"Mbaaak..!" panggil Marvin, ia segera bangkit dan berlari menolong Marisa. Di angkatnya motor yang menimpa kaki Kakaknya, kaki Marisa lecet dan bengkak.
Beberapa orang mulai berkekumpul untuk menolong, termasuk Pak Kirman si Supir dari mobil yang hampir bertabrkan dengan motor Marvin.
"Hati-hati dong Pak klo nyetir..!" Marvin emosi. "Kenapa mobil Bapak tadi keluar jalur..?"
"Lha situ bawa motor juga kenceng-kenceng, sudah tahu itu di tikungan." Pak Kirman tidak mau kalah. "Mobil Tuan saya juga hampir menabrak pohon." lanjutnya.
Suasana mulai ramai,orang-orang yang ikut berkerumun lebih membela Marvin yang naik motor dari pada mobil yang di kendarai Pak Kirman.
Laki-laki itu memperhatikan dari dalam mobil, ia berdecak kesal sambil memegangi pelipisny yang lebam saat menubruk pintu mobil tadi. Sesaat kemudian di ambilny ponsel nya dari saku celana, kemudian di telponnya seseorang.
"Ya Tuan Muda...?" suara dari dalam ponsel terdengar.
"Ren, segera ke tempatku. Aku ada sedikit masalah." kata Laki-laki itu.
Tanpa menunggu jawaban dari orang yang di telponnya. Laki-laki itu segera mematikan ponsel nya. Ia tidak perlu mejelaskan di mana dirinya, karena GPS pada ponselnya terhubung di ponsel orang yang barusan ia telpon.
"Tuk..tuk.." Pak Kirman mengetuk pintu kaca mobil. Laki-laki itu segera menurunkan kaca mobilnya. Di lihatnya raut cemas di wajah tua sopirnya.
"Maaf Tuan Muda, sepertinya Tuan Muda harus turun. Orang-orang yang berkerumun itu menuduh kita yang salah." Pak Kirman menjelaskan.
Laki-laki itu diam sesaat sambil memandang ke arah Marvin dan Marisa yang sudah di kerumuni orang banyak, kemudian membuka pintu mobil dan mulai turun.
"Tuan Muda lebih baik Tuan Muda mengalah, saya takut ada apa-apa dengan Tuan Muda.." Pak Kirman takut-takut memberi tahu. "Di kota ini, orang-orang lebih suka main fisik tanpa mau menyelidiki dulu siapa yang salah." lanjutnya.
Laki-laki itu mengangkat tangannya,menyuruh Pak Kirman untuk diam.
"Dasar orang kaya, sudah tahu menabrak tapi tidak mau turun dan minta maaf." Seorang Bapak-bapak berkata.
Laki-laki itu melirik sekilas ke arahnya dari balik kacamata hitamnya. Seketika si Bapak terdiam, ada aura mengintimidasi dari laki-laki itu walaupun dia hanya diam.
"Orang saya akan datang sebentar lagi, kalian bilang saja berapa jumlah yang harus di bayar." ia berkata tenang.
Marisa dan Marvin saling pandang, dan orang-orang yang tadi ribut seperti lebah mendadak diam.
Alis Marisa berkerut, ia tidak suka dengan cara Laki-laki itu bicara. Seolah kecelakaan yang bisa saja merengut nyawa nya itu bisa selesai dengan uang.
"Saya sudah di sini dan bersedia bertanggung jawab." Laki-laki itu bicara lagi kepada orang-orang yang mengerumuninya. "Saya rasa kalian bisa membubarkan diri."l anjutnya tetap dengan ekspresi datar.
Orang-orang yang berkumpul itu saling berpandangan, sebelum akhirnya membubarkan diri.
Kini tinggal mereka yang berdiri di pinggir jalan di siang yang terik itu, termasuk Pak Kirman si Sopir dari laki-laki itu yang berdiri menunduk di belakang Tuan nya.
"Sepertinya kau orang yang sangat kaya Pak sampai mau mengganti berapa pun yang kami minta."Marvin berkata.
Ia mencoba menghidupkan motornya, tapi motor itu tidak mau menyala. "Lihat!Sepertinya kau juga harus mengganti motorku."l anjutnya.
Laki-laki itu tersenyum samar sambil memandangi motor buntut Marvin.
"Dek..!" Bentak Marisa yang duduk di pinggir trotoar. Ia belum bisa berdiri karena kaki nya yang bengkak. Marisa tahu, Adiknya sedang mencoba mencari keuntungan. Laki-laki berkacamata hitam itu melihat ke arah Marisa sesaat sebelum kembali acuh.
Tak berapa lama sebuah mobil Civic Turbo warna merah berhenti di samping mereka. Seorang laki-laki berjas hitam keluar dari dalamnya.
"Tuan Muda Andre," Rendy berjalan menghampiri laki-laki berkacamata hitam itu.
"Berikan kunci mobilmu." perintahnya.
Rendy segera menyerahkan kunci mobil yang ia kendarai kepada Laki-laki itu
"Kau urus mereka." lanjutnya sambil menunjuk Marisa dan Marvin, kemudian berjalan ke arah mobil Civic Turbo yang tadi di kendarai oleh Rendy. Tak lama mobil itu telah melaju kencang membelah jalanan.
"Apa-apaan dia...??" Marisa melihat mobil yang mulai menjauh itu dengan pandangan tak percaya. Ia tak habis pikir dengan sikap laki-laki itu.
"Berapa uang yang harus Tuan kami bayar untuk mengganti kerugian kalian? "tanya laki-laki berjas hitam bernama Rendy sambil mengeluarkan buku cek.
"Lima juta!" kata Marvin cepat. "Dan itu belum termasuk biaya service motorku yang rusak."
Marisa memelototkan matanya ke arah Marvin, tapi yang membuat Marisa heran, orang bernama Rendy itu benar-benar menuliskan cek senilai lima juta rupiah.
Marvin menerimanya dengan tak percaya, padahal tadi dia hanya asal menyebutkan nominal. Karena tak suka dengan gaya sombong laki-laki berkacamata hitam tadi. Tak di sangka bawahan dari laki-laki tersebut benar-benar membayar nya lima juta.
"Motor itu sudah tua, perusahaan Tuan Muda kami ada yang berinvestasi di pabrik motor. Kalau kalian bersedia, kami akan mengirimkan motor baru,dari pada motor itu di service" kata Rendy dan di sambut ekspresi tak percaya dari Marisa dan Marvin.
Entah hari ini merupakan hari sial atau hari keberuntungan mereka.
Di sebuah Klinik Kesehatan, kaki Marisa telah di balut dengan perban elastis warna coklat untuk mengurangi bengkak pada kakinya. Begitu pun yang lecet telah di obati. Meski begitu, untuk sementara Marisa tidak diperboleh berjalan dulu.
"Dua sampai tiga hari ini jangan di buat jalan dulu yaa biar bengkak nya berkurang." Perawat yang baik itu menginggatkan lagi sebelum pergi meninggalkan Marisa.
"Terimakasih..."Marisa tersenyum.
Ia duduk di atas ranjang sambil merenungi kejadian tadi. Marvin pulang duluan karena harus bekerja di bengkel. Sebelum ia pulang, Marisa sudah menyuruhnya menelpon Restoran Padang tempat Marisa bekerja untuk memberi tahu soal Marisa yang tidak bisa berangkat.
"Siapa dia...?" tanya Marisa dalam hati. Ia mengingat-ingat wajah dari laki-laki berkacamata hitam tadi. "Dari wajah dan perawakannya seperti orang asing." Mendadak wajahny berkerut. "Aku tidak suka sikapnya,sombong sekali.Mudah sekali ia mengeluarkan uang begitu banyak,sedang aku...."Marisa memeluk lututnya, wajahnya terlihat muram.
"Marisa..!" Lenna berlari ke arahnya. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki berumur sekitar 35 tahunan.
"Lenna..? Pak Erwin..?" Marisa terkejut.
Lenna langsung memeluknya.
"Kami langsung ke sini begitu mendengar kau kecelakaan." kata Lenna menerangkan.
"Dasar Marvin, aku cuma menyuruhnya memberi tahu kalau aku ijin tidak masuk, dia malah memberi tahu soal kecelakan." gerutu Marisa dalam hati.
"Kakimu tidak apa-apa...?" tanya Erwin, seorang laki-laki bersahaja dan berwajah ramah. Ia menyukai Marisa sejak pandangan pertama, ia kagum dengan Marisa yang tekun dan pekerja keras.
"Sudah tidak apa-apa Pak" jawab Marisa. "Hanya mungkin saya harus ijin dua sampai tiga hari, sampai bengkakny hilang dan bisa berjalan lagi."
"Ambil saja cuti satu minggu." Erwin mengusulkan. "Aku tidak ingin kau memaksakan diri,Marisa"
"...Te,terimkasih.." Marisa menunduk.
"Aaah...jadi seperti ini yaa rasanya jadi obat nyamuk..?" Lenna pura-pura kesal. Ia melirik Marisa dan Erwin bergantian.
"Lenna,apaan sih,ada Pak Erwin juga.." Marisa menjadi malu. "Maaf kan saya Pak.." Ia tertunduk.
Lenna pura-pura acuh, dalam hati ia tertawa melihat Marisa yang salah tingkah.
"Tidak apa-apa kok,saya tidak keberatan di gosipkan dengan mu" Erwin tersenyum lebar.
Seketika wajah Marisa memerah, ia menundukkan wajahnya. Sebaliknya Lenna sudah tersenyum-senyum kegirangan.
"Baiklah,kalian ngobrol lah sebentar lagi. Aku tunggu di luar." kata Erwin lagi lalu berjalan keluar ruangan.
"Lihaaat Marisa...!" kata Lenna gemas begitu Erwin tak terlihat. "Sekarang bahkan dia terang-terangan menunjukkan rasa sukanya."
"Nggak..." Marisa mengelengkan kepalanya. "Untuk saat ini aku sama sekali tidak kepikiran untuk menjalin hubungan dengan lelaki mana pun. Aku ingin fokus lulus kuliah dulu."
"Apa kau tidak ada perasaan sedikitpun dengan dia..?" tanya Lenna mulai putus asa mencoblangkan Marisa dengan Erwin Managernya.
"Nggak.." Marisa mengeleng.
"Coba sekali-kali kau bayangkan wajahnya yang ganteng." Lenna kembali menyakinkan.
Marisa terdiam dan mencoba membayangkan wajah tampan Erwin. Tapi yang muncul di pikiran Marisa malah laki-laki berkacamata hitam itu.
"Apa yang aku pikirkan sih..?" kata Marisa dalam hati sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"iyaa kan?Dia ganteng kan?baik hati lagi." Lenna terlihat antusias.
Sepertinya ia salah paham dengan sikap Marisa. Ia berpikir Marisa membayangkan Erwin managernya.
"Bukan seperti itu..!" Marisa berusaha menjelaskan.
Tapi Lenna terus saja mengodanya sambil tertawa-tawa.
"Haduuh...bagaimana aku menjelaskannya..?" runtuk Marisa dalam hati, ia pusing sendiri dengan temannya yang suka menjodoh-jodoh kannya dengan Erwin Managernya.
Dan bertambah tak mengerti kenapa wajah laki-laki berkacamata hitam itu yang terbayang di pikirannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Rohatul
Lbh baik tuan muda mengalah 😄, kan pak kirman yg nyertir 🥲😄
2022-12-24
0
Sagara Almeer
nah itu sipat arogan orang kaya coba kalau terjadi sama keluarga nya sendiri segampang itu menghargai nyawa orang
2021-12-19
0
KIA Qirana
Komen nyusul ya Thor, dukungan akan bertambah 💜💜💜💜💜
2021-12-06
0