau langsung pulang atau mampir dulu ke Restoran Padang langganan Tuan dulu ?" si Sopir yang tahu Tuannya agak kesal mencoba mengalihkan pembicaraan. Seketika raut wajah laki-laki itu menjadi cerah.
"Tentu saja kita mampir dulu ke sana..!" laki-laki itu tampak antusias.
Si sopir tersenyum lebar mendengarnya.
"Siap Tuan!" ucapnya sambil sesaat melihat ke belakang.
"Pak kirman, AWAASS...!!" Mata laki-laki itu membulat ketika tiba-tiba dari arah depan ada sebuah motor yang melaju kencang.
Seketika Pak Kirman banting stir,mobil Fortuner itu sampai naik ke trotoan dan berhenti tepat sebelum menabrak pohon. Kepala laki-laki itu terbentur pinggiran pintu mobil. Ia mengerang kesakitan.
Sebaliknya motor yang ternyata di naiki Marisa dan Adiknya sudah terjatuh. Marvin terpental ke rerumputan tapi kaki Marisa terluka tertimpa motor.
Ia meringis menahan sakit sambil berusaha mengeluarkan kakinya dari bawah motor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
KIA Qirana
Like juga 👍👍👍👍👍
2021-12-06
0
Dania
Like dong 👍👍👍👍👍
2021-12-06
0
*
good
2021-11-08
3