...༻◐༺...
Gamal terperangah melihat kehadiran Zara. "Astaga..." kali ini dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar.
Kata yang keluar dari mulut Gamal berhasil menyadarkan Zara dari lamunan. Dia menggeleng tegas dan mempersilahkan Gamal untuk memesan makanan.
"Gila, Ra. Kamu ngapain di sini?" Gamal merasa tidak habis pikir. Mengingat Zara juga bekerja di perusahaan yang baru di pimpinnya.
"Ya kerja-lah. Bukannya udah jelas?" tanggap Zara. Dia bersiap mencatat pesanan.
Gamal memutar bola mata jengah. Ia mencoba tidak peduli. Lalu segera memesan makanan dan minuman yang tersedia.
"Mohon ditunggu beberapa menit ya," ujar Zara. Kembali bersikap seperti orang asing. Walau sudah lama tidak bertemu, dia dan Gamal seolah memiliki satu pemikiran. Sebuah pemahaman yang tidak perlu dijelaskan lewat banyak kalimat.
Zara berbalik membelakangi Gamal. Kebetulan seragam pelayan yang dikenakannya berupa rok hitam ketat selutut, serta baju atasan putih yang dimasukkan ke dalam rok tersebut. Lekuk tubuh Zara yang ideal terlihat jelas.
Mata Gamal tak berkedip. Atensinya tertuju ke arah punggung Zara yang kian menjauh. Ingatan tentang masa lalu langsung terlintas. Masa-masa kenakalannya bersama Zara saat dulu tidak pernah terlupakan.
Ada satu kenangan yang tidak pernah dilupakan Gamal. Yaitu ketika dirinya dan Zara menghabiskan waktu berduaan di sebuah ruangan bioskop pribadi. Kala itu mereka dalam pengaruh narkoba. Gamal sangat ingat kalau dia dan Zara melakukan adegan panas nyaris semalaman. Ketika mengingat momen tersebut, Gamal selalu berucap dalam hati, 'Itu benar-benar gila!'
Gamal berniat merahasiakan kejadian gila tersebut seumur hidup. Zara yang turut melakukannya, bahkan tidak ingat dengan insiden itu.
Tidak lama kemudian, seorang gadis menghampiri Gamal. Dia tidak lain adalah Selia. Calon istri pilihan Afrijal untuk Gamal.
"Maaf telat ya..." imbuh Selia. Membuat Gamal segera mengalihkan pandangan dari Zara. Dia berdiri dan mempersilahkan Selia duduk.
"Nggak apa-apa. Aku juga baru datang," jawab Gamal sembari tersenyum. Dia baru satu bulan mengenal Selia. Ini bukan pertama kalinya mereka bertemu.
"Kamu udah pesan makanan?" tanya Selia lembut.
"Sudah, baru aja. Aku juga sudah pesankan menu favorit kamu, steak tenderloin kan?" tebak Gamal sambil mengangkat kedua alisnya secara bersamaan. Ia sedikit mencondongkan kepala ke arah Selia. Keahlian Gamal dalam menaklukkan wanita memang tidak berubah. Dia memiliki keahlian itu semenjak SMA.
"Iya, bener banget." Selia mengangguk seraya tersenyum malu.
"Selia, sekarang aku mau tanya serius." Ketika Gamal berucap begitu, Zara tiba-tiba datang. Membawakan hidangan yang telah di pesannya. Kehadiran Zara membuat Gamal terdiam sejenak. Menatap Zara dengan tatapan sinis.
Zara sama sekali tidak peduli. Dia meletakkan pesanan Gamal satu per satu ke meja.
"Tanya apa, Mal? Jangan bikin aku penasaran deh," celetuk Selia. Mendesak Gamal agar bisa melanjutkan pembicaraan.
"Nanti aja deh. Lagian kita masih punya banyak waktu," balas Gamal.
"Nyebelin banget. Sumpah!" Selia memanyunkan mulut sebal. Jujur saja, dia mulai merasa nyaman menghabiskan waktu bersama Gamal. Padahal mereka baru bertemu sekitar lima kali.
Gamal terkekeh. Membiarkan Selia menikmati hidangan yang tersaji. Sementara dirinya diam-diam melirik ke arah Zara. Sungguh, Gamal tidak bisa menahan diri untuk tidak memandangi mantan kekasihnya itu.
"Mbak, potongkan steak punyaku ya!" titah Selia.
Zara lantas menurut. Ia memotongkan daging steak dengan hati-hati.
Di saat tak terduga, Selia tidak sengaja menyenggol sebuah sendok. Hingga sendok itu terjatuh ke lantai.
"Biar aku saja, Mbak..." tutur Zara. Dia segera meraih sendok yang tergeletak di lantai.
Deg!
Jantung Gamal berdegub kencang. Matanya mendelik sembari terus menenggak minuman dari dalam gelas. Atensi Gamal tidak bisa teralih dari bokong Zara yang sibuk menungging menghadapnya.
Byur!
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Tanpa sengaja Gamal menyemburkan air yang harusnya dia minum. Gamal bahkan sampai tersedak akibat tergoda dengan badan molek milik Zara.
"Mal, kamu nggak apa-apa?" Selia yang melihat, sontak panik. Dia bergegas menyodorkan sapu tangan untuk Gamal.
Sementara Zara, langsung berdiri tegak. Memastikan keadaan Gamal baik-baik saja. Rasa khawatir muncul secara alami dalam dirinya. Berbeda dengan Selia, Zara langsung turun tangan mengelap air yang belepotan di mulut dan dagu Gamal.
Gamal terkesiap. Jantungnya semakin berdebar tidak karuan. Sungguh, sudah begitu lama dia tidak merasakan sensasi debaran tersebut. Manik hitam Gamal hanya terfokus ke wajah Zara yang dirasa tidak pernah berubah. Masih cantik seperti dulu. Rambut pendek sebahunya bahkan tetap dipertahankan.
Tanpa sadar, Gamal memegangi lengan Zara. Membuat pergerakan Zara sontak terhenti. Pertukaran pandang pun terjadi. Gamal dan Zara saling menatap lekat.
"Hati-hati, Mbak. Nanti jatuh cinta loh..." tegur Selia, yang sedari tadi diabaikan.
Zara bergegas menjauh dari Gamal. Dia segera memutar tubuhnya ke hadapan Selia.
"Maaf, Mbak. Aku cuman berusaha bantu aja," jelas Zara seraya sedikit membungkukkan badan.
Selia mencoba mengerti. Dia tersenyum dan mempersilahkan Zara untuk kembali bekerja. Kini tatapan Selia beralih kepada Gamal.
"Kamu tertarik ya sama pelayan itu?" Selia memicingkan mata. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Dia sebenarnya hanya bermaksud bercanda.
Menurut Selia, sikap Zara tadi bisa dibilang wajar. Baginya apa yang dilakukan Zara merupakan kebiasaan para pelayan pada umumnya.
"A-apaan sih kamu? Mana mungkin." Gamal membantah sambil tergagap.
"Hahaha... kamu lucu banget kalau gugup begitu. Ya udah aku percaya kok. Kata Om Afrijal, kamu bisa dipercaya," ucap Selia. Dia melanjutkan kembali makan malamnya.
Gara-gara berdekatan dengan Zara tadi, keinginan makan Gamal menjadi tidak karuan. Dia berusaha melupakan Zara, namun tidak bisa. Bahkan ketika Selia mulai berani menggandeng tangannya.
"Aku mulai nyaman sama kamu," ungkap Selia. Melirik sembari terus berjalan bersama Gamal. Mereka sudah keluar dari area restoran. "Ngomong-ngomong kamu juga merasakan hal yang sama nggak sih?" tanya-nya.
Gamal hanya diam saja. Dia malah sibuk melamun. Seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Mal?" panggil Selia.
"Eh, kenapa?" Gamal akhirnya merespon.
"Kamu pikirin apa? Pasti pekerjaan pertama kamu hari ini nggak berjalan lancar kan? Kamu bisa kasih tahu aku masalahnya, mungkin aku bisa bantu." Selia menyimpulkan sendiri, mengenai masalah yang sedang dipikirkan Gamal.
"Lumayan, perusahaan Relangga Grup kan mengalami krisis. Aku harus cari cara untuk memulihkannya lagi," kilah Gamal. Dia sedari tadi hanya sibuk memikirkan Zara. Pembicaraannya dengan Selia berlanjut hingga ke perjalanan pulang.
Di sisi lain, Zara baru saja berganti pakaian. Sama seperti Gamal, dia juga terpikirkan insiden yang terjadi tadi. Zara tidak bisa melupakan tatapan lekat Gamal. Dia merasa ada yang berbeda.
Zara berulang kali menggelengkan kepala. Membuang semua harapan dan perasaannya jauh-jauh. Lagi pula dia yakin, gadis yang bernama Selia tadi pasti merupakan kekasih Gamal.
Sebelum pulang, Zara tidak lupa menjemput Zafran ke panti asuhan. Dia kembali ke rumah saat waktu menunjukkan jam sepuluh malam.
Kala pintu terbuka, sosok Anton langsung menyambut. Pria itu melotot tajam sambil menikmati rokok yang tersemat di jari-jemarinya.
"Kemana saja kalian?!!" timpal Anton. Dagunya terangkat angkuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
elleya
wkwkwkwk
2024-08-10
0
Nacita
anda belum berubah ya pak 🤣
2024-05-31
0
Bzaa
aihhhh si anton
2023-06-25
0