...༻◐༺...
Gamal sama terkejutnya seperti Zara. Akibat lengah dengan kesenangan, dia jadi lupa mengenai fakta kalau Zara bekerja di restoran Angkasa Jaya. Sekarang semua pasang mata tertuju ke arah gadis itu.
Zara mengabaikan pertanyaan Putri. Ia memilih sibuk menyembunyikan wajah dibalik rambut pendek sebahunya. Zara mencoba bersikap senormal mungkin.
"Zara!" Elsa bangkit dari tempat duduk. Dia juga yakin, sosok yang dilihatnya adalah Zara.
Sekali lagi Zara tidak menjawab. Malu, dia merasa sangat malu. Tidak ada hal yang ingin Zara lakukan selain pergi dari hadapan semua orang.
Zara meninggalkan nampan berisi minuman. Lalu lekas-lekas berbalik badan. Dia melangkah cepat sampai menghilang dari pandangan semua orang.
"Zara!" Elsa memanggil sekali lagi. Dia berniat mengejar teman yang sudah lama tidak ditemuinya tersebut. Namun Raffi sigap menghentikan.
"Apapun alasannya, yang jelas Zara sengaja menjauh dari kita. Menurutku sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara dengannya," ujar Raffi. Mencoba meyakinkan Elsa. Tindakannya sukses mengurungkan niat Elsa.
"Raffi benar, El. Aku aja sekarang udah nggak peduli." Gamal sependapat dengan Raffi. Ia menyarankan Elsa untuk kembali ke tempat duduk. Padahal dari lubuk hati terdalam, Gamal juga sangat ingin mengejar Zara. Namun harus ditahan karena merasa gengsi.
Dari arah pintu, terlihat seorang pria berkemeja motif batik baru saja datang. Gamal dan kawan-kawan langsung menyapa pria tersebut.
"Mantap jiwa! Kau telat banget datangnya, Dan!" tegur Royan.
"Sorry, aku harus ngurus anak buah dulu tadi," jawab pria yang tidak lain adalah Danu. Dia sekarang meneruskan bisnis ayahnya berjualan bakso. Kebetulan usaha jualan kelilingnya mengalami sukses besar. Danu sudah memiliki puluhan anak buah.
"Kenapa kita nggak makan bakso Danu lagi coba. Kayak tahun-tahun sebelumnya," ucap Raffi. Menatap teman-teman yang duduk di dekatnya satu per satu.
"Eh, dua tahun sebelumnya kita udah dua kali makan bakso dia. Kan bosan juga kalau makan bakso dia terus," sahut Royan.
"Dih! Sok-sokan bosan. Padahal kau yang paling sering beli bakso aku!" timpal Danu yang tidak terima.
"Hehehe... baksomu murah dan enak sih. Tipe aku banget." Royan tersenyum malu.
"Eh, Tirta nggak datang ya? Biasanya kan kalian ber-empat?" tanya Ratna. Merasa ada sesuatu yang kurang.
"Tirta masih sekolah di luar negeri. Aku dengar dia terusin S2. Mau ngalahin Raffi kayaknya," jelas Danu memberitahu.
"Siapa bilang? Sok tahu banget sih," tukas Raffi. Candaan dan nostalgia terus berlanjut. Seluruh orang menikmati pertemuan yang ada. Mereka tenggelam untuk sekedar bercerita dan berbagi pengalaman.
Dari semua kebahagiaan itu, hanya Gamal yang menunjukkan senyuman palsu. Sedari tadi dia terus melirik ke arah pintu dapur. Tepat ke tempat Zara terlihat terakhir kali. Jujur saja, Gamal mengkhawatirkan Zara.
"Eh, aku mau nyetor dulu ya." Gamal beranjak dari kursinya. Berniat ingin ke toilet.
"Udah nyetor aja nih anak," sindir Danu. Namun Gamal hanya menanggapi dengan cara memajukan bibir bawahnya.
Selepas dari toilet, Gamal diam-diam masuk ke area dapur restoran. Dia hendak memastikan keadaan Zara.
"Pak Gamal? Ngapain di sini?" Susan tiba-tiba menegur. Dia tentu mengenal Gamal. Mengingat dirinya juga bekerja di perusahaan Relangga Grup.
"Eh, anu... cuman mau pesan makanan aja," kilah Gamal. Dia masih celingak-celingukan ke segala arah. Gelagatnya menjelaskan kalau Gamal tengah mencari-cari sesuatu.
"Yakin, Pak? Atau lagi cari seseorang gitu?" terka Susan. Dia menyatukan tangan di depan badan seolah bersikap patuh.
"Enggak! Bawakan aku stik kentang lagi ya. Cuman mau pesan itu kok." Gamal berusaha menutupi niat aslinya. Dia segera pergi setelah tidak berhasil menemukan Zara.
Acara reuni belum berakhir. Namun Gamal memutuskan pulang lebih dulu. Hatinya merasa tidak nyaman akibat menyaksikan apa yang terjadi kepada Zara tadi.
Di tengah hujan yang cukup deras, Gamal menjalankan mobil dalam kecepatan sedang. Hingga atensinya tertuju kepada seorang gadis yang berjalan tertunduk di pinggir jalan. Dari rambut dan perawakannya, Gamal yakin dia adalah Zara. Gadis itu tampak basah kuyup.
Gamal dilanda kegalauan. Dia bingung apakah harus berhenti atau tidak. Tanpa sengaja dirinya melewati Zara begitu saja.
Belum sempat menjauh, Gamal langsung berubah pikiran. Lelaki itu memundurkan mobil dan berhenti tepat di posisi Zara.
"Sengaja hujan-hujanan ya?!" timpal Gamal yang sudah keluar dari mobil. Ia tidak lupa menggunakan payung jenis transparan miliknya.
Zara berhenti melangkah. Lalu menoleh ke belakang.
Ketika melihat kehadiran Gamal, dahi Zara sontak mengerut dalam. "Mau ngejek aku ya?!" pungkasnya. Ia terlalu tenggelam dalam rasa malunya tadi.
Gamal tidak mengatakan apapun. Ia justru mendekat. Kemudian melindungi Zara dari tetesan hujan dengan menggunakan payung.
Zara terkesiap. Dia dan Gamal saling menatap lekat. Jantung yang berdebaran kembali menyerang.
"Masuk ke mobilku. Biar aku antar pulang," tawar Gamal yang terkesan seperti memaksa.
"Aku bisa pulang sendiri." Zara membalikkan badan. Melangkah meninggalkan Gamal.
"Jangan salah paham deh, Ra! Aku cuman ngasih tumpangan aja kok. Nggak ada maksud apa-apa. Asal kamu tahu ya, aku udah jadi orang baik sekarang," ungkap Gamal.
Zara yang mendengar, tanpa sadar mengembangkan senyuman. Dia nyaris tertawa. Merasa apa yang dikatakan Gamal begitu lucu. Perlahan Zara berbalik lagi ke belakang.
"Asal kamu tahu ya, Mal. Orang baik itu nggak akan pernah ngaku kalau dia baik," balas Zara. Bermaksud sarkas. Kini dia benar-benar beranjak dari hadapan Gamal.
"Sialan!" rutuk Gamal. Dia mengusap tengkuknya karena merasa malu. Gamal yang awalnya ingin tebar pesona, malah berakhir dipermalukan.
...***...
Waktu menunjukkan jam setengah delapan pagi. Zara terlihat sudah sibuk membersihkan lobi perusahaan. Sesekali dia mendenguskan hidungnya. Gadis itu mengalami pilek yang cukup parah. Wajah Zara juga agak pucat. Kemungkinan akibat efek kehujanan kemarin malam.
Tidak lama kemudian, Gamal datang. Dia menyapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan. Termasuk Zara sendiri. Saat itu Gamal dapat mengetahui kondisi kesehatan Zara yang terganggu. Meskipun begitu, dia berlalu pergi menuju kantor.
Kala sudah menyelesaikan tugas bersih-bersih, Zara rehat sejenak. Dia duduk di ruangan khusus cleaning service. Zara berulang kali mengalami bersin.
Ceklek!
Pintu mendadak terbuka. Susan terlihat membawa nampan berisi makanan dan minuman hangat.
"Gila! Pak Gamal kasih makanan dan minuman khusus untuk petugas cleaning service hari ini!" ungkap Susan penuh semangat.
"Yang bener? Direktur baru kita sangat baik ya," tanggap Endang yang juga merupakan rekan kerja Zara. "Waah... ada sup hangat sama wedang jahe. Pas banget buat kamu yang lagi pilek, Ra!" sambungnya seraya menoleh ke arah Zara.
"Iya, pas banget ini buat Kak Zara. Apa emang khusus buat Kak Zara ya?" kata Susan bermaksud bercanda.
"A-apaan sih, San. Aku aja nggak sedekat itu sama direktur," respon Zara terbata-bata. Entah kenapa dia sependapat dengan dugaan Susan.
'Jangan-jangan Gamal beneran kasih ini buat aku lagi,' batin Zara. Akan tetapi dia lekas menggeleng. Lalu menepuk pipinya sendiri. 'Ih! Jangan kepedean, Ra! Ini pasti kebetulan.' Zara berusaha menyadarkan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Bzaa
semangat Zara... 💪
2023-06-25
0
Neneng cinta
ktnya ga peduli,,tp masih az d cariin 😂
2023-04-30
0
TK
sukses Thor
2022-06-08
0