Marisa merintih kesakitan saat Andreas menarik rambutnya.
"Lepaskan..!" teriaknya sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Andreas dari rambutnya.
Tapi Andreas semakin erat mencengkram rambutnya, Marisa sampai harus berjinjit untuk mengurangi tarikan di rambutnya.
"Kau tahu siapa aku..?Aku bisa saja mencabut beasiswa mu tahu!" ancamnya.
Mata Marisa membulat mendengarnya, ia tergagap. Namun ia segera menguasai diri.
"Bapak tidak bisa seenaknya melakukannya, saya yang akan melaporkan Bapak ke Rektor atas tindakan kasar Bapak ini." Marisa menggangap kata-kata Andreas hanya ancaman belakang,makannya ia berani.
"Melaporkan ku..?" Andreas terkekeh.
Di cengkramnya rambut Marisa semakin erat, kemudian di peganginya dagu Marisa kasar. Kini wajah mereka saling berhadap-hadapan.
"Lihat wajahku baik-baik." perintahnya.
Mata mereka saling bertatapan.
"Marthadinata,apa kau tidak ingat nama itu?" tanyanya.
Marisa berusaha mengingat-ngingat lagi. Sejak awal Marisa memang merasa familiar dengan nama itu.Tiba-tiba ingatannya melayang saat ia pertama kali mendapat surat pemberitahuan soal beasiswa yang ia dapat, di situ tertera nama pemberi beasiswa,
"A.MARTHADINATA" nama itu tertera di lembar surat pemberitahuannya.
Di pandanginya Andreas, Marisa menurunkan tangannya. Andreas tersenyum penuh kemenagan.Ia melepaskan cengkramannya dari rambut Marisa.
"Sekarang kau posisimu kan." kata Andreas sambil bersedekap.
Marisa masih terdiam dengan wajah tertunduk, Ia sangat menyesali perbuatannya. Harusnya ia bisa menahan diri. Aah,kenapa ia begitu tidak suka dengan sikap laki-laki ini..??
"Tolong maafkan saya." kata Marisa akhirnya sambil memegang lengan Andreas, yang dengan segera ditepisnya. "Jika Bapak mau, akan saya kembalikan uang dan motor itu." Ia terlihat gusar, di remas-remasnya jari-jari tanyannya yang saling bertaut. "Tapi tolong, jangan cabut beasiswa saya.." mohonnya.
Ia menundukkan wajahnya,keadaan seperti ini lah yang membuat Marisa menyesali nasibnya. Jiwanya menolak meminta maaf karena ia tidak bersalah, tapi akal nya masih bisa berpikir. Jika ia menuruti egonya, akan bagaimana nasibnya? Bukankah tinggal beberapa bulan lagi ia akan segera lulus? Marisa menguatkan hatinya sendiri.
"Bagaimana kalau aku kembalikan tamparanmu?" kata-kata Andreas membuat Marisa terkejut.
Di tatapnya laki-laki jangkung yang berdiri di hadapannya.
Belum sempat Marisa berkata apa pun, Andreas sudah mengangkat tangannya. Reflek di pejamkannya matanya rapat-rapat, bersiap merasakan sakitnaya tamparan dari Andreas.
Beberapa detik Andreas benar-benar akan menampar Marisa, sebelum ia teringat akan Ibu nya yang telah meninggal. Seketika ia menurunkan tangannya, di lihatnya Marisa yang masih memejamkan mata dengan wajah takut. Andreas menghela nafas panjang, kemudian mengusap wajahnya dengan kesal.
Marisa membuka matanya dan yang di lihatnya hanya punggung Andreas yang berjalan membuka pintu dan pergi.
"Haaaahh..." Akhirnya Marisa bisa bernafas, rupanya tanpa sadar dari tadi ia menahan nafas karena terlalu tegang. Ia terduduk di lantai, kakinya terasa lemas. Tanpa sadar di ujung matanya mengalir air mata. "Bagaiman kalau beasiswaku benar-benar di cabut..?" runtuknya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Kenapa aku tidak bisa bersabar..?kenapa aku bisa terbawa emosi...?"
Mobil Ferrari 488 Spider warna hitam itu melaju kencang di jalan tol. Sudah lama sekali Andreas tidak mengendarai mobil kesayangannya ini, Di karenakan kondisi jalanan di Jakarta yang padat, juga karena mobil ini terparkir di garasi rumahnya. Sedangkan ia begitu enggan pulang ke rumah karena pasti akan bertemu dengan Ayahnya.
Andreas kembali menginjak gas dalam-dalam, menbuat mobil itu mengeluarkan suara khas nya dan melaju kencang melewati mobil-mobil lain.
Sebelum pulang tadi Andreas sempat melihat data dari Marisa. Ia bermaksud benar-benar mencabut beasiswanya.Tapi wajah Marisa yang memelas dan memohon padanya terlintas dalam ingatannya, apa lagi di situ juga di jelaskan pekerjaan Ayahnya dan di jelaskan pula tentang Marisa yang bekerja paruh waktu untuk menambah biaya hidup. Di samping itu nilai-nilai Marisa selalu sempurna, tidak ada alasan bagi Andreas untuk mencabut beasiswanya. Andreas mengusap pipi kanannya, tamparan keras tadi masih terasa sampai sekarang, ia mengkerutkan keningnya. Andreas bisa saja tetap mencabut beasiswanya tetapi...
"Sial!" umpatnya sambil memukul stir mobilnya, dan kembali menambah kecepatan.
"Hahahahahaha...." Bryan tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita Andreas hari ini yang bertengkar dengan Ayahnya dan di akhiri dengan tamparan seorang wanita. "Sial banget hari ini elu Bro." kata Bryan di sela tawanya.
Andreas hanya terdiam sambil menghisap lintingan ganja nya sambil merebahkan diri di sofa besar yang berada di ruangan itu. Di pandanginya Bryan yang sibuk dengan dua wanita yang duduk di kanan dan kirinya. Ia sendiri tidak begitu suka main wanita seperti kawannya itu, kalau ia sedang ingin, ia akan memilih satu, setelah itu selesai. Ia tidak suka basa-basi dengan para wanita yang memang mengincar uang nya itu.
Club Malam Red Rabbit memang di khusukan untuk tamu-tamu yang memiliki dompet tebal. Apa lagi yang bisa menyewa ruangan VVIP seprti mereka, yang tentunya harus membayar lebih. Tapi dengan privasi dan keamanan yang terjamin, mereka tidak berkeberatan, asal mereka bebas melakukan apa saja.
"Bokap elu gmna..? katanya mau ikut nyalonin jadi WaPres." tanya Andreas tetap tidak beranjak dari sofa tempat ia tiduran sambil terus menghisap lintingan ganja itu..
Entah sudah berapa linting yang ia habiskan.
"Mana gue tahu yang kayak gitu." jawab Bryan santai. Ia tertawa saat salah satu wanita yang duduk di pangkuannya memukul pelan dengan genit ketika tangan Bryan menyusup ke belahan dadanya.
"iihh..nakal.." wanita itu merajuk manja,
embuat Bryan bertambah gemas.
"Elu kan tahu,.walaupun satu rumah tapi Gue jarang ketemu Bokap.".Lanjutnya sambil menegak Ultimat Original Vodka. Di pandanginya botol minuman keras itu, sesaat ia ingat sesuatu. "Kemarin Bokap habis dapat Vodka mahal, biasa hasil suap." Bryan terkekeh. Dan di sambut tawa Andreas. "Besok gue bawain yaa?" lanjutnya.
Andreas mengangkat jempol kanannya sambil tersenyum lebar..Di ambilnya botol Vodka di meja,.dan di tengaknya sampai hampir habis.
Begitulah Andreas menghabiskan malamnya, begitu banyak ketidak puasan di dalam hatinya. Ia ingin mendapatkan posisinya kembali sebagai CEO, tapi terhalang Ayahnya sendiri. Di tambah wanita miskin itu. Andreas memegangi kepalanya, kemudian mengeleng-gelengkannya, ia mencoba mengingat-ingat nama wanita yang telah berani menamparnya itu, tapi kepalanya terasa berat.
".....Maa...Marisaa...??" gumamnya pada diri sendri.
"Siapa itu Bro..?" Bryan tertawa, di sodorkannya plastik berisi bubuk putih kepada Andreas.
Mulanya Andreas hanya diam melihatnya,Ia pegangi kepalnya yang terasa berat.
"Eu tahu kan Bro, kayak gini nggak akan bikin elu kecanduan, tapi yang pasti akan bikin masalah elu hilang." Bryan menerangkan, di buka nya plastik kecil itu dan di campurkan ke dalam botol Vodka kemudian di tengaknya sampai hampir separuh. "Nih..!" Di sodorkannya botol itu pada Andreas.
Andreas menerimanya,ragu-ragu di minumnya Vodka yang telah tercampur sabu itu sampai habis.
"Ini baru Andre temen Gue yang 5 tahun lalu ngilang.." Bryan tertawa terbahak-bahak sambil kembali meminum Vodka nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
MyFamily
Rendy ternyata putra mahkota dr kerajaan kelantan malaysia yg hilang sejak umur 3 thn
2023-03-03
0
gemini
ini lh pengaruh buruk dari teman,,😔😔 semoga anak ku di jauh kan dari 3 itu. 5 tahun di ungsikan belum tentu bisa sadar klo gak niat dalam diri sendiri
2022-06-14
0
Kasmawati S. Smaroni
rasain lo,baru di ancam jg udah mau kembalikan uang dan motor,kalo kita gak punya apa2 tapi setidaknya kita punya harga diri yg gak boleh di injak2 sembarang orang
2022-05-21
0