Hari minggu ini Marisa sudah sibuk dengan pekerjaannya di Restoran Padang, ia bolak-balik harus menggantarkan pesanan kepada para tamu yang berdatangan.
Berkali-kali ia harus menyeka keringat yang mengalir di keningnya, hari minggu memang hari konsumen kalau kata Pak Erwin. Dan itu benar adanya, dari tadi tamu datang tidak ada habisnya, rata-rata yang datang satu rombongan keluarga yang paling sedikit berjumlah empat orang.
"Istirahat saja dulu." kata Erwin saat di lihatnya Marisa berhenti di pojok ruangan sambil menyeka keringat.
Marisa terkejut melihat Erwin yang telah berdiri di sampingnya. "Tidak Pak, saya istirahatnya nanti, bergantian dengan Lenna."
"Kakimu baru saja sembuh, saya tidak ingin kau memaksakan diri Marisa." Erwin terlihat khawatir. "Istirahatlah,masih ada karyawan lain yang bisa mengantarkan pesanan."
"Tidak Pak, terima kasih." tolak nya.
Marisa tidak ingin mengundang masalah dengan karyawan lain. Dengan mereka tahu kalau Erwin ada hati dengannya saja sudah mengundang kecemburuan, apa lagi di saat sibuk seperti ini ia malah di suruh istirahat.
"Saya permisi dulu Pak, ada pesanan yang harus saya antar." Marisa menunduk kemudian pergi sebelum Erwin sempat berkata apa pun.
"Selamat datang..!" Seorang Pelayan wanita membuka kan pintu.
Andreas dan Rendy berjalan masuk. Erwin yang tidak sengaja melihatnya sedikit terkejut, sebelum akhirnya berjalan ke arah mereka.
"Tuan Rendy, tumben kemari?"Erwin tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya.
Rendy menjabat tangan Erwin sambil tersenyum. "Hanya kebetulan mampir." katanya. "Waah.. sepertinya ramai sekali." Rendy mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Untuk Tuan Rendy dan..." Erwin melihat ke arah Andreas yang terlihat malas, sama sekali tidak ada keinginan dari Andreas untuk memperkenalkan dirinya.
Rendy yang menyadari sifat nya itu segera menegahi. "Beliau Tuan Muda Andreas, putra Tuan Besar Adnan." Rendy tersenyum memperkenalkan nya.
"Oowh..saya pikir orang asing." Erwin tertawa kecil sambil sambil mengulurkan tangannya. "Berkat suntikan dana dari Ayah anda, Restoran ini bisa sesukses sekarang."
"Almarhumah istri Tuan Besar Adnan memang keturunan Jepang-korea. Sedang kan Tuan Besar Adnan sendiri masih ada keturunan Belanda." Rendy menjelaskan.
Ia melirik ke arah Andreas yang kedua tangannya masih tenang di dalam saku celananya,
"Ah,maaf.." Erwin berusah tersenyum sambil menarik tangannya. "Akan segera saya siapkan ruangan khusus untuk anda berdua." kata Erwin sebelum pergi.
"Terimkasih." Rendy masih merasa canggung karena sikap Andreas yang tidak mau menjabat tangan Erwin.
Di lihatnya lagi orang yang berdiri di sebelahnya, masih acuh sambil melihat keramaian Restoran dengan pandangan malas.
"Yah...yaaah...siapa sih yang berani menegur anda.." kata Rendy dalam hati sambil menghela nafas panjang.
Erwin berjalan menuju dapur, di lihatnya Marisa yang sedang sibuk mencuci peralatan makan yang menumpuk.
"Marisa.." panggilnya.
Marisa menghentikan kegiatan mencucinya dan menoleh ke arah Erwin. "iya Pak?"
"Kau pergilah ke ruangan Vip, dan layani saja tamu yang di sana." kata Erwin. "ini perintah langsung dari saya." lanjut Erwin sebelum Marisa sempat protes.
"...baik Pak.." Marisa pasrah.
"Dian!" panggil Erwin pada seorang karyawan wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
Karyawan wanita yang bernama Dian itu segera berjalan ke arah Erwin, "iyaa Pak?" tanyanya setelah dekat.
"Gantikan Marisa mencuci yaa..!" perintahnya sebelum berjalan keluar dapur.
Dian mendengus kesal, "Memang yaa...,kalau orang cantik selalu beruntung." sindirnya pada Marisa yang masih berada di situ.
Marisa pura-pura tak mendengar, ia hanya menunduk sambil berlalu pergi.
Sementara itu Andreas dan Rendy telah duduk di sebuah ruangan tersendiri dengan interiornya yang bergaya Padang jaman dulu yang di padu dengan sentuhan modern. Di ruangan dengan meja panjang dan kursi yang berjumlah lima buah, hanya mereka berdua yang duduk.
Tiba-tiba ponsel Rendy berdering, Rendy segera mengambil ponselnya dari saku celananya.
Di lihatnya nama di layar HP nya. "Nona Eva.." Rendy melihat ke arah Andreas.
"Matikan saja!" perintahnya.
Ragu-ragu di matikan ponselnya, kemudian di simpannya kembali ke dalam saku celananya.Tapi belum ada hitungan menit kembali ponsel Rendy berdering. Rendy dan Andreas saling pandang, sebelum kemudian Rendy melihat ponsel nya, dan nama yang sama tertera di layar. "Nona Eva.." Rendy memperlihatkan layar ponsel nya pada Andreas.
Andreas berdecak kesal, menyuruh Rendy tidak menuntut jawaban darinya. "Lebih baik kau matikan ponsel mu!"
"Tidak bisa Tuan Muda.." kening Rendy sedikit berkerut. "Kalah Tuan Besar mencari saya, atau ada urusan penting yang menyangkut kantor saya tidak akan tahu."
"Terserahlah..."Andreas acuh.
Ia baru akan menyalakan rokoknya ketika Marisa datang dengan membawa kereta dorong yang berisi makanan.
Mereka berdua sama-sama terkejut. Lebih-lebih Marisa, mulutnya membulat begitu melihat Andreas yang duduk di ruangan itu. Andreas menyeringai melihatnya, ingin sekali ia berbalik pergi,namun apa daya,ia harus melakukan pekerjaannya.
"Silahkan..." Marisa menaruh piring-piring berisi aneka lauk, satu bakul nasi dan dua gelas minuman di atas meja.
Andreas melirik ke arahnya dengan pandangan menghina, Marisa berusah mengacuhkannya dan fokus pada pekerjaannya.
"Saya ada di sana, jika butuh sesuatu silahkan panggil." ia menunduk.
"Terimkasih..." Rendy tersenyum ramah pada Marisa
"Sama-sama.." Marisa balas tersenyum pada Rendy,lalu berjalan ke pojok ruangan dan duduk di satu kursi yang berada di situ.Andreas mengikutinya dengan ekor matanya.
"Lain kali tidak usah sambil tersenyum, Ren." kata Andreas tak suka.
Rendy menatap Andreas tak mengerti. "Kenapa Tuan Muda..?"tanyanya.
"Pokoknya tidak usah sambil tersenyum, titik!" Andreas meningikan suaranya.
Marisa yang duduk di pojokoan sampai mendengar, tapi ia tetap menunduk pura-pura tidak tahu.
Rendy masih tak mengerti apa yang di maksud Andreas, tapi ia mengurungkan niatnya untuk bertanya ketika dering ponsel nya kembali berbunyi.
"Nona Eva lagi." kata Rendy sambil melihat layar ponsel.
Andreas acuh sambil menyendokan nasi ke mulutnya,.Rendy menjadi bingung di buatnya.
Akhirnya di angkatnya telpon tersebut. "...hallo Nona..?" ragu-ragu Rendy menjawab.
Ia diam sejenak mendengarkan suara di seberang sana sambil matanya menatap ke arah Andreas yang sedang makan.
Rensy berharap Andreas mau berbicara dengan orang yang terus-terusan menelponnya ."....Saya sedang ada meeting dengan Tuan Besar. Maaf Nona saya tutup dulu." buru-buru Rendy mematikan ponselnya.
"Kau sering membuat repot dirimu sendiri, Ren." kata Andreas. "Tinggal tidak usah di angkat, atau blokir sekalian nomornya kan beres." lanjutnya.
"Mana mungkin saya bisa seperti itu."sunggut Rendy dalam hati.
Rendy baru saja akan menyendokan makanan ke mulutnya ketika pintu di buka seseorang. Marisa yang duduk di pojok dekat pintu berdiri karena terkejut.
Seorang wanita berperawakan tinggi dan langsing dengan rambut panjang lurus sepinggang berwajah cantik dengan poles make up naturalnya masuk dengan angkuh.
"Siapa tadi yang bilang sedang meeting dengan Paman Adnan.?" tanyanya.
"No,nona Eva..??" Rendy terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Mamahnya Maulana Alli
haha kapanggih eta c rendy
2021-10-19
0
⏤͟͟͞R𝐈𝐍𝐃𝐔ᵇᵃˢᵉ𝕸y💞🍀⃝⃟💙
mampus lo rend, ketauan bohong
2021-05-04
0
ciby😘
uhhuuukkk...jangan sombong"...entar kena virus bucin baru tau rasa kau😏😏😏
2021-05-01
0