...༻◐༺...
Raffi mengusap kasar wajahnya. Dia memahami segala penjelasan Gamal. Tetapi masih sulit untuk percaya. Mengingat Zara memilih menghilang selama tujuh tahun lamanya.
"Gila sih kalau anak itu beneran anakmu," komentar Raffi.
"Makanya bantuin aku buat cari tahu," tanggap Gamal.
"Itu gampang. Tapi kau harus cari sampel DNA anak itu dulu. Kalau bisa, bawa dia ikut bersamamu," ujar Raffi.
"Tentu saja. Aku akan memberimu kabar secepatnya!" Gamal menepuk pundak Raffi sekitar dua kali. Keduanya segera kembali memasuki ruang utama.
Tidak terasa acara pertunangan telah berakhir. Waktu menunjukkan jam satu dini hari. Seluruh pekerja yang ada diperbolehkan untuk pulang. Zara yang kebetulan tidak mau kembali ke rumah, memutuskan bermalam di tempat acara sampai pagi tiba.
Zara merenung sendirian. Dia sedang duduk di samping Zafran yang asyik tertidur.
Kalimat Gamal beberapa saat lalu, terus berkalut dalam pikiran. Terutama di bagian Gamal menyuruhnya untuk bercerai dengan Anton.
'Aku sangat ingin menceraikan Anton... tapi bagaimana? Haruskah aku minta bantuan Gamal? Namun... aku takut Anton akan melukai Gamal...' batin Zara sembari memainkan jari-jemarinya tidak karuan.
Zara tahu betul Anton bukanlah orang biasa. Suaminya tersebut memang tidak mempunyai banyak uang yang melimpah, tetapi memiliki koneksi yang sangat hebat.
Sebenarnya Zara pernah melaporkan kejahatan Anton kepada polisi beberapa kali. Namun dia malah kena batunya sendiri. Anton sama sekali tidak mendapat penindakan hukum. Satu hal yang Zara tahu, Anton tidak bisa diremehkan dengan mudah.
Ceklek...
Pintu perlahan terbuka. Sosok Gamal datang.
"Kau belum pulang?" tanya Gamal.
Mata Zara membulat sempurna. Ia reflek bangkit dari tempat duduk. "Se-sebentar lagi kami akan pulang. Aku hanya tidak tega membangunkan Zafran," gagapnya yang tentu saja berkilah.
"Mau aku antarkan pulang? Kebetulan tempat ini sudah sepi," tawar Gamal seraya berjalan menghampiri Zara.
"Nggak usah. Aku dan Zafran bisa pulang sendiri," tolak Zara baik-baik. Dia segera berdalih dari tatapan Gamal.
"Ra!" Gamal memegangi pergelangan tangan Zara. Mengharuskan gadis itu kembali menatapnya.
"Jujur aja sama aku. Zafran anakku kan?" Gamal bertanya secara gamblang. Dia hanya ingin melihat bagaimana respon Zara. Jujur atau tidak, jawaban sebenarnya tetap ada di tangan Raffi.
Sekali lagi pupil mata Zara membesar. Dia kaget dengan pernyataan Gamal yang sangat tiba-tiba.
"Tentu saja bukan!" tegas Zara. Dia tetap berbohong. Lalu mengambil tas dan bersiap untuk pergi.
Gamal menghela nafas panjang. Dia lebih dulu bergerak untuk menggendong Zafran.
"Gamal! Biar aku saja!" Zara mencoba merebut Zafran dari gendongan Gamal.
"Aku akan mengantar kalian pulang!" Gamal bersikeras. Dia bahkan melangkah lebih dulu keluar dari ruangan.
Kini Zara tidak punya pilihan selain pasrah. Saat itulah Gamal diam-diam mengambil beberapa helai rambut Zafran.
Zara, Gamal, dan Zafran sudah berada di dalam mobil. Mereka saling terdiam. Apalagi Zafran, yang kebetulan masih dalam keadaan setengah sadar. Anak itu masih ingin melanjutkan tidurnya.
"Kalian mau pulang kemana?" tanya Gamal yang mulai mengemudikan setir.
"Ke panti aja..." jawab Zara dengan semburat wajah sendu.
Gamal melirik Zara selintas. Ia berucap, "Kenapa ke panti terus? Kau sama suamimu nggak tinggal bareng di sana kan?"
Zara mengerjapkan mata beberapa kali. Dia sempat bingung harus menjawab apa. Meskipun begitu, Zara berusaha bersikap biasa saja.
"Kami emang sering berkunjung ke panti kok. Zafran senang punya banyak teman di sana," terang Zara seraya membuang muka dari Gamal.
"Oh..." Gamal berpura-pura paham. Dia hanya siap melemparkan pertanyaan selanjutnya.
"Boleh aku tahu nama suamimu nggak?" tanya Gamal.
"Anton Wijaya." Kali ini Zara tidak berbohong. Dia yakin Gamal hanya sekedar bertanya.
Tidak terasa mobil sudah tiba di tempat tujuan. Zara terlihat hendak turun dari mobil. Namun Gamal dengan cepat mencekal.
"Nggak ada ciuman dulu?" tukas Gamal.
Mata Zara langsung mendelik. "Mal! Ada Zafran loh!" geramnya memperingatkan.
"Eh, benar juga. Aku lupa." Gamal mengusap tengkuknya tanpa alasan. Lalu mempersilahkan Zara pergi bersama Zafran.
Gamal memperhatikan kepergian Zara dan Zafran sejenak. Satu tangannya masuk ke saku untuk mengambil helaian rambut Zafran. Namun sayang, helaian rambut tersebut sudah menghilang. Benda kecil itu memang sangat mudah berjatuhan kemana-mana. Apalagi rambut lelaki pada umumnya terbilang pendek.
"Sial! Aku harus cari lagi!" keluh Gamal sambil memukul alat kemudi. Dia akan memikirkan cara lain untuk mengambil sampel DNA dari Zafran.
Gamal akhirnya nekat menunggu Zara. Dia sengaja memarkirkan mobil jauh dari panti asuhan.
Ketika pagi telah tiba, alarm di ponsel berbunyi. Gamal langsung terbangun. Dia mendapati waktu sudah menunjukkan jam tujuh pagi. Gamal bersiap memantau Zara dan Zafran lebih lanjut.
Sekian menit terlewat. Barulah Zara dan Zafran terlihat sambil bergandengan tangan. Pemandangan tersebut membuat Gamal mengembangkan senyuman tipis. Entah kenapa dia merasa tenang sekaligus gemas.
Diam-diam Gamal mengikuti Zara dan Zafran. Hari itu dia tidak hanya tahu rumah Zara, tetapi juga tempat Zafran bersekolah.
...***...
Keesokan harinya. Tepat saat waktu menunjukkan jam sepuluh pagi. Gamal memutuskan pergi dari perusahaan lebih dulu. Dia bahkan melingus melewati Zara yang tengah sibuk mengepel lantai.
Zara mengerutkan dahi. Dia heran menyaksikan Gamal yang pulang lebih dulu dari biasanya. Walaupun begitu, Zara hanya mengangkat bahu. Ia berpikir Gamal pasti sedang ada pekerjaan yang mendesak di luar perusahaan.
Gamal beranjak pergi dengan menggunakan mobil. Dia hendak menemui Zafran ke sekolah. Meminta izin baik-baik kepada guru yang ada di sekolah Zafran.
"Akhirnya bisa juga lihat Ayahnya Zafran," sapa Bu Lily. Selaku wakil kepala sekolah. Dia tidak perlu berlama-lama menyimpulkan Gamal sebagai ayahnya Zafran. Sebab kemiripan wajah telah membuktikan segalanya. Selain itu, fakta Anton belum pernah sekali pun mendatangi sekolah Zafran, memudahkan Bu Lily memberi kesimpulan begitu saja.
"Iya, Bu. Zafran boleh pulang duluan hari ini kan?" tanya Gamal.
"Tentu saja boleh. Ada acara penting ya, Pak?" balas Bu Lily.
"Iya, Bu. Kami mau berkunjung ke rumah paman dan bibinya Zafran," kilah Gamal santai. Ia terdiam dalam sesaat. Lalu melanjutkan, "tolong bilang kalau aku datang sama ibunya ya. Soalnya setelah ini aku juga akan menjemput Zara ke kantor."
Gamal sengaja membiarkan Bu Lily menjemput Zafran seorang diri. Ia takut Zafran menolak untuk ikut. Jadi Gamal memilih menunggu di depan mobil.
Zafran nampak keluar dari gerbang. Dia celingak-celingukan ke segala arah. Berusaha mencari kehadiran sang ibu. Akan tetapi orang yang dicarinya tidak terlihat dimana-mana.
Gamal bergegas mendekat. Dia tersenyum dan berjongkok ke hadapan Zafran.
"Om orang yang kemarin malam sama Bunda kan?" pungkas Zafran seraya memicingkan mata.
"Iya bener banget. Bunda kamu menyuruh Om beliin apa aja yang kamu mau hari ini. Zafran mau ikut Om sebentar kan?" Gamal bertutur kata lembut. Sungguh, dia kagum menyaksikan sosok Zafran yang terkesan pandai.
"Apa yang aku mau? Beneran, Om?" Zafran sontak bersemangat.
"Beneran! Ayo ikut Om! Kita bisa beli sekarang juga." Gamal membuka lebar telapak tangan ke arah Zafran. Berharap anak itu bersedia menggenggam tangannya.
Zafran berpikir cukup lama sambil memandangi tangan Gamal. Sebenarnya sang ibu sangat sering mengingatkannya untuk tidak bicara dengan orang asing. Tetapi mengingat Gamal begitu dekat dengan ibunya tadi malam, Zafran akhirnya memilih ikut. Apalagi Gamal mengiming-iminginya dengan sesuatu yang sangat menggiurkan.
Gamal tersenyum lebar, saat tangan mungil Zafran menggenggam erat jari-jemarinya. Zafran memang belum terbukti sebagai anak kandungnya, namun Gamal sudah merasakan adanya ikatan batin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Bzaa
darah memang lebih kental dr air
2023-06-25
1
Diah Elmawati
Nah loh ... Gamal emang Bapaknya
2023-03-24
0
Fitriani Fitriani
zafran anak kamu gamal
2022-06-10
1