...༻◐༺...
Karena tidak ada pekerjaan tambahan, Zara pulang lebih cepat dari biasanya. Di rumah dia biasanya sibuk memasak sambil menjaga Zafran.
Bruk!
Pintu mendadak terbuka. Anton terlihat masuk sembari menyiratkan raut wajah marah.
"Ayah!" panggil Zafran. Ia yang tidak tahu apa-apa, bergegas menghampiri Anton. Zafran hanya bersemangat bisa melihat ayahnya cepat pulang.
Kali ini Anton tidak peduli. Dia justru menarik tangan Zara. Memaksa sang istri untuk berhenti beraktifitas sejenak.
"Mana uang aku kemarin?" tanya Anton seraya membuka lebar telapak tangan. Seakan mendesak Zara untuk memberikannya sesuatu.
Zara menatap tak percaya. Dia sudah menduga Anton akan begitu. Sebenarnya hal itu sudah terjadi berulang kali. Makanya Zara terpaksa mencari pekerjaan. Mengharapkan uang Anton hanya angan-angan belaka.
"Biar aku ambil dulu." Zara mematikan kompor terlebih dahulu. Lalu masuk ke kamar untuk mengambilkan uang. Dia kembali dan langsung menyerahkan semua uangnya kepada Anton.
"Nanti aku akan gantikan dengan yang lebih banyak," ujar Anton yang telah memegangi uang di tangannya.
Zara langsung membuang muka. Ia sudah lelah terhadap sikap Anton yang tak pernah berubah.
"Ayah, jalan-jalan yuk!" seru Zafran. Ia menarik-narik kaos baju Anton. Mendongakkan kepala dengan tatapan penuh harap.
"Boleh, Ayah juga ngajak Paman Joni dan Paman Ical tuh." Anton sedikit berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya dengan Zafran.
"Nggak boleh, Zafran. Kamu nggak boleh ganggu Ayah kerja ya." Belum sempat Zafran menjawab, Zara lebih dulu angkat bicara.
"Kamu ngapain larang-larang dia?! Zafran cuman mau ikut Ayahnya aja kok!" sungut Anton. Sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Aku nggak mau Zafran diajarkan yang tidak-tidak sama kamu dan anak buahmu!" tegas Zara. Ia segera membujuk Zafran untuk berubah pikiran.
"Zafran... jalan-jalan bareng Bunda aja yah. Tapi kita harus makan dulu biar kenyang," ujar Zara lembut.
"Zafran, kamu mau main kuda-kudaan lagi nggak sama teman-teman Ayah?" Anton tidak ingin kalah. Ucapannya berhasil membuat Zafran merasa tertarik.
"Benarkah, Ayah?" Zafran memastikan.
"Enggak, Zafran! Ayah bohong. Dia hari ini harus kerja seharian." Zara bersikeras. Akibat merasa terancam, Zara bergegas menggendong Zafran menjauh dari Anton. Akan tetapi Anton sigap menghentikan. Tidak tanggung-tanggung dia menarik daster yang dikenakan Zara sampai sobek.
"Lepasin, Mas!" Zara memeluk Zafran kuat-kuat. Ia tidak sudi putranya dibawa pergi Anton bergaul dengan para preman.
"Ayo, Zafran! Ikut Ayah!" Anton mencoba merebut Zafran dari gendongan Zara. Namun dia tidak bisa, karena Zara lebih dulu berlari masuk ke dalam kamar.
"Keparat!" geram Anton sembari berlari menyusul Zara. Sekali lagi dia tidak mampu. Pintu kamar sudah terlanjur dikunci Zara dari dalam.
"Berani sekali kau berbuat begini! Cepat buka pintunya!!!" cetus Anton. Dia tidak berhenti menggedor-gedor pintu.
Sementara di kamar, Zafran mulai merengek. Dia ketakutan melihat sang ayah mengamuk.
"Tenang ya, sayang... ada Bunda di sini. Kita akan baik-baik saja." Zara mendekap Zafran erat-erat. Cairan bening luruh melalui sudut matanya. Hati Zara terasa begitu pilu. Kenapa dirinya harus melewati keadaan seperti sekarang? Semuanya terasa berat ketika melihat Zafran ikut-ikutan menangis.
"Woy! Wanita jal*ng! Buka pintunya nggak?! Kasih Zafran ke aku!!!" desak Anton yang masih belum kunjung menyerah. Dadanya tampak bergerak naik turun. Pertanda amarah yang dia rasakan telah mencapai ubun-ubun.
"Kenapa, Bos?" tanya Joni. Dia preman yang merupakan bagian dari anak buah Anton. Di belakangnya juga ada Ical yang ikut mendekat.
"Istriku nggak bolehin Zafran ikut sama kita!" ucap Anton. Masih menunjukkan eskpresi kesal.
"Nanti aja deh, Bos. Lagian hari ini kita harus ke rumah Ridwan. Rumahnya agak jauh. Capek kalau bawa anak-anak," sahut Ical. Mencoba meyakinkan.
Disertai hembusan nafas kasar, akhirnya Anton menyerah. Dia dan dua rekan premannya beranjak pergi dari rumah.
Kini Zara dapat mendengus lega. Ia berusaha menenangkan Zafran dan mengajak untuk makan siang.
Dahulu Zara sempat membiarkan Zafran pergi bersama Anton beberapa kali. Dia mengira sikap suaminya akan membaik jika Zafran ikut. Tetapi sayang, harapan Zara pupus seketika. Terutama saat sebuah kecelakaan pernah menimpa Zafran. Putranya itu harus mengalami luka-luka yang cukup parah, karena Anton nekat membawanya kebut-kebutan dengan motor.
Belum sampai di sana, Zara juga pernah menangkap basah Ical mengajari Zafran merokok. Zara tentu tidak akan membiarkan lingkungan Zafran menjadi seburuk itu. Terlebih Zafran baru menginjak usia tujuh tahun.
Sungguh, Zara tidak mengerti cara berpikir Anton. Bila dia benar-benar menyayangi Zafran, tidak seharusnya Anton berbuat begitu.
...***...
Di pagi hari yang cerah. Zara melangkah pelan sambil membawa dua kantong sampah. Ia berhenti ketika sudah tiba di depan tempat sampah. Di sana Zara membuang semua kantong yang dirinya bawa.
Zara diam sejenak sembari mengibaskan telapak tangan. Dia memejamkan mata ketika desiran angin kecil melewati badannya.
"Tempat sampah aja bisa lebih tenang dibanding keadaan di rumah." Zara bergumam. Rambut pendek sebahunya beterbangan diterpa angin.
Dari kejauhan, ada Gamal yang sedari tadi memperhatikan. Dia kebetulan baru saja datang. Masih berada di dalam mobilnya.
Semenjak kemarin malam, sebenarnya Gamal selalu dihantui segala hal tentang Zara. Dia tahu apa yang dirasakannya bukanlah hal biasa. Gamal yang tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, tentu tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan.
Tidak heran Gamal langsung mencemaskan Zara saat melihat gadis itu pilek. Walau dia perlu banyak penjelasan atas menghilangnya Zara, namun rasa rindu lebih mendominasi. Gamal tak bisa terus-terusan menahan.
Sebelum Zara pergi, Gamal berniat mendekat. Ia hendak memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Selagi para karyawannya belum berdatangan.
Gamal melenggang dengan pasti. Dia menyapa Zara dengan sebuah sentuhan di pergelangan tangan.
Zara tersentak. Pupil matanya membesar ketika melihat kehadiran Gamal.
"Eh, kenapa, Mal... eh, Tuan?" Zara tidak tahu harus berkata apa. Dia kadang bingung harus memanggil Gamal bagaimana. Segalanya terasa serba salah.
"Ra, aku nggak tahu kenapa kau tiba-tiba menghilang tujuh tahun lalu. Yang jelas, aku sudah menemukanmu sekarang. Jadi, kembalilah kepadaku sebelum semuanya terlambat." Gamal mengungkapkan perasaan terdalamnya secara gamblang.
"Apaan sih, Mal!" Zara menarik tangan dan menjaga jarak dari Gamal. Dia tidak mengerti kenapa Gamal mendadak bicara begitu.
"Udah deh, Ra! Kamu nggak capek pura-pura jadi orang asing terus, hah?!" timpal Gamal. Nafasnya mulai tersengal-sengal akibat merasa emosional.
"Aku nggak pura-pura! Tapi emang beginilah aku sekarang! Satu hal yang harus kamu tahu." Zara bertekad. Ia segera memperlihatkan cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya. "Aku sudah menikah!" sambungnya.
Gamal terdiam seribu bahasa. Kenyataan yang dia ketahui langsung menghujam hati. Perlahan kakinya melangkah mundur untuk menjauhi Zara. Gamal dibuat begitu syok.
"Nggak ada yang perlu diharapkan dari hubungan kita. Kamu sebaiknya fokus sama calon tunanganmu. Aku akan menganggap apa yang kau ucapkan tadi tidak pernah kudengar." Zara berlalu pergi. Meninggalkan Gamal yang sekarang mematung dengan tatapan kosong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
ega
nyesek bngetttt 😭😭
2023-09-08
1
Bzaa
cari kebenaran 7 tahun yg lalu mal, biar tau alasan knp Zara ninggalin kamu
2023-06-25
0
penahitam (HIATUS)
Huahhh, prasaan aku baper mulu deh kalo gamal sama zara ketemu.
Aku makin gak sabar, pngen tau ekspresi gamal pas dia tau punya anak sam zara.
2022-06-02
2