Hari menjelang petang ketika Marisa selesai dengan kelasnya. Setengah berlari ia menuju kantin kampus yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan kelasnya sore itu. Perutnya terasa lapar, baru ia ingat kalau ia belum makan siang. Segera ia memesan nasi goreng dan es teh, kemudian duduk di bangku paling pojok.
Sambil menunggu pesananya datang, Marisa memilih mendengarkan lagu di ponsel nya dengan menggunakan headset. Lagu jadul dari Westlife yang berjudul Beautifull in white mengalun lembut di telinganya.
Marisa memandang sekeliling kantin yang masih ramai dengan anak-anak kampus, rata-rata mereka bergerombol sambil bergosip, dan entah apa yang mereka bicarakan sampai bisa tertawa terbahak-bahak seperti itu.
Kantin kampus ini memang lebih mirip Cafe di Mall dari pada kantin tempat makan anak kuliah yang biasanya sederhana dengan bangku kayu atau plastik. Di tiap sudut kantin itu di desain minimalis modern dengan warna dominan coklat kayu, dari ujung ke ujung berjajar stand-stand makanan dan minuman dari yang tradisional seperti, nasi goreng dan minuman seperti es teh manis, sampai makanan cepat saji seperti KFC dan minuman kekinian seperti janji jiwa,lain hati dan sejenisnya.
Kantin tersebut juga menyediakan beragam menu sehat bagi mahasiswanya yang sedang diet. Marisa terkekeh ketika mengingat itu. Ia merasa cuma kantin di kampusnya ini satu-satunya yang begitu memperhatikan mahasiswanya sampai yang sedang diet.
"Silahkan Mbak, nasi goreng dan teh manis nya." Seorang pelayan laki-laki berkaos putih menaruh piring berisi nasi goreng dan gelas berisi teh manis hangat di meja Marisa.
"Terimakasih Mas." Marisa tersenyum ramah pada si pelayan yang membuatnya tersipu.
"Sama-sama Mbak." Pelayan itu menunduk malu sambil berlalu pergi.
Marisa menyimpan ponsel dan headset ny ke dalam tas, kemudian segera melahap nasi goreng miliknya. Ia benar-benar kelaparan,seharian ia bekerja di Restoran tapi untuk makan pun kadang ia tidak sempat. Bukannya Restoran khas Padang tempat Marisa bekerja tidak membolehkan karyawannya makan. Tapi Marisa sendri lah yang sering lupa dengan diri nya sendri. Jika waktu istirahat tiba, Marisa akan sibuk dengan buku-buku pelajarannya, dan tiba-tiba saja waktu istirahat sudah habis dan ia hanya akan sempat minum air putih satu gelas untuk kemudian kembali bekerja.
"Kalian tahu siapa yang akan menggantikan Bu Fina yang cuti melahirkan..?"
Tak sengaja Marisa mendengar seorang mahasiswi berambut pendek yang di cat pirang berkata kepada kedua teman wanitanya yang duduk di depannya.
"Siapa..?" tanya temannya yang berambut lurus panjang ogah-ogahan sambil tetap menikmati bakso kuahnya.
"Paling Pak Joni..." kata yang bertopi sambil tertawa. "Dosen yang mengajar ekonomi bisnis kan yaa cm dia.." lanjutnya.
"Bukan..!" wanita berambut pendek di cat pirang itu mengibaskan tangannya gemas.Dia tertawa tertahan sambil melirik kanan dan kiri nya.
Marisa menunduk berusaha mengabaikan hal yang bukan urusannya, ia mempercepat makannya. Di liriknya jam tangannya sdh hampir setengah delapan malam.
Marisa baru berdiri dan akan melangkah pergi ketika ketiga mahasiswi itu berteriak berbarengan, sontak Marisa terkejut dan terdiam sesaat melihat ke arah mereka.
"Aaaaahh...nggak mungkiiin...!" yang berambut panjang berteriak kegirangan.
"Info dari mana..??beneran..??" yang bertopi tidak kalah antusias.
"Papaku sendri yang bilang." kata yang berambut pendek dan di cat pirang itu sambil bersedekap. Ia tersenyum puas melihat reaksi kedua temannya. "Papaku salah satu donatur Kampus ini, dan masih ada hubungan bisnis dengan keluarga Martadinata. Nadi tidak mungkin klo info nya salah."
Mau tidak mau Marisa jadi mendengar pembicaraan mereka bertiga. Marisa tahu siapa mereka, karena mereka satu angkatan dengannya. Gank populer atau entah lah, mereka menyebut diri mereka sendri apa.Marisa tak terlalu memperhatikan nama kelompoknya.
Yang memakai topi coklat dengan motif LV bernama Aurel, yang berambut panjang lurus bernama Lucy. Ketua nya Jesica yang berambut pendek dan di cat pirang. Setahu Marisa keluarganya merupakan pemilik Hotel bintang lima yang tidak saja terkenal di kotanya tapi juga di luar negeri.
"Heh, siapa yang suruh nguping..?!" hardik Jesica mengagetkan Marisa.
Tanpa Marisa sadari ketiga mahasiswi itu sudah melihatnya dengan pandangan tidak suka. Marisa tergagab, jarak mereka memang dekat. Hanya di pisahkan satu meja-kursi saja.
"Aah,maaf..aku tidak..." Marisa masih belum menguasai keadaan. Ketiga mahasiswi itu sudah berdiri dan berjalan ke arahnya.
"Siapa dia..?" tanya Aurel dengan pandangan meremehkan. Di pandanginya Marisa dari atas sampai bawah. "Memang di sini ada yaa mahasiswanya yang berpenampilan gembel seperti ini..?" lanjutnya.
Lucy terkikik mendengar kata-kata Aurel.
"Kalau tidak salah kau murid beasiswa kan..?" kata Jesica tersenyum mengejek. Ia bersedekap,matanya memperhatikan Marisa dari atas smpk bawah. Begitulah cara ia mengintimidasi orang-orang di bawahnya.
"Murid beasiswa...?!" Aurel dan Lucy terkejut dengan gaya berlebihannya.
"Harusnya aku tidak sok-sok an ingin tahu pembicaraan mereka." kata Marisa dalam hati, ia menunduk sambil mengigit bibirnya.
Orang-orang yang berada di kantin mulai berbisik dan memperhatikan mereka.
"Harusnya orang sepertimu cukup datang ke kampus untuk belajar dan tidak coba-coba mendengarkan apa yang semestinya tidak kau dengar." Jesica berjalan memutar meneliti apa yang di kenakan Marisa,dan ia semakin meremehkannya.
"Apa menurutmu Kak Andre akan tertarik dengan orang sepertimu?" Aurel ikut menimpali.
"Aku tidak yakin orang seperti dia mengenal Kak Andre." Lucy tertawa. "Dunia mereka kan berbeda."
Mendengarnya ketiganya tertawa bersamaan.
"Benar,aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan." kata Marisa akhirnya. Ia berusah bersikap tenang,walau sebenarnya malu di perhatikan banyak orang. "Aku minta maaf nggak sengaja mendengar pembicaraan kalian,tapi sungguh aku nggak paham dan nggak tertarik dengan apa yang kalian bicarakan tadi."
"Baguslah kalau memang kau tau diri dengan posisimu." kata Jesica congkak. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Marisa. Kemudian berkata ,"Semoga kau tetap tau diri dan ingat siapa dirimu.Kau di terima di sini hanya untuk mengisi bangku yang kosong.Kau tidak sederajad dengan kami."
Marisa terdiam mendengar kata-kata Jesica. Sampai ketiga orang itu pergi pun Marisa masih berdiri mematung untuk beberapa detik sampai akhirnya ia tersadar dan segera pergi meninggalkan kantin dengan perasaan tertekan.
"Sabarlah Marisa, tinggal sebentar lagi." katanya dalam hati. ia berjalan menunduk sambil meremas tali tas nya. "Kau harus lulus lebih cepat,supaya nggan perlu lagi berurusan dengan orang kaya sombong sperti mereka, yang bahkan nggak tahu bagaiman susahnya orang tua mereka mendapatkan kekayaan yang sekarang bisa mereka nikmati."
Tanpa sadar air mata Marisa menetes, bagaimanapun Marisa hanya manusia biasa. Walaupun ia lebih banyak bersabar dengan diam. Sebenarnya ka juga sakit hati. Tapi dengan memikirkan keluarga dan beasiswa yang susah payah ia dapatkanlah yang mampu membuatnya bisa bertahan dengan semua ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Serasky
baru sempet baca, pdhl udh sering bngt liat di FB sama othornya do promoin...
dan trnyt wow.. bhsnya kalem gk tergesa.. top othor...
2022-05-23
2
IdaDaliaMutiara
mampir
2022-04-16
0
buk e irul
cieeeee yang suka Westlife
2022-03-04
0