Seminggu berlalu sejak kejadian itu,dan seperti kata Rendy, satu hari setelah kejadian kecelakaan, ia mengirimkan satu unit sepeda motor baru, lengkap dengan surat-suratnya.
Awalnya Agung menolak, karena harga motor yang di kirimkan jauh lebih mahal dari pada motor butut Marvin yang memang sudah sering mogok. Tapi dengan penjelasan Rendy dan bujukan Marvin yang memang mengingginkan motor baru. Akhirnya di terimanya motor N-max type terbaru itu.
"Sebenarnya ini terlalu berlebihan,tapi sampikan terimakasih saya pada Tuan Muda anda." kata Agung penuh syukur.
"Pasti akan saya sampikan." Rendy menjawab tegas.
"Tuan Muda mu, siapa namanya..?" tanya Marvin. "Yang kemari itu kan..?yang seperti orang korea...?"
"iya." jawab Rendy. "Beliau bernama Tuan Muda Andreas, dari keluarga Marthadinata." Rendy menjelaskan.
"Marthadinata...?" Marisa yang duduk di ruang tamu ikut mendengarkan.
Nama yang familiar, tapi Marisa tidak bisa menginggat di mana sebelumnya dia mendengar nama itu.
Sampai hari ini Marisa masih penasaran di mana sebelumnya ia mendengar nama itu. Dengan kaki yang masih terasa nyeri ketika berjalan Marisa memasuki gedung kampusnya.Ia sudah ijin tidak berangkat selama satu minggu, Ia pikir selama satu minggu ini keadaannya akan benar-benar pulih, tapi nyatanya walaupun bengkak sudah hilang, nyeri nya masih terasa.
Dengan memakan waktu agak lama karena Marisa harus berjalan tertatih-tatih, akhirnya ia sampai di depan pintu kelasnya.
"Syukurlah...Dosennya belum datang." kata Marisa dalam hati, ia tersenyum lega. Ia memperhatikan kelasnya sepertinya lebih penuh dari biasanya. "Apa memang wanitanya sebanyak ini..?" tanyanya pada diri sendiri.
"Mau sampai kapan berdiri di depan pintu?" suara seorang Laki-laki terdengar bersamaan dengan Marisa yang akan melangkah masuk ke dalam kelas.
Ia menengok ke belakang, di situ telah berdiri Andreas. Laki-laki yang kemarin terlibat kecelakaan dengannya. Marisa masih terpaku di tempatnya, ia takjub dengan kedua bola mata berwarna coklat terang yang di miliki laki-laki itu.
"Selamat siaaang Pak..!" Jesica berteriak girang dari bangkunya. Dan di sambut ucapan salam dari mahasiswa lainnya yang tidak kalah heboh.
Seketika Marisa tersadar dari keterkejutannya melihat Andreas, yang entah bagaimana bisa menjadi Dosen di kelasnya.
Dengan langkah perlahan Marisa berjalan ke bangkunya. Andreas melihat kaki Marisa yang masih terlihat pincang jika berjalan, namun ia segera mengabaikannya.
Baru kali ini Marisa sama sekali tidak bisa konsentrasi pada pelajaran yang di sampikan Dosen baru itu. Padahal cara mengajarnya jauh lebih mudah di pahami, bahkan di banding Bu Fina Dosen senior yang mengajar mata pelajaran yang sama,yang saat ini sedang cuti melahirkan.
"Andreas,Pak Andreas namanya..." gumam Marisa sambil mengigiti pulpen. Kebiasaan jelek ketika ia sedang gelisah. Di pandanginya Andreas yang sedang mengajar. "Dia memang ganteng sekali, pantas banyak wanita yang tergila-gila padanya." kata Marisa dalam hati. Ia melirik sekitarnya, banyak dari teman-teman kelasnya yang diam-diam memfoto,memvideo dan berbisik mengagumi fisik dari Dosen muda itu.
Andreas baru saja akan membuka mobil Mazda Cx-9 warna putih nya ketika Rendy sudah berada di belakangnya.
"Tuan Besar meminta anda untuk segera bertemu" kata Rendy sambil menunduk.
"Lima tahun aku tinggal, sekarang kau jadi bawahan Papa ku,yaa..?" Andreas tersenyum mengejek.
"Saya tidak berani menghianati anda Tuan Muda,sungguh..!" kata Rendy. "Saya hanya menyampaikan pesan Tuan Besar saja." Rendy tetap menunduk untuk menunjukkan hormatnya. "Sejak anda kembali pulang ke Jakarta, anda belum pulang ke rumah untuk menemui Tuan Besar. Saya hanya khawatir dengan hubungan anda berdua..."
"Aku akan menemui nya nanti." akhirnya Andreas mengiyakan,ia tidak mau repot berdebat.
"Tuan Besar pasti akan senang sekali setelah lima tahun lebih tidak bertemu dengan anda." Rendy tersenyum.
Andreas mengabaikannya, pandangannya teralih ketika dari kejauhan dia menangkap sosok Marisa yang sedang berjalan perlahan-lahan sambil memegangi kakinya.
"Soal kecelakaan itu, sudah kau urus?" tanyanya.
"Sudah Tuan." Jawab Rendy. "Uang kompensasi dan sebuah motor baru. Awalnya orang tuanya menolak, tapi akhirnya mau menerima." Ia menjelaskan.
Andreas tersenyum meremehkan, sebelum akhirnya ia menaiki mobilnya dan melaju pergi keluar dari halaman parkir meninggalkan Rendy yang masih berdiri di tempatnya.
Mobil putih itu melaju kencang di jalanan yang mulai gelap. Andreas sedang mempertimbangkan akan pulang ke rumah atau Apartement miliknya ketika dering ponsel nya berbunyi. Tertulis nama "Bryan" di layar ny. Andreas segera mengangkatnya.
"Hi what's up Bro..!" Andreas tersenyum lebar. Ia segera memutar mobilnya ke arah yang berlawanan.
Tak berapa lama mobil Andreas telah terparkir di halaman sebuah Club Malam. Ia berjalan menuju ke sebuah ruangan khusus tamu Vvip yang letakny agak kebelakang. Saat Andreas membuka pintu, di situ telah duduk tiga orang laki-laki yang salah satunya berambut pirang dengan di temani tiga orang perempuan berpakaian seksi.
"Andree...!" Laki-laki berambut pirang itu segera berdiri dan memeluk Andreas. "Gue kangen sama elu Bro." lanjutnya.
"Gue juga.." Andreas tersenyum lebar. Ia melihat ke arah ke dua orang teman Bryan.
"Kenalkan,Henry dan Alex." Bryan memperkenalkan teman-temannya. "Chintya, Bella dan Diana." Bryan menunjuk satu-satu teman wanitanya.
"Hallo Andre..." sapa wanita-wanita itu bersamaan. Mereka segera pasang pose seksi dan senyum paling mengodanya.
"Ganteng banget sih.." kata Chintya gemas saat Andreas duduk di sampingnya.
Andreas hanya tersenyum tipis sambil menyalakan rokoknya, kemudian menghisap dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia menyandarkan kepalanya di sofa dengan Chintya yang terus menempel pada dirinya. Chintya memandang Andreas dengan jarak yang dekat sekali, ingin sekali ia menciumnya.Tapi tentu saja Chintya tidak berani.
"Elu berubah Bro.." kata Bryan setelah agak lama memperhatikan Andreas.
"Apa nya..?" tanya nya santai.
Ia kembali duduk tegak sambil melipat lengan kemejanya lebih tinggi dan membuka satu kancing bajunya, dan kembali ia menghisap rokoknya.
Bryan terkekeh sambil menghisap rokoknya, tetapi rokok yang di hisap Bryan dan teman-temannya berbeda dengan rokok milik Andreas. Rokok Bryan berbentuk lintingan kecil.
"Silahkan..." lagi-lagi Chintya yang sudah jatuh cinta pada wajah Andreas kembali mencari perhatian, di tuangkannya Vodka ke dalam gelas dan memberikan pada Andreas.
"Dia itu minumnya dari botol, kenapa elu tuangkan di gelas..?" Bryan tertawa.
Dan di sambut tawa teman-temannya. Andres hanya tersenyum tipis sambil menerima gelas dari Chintya dan meminumnya dengan sekali teguk.
"Thank's." Andreas tersenyum pada Chintya yang membuatnya semakin jatuh cinta.
Bryan masih memperhatikan Andreas sebelum akhirnya dia melempar sebuah plastik kecil berisi serbuk putih di hadapannya.
"Nggak Bro.." Andreas mengambil plastik kecil itu.Di mainkannya dengan jari tangannya. "Gue udah nggak pakai lagi." katanya sambil melihat ke arah Bryan dan melemparkannya kembali ke arahnya, dengan sigap Bryan langsung menangkapnya.
"Jangan bilang elu juga sudah nggak pakai ini Bro." Bryan menunjukan lintingan kertas putih di tangannya. Di nyalakannya lintingan itu dan di hisapnya dalam-dalam.
Andreas terkekeh, ia ambil botol Vodka di meja dan di tengaknya sampai hampir separuhnya habis.
"Kalau gue pakai lagi trus gue di buang ke luar negeri lagi gmna..?" tanya Andreas sambil tertawa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Etik Etik
nyimak,,kayaknya bagus crtnya
2023-02-16
0
Herlina Yugaswati
lanjut thor penasaran sama si kaca mata hitam
2022-05-27
0
Ani Aira
temen² nya Andre ngeri🙈🙈
2022-01-27
0